Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.Alya salah paham.
Merasakan bibirnya ada yang menyentuhnya, Perlahan-lahan Anin membuka matanya dan tiba-tiba ia berteriak, karena wajah mereka sudah sangat dekat.
"Aaahk... Danis apa yang mau kamu lakukan?" Niah berteriak, ia mendorong wajah Danis yang berada tepat dihadapan wajahnya.
Gara-gara Niah mendorongnya, kepala Danis terpentok kursi jok belakang.
"Aish, apasih gadis mesum?" Danis memegangi kepalanya, ia mengusap-usapnya kepalanya.
"Kamu mau apa?" Anin menutup bagian gunung kembarnya dengan kedua tangannya.
Dalam hati Danis, sungguh Anin itu memang gadis yang selalu berpikiran mesum. bisa-bisanya pikiran dia selalu seperti itu padaku.
"Aku hanya ingin membenarkan rambutmu yang berantakan." Danis menatap Anin dengan tatapan kesal.
"Sudahlah, dasar laki-laki mesum!" Anin membuka pintu mobil dengan kasar, lalu ia turun dari mobil.
"Sebenarnya apa yang mau dia lakukan tadi, tiba-tiba wajahnya begitu dekat dengan wajahku, aku yakin laki-laki mesum itu akan menodaiku." Anin memaki-maki Danis dalam hatinya.
Dafa dan Aqila, melihat Anin turun dari mobil dengan raut wajah kesal.
"Apa yang terjadi? Bukankah Kak Anin tadi sedang tidur, lalu dia keluar dari mobil dengan raut wajah kesal seperti itu." Kata Aqila sambil memikirkan apa yang terjadi?
"Aku yakin, pasti kakakmu itu sudah membuat Anin kesal. Ntah ulah apalagi yang dia buat?" Jawab Dafa, sambil geleng-geleng kepala.
.
.
Anin berjalan menuju Aqila dan Dafa yang sedang berdiri, terus ia tersenyum pada mereka berdua.
"Maaf ya aku ketiduran." Kata Anin yang merasa tidak enak pada Dafa dan Aqila.
"Tidak apa-apa kak, oh iya Kak Danis mana?" Tanya Aqila, yang melihat Danis belum keluar dari dalam mobil.
Danis baru saja keluar dari dalam mobil, ia terus memegangi kepalanya yang tadi terbentur gara-gara di dorong oleh Anin.
"Dasar gadis mesum, aku sumpahin kamu jadi istriku." Batin Danis dalam hatinya.
"Noh orangnya!" Dafa melihat Danis yang berjalan kearahnya.
"Kak Danis, apasih yang kalian lakukan di dalam mobil? Sampai kalian itu tidak turun-turun." Kata Aqila dengan rasa penasarannya.
"Kamu anak kecil tidak percuma tidak akan paham, sudah sana kalian pulanglah nanti mana-mana bawel terus menelponinku." Danis mengusir Dafa dan Aqila secara halus.
"Dasar kakak ini, ayo sayang kita pulang!" Aqila memayunkan bibirnya, tapi Danis malah mencubit pipinya.
"Sudah tidak usah manyun, kamu bisa kesini kapan saja. Kalau kamu mau Aqila bawel." Kata Danis, membuat Aqila mengembangkan senyum termanisnya.
Anin hanya tersenyum, melihat tingkah Aqila yang begitu manja dan sangat akrab dengan Danis.
"Kak Anin, Qila pulang dulu ya." Aqila memeluk Anin dengan erat.
"Iya kamu hati-hatilah dijalan." Anin membalas pelukan dari Aqila.
"Dan, aku pulang duluan ya! Telpon aku jika kamu butuh sesuatu," Dafa menepuk bahu Dafa lalu Danis tersenyum pada Dafa.
"Dia adalah sahabat terbaikku." Batin Danis dalam hatinya.
"Anin, aku pulang dulu ya!" Pamit Dafa pada Anin, ia tersenyum manis pada Anin tapi dengan cepat Danis langsung menghalangi Anin dengan tubuh kekarnya agar tidak di lihat oleh Dafa.
"Sudahlah, jangan berani tersenyum pada Anin!!" Larang Danis dengan garang.
Dafa geleng-geleng kepala, lalu ia mengandeng tangan Aqila.
"Dasar cemburuan, belum juga jadi pacarnya sudah seperti itu. Danis kamu itu bodoh apa gila sih?" Batin Dafa dalam hatinya.
Dafa membukakan pintu mobilnya untuk Aqila, setelah Aqila masuk ia juga langsung masuk ke dalam mobil.
Kini Dafa langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Aqila.
Setelah mobil Dafa tidak terlihat, Danis dan Anin berjalan menuju kerumahnya yang ada dilantai dua.
"Jangan dekat-dekat, dasar laki-laki mesum." Anin menjaga jarak dari Danis, ia tidak mau berjalan dekat-dekat dengan Danis.
Dalam hati Danis, lihat saja nanti kamu bakalan kelepek-lepek sama aku.
Mereka berjalan dengan jarak berjauhan, sesampainya di depan pintu rumah mereka. Mereka sama-sama menghentikan langkah kakinya.
"Anin...." Panggil Danis yang sudah memegang gagang pintu rumahnya.
"Kenapa?" Anin menoleh, ia juga sudah memegang gagang pintunya.
"Kamu tidak main ke rumahku dulu?" Tanya Danis bosa-basi, padahal ia sengaja ingin melihat wajah cantik Anin lebih lama lagi.
"Tidak, aku takut kamu berbuat mesum padaku." Tolak Anin dengan jutek.
"Anin..." Panggil Danis dengan manja, membuat Anin menatapnya dengan tatapan jijik.
"Apalagi?" Anin mulai kesal, rasanya ingin sekali menjambak rambut Danis.
"Nanti malam, jangan lupa aku mau mengajakmu makan malam di taman." Kata Danis sambil senyam-senyum penuh harap.
"Iya iya, aku tidak lupa! Aku masuk dulu ya, kaki aku pegel banget." Anin membuka pintu rumahnya, lalu ia masuk ke dalam rumahnya.
Danis masih terdiam di depan pintu rumahnya.
"Akhirnya, nanti malam bisa makan berdua sama Anin." Hati Danis begitu berbunga-bunga.
Danis membuka pintu rumahnya dengan begitu bahagia, ia kembali menutup pintu rumahnya lalu ia berjalan menuju ke kamar, ia membantingkan tubuhnya ke atas kasur dengan kasar.
"Rasanya, tidak sabar menunggu malam." Danis sudah sibuk dengan hayalannya.
.
.
Dirumah Anin.
Ia membaringkan tubuhnya diatas kasur, lalu memejamkan matanya.
"Aduh, aku lupa membawa belanjaanku." Kata Anin, ia mengingat tas yang dibelikan oleh Dafa tertinggal di dalam mobil Dafa.
"Sudahlah, lagian laki-laki mesum itu hampir saja menodaiku." Gumam Anin.
Karena merasa lelah, akhirnya Anin memejamkan matanya dan tertidur pulas.
.
.
.
Sesampainya di depan Aqila, Dafa memberhentikan mobilnya lalu ia turun dari mobilnya untuk membukakan pintu mobil untuk Aqila.
"Turunlah sayang, hati-hati ya!" Kata Dafa dengan begitu lembut.
Setelah Aqila turun dari mobilnya, Dafa kembali menutup pintu mobilnya lalu ia mengandeng tangan Aqila.
Mereka berjalan bergandengan, sesampainya di depan pintu rumah Aqila. Dafa mengetuk pintu rumah Aqila.
"Tok...tok...Tante Alya...." Dafa mengetuk pintu sambil memanggil namanya Aqila.
Alya dan Panji yang sedang duduk berduaan, sama-sama bangun untuk membukakan pintu rumahnya.
"Ada orang pa." Kata Alya pada Panji.
"Iya, siapa jam segini datang kerumah?" Tanya Panji penasaran.
.
.
Sesampainya di pintu, Alya membukakan pintu rumahnya. Ia terkejut melihat anak gadisnya bergandengan tangan dengan Dafa anaknya Alan dan Ayumi.
"Aqila?!" Tatapan Panji tertuju pada anak gadisnya yang sekarang ada di hadapannya.
"Papa." Aqila tersenyum dengan begitu manis pada sang papa.
Alya masih terdiam ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Bukankah, Aqila bilang menginap dirumah Danis? Lalu kenapa dia bisa pulang bersama Dafa, apa-apa jangan dia sudah berbohong padaku?" Batin Alya dalam hatinya.
Dafa terus mengandeng tangan Aqila, sungguh Aqila tidak sadar kalau mamanya sedang menatapnya dengan garang karena Aqila pulang bersama Dafa.
Biarpun Alya tahu mereka adalah sahabat dekat, tetap saja melihat anak gadisnya pulang dengan anak laki-laki ia merasa kawatir dan takut terjadi sesuatu pada anaknya itu.
"Aqila, kenapa kamu bisa pulang dengan Dafa? Bukankah kamu bilang kamu menginap dirumah Kak Danis?" Tanya Alya dengan sorot mata tajam.
Deg... jantung Dafa berdetak kencang, mendengar pertanyaan dari mamanya Aqila pada Aqila.
"Aduh, pasti Tante Alya akan salah paham." Batin Dafa dalam hatinya.
"Mama, aku bisa jelasin!!" Kata Aqila.
"Iya tante, Dafa juga bisa jelaskan!" Kata Dafa pada Alya dengan begitu sopan.
"Baru jadian kemarin, ini mau di sidang sama calon mertua." Hati Dafa berbicara.
"Masuklah! Jelaskan semuanya!" Panji dan Alya sama-sama menatap Alya dan Dafa dengan sorot mata penuh tanda tanya?
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...