NovelToon NovelToon
Wanita Simpanan Sang Mafia

Wanita Simpanan Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Karla Arias

Leonardo Torricelli adalah bos mafia paling ditakuti di seluruh Italia—dingin, berkuasa, dan tak pernah menunjukkan wajahnya pada siapa pun. Ia sudah punya istri dari pernikahan yang dipaksakan, dan sederet wanita yang datang lalu ia campakkan. Cinta bukan sesuatu yang ada dalam kamusnya.

Sampai suatu malam ia melihat Ayla.

Gadis lugu berdarah Italia itu hanya membantu di bar milik ayahnya sebelum kembali ke Kanada untuk mengejar mimpinya menjadi seorang guru. Ia tak tahu apa-apa tentang dunia hitam—hingga sang mafia menjeratnya lewat sebuah kontrak yang tak bisa ia tolak: satu tahun menjadi wanita simpanan Leonardo Torricelli, ditukar dengan utang ayahnya.

Ayla bersumpah tak akan pernah menyerahkan hatinya. "Kau bisa memaksaku ke ranjangmu," katanya, "tapi kau tak akan pernah mendapatkan hatiku."

Namun di balik pria yang mengisap cerutu dan menandatangani kematian tanpa berkedip itu, ada sesuatu yang mulai retak setiap kali ia menatap Ayla. Dan di balik ketegaran gadis yang selalu menyapanya dengan sopan berjarak itu, ada perasaan yang perlahan mengkhianati janjinya sendiri.

Cinta di antara seorang mafia dan perempuan biasa tak pernah datang tanpa harga. Akan ada peluru, pengkhianatan, air mata, dan pilihan-pilihan yang mengoyak hati. Ketika masa lalu, para musuh, dan sebuah rahasia besar mulai menghancurkan segalanya, keduanya harus memutuskan: apakah cinta yang terlahir dari sebuah kontrak sanggup bertahan melawan seluruh dunia yang ingin memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karla Arias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPULANGAN LEONARDO

Alessandra sedang duduk di taman rumahnya. Taman itu indah, dan ia sendiri yang merawat bunga-bunganya.

"Nyonyaaa, Nyonyaaa…" terdengar suara seorang pelayan rumah.

"Ada apa?"

"Tuan Leonardo baru saja tiba."

Alessandra langsung bangkit dan bergegas menyongsongnya.

"Tolong pergi ke dapur, buatkan makanan kesukaannya," pintanya kepada si pelayan.

Pelayan itu mengangguk, dan Alessandra pun berjalan lebih dulu. Leonardo berdiri di pintu masuk, meletakkan kopernya sambil membaca beberapa dokumen.

"Leonardo, kau sudah pulang."

"Ya… Apa kabar?"

"Baik… dan kau, bagaimana perjalananmu?"

"Baik. Aku akan tinggal beberapa waktu di sini."

"Aku senang sekali mendengarnya."

Leonardo mengangguk, lalu mendekat dan mengecupnya.

Seorang pelayan menghampiri untuk mengangkat koper ke kamar.

"Kau haus?" tanya Alessandra.

"Ya, tapi nanti saja aku minum, jangan khawatir. Aku ingin mandi dulu."

Meski tak mencintai istrinya, Leonardo tetap bersikap hormat dan ramah kepadanya.

Ia pergi mandi, dan begitu keluar, Alessandra sudah menyiapkan seluruh pakaiannya. Leonardo tersenyum, meraih pinggang istrinya, dan mulai membelainya. Alessandra pasrah menyerahkan diri. Leonardo memandang istrinya yang jelita, lalu mengangkatnya; Alessandra melingkarkan kedua kakinya di pinggang Leonardo, dan mereka pun bercinta. Leonardo menghunjam keras, Alessandra mendesah dalam kenikmatan. Ia benar-benar mencintai lelaki itu dan mendambakan cintanya kembali—tapi Leonardo tak merasakan hal yang sama.

Leonardo memang lelaki yang bergairah dan berapi-api terhadap perempuan; itu mengalir dalam darahnya. Namun terhadap Alessandra, ia hanya merasa berhak memilikinya, semata karena perempuan itu istrinya.

Setelah selesai, Leonardo masuk ke ruang kerjanya. Ia punya banyak urusan bisnis, dan rumahnya bersama sang istri dijaga sangat ketat—terlebih saat ia berada di sana. Alessandra bahagia memiliki suaminya di rumah. Meski tahu Leonardo tak mencintainya, ia senang bisa melihatnya setiap hari, apalagi karena Leonardo berkata akan tinggal beberapa waktu.

Di tempat lain, Ayla tengah menikmati liburannya. Ia kini sudah menempuh program masternya untuk semakin memperdalam bidangnya. Ia pulang menemui ayahnya, dan begitu tahu, Fiorella langsung bersungut-sungut. Ia tak suka Ayla ada di rumah, sebab menurutnya adiknya itu mencuri perhatian semua orang.

Ayla berangkat sangat pagi dan tiba pada sore hari. Ketika ayahnya melihatnya, ia menyambut hangat. Ayah memang menyayangi Ayla—hanya saja tak sebesar sayangnya kepada Fiorella.

"Ayah perlu bantuanku di bar?"

"Kalau kau berkenan, Nak, tolong ya."

Ayla menurut dan pergi ke sana. Sesampainya, ia melihat Fiorella dan menyapanya, tapi kakaknya hanya menjawab dengan ketus.

Mereka menjaga bar sementara sang ayah mengurus beberapa pembayaran. Di perjalanan, ayah mereka mendengar kabar bahwa para mafia paling berkuasa sedang berada sangat dekat dari situ.

"Anda harus berhati-hati. Punya bar begini, pasti cepat atau lambat mereka akan muncul di sana."

"Kalau mereka menampakkan diri, kurasa tidak—tak ada yang mengenali mereka. Tapi soal mereka mampir cepat atau lambat, kurasa memang begitu."

Semua orang di Italia diliputi ketakutan dan mulai cemas. Mereka tak tahu siapa para mafia itu, tapi karena hidup di jalur yang salah, mereka sadar nyawa mereka terancam—sebab selalu ada kematian dan desing peluru di mana pun kelompok itu berada.

"Kita harus hati-hati. Para bajingan itu ada di sini, dan bukan tak mungkin mereka akan sampai ke tempat kita," kata sang ayah kepada kedua putrinya.

"Kalau begitu kita harus menutup bar, Ayah! Kita tak boleh berada di sini!" seru Ayla penuh cemas.

"Aku tak bisa melakukan itu, Nak! Ini warisan kita, dari sinilah kita hidup!"

Ayla tetap khawatir, tapi tak berkata apa-apa lagi dan melanjutkan pekerjaannya bersama Fiorella.

"Kau akan tinggal lama di sini?" tanya Fiorella.

"Tidak, hanya selama liburan… tapi aku akan pulang lebih cepat."

"Begitu, ya."

Hari-hari berlalu seperti itu. Sementara di sisi lain, Leonardo yang sudah pulang tak juga keluar rumah. Berhari-hari ia bercinta dengan istrinya—bukan karena begitu menginginkannya, melainkan karena ia belum keluar, dan Alessandra pun menyadarinya.

Bianca, sahabat terbaik Alessandra, datang berkunjung.

"Kau tahu orang-orang sudah ramai membicarakan bahwa para buronan paling dicari itu ada di Italia?"

"Ya, aku sudah dengar. Tapi dia bahkan belum keluar rumah, dan aku tak mengerti kenapa."

"Benarkah? Dan kau bahagia, kan?"

"Ya, tak bisa kupungkiri. Kami bercinta tanpa henti dan aku menyukainya. Aku tahu alasan dia melakukannya, tapi tak masalah—aku senang dia ada di dekatku."

"Kalau rencana ayahmu dulu cuma untuk menyatukan modal dan bisnis, kurasa sekarang kau sudah tak berguna lagi baginya. Sahabatku, seharusnya kau berpisah darinya dan mencari lelaki yang benar-benar mencintaimu!"

"Tidak, aku tak bisa! Lagi pula perjanjian kami adalah dia tak akan pernah meninggalkanku."

Bianca tak berkata apa-apa lagi. Sahabatnya terlalu keras kepala, dan ia tahu percuma memaksanya soal itu.

Hari itu Alessandra memperhatikan Leonardo berdandan rapi.

"Kau mau keluar?"

"Ya, aku akan menemui Franco untuk menutup sebuah kesepakatan… jangan menungguku, ya?"

Leonardo mengecup dahinya dan pergi. Franco adalah orang kepercayaannya, bersama Luciano. Ia menuju tujuannya dengan pengawalan ketat, tapi semua tampak tak kasat mata—mereka tak ingin menarik perhatian. Ia bertemu untuk merampungkan sebuah kesepakatan.

"Akhirnya Leonardo Torricelli ada di sini. Apa kabar?" sapa pria itu.

"Baik, dan… kau?"

"Baik juga, Tuan."

Kedua lelaki itu saling menatap penuh waspada, namun mereka tetap berhasil menutup kesepakatan.

"Saya ingin mengajak Anda ke sebuah bar, Tuan Torricelli."

"Boleh saja."

Mereka tiba di sebuah bar, dan kehadiran mereka langsung menyita perhatian—semuanya berwajah rupawan dan memikat.

Tentu saja Torricelli-lah yang paling menarik pandangan, terutama dari caranya mengisap cerutu.

Beberapa jam sebelumnya, di bar milik ayah Ayla, akhir pekan selalu ramai pengunjung. Maka Ayla menawarkan diri membantu di malam hari, dan ayahnya setuju. Namun Fiorella tak sudi membiarkan adiknya berbuat lebih banyak lalu terlihat lebih baik di mata sang ayah, jadi ia pun ikut menawarkan diri.

"Baiklah, tapi aku tak mau kau menggoda-goda pria di sana," kata ayahnya kepada Fiorella.

"Aku janji."

Fiorella lalu mempercantik diri, berharap bisa memikat seorang pria yang mau membawanya pergi dari situ agar ia tak perlu bekerja lagi. Ia terlalu genit; bahkan sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan pria, tapi tak ada yang menganggapnya serius. Saat ia berada di sana dan Torricelli muncul, Fiorella ternganga. Ia begitu terpikat hingga rela melakukan apa saja demi menjerat pria itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!