NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pergi survei universitas

Cahaya pagi perlahan menyelinap melewati celah tirai kamar. Rin masih terbaring di atas kasur, tubuhnya meringkuk di balik selimut dengan rambut panjang yang berantakan dan beberapa helai menutupi wajah. Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak sama sekali, hingga suara burung dari luar jendela terdengar samar dan membuatnya mengerutkan hidung.

"Ughh..."

Tangannya bergerak meraba sisi bantal, hanya untuk mendapati ponselnya tergeletak di sana. Matanya terbuka sedikit, lalu langsung menyipit saat cahaya pagi menyapa.

"Sudah pagi...?" gumamnya sebelum memejamkan mata lagi.

Lima detik kemudian, Rin membuka matanya lebih lebar. ia perlahan duduk di tepi kasur sambil mengusap wajah dengan kedua tangan, membuat rambutnya semakin semrawut.

Pandangannya kemudian jatuh pada meja kecil di samping tempat tidur. Di sana, segelas air dan sebungkus obat tergeletak rapi. Rin mengernyit bingung. Ia menunduk memeriksa pakaiannya;

Matanya langsung membesar ketika menyadari dirinya hanya mengenakan tank top putih, membuatnya buru-buru menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ingatan semalam perlahan kembali—dirinya yang duduk di sofa karena kepanasan, nekat melepas kemeja di depan Takumi, lalu...

Rin menutup wajah dengan kedua tangannya.

"Astaga..."

Ia benar-benar melakukannya. Di atas nakas, segelas air dan obat anti-mabuk yang semalam diabaikannya tampak mengejek.

"Jadi aku benar-benar minum sake..." Ia menghela napas panjang, semakin malu saat menyadari ia bahkan tidak ingat dengan jelas apa saja yang dikatakannya setelah menenggak minuman itu.

Rin bangkit dan memungut kemeja flanelnya yang tergeletak di lantai. Belum sempat ia merapikan kekacauan di kamarnya, suara Takumi sudah menggelegar dari lantai bawah.

"Rin!"

Rin membuka pintu kamar sedikit. "Apa!!?"

"Kamar!"

"Hah?"

"Bereskan kamar sebelum kau pergi ke mana pun."

Rin melirik ke dalam kamarnya; pakaian berserakan di mana-mana, kabel pengisi daya melintang di dekat kasur, dan tas tergeletak begitu saja. Ia menghela napas berat.

"Iya Tuan besar..."

Takumi rupanya sedang benar-benar cerewet pagi itu.

"Kau tinggal di rumah, bukan di gudang."

"Iya..paduka raja ...!!"

"Jendela juga jangan dibiarkan terbuka terus."

"Dan pakaian di lantai—"

"astaga takumi ...iyaaa..Iyaaa!"

Rin buru-buru menutup pintu kamarnya, lalu menggerutu sendiri. "Baru pagi-pagi sudah merepet..."

Setelah mandi dan berpakaian rapi, Rin turun kembali ke lantai bawah. Sarapan sudah tersaji di meja, sementara Takumi duduk di dekatnya sambil membuka laptop—hari itu pria tersebut bekerja dari rumah. Beberapa gambar rancangan tower terpampang di layar laptopnya.

Saat Rin duduk, Takumi hanya melirik sebentar tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya dari layar.

"Kau mau pergi?"

Rin menunduk, melihat dirinya sendiri seolah baru sadar kalau ia memang sudah berpakaian rapi dan menenteng tas kecil.

"Iya... ada janji."

Takumi menatapnya beberapa saat, lalu kembali mengalihkan perhatian pada layar laptop di depannya. Jemarinya kembali menari di atas papan ketik.

"Sebelum kau pergi, buatkan aku kopi dulu."

Rin menyipitkan mata sebal. "Baiklah. Tidak pakai gula, kan?" Takumi hanya mengangguk tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

Beberapa menit kemudian, Rin selesai makan. Secangkir kopi panas sudah tersaji di atas meja, sementara tasnya telah tersampir dengan rapi di bahu.

"Aku pergi," pamitnya.

Ia berjalan menuju genkan. Sebelum mengenakan sepatu, Rin sempat melirik sandal rumahnya yang sempat ia biarkan berantakan semalam, lalu merapikannya ke pinggir agar tidak menghalangi jalan.

Takumi melirik dari balik meja kerjanya. "Ya. Hati-hati."

Rin tidak menjawab lagi. Ia mengenakan sepatunya, membuka pintu depan, lalu melangkah keluar meninggalkan rumah.

Sesampainya dihalte ia memperhatikan jadwal kedatangan bus, memastikan jalur dan transit yang harus ia ambil.

Tidak butuh waktu lama bus yang ditunggu rin tiba ,

Sesaat ia naik rin semoat bertanya dengan supir

"Permisi pak , kalau mau ke wilayah kazawa square bisa pakai bus ini ?"

"Bisa nona , nanti saya turunkan ke halte tujuan "

Rin mengangguk , ia duduk tidak jauh dari supir hingga beberapa menit berlalu supir pun menyuruh Rin turun

Kazawa square sebuah area yang sedang mengadakan pameran pendidikan. Berbagai universitas membuka stan mereka masing-masing, lengkap dengan brosur beraneka warna, papan informasi, serta para mahasiswa penjaga stan yang sibuk menjelaskan keunggulan jurusan masing-masing.

Rin berjalan perlahan menyusuri lorong antar-stan.

"Jurusan apa yang cocok untukku, ya..." gumamnya pelan sambil mengambil beberapa brosur.

Beberapa bidang lain tampak menarik, namun tak ada satu pun yang berhasil mencuri hatinya sepenuhnya.

Melihat ekspresi kebingungan di wajah Rin, seorang staf stan menghampirinya dengan ramah. "Sudah tahu ingin mengambil jurusan apa?"

Rin menggeleng ragu.

"Belum."

"Kalau begitu, mungkin kamu bisa mengikuti tes minat dan bakat singkat di sini dulu."

"Tes?"

"Iya. Dari hasilnya nanti bisa sedikit terlihat bidang apa yang paling cocok dengan kecenderunganmu."

Rin akhirnya mengangguk dan setuju untuk mencobanya. Ia menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengisi lembar pertanyaan yang diberikan. Begitu hasilnya keluar, Rin menerima selembar kertas kecil dan menatapnya dengan dahi berkerut dalam.

"Psikologi?"

Ia membalik kertas itu bolak-balik, seolah berharap ada kesalahan cetak di sana. Bukan game engine, bukan desain grafis, dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia game yang selama ini akrab dengannya. Hasil tesnya justru mengarah pada psikologi.

Staf wanita di sebelah tersenyum maklum melihat reaksinya.

"Terkejut?"

"Iya Sedikit," aku Rin.

"Kalau kamu mau, coba luangkan waktu untuk membaca brosur jurusannya lebih jauh. Jangan langsung memutuskan hanya dari satu hasil tes, ya."

Rin mengangguk pelan. Sebelum beranjak, ia mengumpulkan berbagai brosur dari beberapa universitas pilihan—ada kampus yang berlokasi di Toyama, hingga beberapa opsi lain di Nagano.

Semakin banyak brosur yang ia pegang dan lihat, semakin ia menyadari kalau banyak nama fakultas yang baru ia tau.

Hari itu, Rin pulang ke rumah dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar camilan baru, brosur-brosur universitas yang berada di pangkuannya.

Di bus, Rin duduk di dekat jendela bus karena tujuan halte yang ia tuju masih jauh, ia kembali mengambil ponsel dan memasang headset untuk membuka game.

Baru beberapa saat bermain, ponselnya bergetar dan Takumi menelepon. Rin langsung mengangkatnya.

"Ya takumi..?"

"Rin, Kau ada di mana?"

"Aku Di bus, Sebentar lagi pulang?"

"Kenapa lama?"

Rin tersenyum kecil. "memangnya Kenapa? Kamu Kangen?"

Takumi terdiam sejenak sebelum bertanya, "Ngapain saja sihh?"

Rin terkekeh pelan. "Aku pergi kencan.."

"Apa..!!!? Kencan..??!!." Nada suara Takumi langsung berubah. "Kencan lagi? Apa nggak cukup dengan Kyo dan Kiba?"

"Iya Kurang..." Rin menahan tawa. "Aku sedang mencari yang lebih matang sekarang.."

Pip !

Panggilan langsung terputus sepihak. Rin menatap layar ponselnya, "Belum seleai juga ,udah di matiin ..!!"

Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundaknya. "Maaf, Nona."

Rin menoleh dan mendapati seorang wanita yang menunjuk ke lantai. "Berkasmu jatuh."

Rin melihat kertas yang berada di bawah kursinya.

"Oh, iya," katanya sambil mengambilnya. "Terima kasih."

Wanita itu melihat tulisan di bagian atas kertas tersebut. "Universitas Nagano?"

Rin mengangguk.

"Aku cuma mencari beberapa referensi."

"Oh..." Wanita itu tersenyum ramah. "Aku kebetulan alumni Universitas Nagano."

Ia mengulurkan tangan.

"Namaku Fujiko Sakura. Siapa namamu?"

"Nama ku Rin Tachibana."

"Kamu mau masuk fakultas apa?"

Rin menunjukkan hasil tesnya.

"Aku sudah melakukan tes minat. Hasilnya psikologi."

"Wah," Fujiko memperhatikan kertas itu. "Kalau psikologi, Universitas Nagano cukup bagus. Akreditasinya A."

"Benarkah?"

"Iya. Jurusan itu juga cukup populer, tapi kursinya terbatas, jadi tidak mudah masuk."

Rin mengangguk sambil menyimpan kembali kertasnya.

"Akan aku pertimbangkan."

"Kamu warga sini, Tachibana-san?"

"Aku sedang berlibur ke rumah nenek."

"Kalau aku juga sedang berlibur," Fujiko terkekeh. "Aku bukan warga sini, kebetulan saja iseng naik bus."

Rin ikut tertawa. "Kau mau turun di mana?"

"Halte berikutnya. Aku mau makan siang dengan pacarku," Fujiko menunjuk ke depan. "Kau ikut saja."

"Eh? Tidak, tidak," Rin buru-buru menggeleng. "Itu acara kalian."

"Memangnya kau mau ke mana?"

Fujiko menyebutkan nama restoran yang hendak ditujunya, dan Rin langsung mengenal tempat itu. "Itu dekat dari rumahku."

"Benarkah?"

"Iya. Aku antar sampai halte."

"Terima kasih."

Tak lama kemudian, bus berhenti dan mereka turun bersama. Sepanjang perjalanan menuju restoran, keduanya mengobrol santai dan beberapa kali tertawa karena hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Tanpa terasa, mereka sudah sampai.

"Oh iya."

Fujiko berhenti sejenak sebelum melangkah masuk ke area restoran. "Boleh minta nomor ponselmu, Tachibana-san?"

Rin mengangguk ramah. "Tentu."

Mereka pun bertukar nomor ponsel. Setelah pertukaran singkat itu selesai, Rin berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulangnya, sementara Fujiko berbalik dan masuk ke dalam restoran.

***

"Aku pulang."

Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Rin membuka pintu sedikit lebih lebar, lalu mengintip ke arah ruang tengah. Takumi tampak tertidur pulas di sofa dengan kacamata yang masih bertengger di wajahnya. Pintu samping terbuka sedikit, sementara laptop di atas meja kerjanya masih menyala terang.

Rin berjalan mendekat dan melihat ponsel Takumi tergeletak di tangan pria itu. Berniat baik agar benda itu tidak jatuh, ia berniat memindahkannya ke atas meja. Namun, sebelum ponsel itu benar-benar terangkat, layar benda pipih tersebut menyala terang diiringi masuknya sebuah notifikasi pesan.

Makoto:

Kau harus datang, Takumi.

Aku ingin kau datang.

Harus.

Rin membaca pesan itu sekilas. Ia mendengus pelan sambil menggelengkan kepala.

"Kau pasti akan datang berlari ke wanita itu kalau dia terus memintamu..." gumamnya lirih.

Rin melirik sekilas ke arah Takumi yang masih terpejam, lalu duduk di ujung sofa. Tatapannya kini jatuh sepenuhnya pada wajah pria itu. Kacamata yang masih dikenakannya membuat garis wajah Takumi terlihat sedikit berbeda dari biasanya.

Tanpa sadar, Rin perlahan mengangkat tangannya. Ia berniat merapikan atau melepaskan kacamata tersebut. Namun tiba-tiba—

"Emm..."

Mata Takumi terbuka perlahan.

Rin membeku seketika. Tangan yang sudah terangkat kini tergantung kaku di udara. Untuk sesaat, keduanya saling menatap dalam keheningan jarak yang begitu dekat.

"Kenapa kau lama sekali?" suara Takumi terdengar berat, khas orang baru bangun tidur.

Rin buru-buru menurunkan tangannya dengan kikuk. "Banyak pilihan," alibinya sambil menunjuk tumpukan brosur yang dibawanya. "Aku harus memastikan satu per satu mana yang terbaik."

Takumi menatapnya lurus-lurus. "Kau playgirl."

Rin berkedip kaget. "Hah?"

"Kau bilang tidak ingin menikah cepat," ucap Takumi, suaranya masih terdengar serak. "Tapi malah pergi berkencan dengan banyak orang."

Rin terkekeh kecil, mengira Takumi hanya sedang mengungkit candaannya di telepon tadi. Rin pun bangkit dari sisi sofa lalu berjalan ke dapur mengambil air minum.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa di balik tatapan tenang pria itu, satu kalimat asing dari malam sebelumnya kembali berputar keras di kepala Takumi.

‘Tapi... aku menyukaimu.’

Takumi menatap punggung Rin jauh lebih lama dari biasanya.

Menyukai siapa?

Pertanyaan itu masih menggantung tanpa jawaban. Dan anehnya, semakin ia melihat gadis di hadapannya ini, semakin kuat pula pertanyaan itu mendesak dan sulit diabaikan begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!