INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 22 Serangan bawah tanah
🌸🌸🌸🌸
Langit malam di atas Jakarta diguyur hujan deras. Di ruang rapat VVIP PT Cakrawala Capital, lampu-lampu gantung memancarkan cahaya keemasan yang menimpa meja kaca tebal. Suasana di dalam ruangan terasa begitu tegang dan dingin.
Nadia duduk di ujung meja, menatap layar proyeksi yang menampilkan pergerakan arus modal asing. Di sampingnya, Bimo dan Pak Hendra terus memeriksa lembar demi lembar laporan lalu lintas data server.
"Nadia, situasi makin memanas," Bimo melaporkan dengan intonasi cepat. "Selama tiga hari terakhir, serangan terhadap Cakrawala Capital tidak lagi sekadar pembelian saham di pasar sekunder. Ada upaya retasan masif terhadap server pusat data Apex Media."
Nadia menaikkan sebelah alisnya, jemarinya mengetuk meja kayu mahoni dengan irama yang teratur. "Retasan data? Apa yang dicari oleh Helios?"
Pak Hendra menggeser sebuah map berlogo kepolisian ke hadapan Nadia.
"Tim IT forensik kita berhasil melacak ip-address penyusup," terang Pak Hendra dengan raut wajah sangat serius.
"Mereka tidak berniat merusak sistem, melainkan mencoba mengakses arsip paten dan jaringan enkripsi lama proyek Cakrawala Cloud Stream—proyek teknologi media bernilai triliunan rupiah yang baru saja kita daftarkan bulan lalu."
Nadia menatap Pak Hendra dengan pandangan jernih dan tajam.
"Arsip paten itu menggunakan kuncian enkripsi ganda yang draf pertamanya pernah disimpan di server lama Apex Media. Siapa yang punya akses ke kode dasar enkripsi awal itu selain saya?"
Bimo menelan ludah pait, menatap Nadia dengan ragu sebelum menjawab.
"Hanya ada satu orang lain yang memegang salinan berkas kunci enkripsi awal itu sebelum perusahaan dibeli oleh Cakrawala Capital..." bisik Bimo pelan.
" Reno Pratama."
Suasana ruang rapat mendadak hening seketika. Hanya terdengar desir pendingin udara dan dentuman hujan di luar dinding kaca.
Mata Nadia berkilat dingin. Teka-teki pergerakan agresif Julian Thorne kini mulai terajut utuh di dalam kepalanya.
"Reno..." gumam Nadia datar, sebuah senyuman tipis tanpa emosi terukir di bibirnya. "Reno menjual kode dasar itu kepada Julian Thorne dari balik penjara."
"Itu tindakan pengkhianatan rahasia dagang dan pelanggaran hukum berat!" tegas Pak Hendra dengan nada tinggi.
"Jika Julian berhasil memecahkan kode enkripsi awal itu, Helios bisa mengajukan gugatan pembatalan hak paten kita di pengadilan arbitrase internasional di Singapura.
Mereka bisa membekukan seluruh ekspansi media global kita!"
Nadia berdiri dari kursinya, merapikan blazer hitamnya dengan sangat anggun. Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Julian Thorne pikir dia sedang memegang kartu AS dengan memanfaatkan Reno," kata Nadia dengan suara bening yang dipenuhi wibawa mutlak.
"Dia tidak tahu bahwa kode enkripsi lama itu dibuat saat saya masih mengawasi seluruh arsitektur sistem Apex Media dari balik layar lima tahun lalu."
Nadia menoleh pada Bimo. "Bimo, siapkan tim pengembang IT utama malam ini. Kita akan melakukan pembaruan enkripsi Real-time System Update."
"Maksudmu... menjebak mereka?" tanya Bimo dengan mata membelalak.
"Tepat," jawab Nadia dingin. "Biarkan Reno menyerahkan kode dasar lama itu kepada Julian. Biarkan Julian menggunakannya untuk menyerang server kita malam ini.
Begitu mereka menyuntikkan kode itu ke dalam sistem kita, kita akan mengunci ip-address mereka dan merekam seluruh jejak retasan itu sebagai bukti tindak kejahatan siber internasional."
Sementara itu, di sebuah rumah mewah yang disewa oleh Helios Corp di kawasan Menteng, Julian Thorne duduk di balik meja kerja mewahnya seraya menyesap wiski.
Di hadapannya, seorang peretas senior asal Eropa Timur sedang menari jemarinya di atas keyboard laptop berspesifikasi tinggi.
Di sudut ruangan, Pengacara Lukman—yang kini telah dibeli oleh modal Julian—berdiri menunggu seraya membawa sebuah kilat drive tebal.
"Bagaimana?" tanya Julian dengan nada sabar namun sarat akan keangkuhan.
"Kode enkripsi dasar dari Reno Pratama sangat otentik, Mr. Thorne," jawab peretas itu dengan bahasa Inggris yang kental. "Kode ini membuka pintu belakang back door dari server lama Apex Media. Saya sedang menyuntikkan perintah akuisisi data untuk mengunduh seluruh draf paten Cakrawala Cloud Stream."
Julian tertawa pelan—sebuah tawa puas seorang pemenang yang merasa telah berhasil mengecoh musuhnya.
"Wanita itu terlalu percaya diri dengan kekuatannya di Jakarta," gumam Julian seraya menggoyangkan gelas kristalnya.
"Nadia Kirana tidak sadar bahwa di panggung bisnis internasional, mantan suaminya yang dendam adalah pintu masuk terbaik untuk menghancurkannya."
Pengacara Lukman tersenyum culas. "Tuan Julian, Reno meminta kepastian mengenai proses Peninjauan Kembali (PK) dan uang lima puluh miliar rupiah yang Anda janjikan."
Julian melirik Lukman dengan pandangan meremehkan. "Katakan pada Reno di penjara, uangnya akan ditransfer begitu hak paten Nadia resmi dibekukan oleh Arbitrase Singapura minggu depan. Pria bodoh itu sangat mudah dimanfaatkan hanya dengan umpan kebebasan semu."
Tiba-tiba, layar laptop sang peretas berkedip merah secara mendadak. Bunyi peringatan sirine nyaring keluar dari speaker laptop.
WARNING: SYSTEM TRAPPED. IP ADDRESS LOGGED. ENCRYPTION PROTOCOL LOCKED BY CAKRAWALA GLOBAL.
Peretas itu meloncat dari kursinya dengan wajah pucat pasi. " Damn it! Ini jebakan! Akses kita dikunci dari dalam!"
Julian berdiri seketika, gelas wiskinya hampir terlepas dari genggaman. "Apa maksudmu jebakan?! Bukankah kode dari Reno itu valid?!"
"Kodenya memang valid, tapi itu kode Umpan Enkripsi!" jerit sang peretas panik, jemarinya mengetik cepat namun layar laptopnya satu per satu menjadi hitam secara permanen.
"Mereka menyuntikkan virus balik Trojan Firewall! Seluruh arsip data pribadi dan lalu lintas transaksi keuangan Helios Corp di server ini sedang diunduh balik oleh sistem Cakrawala Capital!"
"APA?!" teriak Julian histeris, wajah tampannya mendadak pucat tak berdarah.
Sebelum Julian sempat mencabut kabel daya servernya, pintu utama ruang kerja tersebut terdorong terbuka lebar.
Empat orang petugas dari Unit Cyber Crime Mabes Polri bersama dua orang utusan Badan Siber Nasional melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di belakang mereka, Pak Hendra berdiri dengan senyum kemenangan yang sangat dingin.
"Selamat malam, Tuan Julian Thorne," sapa Pak Hendra seraya menunjukkan Surat Perintah Penyitaan dan Penyelidikan Siber.
"Atas tuduhan Retasan Siber Internasional dan Pencurian Rahasia Dagang sesuai Undang-Undang ITE jo Pasal 362 KUHP, kami melakukan penyitaan atas seluruh perangkat elektronik milik Helios Investment Corp."
Julian berdiri membeku di tempatnya. Wiski di gelasnya tumpah membasahi karpet mahal. Senjata utama yang ia beli dari Reno Pratama tidak hanya gagal menjatuhkan Nadia, melainkan justru menjadi bukti kejahatan yang siap menjebloskannya ke dalam kurungan hukum Indonesia.
Di dalam mobil mewahnya yang terparkir di depan halaman rumah Menteng tersebut, Nadia duduk anggun memandang para petugas yang mulai mengangkut server-server milik Julian.
Bimo yang duduk di kursi kemudi menoleh ke belakang seraya tersenyum kagum. "Nadia, Julian Thorne resmi terkunci. reputasi Helios Corp di pasar bursa Singapura akan anjlok parah besok pagi."
Nadia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penguasa yang selalu tiga langkah di depan musuh-musuhnya.
"Julian Thorne sudah selesai, Bimo," ujar Nadia pelan, suaranya jernih dan berwibawa. "Sekarang... saatnya kita menyelesaikan pengkhianatan Reno Pratama untuk yang terakhir kalinya di dalam penjara."
🌸🌸🌸🌸