bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU(2)
Karin pov
Aku sangat terkejut ketika Devan menarik paksa kedua bahuku agar aku menghadapnya. Aku yang berusaha memalingkan wajah agar pria itu tidak bertanya lebih lanjut mengenai pembicaraanku dengan dokter Jhon barusan, membuat Devan kembali menarik daguku dengan tangan besarnya. Kulitku rasanya sakit dan seperti terbakar. Bukannya aku tidak mau memberi tahu, tapi ini lebih ke permintaan dokter Jhon agar aku tidak memberi tahu siapa pun termasuk Devan mengenai pembicaraan kami barusan.
‘Karin, jangan beritahu siapa pun mengenai apa yang akan kukatakan oke? Kau tahu sendiri, Devan akan membunuhku jika dia tahu ini’
Setidaknya begitulah yang dikatakan dokter Jhon padaku, sebelum mulai mengobrol. Aku tidak mengerti awalnya kenapa dia membuat ini jadi rahasia bagi kami berdua. Padahal Devan bukankah dia harus tahu? Aku yang sudah terlanjur berjanji untuk ini jadi rahasia mau diapakan lagi? Janji adalah hutang. Itu saja.
Dan aku sedikit tersentak ketika dokter Jhon mengatakan jika dia punya solusinya. Yang berarti obat untuk Devan sudah ada. Aku bersyukur karena itu. Yang berarti hubunganku dengan Devan..... Akan berakhir sebentar lagi.
“jawab pertanyaanku....” aku mengamati wajah Devan yang menunjukkan amarah. Keningnya yang berkerut dan juga rahangnya yang mengeras membuatku takut. Mata Devan yang selalu ada senyum di dalamnya ketika melihatku, kali ini berubah tajam.
“De, Devan itu sakit” rengekku ketika merasakan perih yang tak terbendung lagi pada bahu dan juga daguku. Dan syukurnya Devan berakhir melepaskan cengkeramannya.
Aku mengusap lembut dan memeriksa sedikit bahu kananku yang di cengkeram Devan tadi, ternyata kulitku sudah memerah dan bahkan hampir membiru karenanya. Aku kembali menatap Devan dengan marah. Apa maksudnya dengan semua ini? Dia memperlakukanku dengan kasar. Tidak seperti Devan biasanya yang selalu bersikap hati-hati dan lembut-takut jika aku terluka sedikit saja.
Kyaaa!
Aku kembali dikejutkan dengan Devan yang tiba-tiba saja meraup tubuhku dan mendudukkanku di atas pangkuannya-dengan kedua kakiku yang melingkari pinggangnya, posisi macam apa ini!!
Aku berani bersumpah jika ini pertama kalinya Devan memangkuku dengan cara seperti ini. Aku yang berniat protes, urung ketika melihat wajah marah Devan yang ditujukan padaku.
Devan mengambil kedua tanganku yang bebas “ap, apa yang kau lakukan?” tanyaku takut ketika dia melepas dasinya.
Aku berusaha memberontak ketika Devan sudah mengikat kedua tanganku, ini cukup menyakitkan, sama seperti waktu dulu. Bukan sampai disitu saja keterkejutanku akan perbuatannya-devan bahkan meronggokkan tanganku yang terikat diatas bahunya dan menggunakan celah diataranya untuk memasukkan kepalanya. Jarak antara tubuh kami yang semakin dekat membuat jantungku berdetak kencang, bukan hanya karena takut tapi juga gugup.
Wajahku dan devan sekarang bahkan hanya berjarak beberapa senti saja.
Aku bisa melihat dengan sangat jelas kilatan amarah yang ada di kedua mata hitam coklatnya. Takut dan gugup menjadi satu. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah memompa darah keseluruh tubuh untuk memberikan nyawa bagiku agar tidak langsung pingsan ketika melihat amarah Devan. Aku kembali berusaha memalingkan wajahku darinya. Namun sayang Devan malah kembali menangkap kepalaku dan memaksaku menghadapi mata tajamnya.
“aku benar-benar benci ini” apa maksudnya? Devan yang mengatakannya dengan geraman yang seperti singa-suaranya rendah dan berat. Membuatku merinding.
“aku tidak ingin melakukan ini, namun kau memaksaku Karin-“ katanya. Ketika aku masih mencerna perkataannya barusan, tiba-tiba saja tubuhku kembali di buat terkejut dengan tindakan Devan kali ini.
“Mmmph!!” aku berusaha mengeluarkan protesku pada Devan, atas tindakannya kali ini. Namun pria itu menyumpal mulutku dengan mulutnya. Jantungku bergerak tidak karuan. Kepalaku pening dengan aksinya yang tiba-tiba ini. Kucoba menolak dengan mendorong bahu Devan dengan kedua sikuku. Namun hasilnya nihil. Pria itu bahkan tidak bergerak sama sekali. Ini ciumanku yang kedua bersama Devan.
Aku berusaha kembali dengan memutar paksa kepalaku, namun tetap saja kedua tangan besarnya yang menahan kepalaku dibagian belakang dan samping membuatku benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan posisiku yang kali ini juga menyulitkanku untuk bangkit.
“Shh... Tenanglah Karin, kau tidak ingin melihatku marah bukan?” bisik Devan di depan bibirku, kemudian lelaki itu kembali menempelkan bibirnya lagi seperti tadi, namun kali ini dia menggerakkan bibirnya. Ini tidak benar, aku tidak menginginkan ini! Namun Devan memaksaku kembali.
Ditekannya kepalaku agar tidak lagi bergerak, dengan tangan yang satunya lagi sudah berada di pinggangku. Aku merasakan bibir lembut Devan menjalar dan bergerak agresif diatas bibirku, rasanya sangat aneh. Ingin kutolak setiap perlakuannya namun ada kenyamanan yang mulai merangkul hatiku.
“sial!” aku tidak menghiraukan bisikan Devan lagi. Terlanjur aneh apa yang terjadi pada tubuhku kali ini. Aku yang awalnya berusaha memberontak dan menolak kali ini terdiam untuk merasakan dengan hikmat apa yang dilakukan Devan.
Makin lama rasanya semakin panas, aku juga berusaha menampik kenyamanan yang diberikan oleh tangan Devan ketika mengusap punggung dan juga pinggangku.
Aku merasakan jika kali ini Devan sudah memainkan lidahnya. Dia berusaha membuka mulutku dengan menjilat bibirku seperti meminta izin untuk masuk. Aku yang sudah tidak berdaya dalam raupan tubuh besar Devan, akhirnya membuka mulutku memberikan akses padanya.
Devan yang awalnya masih tenang kali ini berubah menjadi lebih aneh dari pada tadi. Aku bisa merasakan semangatnya melakukan ini dengan merasakan lidah dan juga bibirnya bergerak tidak karuan. Aku pening karena perbuatannya pada tubuhku. Berusaha menolak sekarang pun tubuhku seolah punya pemikiran sendiri untuk menikmatinya.
Aku sadar akan hal itu ketika tanganku ikut bergerak-menjambak rambut Devan dan menekan kepalanya agar semakin memperdalam perbuatannya. Kakiku bahkan melingkari pinggang Devan dan berusaha mengikis jarak seiring semakin panasnya aksi Devan pada bibirku. Namun ketika nafasku sudah hampir habis aku berusaha mendorong Devan kali ini, dan entah kenapa pria itu akhirnya melepaskanku.
Aku menghirup udara sebanyak mungkin. Seolah olah sudah lama tidak bernafas. “kau benar-benar membuatku gila”
Aku mendengar gumaman devan dengan suara yang berat. Kutatap wajahnya yang seolah-olah menyesal namun aku sangat yakin ketika melihat matanya yang mengatakan jika dia puas membuatku seperti ini.
Tidak sama sepertiku Devan tidak kekurangan oksigen sama sekali. Pria itu kemudian merebahkan kepalanya di atas dadaku dan sesekali menggosokkan wajahnya disana. Aku yang masih berusaha bernafas kembali sulit menghirup O2 itu, ketika kurasakan devan mengecup sekilas leherku.
“kau membuatku gila Karin, aku ingin lebih dari ini, namun aku takut kau membenciku, aku marah pada laki-laki yang mendekatimu hingga rasanya aku ingin memotong tubuh mereka dan membuatnya membusuk di tepi jalan, tapi aku tidak bisa melakukan itu semua karena kau akan melihatku sebagai lelaki bejat, kemudian membenciku, aku frustrasi dengan pemikiranku yang selalu khawatir seseorang akan merebutmu dari sisiku, aku tidak berdaya Karin.... Apa yang harus kulakukan padamu agar kau bisa mengerti?”
Oke, jadi Devan benar-benar terobsesi padaku:,)
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..