NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Dereen Hilton adalah definisi mutlak dari seorang laki-laki yang memegang ucapannya. Sejak insiden di perpustakaan hari itu, ia benar-benar menghilang dari radius kehidupan Nadiva. Tidak ada lagi perintah konyol, tidak ada lagi adu mulut di koridor, dan tidak ada lagi bayangan jaket kulit hitam yang bersandar di ambang pintu Kelas 12A.

​Bagi Nadiva, hari-hari berlalu layaknya lembaran kalender usang yang ditiup angin—kosong, monoton, dan dingin. Ia menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam tumpukan buku, menjadikan ambisinya sebagai satu-satunya jangkar kewarasan.

​Hingga malam kelulusan itu tiba.

​Di atas panggung aula sekolah yang megah, di bawah sorot lampu sorot yang menyilaukan, nama Nadiva Ayudia menggema ke seluruh penjuru ruangan. Ia lulus dengan predikat valedictorian, meraih peringkat pertama paralel, mengalahkan Dereen Hilton. Tepuk tangan riuh mengiringi langkahnya saat ia menerima medali emas. Impiannya terbayar lunas. Tiket ke Maroko sudah berada di genggaman tangannya. Beasiswanya aman dari ancaman Nyonya Maya.

​Namun anehnya, saat Nadiva berdiri di atas podium, matanya tanpa sadar menyapu lautan siswa di bawah sana, mencari satu sosok jangkung berwajah arogan yang sayangnya, tak pernah menatap ke arahnya lagi.

​Ada lubang menganga di dadanya yang tak bisa ditambal oleh medali emas sekalipun.

​Satu minggu setelah malam kelulusan.

​Hujan rintik di luar Kedai Kopi "Senja" memantulkan pendar lampu jalanan yang temaram. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kedai sudah tutup. Nadiva duduk sendirian di meja sudut, dikelilingi tumpukan map plastik berisi dokumen visa, formulir pendaftaran universitas, dan berkas terjemahan ijazah.

​Gadis itu baru saja menghela napas lelah, memijat pelipisnya yang berdenyut, ketika lonceng pintu kedai tiba-tiba bergemerincing pelan.

​"Maaf, kedainya sudah tu—"

​Ucapan Nadiva terhenti di pangkal tenggorokan. Matanya membulat sempurna. Dokumen di tangannya merosot jatuh ke atas meja.

​Di ambang pintu, dengan bahu kemeja hitam yang sedikit basah terkena rintik hujan, Dereen berdiri mematung. Rambut kelamnya sedikit berantakan. Mata elang cowok itu menatap lurus ke arah Nadiva, menembus jarak berminggu-minggu yang telah menyiksa kewarasan mereka berdua. Tidak ada seringai angkuh. Tidak ada raut dingin. Yang ada hanyalah keputusasaan luar biasa yang menelanjangi jiwanya.

​Dereen melangkah maju. Sepatunya berderap pelan di atas lantai kayu, mengikis jarak hingga ia berhenti tepat di depan meja Nadiva. Dada cowok itu naik-turun, napasnya memburu seolah ia baru saja berlari maraton dari ujung dunia.

​Nadiva tak bisa bersuara. Jantungnya berontak gila-gilaan, memukul-mukul tulang rusuknya meminta dibebaskan. Ia refleks memundurkan kursinya, pertahanan dirinya kembali naik.

​"Gue nggak peduli segimana lo marah, Div," suara bariton itu memecah keheningan. Parau, berat, dan sarat akan emosi yang tumpah ruah.

​Dereen menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya mengunci pandangan Nadiva, tak membiarkan gadis itu melarikan diri lagi. "Gue nggak peduli sama status, gue nggak peduli sama gengsi, dan gue nggak peduli sama ancaman apa pun yang bikin lo ngejauh dari gue."

​Nadiva menelan ludah. "Kak... Kakak ngapain ke sini? Aku lagi sibuk—"

​"Gue suka sama lo."

​Dunia Nadiva berhenti berputar seketika.

​"Gue cinta sama lo, Div," ulang Dereen, kali ini suaranya sedikit bergetar, memancarkan kejujuran yang begitu murni dan mentah. Tidak ada basa-basi. Tidak ada gengsi bad boy yang tersisa. "Tiga minggu gue coba ngejauh kayak yang lo minta, dan rasanya gue mau gila. Gue nggak bisa."

​Air mata seketika menggenang di pelupuk mata Nadiva. Pertahanan yang ia bangun susah payah dengan mengorbankan perasaannya sendiri, runtuh berkeping-keping hanya dengan tiga kalimat itu.

​Namun, kilat perak dari kalung salib yang mengintip di balik kerah kemeja Dereen kembali menarik Nadiva pada realitas yang kejam.

​"Kita beda, Kak," bisik Nadiva, suaranya pecah diiringi setetes air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya. Gadis itu menggeleng pelan, meremas dokumen di depannya. "Jauh banget. Bumi sama langit. Aku nggak mungkin bisa sama Kakak. Semesta kita beda Tuhan."

​Rahang Dereen mengetat. Alih-alih mundur, keputusasaan di mata cowok itu justru berubah menjadi tekad yang membabi buta.

​"Bisa. Kita bisa, Div," balas Dereen cepat, nyaris tanpa jeda berpikir. "Gue bakal pindah agama demi lo. Gue bakal belajar semuanya. Asal lo jangan minta gue buat pergi."

​Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan namun membawa bobot yang luar biasa fatal. Nadiva terkesiap. Matanya menatap Dereen dengan raut ketidakpercayaan yang mendalam. Bagi seorang Dereen Hilton yang lahir dari keluarga penganut taat, mengucapkan hal itu adalah sebuah bentuk pengorbanan dan pemberontakan terbesar.

​Tapi bagi Nadiva, itu adalah sebuah kesalahan absolut.

​"Nggak bisa, Kak," tolak Nadiva tegas. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, menatap Dereen dengan sorot mata yang penuh penderitaan namun rasional. "Pindah agama itu bukan soal cinta manusia. Itu soal hidayah. Soal keyakinan hati sama Tuhan. Kalau Kakak pindah cuma demi aku, itu sama aja Kakak main-main sama agama. Aku nggak mau nanggung dosa sebesar itu, Kak. Dan aku nggak mau Kakak ngorbanin keluarga Kakak cuma buat aku."

​Keheningan yang mencekik kembali turun di antara mereka. Dereen memejamkan matanya erat-erat, menghela napas panjang yang terdengar luar biasa putus asa. Ia kehabisan cara. Seluruh uang, kuasa, dan pesonanya tak ada harganya di hadapan prinsip gadis ini.

​Cowok itu membuka matanya, menatap Nadiva dengan tatapan memelas—sebuah ekspresi yang tak pernah Nyonya Maya ajarkan padanya.

​"Ya udah," bisik Dereen, suaranya kini terdengar begitu lelah, melembut layaknya permohonan. "Kalau gitu nggak perlu pindah agama. Nggak usah bahas masa depan yang kejauhan. Kita jalani aja dulu hubungan ini, Div. Kasih gue waktu buat bareng sama lo sebelum lo benar-benar pergi ke Maroko. Tolong."

​Nadiva terdiam. Bibirnya terkunci rapat. Pikirannya berperang hebat. Logikanya berteriak menyuruhnya menolak, mengingat ancaman ibunda Dereen dan prinsip agamanya. Namun hatinya... hatinya menjerit menginginkan sedikit saja keegoisan sebelum ia pergi meninggalkan tanah air. Waktunya tinggal satu bulan sebelum jadwal penerbangannya. Bukankah ia berhak bahagia sebentar saja?

​Melihat tak ada penolakan dari bibir gadis itu, sudut bibir Dereen terangkat tipis. Sangat tipis, namun memancarkan kelegaan yang luar biasa.

​Malam itu menjadi awal dari sebuah rahasia besar yang mereka sembunyikan dari dunia.

​Selama satu bulan penuh, sebelum jadwal penerbangan Nadiva ke Maroko, mereka menjalin hubungan dalam diam. Sebuah romansa backstreet yang jauh dari hingar-bingar, tersembunyi dari radar Nyonya Maya, dan terbungkus dalam batas-batas keyakinan yang Nadiva jaga dengan ketat.

​Hubungan mereka jauh dari kata klise. Dereen si bad boy arogan harus belajar menahan diri. Tidak ada pegangan tangan, tidak ada pelukan, apalagi ciuman. Mereka dipisahkan oleh batas tak kasatmata yang disebut mahram.

​Namun, justru di situlah letak keindahannya. Cinta mereka tumbuh bukan lewat sentuhan fisik, melainkan lewat afeksi yang lebih dalam.

​Mereka sering menghabiskan sore di perpustakaan kota. Duduk berseberangan meja, bertukar pandang di balik tumpukan buku bahasa Arab yang sedang Nadiva pelajari. Kadang, Dereen akan menyelipkan secarik kertas ke buku catatan Nadiva dengan tulisan tangannya yang berantakan: "Muka lo kalau lagi pusing lucu banget, Cewek Aneh." Yang kemudian dibalas Nadiva dengan lemparan penghapus ke jidat cowok itu.

​Dereen juga mulai mengantar-jemput Nadiva dari kedai kopi, memarkirkan mobilnya jauh di ujung jalan agar tak memancing kecurigaan, lalu berjalan di samping gadis itu—menjaga jarak aman setengah meter—di bawah lampu-lampu jalanan ibu kota yang remang.

​Mereka belajar saling melengkapi. Nadiva belajar memahami sisi rapuh Dereen di balik topeng arogannya, sementara Dereen belajar menghargai setiap kali Nadiva meminta izin meninggalkannya sejenak untuk menunaikan salat. Dereen bahkan sering duduk diam di gazebo masjid, mendengarkan sayup-sayup lantunan ayat yang dibaca Nadiva, merasakan kedamaian aneh yang perlahan menyusup ke dalam jiwanya yang kelam.

​Mereka tahu, mereka sedang berlari di atas pasir waktu yang terus terkikis. Mereka tahu, ada bom waktu bernama 'Maroko' dan 'Perbedaan Agama' yang siap meledakkan hubungan ini kapan saja.

​Namun untuk saat ini, di bawah langit malam Jakarta, mereka memilih untuk menjadi egois. Membiarkan semesta menertawakan takdir mereka yang malang, sementara mereka berdua berusaha mencuri sedikit kebahagiaan sebelum badai perpisahan yang sesungguhnya tiba.

1
niaww
semngt jangan lupa mampir cerita ku kak🙏
kholifah Montes: siap💗
total 1 replies
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!