Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kebiasaan Tidur
Suara gemericik air dari keran dapur akhirnya berhenti. Naya mengelap tangannya hingga kering dengan serbet bersih, lalu merapikan sisa alat makan yang telah ia cuci dan menatanya rapi di rak. Usai tugasnya tuntas, ia menghembuskan napas pelan.
Kehangatan makan malam yang cair dan penuh perbincangan tipis tadi mendadak menguap, berganti dengan riak canggung yang merayap naik.
Kini, tugas domestik sudah selesai. Artinya, waktu untuk beristirahat telah tiba, dan itu berarti mereka harus memasuki area paling privat di apartemen ini, kamar tidur utama.
Naya membalikkan badan dengan ragu. Di area ruang tengah, Arka tampak berdiri di dekat meja kerjanya, sedang menyesap sisa air putih dingin sembari memeriksa email di tablet. Jasnya sudah tertanggal, menyisakan kemeja putih yang kini lengannya tergulung rapi dan dua kancing teratasnya terbuka.
“Pak... piringnya sudah selesai saya cuci,” ujar Naya pelan, memecah kesunyian.
Arka meletakkan tabletnya di atas meja, lalu menoleh. Pandangannya kembali datar dan tenang. “Terima kasih. Kalau begitu, bersiaplah untuk tidur. Hari sudah makin malam.”
“B-baik, Pak.”
Langkah Naya terasa berat saat mengikuti Arka yang berjalan terlebih dahulu menuju pintu kamar utama. Walaupun ini bukan pertama kalinya mereka berada di ruangan yang sama, rasa canggung malam ini terasa berkali-kali lipat lebih menghimpit.
Pintu kamar terbuka. Kamar berukuran luas dengan interior minimalis modern bernuansa abu-abu dan kayu gelap itu menyambut mereka. Di tengah ruangan, terhampar sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei putih bersih yang tertata sangat rapi.
Naya berdiri kaku di dekat ambang pintu, seperti patung. Matanya terus melirik ke arah tempat tidur besar itu, lalu beralih ke sofa panjang yang berada di sudut dekat jendela besar.
Arka yang menyadari gerakan tubuh Naya yang serba kaku itu menghentikan langkahnya di dekat lemari pakaian. Ia mengambil baju tidur santainya, lalu membalikkan badan menatap Naya lurus.
“Kenapa masih berdiri di sana?” tanya Arka.
“Saya... saya tidur di sofa saja malam ini, Pak,” potong Naya cepat, menunjuk sofa panjang di dekat jendela. “Sofa itu sepertinya cukup empuk dan lebar untuk saya.”
Arka memicingkan matanya sejenak, lalu menghela napas pelan. Ia melangkah mendekati sisi tempat tidur, menyandar santai di pinggirannya sembari melipat kedua tangan di dada.
“Naya, kamu tidak perlu sebingung dan sekhawatir itu. Saya cukup tahu diri,” ujar Arka dengan suara berat dan tenang, matanya menatap Naya tanpa ada keraguan.
Naya menahan napasnya, menatap Arka dengan pandangan bertanya-tanya.
“Pernikahan ini cuma sandiwara di atas kertas,” lanjut Arka lugas.
"Saya cuma butuh status ini untuk meredam gosip miring dan mempertahankan posisi saya sebagai pewaris, bukan untuk memanfaatkan keadaan. Lagipula... saya tidak tertarik dengan gadis ingusan seperti kamu. Saya tidak akan berbuat macam-macam, jadi kamu tidak perlu tidur di sofa.”
Naya terpaku di tempatnya. Kata 'gadis ingusan' yang keluar dari mulut CEO itu sempat menusuk sedikit, tetapi kejujuran Arka justru seketika meruntuhkan tembok ketakutan yang sejak tadi menumpuk di dadanya.
Pria di depannya ini, terlepas dari segala kekuasaan dan sikap kaku yang dimilikinya, memegang teguh batas kesepakatan di antara mereka.
“Lagipula,” tambah Arka sembari melangkah menuju kamar mandi,
“meskipun Doni sudah tahu dari awal kalau pernikahan ini cuma sandiwara, petugas kebersihan yang masuk tiap pagi tidak tahu. Kalau mereka lihat kamu tidur di sofa, rumor baru bisa bocor ke mana-mana. Tidur di kasur. Tempat tidurnya cukup luas buat berdua tanpa perlu bersentuhan.”
“B-baik, Pak... Terima kasih,” bisik Naya pelan, menunduk untuk menutupi rasa canggung dan pipinya yang sedikit memanas.
Arka hanya mengangguk tipis sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, setelah Arka selesai dan giliran Naya yang membersihkan diri, suasana kamar menjadi jauh lebih tenang. Tidak ada lagi kecanggungan yang menekan secara berlebihan.
Arka sudah berbaring di sisi kanan tempat tidur, menyandarkan punggungnya sembari membaca dokumen di ponsel. Ketika Naya naik ke sisi kiri kasur dengan gerakan pelan, Arka bahkan tidak mengusiknya sama sekali, memberikan ruang penuh agar Naya merasa aman.
Klik.
Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu tidur remang-remang yang hangat di sudut ruangan.
“Selamat malam, Pak Arka,” ujar Naya pelan, menarik selimut hingga sebatas dada dan memiringkan tubuhnya membelakangi Arka.
“Malam. Tidurlah,” balas Arka singkat dengan suara beratnya.
Di balik kegelapan kamar yang tenang, Naya akhirnya bisa memejamkan mata dengan napas teratur.
Di sisi lain, Arka menatap langit-langit kamar sejenak, meyakinkan dirinya sendiri bahwa batas profesional ini akan terus ia jaga rapat-rapat, tak peduli seberapa hangat keberadaan Naya yang kini mengikis sudut sunyi di kehidupannya.
*
*
Suasana kamar yang semula sunyi dan dipenuhi ritme napas teratur seketika membeku.
Arka yang baru saja hendak berlayar ke alam mimpi membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya mendadak kaku bagai patung batu. Sensasi hangat yang tiba-tiba menempel di sisi kirinya terasa begitu nyata.
Lengan halus Naya bertengger santai di atas perutnya, disusul beban ringan dari kaki kiri gadis itu yang kini menumpang nyaman di atas pahanya.
Naya rupanya tipe orang yang punya kebiasaan tidur 'heboh' jika sudah terlelap nyenyak, sangat bertolak belakang dengan sikap pemalu dan kaku yang ia tunjukkan saat terbangun.
Arka menghentikan napasnya sejenak, mencoba mencerna situasi. Mata tajamnya bergulir ke bawah, menatap lengan dan kaki Naya yang memeluknya erat bagai guling kesayangan.
“Naya...” panggil Arka dengan nada sepelan mungkin, suaranya sangat berat dan sedikit serak khas bangun tidur.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya gumaman halus dan helaan napas teratur dari gadis itu. Naya justru makin melesakkan wajahnya ke arah bahu Arka, mencari sumber kehangatan di tengah dinginnya AC kamar.
Sudut bibir Arka berkedut tipis. Pernyataannya beberapa menit lalu tentang "tidak akan bersentuhan" dan "mempertahankan batas profesional" seketika runtuh total, bukan karena niatnya, melainkan karena ulah polos gadis di sampingnya ini.
Dengan sangat hati-hati, Arka memegang pergelangan tangan Naya, mencoba mengangkatnya perlahan dari perutnya agar tidak membangunkan gadis itu.
Namun, baru saja tangan itu terangkat beberapa sentimeter, Naya malah menggerutu kecil dan refleks makin mempererat pelukannya, mengunci posisi Arka tanpa celah.
Arka menelan ludah, menatap langit-langit kamar yang remang dengan helaan napas panjang. Sepertinya, malam pertamanya mempertahankan batas profesional akan jauh lebih berat daripada mengelola proyek bernilai miliaran rupiah.
“Gadis ingusan ini... tadi bilangnya canggung sampai mau tidur di sofa. Sekarang malah menjadikan saya guling?” batin Arka, menatap lengan dan kaki Naya yang memeluknya erat.
Ia mencoba menggeser kaki Naya secara hati-hati, tetapi gadis itu justru makin mempererat kuncian dan bergumam halus, menyembunyikan wajah di dekat dadanya.
“Astaga. Katanya tidak akan bersentuhan, tapi kalau begini caranya, gimana saya bisa tidur? Kalau saya geser kasar, nanti dia bangun terus malah makin canggung. Kalau dibiarkan... jantung saya yang tidak bisa diajak kompromi.”
Arka mengusap wajahnya kasar dengan tangan kanan yang masih bebas, menatap langit-langit kamar dengan pasrah.
“Tahan diri, Arka. Kamu sendiri yang bilang pernikahan ini cuma di atas kertas. Tapi kenapa dari semua kebiasaan tidur di dunia, dia harus punya hobi meluk begini?” gerutu Arka dalam hati.
–tbc–
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak