Ardhan Husein Zakhori adalah CEO di Millenial Group. Ia mewarisi perusahaan Kakeknya. Pribadinya yang sangat ramah membuatnya disukai banyak orang. Ia memiliki ambisi yang besar diumur yang masih muda. Namun, karena Kakeknya semakin tua dan mulai sakit-sakitan ia harus mencari calon istri dan menikah secepatnya. Saat itu pula cinta masa kecilnya datang.
"Will you marry me?" tanya Ardhan.
"Yes, I do," jawab wanita itu.
Ardhan yang malang. Ia tak tau jika hal itu akan menjadi awal ia mengetahui banyak kenyataan pahit. Akankah Ardhan menerima kenyataan dan mempertahankan cinta masa kecilnya? Atau menikahi orang lain demi mewujudkan keinginan Kakeknya? Dapatkah Ardhan bertahan dengan semua ujian ini? Penuh puzzle yang harus diselesaikan, ikuti perjuangan Ardhan dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daratullaila 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cekcok
..."Cinta itu buta. Tak pandang usia, tak pandang benar atau salah."...
...✨...
Terik matahari menemani Ardhan yang sedang berdiri di lapangan. Satu tangannya memberi hormat ke arah tiang bendera. Satu kakinya lagi ditekuk ke belakang. Terlihat keringat sebesar jagung mengucur di wajah Ardhan.
Ardhan sedang dihukum sekarang. Awalnya ia hanya dihukum di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas. Namun, Key mengadu hal yang tidak benar.
Bu Ardhan menaruh permen karet di kursi saya.
Bu Ardhan merobek buku tugas saya
Bu Ardhan menarik rambut saya.
Begitulah beberapa aduan Key. Padahal Key melakukannya sendiri. Namun, ibu guru lebih percaya Key karena tangisannya.
Noah dan Aiko menghampiri Ardhan. Mereka membawa minum dan beberapa roti. Ardhan sudah dihukum sejak pagi jadi dia belum makan siang.
"Ada apa ya dengan Key?" tanya Aiko.
"Kenapa Key begini Dhan?" tanya Noah.
Ardhan menenggak airnya dan menjawab, "dia sering berubah-ubah. Kadang kasar kadang baik."
Ardhan lanjut memakan rotinya dan menenggak habis airnya. Setelah itu mereka berjalan ke ruang guru untuk meminta keringanan hukuman.
"Bu Ardhan gak melakukan apa-apa. Jangan hukum dia lagi bu," ucap Noah.
"Benar bu, Ardhan gak tau apa-apa," tambah Aiko.
Ardhan hanya diam mendengar temannya membujuk ibu guru. Seandainya pun ia harus dihukum lagi, ia sudah pasrah.
"Baiklah. Ardhan kamu masuk kelas," ucap bu guru memutuskan.
Mereka berterimakasih pada bu guru dan menyalaminya. Mereka pun kembali ke kelas.
"Udah hukumannya?" tanya Key saat Ardhan duduk di sampingnya.
Ardhan tak acuh. Ia meninggalkan Key dan menghampiri Noah dan Aiko.
"Ko kamu duduk sana," ucap Ardhan.
Aiko hanya menurut dan pindah tempat.
"Heh cewek Jepang! Ngapain di sini?" bentak Key.
"Aku duduk sini Key," jawab Aiko mengambil posisi duduk.
Namun, Key mendorong Aiko hingga terjatuh. Aiko menjadi bahan tertawaan teman sekelasnya sekarang.
Emosi Ardhan memuncak. Ia menghampiri Key dan mencengkram tangannya. Ardhan menatap tajam Key. Key agak goyah ditatap seperti itu. Kemudian Ardhan menepis kasar tangan Key dan membawa Aiko ke UKS.
***
Ardhan terbangun dengan suara berisik di sampingnya. Terlihat Noah sedang membelakangi Ardhan.
"Ngapain lo dek?" tanya Ardhan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa maksudnya ini bang?" tanya Noah balik.
Ardhan menghela napas. Noah sedang mengotak-atik gawai Ardhan dan melihat kiriman bawahannya.
"Menurut lo?" tanya Ardhan lagi.
"Gak mungkin Key melakukan ini. Lo kan calon suaminya," jawab Noah heran.
"Gue juga gak tau. Yang pasti lo jangan kasih tau siapa-siapa. Biar gue aja yang nanya sendiri sama dia," ucap Ardhan.
"Lo kok bisa di kamar gue?" tanya Ardhan curiga.
Noah gelagapan. Ia segera meletakkan gawai Ardhan dan menetralkan ekspresinya.
"Tadi gue ke sini mau ngasih perhitungan sama lo karena udah buat Iko nangis," jawab Noah berani.
"Jadi lo mau nyerang saat gue tidur?" tanya Ardhan kesal.
"Lo taunya main belakang. Cemen lo," lanjut Adhan.
"Kalo main depan kan gue kalah sama lo hehe," jawab Noah cengengesan.
"Lo deketin gih Iko. Lagi patah hati dia," ucap Ardhan.
"Eh tunggu-tunggu. Kok lo tau Iko nangis?" tanya Ardhan selidik.
"Ah ... itu gue ke panti kemarin," jawab Noah menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.
"Awas timbilan mata lo ngintip-ngintip orang," rutuk Ardhan.
"Lagian gak gue aja kok. Key juga ngintip," Noah membela diri.
Ardhan terdiam. Pantas kemarin Key sangat marah. Ternyata ia melihat Ardhan memeluk Aiko.
"Eh bang cewek yang bawain lo kopi resek banget tau," adu Noah.
"Kenapa dia?" tanya Ardhan santai.
"Masa kopi lu dikasih garam. Pas gue minum rasanya pahit-pahit asin," jawab Noah mengeluarkan lidahnya mual.
"Hahaha rasain lo," ejek Ardhan.
"Daripada lo diracunin sama calon istri sendiri," balas Noah langsung berlari.
"SIALAN LO NOAH!" teriak Ardhan agar didengar Noah.
Ardhan kembali termenung. Ia kembali mengambil gawainya untuk memastikan sekali lagi.
Ini benar-benar Key, batinnya.
Terlihat Key sedang menuang serbuk ke makanan Ardhan saat Ardhan lengah. Gerakan Key sangat cepat dan profesional. Tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Mungkin saat itu Key gegabah. Ia tak menyadari ada CCTV tersembunyi. Memang terlihat dari awal Key sudah celingak celinguk seperti mencari-cari CCTV. Namun, CCTV ini tersembunyi dengan rapi di balik tanaman hias.
Video lainnya menunjukkan seseorang sedang menginterogasi Ori. Memang benar Ori-lah yang memasukkan racun. Akan tetapi itu juga perintah Key. Ia menunjukkan bukti chat dan bukti uang yang diberikan Key.
Ardhan tak akan selesai jika memikirkan ini terus. Ia segera bangkit dan melakukan sedikit peregangan. Ia meminum banyak air. Takut-takut Key meracuninya lagi saat makan. Setelah selesai Ardhan pergi mandi dan bersiap sarapan.
"Keadaan Kakek gimana bi?" tanya Ardhan pada bi Titin yang sedang menyiapkan nasi goreng Noah.
"Masih belum ada kemajuan Tuan," jawab bi Titin.
Ardhan termenung. Kesehatan Kakeknya tak memburuk dan tak membaik. Mungkin ia harus mencari dokter yang lebih ahli.
Ardhan dan Noah makan dalam diam. Bi Titin membawa makanan dan obat ke kamar Kakek. Mereka segera menghabiskan sarapan dan pergi ke kantor.
"Bang gue bawa mobil sendiri ya," ucap Noah.
"Oke," jawab Ardhan singkat.
Mereka mengemudikan mobil masing-masing. Noah berangkat duluan dengan cepat. Ardhan hanya bisa menggeleng melihat tingkah adik angkatnya itu.
Lo kira lagi balapan dek, batinnya.
Ardhan melajukan mobil dengan santai. Ia ingin menikmati sejuknya udara pagi sebelum terpolusi. Ia menyapa beberapa orang komplek yang dikenalnya. Ardhan memang orang yang sangat ramah dan baik hati. Ia tak ingin menyombongkan harta orangtuanya.
Ardhan sampai di kantor. Ia melihat Key sedang sarapan di kantin. Ia memutar jalan mengambil jalan khusus. Ia masuk ke ruangan dan belum menemukan Noah.
"Permisi Pak," panggil seseorang di luar.
"Masuk," jawab Ardhan.
Seorang wanita memasuki ruangan Ardhan membawa tumpukan kertas. Ia menghampiri meja Ardhan dan meletakkan kertas itu dengan hati-hati.
"Ini Pak berkas penting yang harus segera ditanda tangani," ucap wanita itu.
Ardhan hanya menatap wanita itu. Tatapannya tak selembut biasanya.
Kenapa kamu tega Key, batinnya.
"Key, duduk," perintah Ardhan.
Key menurut dan duduk di sofa. Ardhan menghampirinya dan ikut duduk. Ia menatap Key yang menunduk. Tidak biasanya Key takut. Hal ini semakin membuktikan bahwa ia bersalah.
"Kenapa kamu tega Key?" tanya Ardhan to the point.
"Maaf Dhan, maaf," Key tetap menunduk.
Belum bilang masalahnya saja sudah tau mau menuju kemana, batin Ardhan.
"Kenapa?" tanya Ardhan lagi.
"Aku calon suami kamu. Kenapa kamu tega?" lanjut Ardhan bertanya.
"A--aku cuma gak suka lihat kamu sama Iko pelukan," jawab Key menunduk.
Ardhan masih diam menunggu penjelasan Key selanjutnya.
"Aku gak salah Dhan. Ini semua salah kamu. Kenapa kamu pelukan sama Iko? Aku calon istri kamu," lanjut Key membalik keadaan.
"Kenapa jadi aku yang salah? Jelas-jelas kamu mau bunuh aku," ucap Ardhan tak mau kalah.
"Kamu menghianati aku. Kalo kamu gak pelukan sama dia aku gak akan racunin kamu. Lagian racun itu cuma buat kamu pusing dan bentol-bentol. Gak akan bisa membunuh kamu. Keterlaluan kamu," ujar Key.
"Kamu yang keterlaluan. Aku sama Iko cuma teman. Kamu juga udah tau. Sejak kecil kita udah bareng. Dan walau racun itu gak bunuh aku tapi kamu tega nyakitin aku?" tanya Ardhan kesal.
"Kalo kamu gak sakitin aku, aku gak akan sakitin kamu. Apa yang kamu tabur itu yang kamu tuai Dhan," jawab Key dan berlalu pergi.
Ardhan mengacak rambutnya frustasi. Mereka berdebat dan tak memiliki ujung. Key tak mau disalahkan dan malah menyalahkan Ardhan.
"Aku memang salah Key, tapi kamu lebih salah!" teriak Ardhan.
Sial. Kenapa jadi gini? tanyanya dalam hati.
Ia kembali ke mejanya dan melihat tumpukan kertas itu.
"Arrrggghhh ...," teriaknya frustasi dan melemparkan seluruh kertas.
Ia memejamkan mata dan memijat dahinya. Pikirannya sangat kacau. Ia tak pernah menghadapi kemarahan wanita sebelumnya.
Ardhan memutuskan mengambil gawainya dan menelepon seseorang.
"Gimana masalah perusahaan?" tanya Ardhan.
"Sebentar lagi saya kirim boss," jawab orang itu.
Ardhan mematikan sambungan dan melempar gawainya asal. Ia mendengkus kasar. Ia mencoba menarik napas untuk menenangkan dirinya.
mohon dukungannya juga untuk novelku kak....SunFlower. mohon tinggalkan saran, masukan dan kritik kan dariku yang masih belajar ini....🙏🏻😊🤗
semangat terus, ditunggu updatenya
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
💛 Good luck! 💛
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
semangat^^
maaf Cinta dan air mata dan cinta Berlumur Dosa tahap penghapusan gak usah di like ya Thor 🙏🙏