NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 : Bukan sekedar alat, tapi rumah.

‎Suara langkah kaki dan panggilan lembut terdengar menggema di ruangan utama mansion yang luas itu.

‎‎"Kak Damian? Kak?"

‎‎Valentina berdiri di dekat pintu depan, matanya menyapu ruang tamu yang sepi, wajahnya tampak gelisah namun berusaha tetap tenang. Pelayan yang menyambutnya tadi membungkuk sopan lalu menjawab dengan hati-hati.

‎‎"Maaf, Nona... Tuan Damian sedang tidak ada di mansion. Beliau baru saja berangkat beberapa jam yang lalu dan tidak tahu pasti kapan akan kembali."

‎‎Valentina menghela napas kecewa, tangannya meremas tali tas kecil yang menggantung di bahunya.

‎‎"Begitu ya... Baiklah."

‎‎Belum sempat ia berbalik, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga marmer yang lebar. Valentina menoleh, dan melihat Celine berjalan menuruni anak tangga, wajahnya tenang namun matanya menyelidik melihat kedatangan iparnya ini sendirian.

‎‎"Valentina..." sapa Celine pelan saat sampai di lantai dasar, berhenti beberapa langkah di depan wanita itu. "Kau mencari Damian?"

‎‎Valentina menghembuskan napas kasar, menatapnya dengan malas, "Rupanya kau masih bertahan tinggal di mansion ini. Jangan kau pikir karena kejadian malam itu, aku tidak berani menegurmu."

‎‎Celine terdiam sejenak, tidak terpancing kemarahan maupun nada sinis itu. Ia hanya menatap Valentina dengan tenang, lalu melangkah maju selangkah lagi, suaranya tetap lembut namun tegas.

‎‎"Aku tidak bermaksud membuatmu marah, Valentina. Aku hanya bertanya."

‎‎"Jangan bersikap seolah kau paling suci di sini," potong Valentina cepat, suaranya meninggi sedikit, matanya menyala penuh kekesalan yang sudah lama tertahan. "Kau pikir aku tidak tahu? Semua ini hanya karena kau berhasil membuat Kak Damian tunduk padamu, bukan? Kau pikir dengan satu pernikahan ini kau benar-benar pantas berdiri di sini, di antara kami?"

‎‎"Aku tidak pernah memikirkan soal pantas atau tidaknya," jawab Celine tenang, tidak memalingkan wajah meski tatapan Valentina begitu tajam. "Aku hanya tahu, aku ada di sini karena Damian menginginkanku. Dan aku tidak akan pergi ke mana pun selama dia masih menginginkanku."

‎‎Valentina tertawa getir, menepuk-nepuk pelan udara di depannya seakan mendengar hal yang paling konyol.

‎‎"Bagus sekali. Jawaban yang manis. Tapi ingat baik-baik, Celine... aku ini adik kandungnya. Aku tahu bagaimana kakakku berpikir, bagaimana dia mengambil keputusan, dan apa yang dia butuhkan. Dan jujur saja... aku masih belum yakin kau benar-benar adalah sesuatu yang dia butuhkan." Ia berhenti sejenak, menatap Celine lekat-lekat sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih rendah namun penuh peringatan. "Jika bukan karena permintaan Oma, Kak Damian tidak akan pernah mau menikahi wanita sepertimu. Jadi... kau hanya alat, hanya alat untuk menyenangkan hati Oma saja."

‎‎Celine terdiam mendengar kata-kata itu, seakan ada sesuatu yang berat baru saja menimpa dadanya. Ia menarik napas pelan, mencoba menahan agar suaranya tidak bergetar saat akhirnya bersuara.

‎"Aku tahu awalnya pernikahan ini memang atas permintaan Oma. Damian pernah jujur soal itu padaku sejak awal."

‎‎Wajah Valentina sedikit terkejut, namun ia segera kembali memasang wajah sinisnya.

‎‎"Kalau kau sudah tahu, seharusnya kau tahu diri. Jangan berharap lebih. Jangan berpikir kau benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini. Kau hanya pelengkap, Celine. Dan kalau Oma nanti tidak ada, atau kalau Kak Damian sudah bosan... kau tahu apa yang akan terjadi?"

‎‎Celine mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke mata Valentina tanpa menyembunyikan apa pun.

‎‎"Aku tahu resikonya. Tapi Valentina... perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan, dan juga tidak bisa diatur oleh siapa pun, bahkan oleh Oma sekalipun. Kalau Damian tetap memilihku sampai sekarang, meski urusan dengan Oma sudah selesai... bukankah itu artinya ada sesuatu yang berubah di antara kami?"

‎‎Valentina terdiam sejenak, mulutnya terbuka hendak membalas, namun kata-kata itu tertahan di kerongkongan. Ia ingin membantah, ingin menyangkal, tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia pun tahu betapa tulusnya perhatian Damian pada Celine akhir-akhir ini.

‎‎"Kau hanya pandai merangkai kata-kata manis," ucapnya akhirnya, mengalihkan pandangan ke samping, mencoba menyembunyikan keraguannya. "Aku tidak akan terpengaruh omonganmu. Biarkan waktu yang menjawab. Tapi ingat satu hal... kalau sampai Kak Damian menjadi lemah di depan musuh-musuhnya karena kau, aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari sini, dengan cara apa pun."

‎‎"Itu tidak akan terjadi, Valentina." Celine menatapnya lembut namun tegas. "Dan aku harap... suatu hari nanti, kau bisa melihatku bukan sebagai 'wanita yang diminta Oma', tapi sebagai saudara perempuanmu sendiri."

‎‎Valentina mendengus pelan, "Kita lihat saja nanti!"

‎‎Setelah mengatakan itu, ia berbalik lalu melangkah menuju pintu, meninggalkan Celine sendirian di ruang tamu yang luas itu. Celine menatap pantulannya di kaca jendela besar, merasakan dadanya yang terasa sesak namun tetap berusaha kuat. Kata-kata Valentina itu tajam, namun ia tahu kemarahan adik iparnya itu lahir dari kekhawatiran, bukan sekedar kebencian murni. Dan itu memberinya harapan, bahwa mungkin suatu hari nanti, benteng pertahanan Valentina itu bisa runtuh perlahan.

-

-

-

‎Koridor bawah tanah itu terasa dingin hingga ke tulang. Lampu-lampu pijar tua di langit-langit hanya memancarkan cahaya kuning redup, bergoyang pelan tertiup angin lembab yang menyusup dari ventilasi dinding. Bau besi berkarat, semen basah, dan sisa bau kapur barus bercampur menjadi satu, menciptakan aroma pengap yang menusuk hidung. Setiap langkah kaki bergema panjang di sepanjang lorong kosong, seakan ada bayangan-bayangan tak terlihat yang ikut berjalan di belakang punggung mereka.

‎‎Luca berhenti tepat di depan pintu besi tebal yang dilapisi lapisan anti peluru. Ia menoleh ke samping, menatap Damian dengan tatapan waspada namun hormat.

‎‎"Don."

‎‎Damian mengangguk pelan, matanya tak lepas dari pintu baja itu.

‎‎"Kalian mundur sepuluh meter ke belakang. Tidak ada yang boleh berdiri di dekat pintu ini dan mendengar apa yang akan dibicarakan di dalam. Bahkan kau, Luca."

‎‎"Siap, Don." Luca memberi isyarat dengan tangan, memerintahkan dua pengawal yang berjaga di ujung lorong untuk mundur menjauh. Langkah kaki mereka menjauh, lalu keheningan kembali menyelimuti, hanya tersisa suara napas Damian yang teratur namun berat.

‎‎Damian menekan tombol kode di sisi pintu. Bunyi mekanisme kunci terbuka terdengar nyaring, lalu pintu itu didorong perlahan, berderit panjang seakan engselnya belum pernah diberi minyak sejak bertahun-tahun lalu.

‎‎KREET...

‎‎Di dalam ruangan itu, cahayanya lebih redup lagi. Romano duduk di kursi besi yang tertanam ke lantai, kedua tangannya diborgol erat ke sandaran kursi di belakang punggung. Wajahnya lebam, ada kerak darah kering di sudut bibir dan pelipisnya, namun matanya tetap tajam, mata yang tidak pernah benar-benar kalah, meski tubuhnya terkurung.

‎‎Begitu melihat Damian masuk sendirian, ia menyeringai tipis, senyum yang penuh penghinaan sekaligus rasa hormat yang terpaksa.

‎"Don Besar," ucapnya serak, suaranya parau namun jelas terdengar di ruangan kecil itu. "Lama juga kau sampai ke sini. Aku pikir kau akan mengirim anak buahmu lagi, menyembunyikan diri di balik nama besar Salvatore."

-

-

-

Bersambung...

1
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
🍓ADIRA🍓
main peran jadi ceo dulu y Dam 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!