azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh dua
"Kamu nggak harus mengurus Rara 24 jam, Za. Biarkan mbak Asti mengurus Rara, itu tugasnya"
Azalea yang sedang menidurkan Rania di buaian, tersentak menoleh. Kiano baru saja pulang, Azalea sempat melirik jam dinding, baru pukul 3 sore, mengapa pria ini cepat pulang.
"Kalau kamu terus saja berada di dekat Rara, nanti agak sulit ketika kamu pergi"
Azalea menghela nafasnya, sedikit kesal. Sebenarnya mau Kiano ini apa, azalea keluar dia nggak suka, Azalea di rumah saja, dia juga nggak suka.
"mbak Asti ijin keluar sebentar, Mas. Ada urusan penting dengan agensinya"
Kiano, pria itu terdengar menghela nafasnya. Tetap berdiri di samping sofa di ruang keluarga. Jasnya di sampirkan ke atas sandaran sofa, pria itu terlihat sedang berpikir keras.
"sudah 3 hari sejak pembicaraan kita, Za. Kapan Yohan menemuiku?"
Azalea, lagi dan lagi menghela nafasnya, dan terdengar berat. Gadis itu bangun dari duduknya, setelah memastikan Rania sudah tertidur nyenyak.
"Yang harus mas Yohan temui itu orangtuaku mas, bukan kamu. Kamu bukan waliku"
Azalea hendak melangkahkan kakinya, namun sesaat berbalik, menatap Kiano dengan sorot mata lelah.
"Kalau Mas Kian sudah sangat ingin menceraikan aku, ceraikan saja!"
"Zaa, aku.."
Belum sempat Kiano menjawab, gadis itu sudah berlalu dari hadapannya, ada nada getir dalam ucapan Azalea barusan. Apakah Azalea marah padanya.
Kiano menghembuskan nafasnya sedikit keras, meraih jas yang ia sampirkan tadi, sebelum melangkah menuju kamarnya, Kiano menjengukkan kepalanya, melihat Rania yang tertidur nyenyak.
Putrinya itu semakin gempal, usianya juga sudah setahun lebih 4 bulan. Tak terasa ternyata ia kehilangan Naima juga sudah selama itu.
Kiano melangkah lambat, masih sempat melirik ke arah kamar Azalea yang tertutup. Sebenarnya Kiano merasa bersalah pada Azalea, entah apa yang membuat gadis itu berpikir untuk menjadi istrinya.
Kiano tidak bisa, bukan saja karena ia masih sangat mencintai Naima, Kiano tidak pernah bisa menganggap Azalea sebagai wanita seutuhnya.
Kiano tidak pernah berdebar karena Azalea.
'Eh tunggu, bukankah dia juga berdebar saat mencium bibir gadis itu'
Kiano menggeleng cepat, "Tidak mungkin" gumamnya.
"Saat itu aku hanya terbawa suasana, karena kerinduanku pada Naima"
Kiano melemparkan jasnya ke atas keranjang kain kotor, meletakkan tas kerja di atas sofa kamarnya.
Beberapa bulan terakhir ini, Kiano menyadari perubahan Azalea. Dan ia juga tahu perubahan itu karena dirinya.
Kiano sadar bahwa dirinya sedikit kejam, tapi Kiano tak ingin merusak masa depan Azalea. Azalea berhak menikah dengan pria yang mencintainya, sementara hal itulah yang tak dapat Kiano berikan.
Kiano menyabuni rambutnya, tiba-tiba kepalanya mengangguk, seakan ia teringat akan sesuatu.
"Besok, aku yang akan menemui Yohan. Aku harus menanyakan keseriusan pria itu pada Azalea"
Raut wajah Kiano berubah cerah, sembari mengusap tubuhnya dengan handuk, bibirnya bersiul senang.
"Aku akan pastikan kebahagiaanmu Za, anggap saja ini balas budiku akan kebaikan dan pengorbananmu" gumam Kiano mantap.
Sementara Azalea di kamarnya termenung sedih, gadis itu menatap langit dari balik jendela kamarnya.
Ia harus sadar diri, Kiano benar-benar tak memiliki perasaan apapun padanya. Lantas mengapa Azalea selalu galau seperti ini, ia sadar kalau ternyata dirinya menyukai Kiano.
Apakah Azalea harus membuka hatinya untuk Yohan, kemarin pria itu mengajaknya bertemu, tapi Azalea tak bisa menemuinya, Azalea tak ingin Kiano tersinggung atau apalah namanya, kalau Azalea bertemu lagi dengan Yohan di belakangnya dan tanpa sepengetahuan Kiano.
"drrrrttt, drrrrttt"
Azalea tersentak kaget, suara getar ponsel yang ia letakkan di atas meja menyadarkannya.
Azalea meraih ponsel itu, membuka layarnya dengan ketukan. Matanya mengernyit, sebuah notifikasi pesan dari aplikasi berlambang telepon.
'Za, kamu masih kepengen kerja kan?ada info loker nih'
Pesan dari Yohan ternyata, Azalea dengan lincah membalasnya, ternyata Yohan sedang menunggu jawaban darinya, begitu Azalea membalasnya. Pria itu langsung menghubunginya.
["Ayo ketemuan Za, mungkin lowongan ini cocok untukmu"]
Azalea sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga, tanpa salam apapun Yohan memberondongnya.
"Sekarang mas?"
["iya, kita ketemuan di tempat biasa yah"]
Azalea meletakkan ponselnya, begitu pria itu memutuskan panggilan. Dengan langkah ringan dan raut wajah cerah, Azalea bersiap-siap.
Semoga saja pekerjaan itu cocok untuknya, Azalea menyapu tipis wajahnya dengan bb cream, tak lupa bibirnya yang terlihat pucat, ia sapukan lipbalm.
Azalea menyambar pashmina hitam dari dalam lemarinya, celana highwaist dengan kemeja oversize membalut tubuh.
Azalea keluar dari kamar terburu-buru, mencari Kiano, rencananya hendak pamit. Namun azalea tidak menemukan pria itu, mungkin saja Kiano masih di dalam kamarnya.
Azalea hanya menitip pesan pada pengasuh Rania yang sedang bermain dengan bocah itu, yang ternyata sudah bangun.
Azalea juga sempat menciumi pipi bocah cantik itu, yang menggelinjang kesenangan. Rania mengulurkan tangannya minta di gendong, namun Azalea hanya mengelus kepala bocah itu lembut.
"Rara main bareng mbak Asti dulu yah sayang, mama ada urusan sedikit"
Setelah mencium Rania, Azalea memakai sepatu ketsnya, tanpa ia sadari Kiano yang baru saja membuka pintu kamar, mengamati Azalea dengan tatapan penuh selidik.
"Sudah jam 5 sore, mau kemana Azalea?" gumamnya sembari melirik jam dinding yang barusan berdentang nyaring.
********
Kiano duduk di ruang tamu, matanya tak henti melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Entah mengapa hatinya sedikit memanas, Azalea belum juga pulang. Tadi Asti, pengasuh Rania menyampaikan pesan Azalea. Kalau Azalea keluar ingin bertemu dengan Yohan.
"Apa-apaan ini?sudah pukul 9, Za. Kamu dimana?" gerutunya kesal, sesekali menatap layar ponselnya, siapa tahu ada pesan dari gadis itu.
Kiano berdiri, membuka gorden jendela kaca, melihat keluar, berharap Azalea pulang.
Nafasnya terdengar berulangkali mendengus berat. Hatinya benar-benar tak tenang. Kiano berjalan mondar mandir, tepat saat ia ingin membuka pintu, terdengar deru mobil di teras rumah.
Kiano menyingkap gorden, beneran mobil itu terparkir di depan pintu gerbang rumahnya.
Kiano sudah membuka pintu rumah, dengan langkah kaki sedikit panjang kiano ingin menyambut Azalea.
Namun langkah kakinya terhenti seketika, Yohan, pria itu mencengkeram pundak Azalea yang mendongak menatap pria setengah bule itu.
"Aku janji akan membahagiakanmu, Za. Aku pastikan kamu tidak akan menyesal menerima perasaanku"
Samar-samar ucapan Yohan sampai ke telinganya, Kiano merasa ada yang aneh merayap di dalam dadanya. Mengapa ia tidak suka mendengar ucapan Yohan, Kiano perlahan menarik kakinya masuk ke dalam, ia berdiri di balik pintu.
Azalea melambaikan tangannya, melepas kepergian Yohan. Mungkin ini keputusan terbaik, walau ia tahu perasaannya sendiri, Azalea tidak memiliki perasaan apapun pada Yohan, siapa tahu mungkin saja ini cara terbaik untuk menyadarkan hatinya yang bodoh untuk tak lagi berharap Kiano menatapnya sebagai wanita yang layak dicinta.
"Kenapa baru pulang?"
"Aahhhh.." jerit Azalea melonjak kaget, memegangi dadanya, daun pintu yang masih di pegangnya terdorong sepenuhnya terbuka.
"Mas Kian!" serunya, masih dengan mengelusi dadanya yang berdebar kaget tadi.
"Kenapa pergi nggak pamit tadi?"
Azalea yang hendak berjalan, menoleh. "Emang Mbak Asti nggak nyampein pesanku?"
Kiano tidak menjawab, ia hanya berdiri dengan tangan yang bersidekap, berdiri dengan posisi penuh dominasi.
"Emangnya kamu nggak bisa pamit langsung ke aku?"
Azalea mengernyitkan keningnya heran, mengapa nada suara pria ini terdengar datar dan dingin.
"Segitu senangnya kamu kepengen ketemu Yohan, sampai nggak sempat pamit ke aku!"
"Mas.."
"Kamu masih istriku, Za! Ingat kalau kamu masih tanggung jawabku, tolong hargai aku"
Kening Azalea semakin berkerut, apa sih maunya pria ini. Azalea memutar tubuhnya, menghadap ke arah Kiano sepenuhnya, ia juga bersidekap, menatap Kiano lekat.
"Paling tidak bersabar sampai aku menceraikanmu"
"Sebenarnya mau Mas Kian, apa?" tatap Azalea tajam, kesal rasanya melihat Kiano yang plin plan seperti ini.
"Saat aku minta Yohan menemui aku, kamu keberatan. Tapi di belakangku kamu pacaran dengannya"
Kiano masih menunjukkan dominasinya, pria itu menatap Azalea dengan sorot dingin.
"Kamu berpura-pura tidak suka pada Yohan, berpura-pura ingin menjadi istriku seutuhnya, lantas apa tadi itu?kamu berciuman dengannya kan?"
"plaaak"
Kiano terkejut, begitu juga dengan Azalea. Tanpa sadar ia menampar Kiano yang menatapnya tak percaya.
"Kamu menamparku, Za?"
Azalea mendengus kesal, tanpa menjawab, ia meninggalkan Kiano yang masih memegangi pipinya tak percaya.
Bersambung...
.