NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murni Kontrak

***

"Sekarang kamu boleh keluar."

Alana menarik kembali kertas yang telah dibubuhi tanda tangan dan data diri Mirza, lalu menyimpannya dengan rapi di dalam laci meja. Tatapannya kembali dingin dan formal, seolah penawaran gila yang baru saja dilontarkannya hanyalah sebuah transaksi bisnis biasa.

"Nanti malam saya akan selesaikan draft surat perjanjian resminya secara detail, termasuk pasal-pasal hak, kewajiban, dan konsekuensi hukumnya. Besok pagi sebelum jam kantor dimulai, kamu harus datang ke ruangan saya lagi untuk baca dan tanda tangani dokumen itu."

Mirza berdiri pelan dari kursinya, merapikan berseragam OB-nya yang sedikit kusut. Tenggorokannya terasa masih amat kering.

"Baik, Bu Alana. Kalau begitu saya permisi kembali bekerja."

"Satu lagi, Mirza," panggil Alana tepat sebelum pria itu menyentuh gagang pintu.

Mirza menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Iya, Bu?"

"Mulai detik ini, jaga mulut kamu rapat-rapat. Jangan sampai ada satu orang pun di kantor ini yang tahu soal kesepakatan kita tadi. Kalau sampai ada desas-desus ganjil yang bocor sebelum waktunya, anggap saja perjanjian ini batal dan kamu langsung saya pecat hari ini juga."

"Saya mengerti, Bu. Saya tidak akan bicara pada siapa pun," jawab Mirza mantap, lalu melangkah keluar dan menutup pintu penthouse itu tanpa suara.

Alana bersandar penuh pada kursi kebesarannya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan. Tekanan dari sang mama, ancaman pencopotan posisi CEO, hingga perjodohan paksa yang mengintai, semuanya kini punya jalan keluar.

Biarlah Mama Dwi syok setengah mati saat tahu calon menantu yang dibawanya bukanlah pengusaha kaya raya, melainkan seorang OB di perusahaannya sendiri.

***

"al, yuk makan siang di luar! Ada restoran baru buka di dekat persimpangan, katanya pasta-nya enak banget," cerocos Shiren yang tiba-tiba melongokkan kepalanya dari balik pintu ruangan Alana.

Alana memindahkan pandangannya dari layar laptop, menggeleng pelan.

"Enggak usah. Bukannya setelah makan siang aku masih ada meeting sama jajaran direksi Bank?"

"Ya ampun, kamu ingat aja sih," desah Shiren, memutar bola matanya.

"Ya udah deh, mau makan di mana dong kalau enggak keluar?"

"Makan di kantin kantor saja, simpel dan hemat waktu," jawab Alana singkat sembari merapikan tumpukan berkas di mejanya lalu berdiri.

Keduanya lantas berjalan menuju kantin perusahaan yang berada di lantai dasar. Begitu pintu kantin terbuka, aroma aneka masakan langsung menyapa. Kantin sedang cukup ramai oleh para karyawan yang menikmati jam istirahat. Setelah memesan makanan masing-masing, Alana dan Shiren memilih duduk di salah satu meja area tengah yang cukup strategis.

Baru saja Alana hendak menarik kursinya, ekor matanya menangkap sosok yang tak asing di sudut ruangan.

Di sana, Mirza sedang duduk bertiga bersama dua orang ibu-ibu petugas kebersihan kantin. Pria itu tampak tenang menikmati makan siangnya sembari sesekali tersenyum menyimak obrolan kedua rekan kerjanya. Seragam OB-nya masih melekat rapi, dan wajahnya tampak jauh lebih rileks dibanding saat berada di dalam ruangan Alana tadi pagi.

Alana terpaku sejenak.

Tanpa sadar, tatapannya terkunci pada Mirza, memperhatikan gerak-gerik pria yang beberapa jam lalu baru saja menyetujui perjanjian gila untuk menjadi calon suaminya.

Alana tersentak kecil saat sebuah senggolan mendarat di lengannya. Dia menoleh dan mendapati Shiren sedang menatapnya dengan senyum jahil dan alis yang naik-turun.

"Hayo ... ngeliatin Mirza terus dari tadi," goda Shiren pelan sembari menahan tawa.

"Kenapa, Al? Tiba-tiba terpesona sama ketampanan OB kesayangan kantor ini?"

"Untuk apa terpesona? Dia itu calon suamiku," sahut Alana santai, lalu menyendok makanannya seolah baru saja membicarakan cuaca.

Uhuk! Uhuk!

Shiren yang baru saja meneguk es teh manisnya langsung tersedak hebat. Suara batuknya yang keras menggelegar, dan seketika itu juga dia bangkit berdiri dari kursi sampai memotong perhatian orang-orang sekitar. Beberapa karyawan di meja sebelah langsung menoleh heran melihat sekretaris CEO yang mendadak histeris.

Alana dengan sigap menarik lengan Shiren hingga wanita itu terduduk kembali.

"Shiren, duduk! Kamu mau bikin kita jadi pusat perhatian satu kantin, hah?" bisik Alana tajam sembari melotot.

"Gimana aku enggak kaget, Al?!" bisik Shiren setengah berteriak, memegangi dadanya yang berdebar kencang. Dia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menormalkan detak jantungnya yang serasa mau melompat keluar.

"Tolong ya, Alana Mahendra ... kalau mau cerita itu dikondisikan dulu. Jangan ngomong hal gila yang bisa bikin aku kena serangan jantung mendadak begini!"

Alana kembali memberikan tatapan mautnya, melotot lebih tajam hingga Shiren akhirnya mengatupkan bibir dan mengangguk nurut.

"Dengar baik-baik dan jangan potong omonganku," ancam Alana pelan. Jika Shiren bersuara lagi, dia bersumpah tidak akan menceritakan kelanjutannya.

Setelah memastikan Shiren benar-benar tenang dan mendengarkan, Alana pun memajukan tubuhnya. Dia membeberkan rencana gilanya secara rinci, tentang ancaman Tante Dwi tadi pagi soal perjodohan paksa, gertakan pemecatan dari posisi CEO, hingga tawaran nekat yang dia berikan pada Mirza di ruangannya setelah insiden kemeja basah.

Mata Shiren makin melebar di setiap kalimat yang keluar dari mulut Alana. Kebingungan, syok, dan ketidakpercayaan tercetak jelas di wajah sahabatnya itu.

"Jadi ... kamu menawari Mirza pilihan antara dipecat plus bayar ganti rugi, atau nikah sama kamu?" bisik Shiren dengan nada tak percaya.

"Dan dia setuju?!"

"Dia butuh uang buat pengobatan ibunya yang sakit parah, dan aku butuh status pernikahan cepat buat menangkis ancaman Mama," Alana bersedekap, melirik sekilas ke arah Mirza yang masih asyik mengobrol di sudut kantin.

"Ini transaksi yang saling menguntungkan. Aku bakal bayar seluruh biaya rumah sakit ibunya dan menaikkan gajinya, sementara dia cuma perlu bertindak sebagai pacar sekaligus calon suamiku di depan Mama."

Shiren menggeleng-gelengkan kepalanya, memegang pelipisnya yang mulai terasa pening.

"Al, ini gila. Ini nekat banget! Tante Dwi itu orangnya teliti dan keras kepala. Kalau sampai Tante Dwi tahu kamu menikahi OB perusahanmu sendiri cuma buat formalitas, perang dunia ketiga bisa pecah!"

"Justru itu poin utamanya," balik Alana dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan.

"Mama minta aku bawa pacar yang pantas, tapi di saat yang sama Mama merendahkan laki-laki dari kalangan biasa. Biar Mama tahu rasanya kalau keputusannya yang terlalu menekan malah bikin aku nekat membawa seorang OB sebagai calon mantunya."

Shiren menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Alana dengan selidik.

"Tapi Al, aku enggak yakin ini cuma sebatas keuntungan sesaat saja. Bagaimana kalau nanti kamu benar-benar jatuh cinta sama dia?"

Alana tertawa hambar.

"Jatuh cinta? Sama OB yang baru numpahin kopi ke kemejaku? Nggak bakal."

"Heh, jangan sesumbar!" Shiren menunjuk Alana dengan ujung sumpitnya.

"Mirza itu ganteng, Al. Ganteng total malahan! Aku aja meleleh tiap kali ditatap atau disapa sama dia di lorong. Tiap kali dia bilang Selamat pagi, Mbak Shiren, itu langsung bikin aku semangat kerja seharian di bawah tekanan bos dingin kayak kamu."

Alana memutar bola matanya malas.

"Lebay kamu."

"Aku serius!" potong Shiren cepat.

"Lagian kenapa tiba-tiba pikiranmu langsung tertuju ke Mirza? Di luar sana kan banyak laki-laki lain yang bisa kamu bayar buat pura-pura jadi pacar. Tapi kamu malah milih Mirza yang baru seminggu kerja di sini. Jangan-jangan ... ini cinta pada pandangan pertama? Kamu aja yang belum menyadarinya!"

"Jangan ngarang cerita romance picisan deh," cetus Alana sambil mengaduk makanannya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya atas analisa Shiren.

Shiren terkekeh geli melihat reaksi sahabatnya.

"Terserah deh kamu mau ngeles apa. Tapi apa pun alasannya, aku seneng banget. Akhirnya temanku yang satu ini bakal melepas masa jomblonya juga, walaupun lewat jalan yang amat sangat nekat."

"Sudah, jangan bahas ini lagi di sini," potong Alana pelan sembari melirik sekitar, memastikan tidak ada karyawan lain yang mendengar. Dia lalu melirik jam tangannya dan berdiri dari kursi.

"Nanti habis meeting jam satu, kamu langsung ke ruanganku. Bantu aku siapkan draft kontrak perjanjian kami secara detail. Jangan sampai ada celah yang bikin dia bisa nuntut aku di kemudian hari."

"Siap, Bu CEO! Melaksanakan perintah!" jawab Shiren sambil tersenyum jahil.

***

Selesai meeting dengan jajaran direksi Bank yang melelahkan, Alana melangkah kembali ke ruangannya. Tak berapa lama, Shiren masuk membawakan beberapa lembar dokumen draft perjanjian kerja sama yang sudah diprint.

"Nih, Al. Draft kontraknya udah aku bikin sesuai poin-poin yang kamu minta tadi," ujar Shiren sambil menyerahkan berkas tersebut ke meja Alana.

"Aku kasih beberapa klausul tambahan juga biar makin rapi."

Alana mengambil berkas itu dan membacanya dengan teliti. Di dalamnya tertulis jelas aturan main mereka, pernikahan ini murni kesepakatan bisnis, berlaku selama satu tahun, tidak ada kewajiban hubungan suami-istri secara lahir batin, seluruh biaya pengobatan ibu Mirza ditanggung penuh oleh Alana, serta jaminan kerahasiaan mutlak dari kedua belah pihak.

"Bagus," gumam Alana puas.

"Minta Mirza naik ke ruangan aku sekarang."

Shiren mengangguk lalu keluar. Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Alana terketuk pelan. Mirza melangkah masuk dengan ragu, masih mengenakan seragam OB-nya.

Wajahnya tampak tegang, tahu betul apa yang menunggunya di dalam.

"Duduk, Mirza," perintah Alana singkat.

Mirza duduk di kursi yang sama seperti tadi pagi. Alana menggeser dua rangkap dokumen beserta sebuah pulpen mewah ke hadapan Mirza.

"Ini draft perjanjian kita. Baca baik-baik setiap poinnya. Kalau ada yang tidak kamu setujui, kamu boleh komplain sekarang," tegas Alana.

Mirza membaca lembar demi lembar dengan seksama. Matanya tertahan lama pada bagian pasal yang menyebutkan bahwa seluruh biaya rumah sakit ibunya akan langsung dilunasi oleh pihak Alana sore ini juga, serta uang saku bulanan yang jumlahnya sangat fantastis untuk ukuran seorang OB.

"Bu Alana ...." Mirza mendongak, menatap Alana dengan raut serba salah.

"Ini ... nominalnya terlalu besar buat saya."

"Itu harga yang pantas untuk risiko yang bakal kamu hadapi dari Mama saya," potong Alana dingin.

"Kalau kamu setuju, tanda tangani di atas meterai sekarang."

Tanpa ragu lagi, demi sang ibu yang membutuhkan pertolongan cepat, Mirza mengambil pulpen tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di kedua rangkap dokumen.

"Selesai," ucap Mirza pelan.

Alana mengambil kembali dokumen itu, lalu menyunggingkan senyum tipis.

"Selamat bergabung dalam permainan ini, Mirza. Sekarang, tugas pertama kamu, ikut saya beli pakaian yang pantas. Nanti malam, kamu ikut saya makan malam formal untuk bertemu dengan calon mertuamu."

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!