NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara di dalam Magnolia

Langkah Shen Xianle mendadak berat. Langkah kakinya melambat tepat saat bisikan asing itu kembali menggema, menyusup langsung ke dalam kesadarannya.

Jangan percaya Lin Cang.

Suara itu tidak lantang, namun begitu bening dan tajam. Itu bukan gaung mengerikan dari balik Gerbang Surga Terlarang, bukan pula milik Junwei. Nada suaranya lembut, layaknya seorang wanita yang tengah bertaruh nyawa demi memperingatkannya dari marabahaya yang kasat mata.

Xianle mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat agar rombongan di belakangnya berhenti.

Lin Cang yang berjalan beberapa langkah di depan Refleks menoleh. "Ada apa, Xianle?"

Xianle tidak langsung menjawab. Sepasang matanya menyelidik, menguliti ekspresi pria di hadapannya. Lin Cang tampak terlalu tenang bahkan tidak wajar, setelah kekacauan di makam tadi. Wajahnya bersih dari sisa ketakutan, padahal mereka baru saja lolos dari entitas yang sanggup mengguncang fondasi Gerbang Surga Terlarang.

"Aku butuh kejelasan," desis Xianle dingin. "Apa tujuan sebenarnya kau membawaku keluar dari makam itu?"

Lin Cang bergeming. Ia sempat melemparkan pandangan ke lorong panjang yang remang-remang di hadapan mereka sebelum menjawab, "Untuk membawamu ke tempat yang aman."

"Jawabanmu terlalu klise."

"Karena terkadang, kebenaran memang sesederhana itu."

Xianle melangkah maju, memangkas jarak.

"Kalau niatmu murni menyelamatkanku, kau tidak akan repot-repot membawa kotak batu itu. Kotak yang getarannya terus memicu Inti Magnolia Spiritual di dalam tubuhku untuk berontak."

Senyum tipis yang sempat tersunggilng di bibir Lin Cang langsung lenyap. Keheningan sempat menyergap mereka.

"Kau mulai tumbuh menjadi wanita yang jeli."

"Aku terpaksa jeli karena semua orang di sekitarku memperlakukanku seperti orang buta yang terus disembunyikan dari kebenaran!" tuntut Xianle, suaranya mulai meninggi.

Lin Cang menatap Xianle lurus-lurus, lalu menghela napas panjang. "Kotak ini bukan senjata untuk menyakitimu. Ini... adalah peninggalan ibumu."

"Kalau begitu buka. Tunjukkan isinya sekarang."

"Belum waktunya, Xianle."

Xianle spontan tertawa hambar. Napasnya berembus sinis. "Kalimat keramat itu lagi."

Alis Lin Cang bertaut mendengarnya.

"Semua orang yang kutemui selalu melontarkan omong kosong yang sama. Belum waktunya, kau belum siap, jangan percaya siapa pun. Lalu sampai kapan aku harus hidup dalam teka-teki?"

"Kau akan mendapatkan semua jawabannya."

"Kapan?!"

"Begitu kita menginjakkan kaki di kediaman utama keluarga Lin."

Xianle menghunus tatapan setajam pedang. "Aku tidak akan melangkah satu senti pun sebelum kau memberikan satu alasan kuat kenapa aku harus memercayaimu."

Ketegangan itu menular pada rombongan di belakang mereka. Para penjaga keluarga Lin saling lirik penuh kecemasan, namun tak satu pun yang berani menginterupsi ketegangan dia orang di depan mereka.

Merasa tidak punya pilihan, Lin Cang akhirnya mengalah. Jemarinya menggeser ke tutup kotak batu purba tersebut.

Wusss!

Cahaya putih selembut sutra menyeruak, memandikan wajah mereka dalam pendar mistis.

Di dalam kotak itu, terbaring seulas bunga magnolia yang telah membeku menjadi kristal abadi. Kelopaknya tampak rapuh dan transparan, namun di bagian intinya, mengalir garis merah pekat yang berdenyut samar menyerupai aliran darah hidup.

Dada Xianle mendadak sesak. Inti spiritual di tubuhnya berdegup kencang. "Itu..."

"Fragmen Magnolia," potong Lin Cang cepat. "Satu dari tiga belahan jiwa yang diciptakan oleh ibumu sendiri sebelum ia tiada."

Terhipnotis oleh pendaran itu, Xianle reflek mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.

Namun, tepat sebelum ujung jarinya membelai kristal itu, Inti Magnolia Spiritual di dalam dadanya bergolak hebat, memancarkan gelombang cahaya yang menyilaukan.

Brak!

Lin Cang dengan cepat membanting tutup kotak batu itu hingga rapat. Pendaran cahaya lenyap seketika.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Xianle kesal, separuh jiwanya masih mendamba kristal tadi.

"Belum saatnya."

"Aku harus menyentuhnya! Bunga itu memanggilku!"

"Tidak dalam kondisi jiwamu yang belum stabil sekarang!" Lin Cang membalas dengan nada yang tak kalah tegas, sorot matanya sarat akan keseriusan. "Pecahan itu menyimpan kilasan memori masa lalu. Memori yang mungkin akan menghancurkan kewarasanmu jika kau memaksakan diri menerimanya sekarang."

Xianle terpaku. Amarahnya meredup, digantikan rasa penasaran yang mencekam.

"Memori... siapa?"

"Ibumu."

Manik mata Xianle melebar sempurna. "Kau... memiliki ingatan ibuku?"

"Bukan seluruh hidupnya. Kristal itu hanya mengunci satu kejadian."

"Kejadian apa?" desak Xianle memburu.

Lin Cang tidak langsung menjawab. Ia justru melempar pandangan tajam ke arah kegelapan lorong di belakang mereka. "Kejadian pada malam berdarah, tepat sebelum kakak kandungku tewas terbunuh."

Tubuh Xianle menegang kaku. Darahnya terasa membeku. "Jadi... kau tahu siapa pembunuh sebenarnya malam itu?"

"Aku tahu sebagian alurnya."

"Katakan sekarang!"

Lin Cang mendekap kotak batu itu erat-eart ke dadanya. "Tidak di sini. Tempat ini sudah tidak aman lagi."

"Kenapa?"

"Karena tikus-tikus pengintai sudah mengepung kita."

Xianle langsung berbalik cepat. Lorong batu di belakang mereka tampak mati dan sunyi. Tak ada tanda-tigan kehidupan.

Namun, sedetik kemudian, Inti Magnolia Spiritual di tubuhnya mendadak melepaskan hawa dingin yang menusuk tulang. Xianle memejamkan mata, menajamkan indra perasa spiritualnya. Di balik dinding-dinding batu kuno yang lembap, ia menangkap riak energi asing.

"Ada tiga orang," bisik Xianle membuka mata.

Lin Cang mengangguk pelan. "Tepat."

"Kau sudah tahu sejak awal?"

"Ya."

"Lalu kenapa kau sengaja mendiamkannya?!"

"Karena aku perlu memastikan, apakah target mereka adalah kita... atau fragmen magnolia ini."

Sret!

Xianle langsung menarik belati kembar dari pinggangnya. Bilah logamnya berkilau dingin di bawah temaram obor lorong. "Kalau begitu, mari berhenti menjadi kelinci buruan."

Lin Cang menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang penuh arti. "Gila tarung... kau benar-benar mewarisi sifat ibumu."

Belum sempat Xianle membalas ucapan itu, keheningan lorong pecah.

Wusss! Wusss! Wusss!

Tiga anak panah berhulu hitam legam melesat membelah udara, mengarah tepat ke vitalitas mereka.

Lin Cang bergerak secepat kilat. Ia menghentakkan kakinya ke bumi sembari mengangkat tangan kanan. Sebuah dinding pelindung transparan berpola heksagonal bangkit dari tanah.

Ting! Ting! Ting!

Ketiga anak panah itu patah berkeping-keping begitu menghantam perisai energi Lin Cang.

Namun serangan itu hanyalah distraksi. Dari langit-langit lorong yang gelap, tiga bayangan berpakaian serba hitam meluncur turun bagai kelelawar malam, mengayunkan pedang mereka ke arah Xianle.

Xianle melesat maju tanpa gentar. Belatinya beradu keras dengan pedang penyerang pertama, menciptakan percikan api yang menerangi kegelapan. Dengan kelincahan luar biasa, Xianle menekuk tubuhnya ke belakang demi menghindari tebasan dari penyerang kedua, lalu memutar tubuhnya di udara dan melayangkan tendangan telak ke dada lawan ketiganya.

Bugh!

Penyerang ketiga menghantam dinding batu hingga retak dan terbatuk darah.

"Jangan bunuh mereka!" teriak Lin Cang dari belakang, menahan kepungan luar.

Xianle yang bersiap menancapkan belatinya ke leher lawan mengernyit tidak suka. "Kenapa? Mereka ingin kepala kita!"

"Aku butuh interogasi untuk tahu siapa dalang di balik semua ini!"

Mendengar kata interogasi, salah satu penyerang yang tersudut menatap mereka dengan tatapan nanar. Mulutnya mendadak berkomat-kamit, mengunyah sesuatu yang disembunyikan di bawah lidahnya.

Lin Cang menyadari gelagat itu. "Hentikan!"

Krak.

Terlambat. Suara rahang yang mengatup itu diikuti dengan lelehan darah hitam dari sudut bibir sang penyerang. Tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya ambruk ke tanah, kehilangan nyawa seketika akibat racun mematikan.

Melihat rekan mereka tewas, dua penyerang tersisa segera melempar bom asap ke lantai dan melompat mundur, menghilang ke dalam kegelapan lorong yang rumit.

Xianle baru saja hendak melesat mengejar jejak aura mereka, namun sebuah tangan kekar menahan pundaknya. Itu Lin Cang.

"Biarkan mereka pergi."

"Mereka akan lolos dan membawa informasi!" protes Xianle tidak terima.

"Memang itu tujuanku."

"Maksudmu?"

Lin Cang membungkuk, memungut sebuah benda kecil yang terjatuh dari tubuh penyerang yang tewas di dekat genangan darah hitam. Sebuah lencana logam hitam berbentuk kepala serigala bermata tiga.

Xianle mendekat, mengamati benda tersebut. "Lambang itu... Tetua Ghost?"

Lin Cang menggeleng perlahan, ekspresinya mendadak berubah menjadi sangat kelam. "Jauh lebih mengerikan dari sekadar Tetua Ghost."

"Siapa?"

"Seseorang yang dengan sengaja menggunakan nama besar Klan Serigala Hitam sebagai kambing hitam."

Xianle melipat alisnya bingung. "Maksudmu, Klan Serigala Hitam yang selama ini meneror kita... bukan dalang aslinya?"

Lin Cang meremas lambang logam itu hingga bengkok. "Klan Serigala Hitam itu nyata. Tapi kelompok yang menyerang kita hari ini... hanyalah pion dari cabang terlarang yang sudah dibuang secara resmi oleh klan utama sejak puluhan tahun yang lalu."

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!