Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Danendra perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya terlihat lebih serius.
“Jadi… dia sudah mulai bergerak lagi.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Suasana di meja makan terasa sangat berbeda dari beberapa menit sebelumnya. Tawa Dan candaan tentang cheesecake seakan menghilang begitu saja.
Lucas menjadi orang pertama yang memecah keheningan.
“Sepertinya targetnya kali ini Kak Faresta lagi.”
Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu mulai berpikir.
“Tujuan utamanya sudah pasti Halvar Group. Dan kalau begitu, orang yang paling mungkin menjadi target adalah Kak Faresta karena sekarang dia yang memegang kendali perusahaan Papa.”
“Tidak.”
Jawaban singkat itu membuat semua kepala serentak menoleh ke arah Elara.
Gadis itu masih duduk dengan tenang di tempatnya.
“Orang kemarin… ditugaskan untuk mengawasi ku,” lanjutnya.
Suasana kembali sunyi. Kening mereka perlahan mengernyit.
“Kenapa jadi kamu yang harus diawasi?” tanya Lionel.
Elara menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu.”
Lucas ikut berpikir. Tatapannya sesekali berpindah antara Elara dan Faresta. “Adrian bahkan belum pernah bertemu Elara."
“Justru itu alasannya.”
Danendra yang menjawab membuat perhatian semua orang langsung beralih kepadanya.
“Maksud Papa?” tanya Faresta.
Danendra terdiam sejenak. Ia mengambil gelas di depannya, tetapi tidak langsung meminumnya.
“Adrian mungkin sudah tahu tentang keberadaan Elara di keluarga Halvar.”
Ia meletakkan kembali gelas tersebut.
“Dia mengirim orang untuk mencari tahu lebih banyak tentang Elara.”
Keempat anak Halvar itu mengangguk pelan. Penjelasan itu terdengar masuk akal.
Livia yang sejak tadi diam perlahan menatap Elara. Ada kekhawatiran yang jelas terlihat dari sorot matanya.
Namun, gadis itu tetap terlihat tenang. Tidak ada rasa takut ataupun panik di wajahnya, seolah pembicaraan tentang seseorang yang sedang mengawasinya bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
Danendra menghela napas pelan. “Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati. Kalau memang tujuan Adrian hanya mencari informasi, cepat atau lambat dia pasti akan mencoba mendekat lagi.”
Lucas mengangguk. “Yang terpenting, jangan sampai kita memberi mereka informasi yang mereka inginkan.”
“Benar.” Faresta ikut menyahut. “Selama kita belum tahu rencana Adrian selanjutnya, jangan ada yang bertindak gegabah.”
“Sudah, sudah.” Livia akhirnya angkat bicara. Ia menatap satu per satu anaknya.
“Jangan terus membahas Adrian. Nanti kalian malah kesiangan.”
Lionel yang sedari tadi diam langsung mendorong kursinya dan berdiri.
“Nah, itu dia. Aku sudah bilang dari tadi. Nanti bisa telat.”
Leonard langsung menatap saudara kembarnya dengan sinis.
“Padahal yang dari tadi santai makan itu siapa?”
Lionel terdiam sejenak. “Itu... supaya masakan Mama lebih berharga.”
“Alasan.”
“Bukan alasan.” Lionel mengangkat dagunya dengan percaya diri. “Itu bentuk cinta anak pada orang tua.”
Lucas seketika tertawa. “Kamu memang tidak pernah kehabisan jawaban, ya, Lio.”
Lionel hanya tersenyum bangga. “Namanya juga berbakat.”
Leonard menggelengkan kepala sambil berdiri dari kursinya. “Bakat bikin alasan.”
“Yang penting bakat.”
Tawa kecil kembali terdengar di ruang makan.
Suasana yang sempat tegang perlahan kembali mencair, seolah pembicaraan tentang Adrian tadi tidak pernah terjadi.
Namun, di tengah suasana yang kembali hangat itu, Elara masih terdiam.
Tatapan hijaunya perlahan beralih ke arah jendela.
Sejenak, gadis itu seperti sedang memperhatikan sesuatu di luar sana.
Lalu ia kembali menatap cheesecake di hadapannya dan mengambil garpunya.
Tidak ada seorang pun yang menyadari perubahan kecil itu
***
Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Kantin sekolah mulai dipenuhi siswa yang menikmati waktu istirahat mereka.
Di salah satu meja, Elara dan Clara sedang menikmati makan siang bersama Leonard, Lionel, Aldo, dan Dimas.
Leonard melirik mangkuk yang ada di depan Elara. “Elara, kamu makan apa?”
“Clara bilang, nama makanan ini bubur candil.”
Keempat pemuda di meja itu langsung mengernyitkan kening.
“Bubur candil?” Aldo ikut melirik mangkuk tersebut. “Di kantin tidak ada yang jual makanan itu.”
“Aku membawanya dari rumah,” jawab Clara santai sambil menyuap satu sendok bubur miliknya.
Lionel menatap dua mangkuk bubur yang ada di depan Elara dan Clara. Ia kemudian mendengus pelan.
“Hanya dua?”
Clara mengangguk pelan.
“Kamu tidak membawanya untuk kami juga?”
Clara menatap Lionel sebentar. “Aku mana tahu kalian akan ikut makan di meja yang sama dengan kami. Jadi aku hanya membawakan untuk Elara.”
“Sudah, sudah.” Dimas mengangkat tangannya, berusaha menghentikan perdebatan kecil itu. “Makan saja makanan yang baru kalian beli.”
Ia ingin kembali menikmati makan siangnya dengan tenang.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit sebelum suara seorang gadis terdengar dari belakang mereka.
“Leonard!”
Suara lembut yang sedikit mendayu itu langsung membuat Leonard tahu siapa pemiliknya.
Pemuda itu tetap menatap makanannya dan sama sekali tidak berniat menoleh.
“Leon, aku boleh gabung?”
Belum sempat Leonard menjawab, Lionel sudah lebih dulu menyahut.
“Maaf, kursinya penuh.”
Bianca mengedarkan pandangan ke meja tersebut. Dan enam kursi memang sudah terisi penuh.
Namun, Bianca masih mempertahankan senyumnya.
“Tidak masalah. Aku bisa mengambil satu kursi dari meja lain.”
Lionel mengangkat alis. “Bianca, mengambil hak orang lain itu tidak baik.”
Bianca menoleh kepadanya. “Maksudmu?”
“Kursi itu milik meja mereka.” Lionel menunjuk meja di sebelah mereka. “Jadi jangan dipindah sembarangan.”
Aldo langsung mengangguk mantap. “Betul. Nanti malah mengganggu orang lain. Kasihan kalau meja mereka jadi kekurangan kursi.”
Bianca terdiam sesaat. Tangannya perlahan mengepal di balik rok sekolahnya, tetapi senyum di wajahnya tetap dipertahankan.
Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Elara yang sejak tadi masih tenang menikmati makan siangnya.
“Elara.”
Elara mendongak. Pipi kirinya tampak sedikit menggembung karena makanan yang belum selesai dikunyah.
Bianca menunggu sampai Elara selesai menelan makanannya sebelum kembali berbicara.
“Sepertinya kamu sudah nyaman di keluarga Halvar.”
Elara mengangguk singkat. “Iya.”
Bianca tersenyum tipis. “Baguslah."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap lembut.
“Tapi... jangan sampai kamu terus merepotkan mereka.”
Gerakan tangan Elara yang memegang sendok berhenti.
Suasana di meja pun perlahan berubah. Leonard dan Lionel saling berpandangan.
Elara menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab. “Aku tidak pernah meminta mereka melakukan apa pun.”
Bianca mengangguk pelan. “Mungkin benar. Tapi tanpa kamu sadari, mereka selalu melakukan banyak hal untukmu.”
Lionel yang sejak tadi menahan diri akhirnya meletakkan sendoknya.
“Memangnya kamu tahu apa tentang keluarga kami?” Nada suaranya terdengar tidak tinggi, tetapi cukup membuat Bianca menoleh.
Leonard ikut mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat lebih tajam. “Lagi pula, sejak kapan kamu ikut mengurus urusan keluarga Halvar?”
Bianca kembali memasang senyum tipis. Tatapannya bergantian berpindah dari Leonard kepada Elara.
“Aku hanya mengingatkan. Bukankah sebagai teman, kita juga harus saling peduli?”
“Teman?” Lionel mendengus pelan. “Seingatku, Elara tidak pernah bilang kalau kalian berteman.”
Senyum Bianca sempat memudar sesaat. “Kalau begitu anggap saja aku sedang memberi saran.”
“Aku rasa Elara tidak membutuhkan saran seperti itu.”
Suara itu terdengar pelan. Semua orang di meja langsung menoleh.
Clara terlihat sedikit gugup. Jemarinya saling menggenggam di atas meja, tetapi ia tetap memberanikan diri menatap Bianca.
“Selama aku mengenal Elara... dia tidak pernah merepotkan siapa pun.”
Bianca mengangkat sebelah alis. “Kamu baru mengenalnya belum lama ini.”
“Memang.”
“Lalu kenapa kamu bisa begitu yakin?”
Clara terdiam sesaat.
Bianca sempat tersenyum kecil, seolah merasa telah menemukan celah.
Namun, Clara justru mengangkat wajahnya lagi. “Karena selama ini justru Elara yang membantuku.”
Senyum Bianca perlahan menghilang. Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu wajah Clara sebelum akhirnya kembali tertuju kepada Elara.
“Aku tidak menyangka kalian sudah sedekat itu.”
“Karena kami sekarang berteman." Kali ini suara Clara terdengar lebih mantap.
Suasana di meja kembali hening. Elara yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya meletakkan sendoknya.
“Kalau suatu hari nanti aku benar-benar merepotkan keluarga Halvar, mereka akan mengatakannya langsung kepadaku.”
Mata hijaunya beralih kepada Bianca. “Jadi... kamu tidak perlu mengkhawatirkannya.”
Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi. Tidak ada amarah ataupun maksud untuk menyindir.
Namun, justru karena itulah Bianca tidak menemukan celah untuk membalas.
Ia mempertahankan senyum tipisnya meski terlihat sedikit kaku. “Hmm... kalau begitu syukurlah. Aku duluan. Selamat makan.”
Setelah mengucapkan itu, Bianca berbalik dan melangkah pergi.
Baru setelah sosoknya benar-benar menghilang di antara kerumunan siswa, Lionel mengembuskan napas panjang.
“Kenapa, ya... aku selalu merasa lapar, tapi tiba-tiba kenyang kalau dia datang.”
Aldo langsung tertawa. “Itu karena perutmu yang aneh.”
“Bukan perutku yang aneh.” Lionel mengambil sendoknya kembali. “Dia yang bikin suasana makan jadi tidak enak.”
Dimas yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya ikut bersuara.
“Tapi ada satu hal yang membuatku heran.”
Lionel menoleh. “Apa?”
Dimas mengalihkan pandangannya kepada Elara. “Kenapa setiap Bianca bicara seperti itu... kamu tetap bisa terlihat tenang?”
Semua mata kembali tertuju pada Elara. Gadis itu terlihat berpikir selama beberapa detik.
“Karena dia hanya berbicara saja.”
Dimas mengerutkan kening. “Hanya berbicara?”
Elara mengangguk. “Kalau aku marah setiap mendengar ucapannya... Itu pasti akan sangat melelahkan.”
Dimas menghela nafas kecil. “Kalau dipikir-pikir... masuk akal juga.”
Elara kembali mengambil satu sendok bubur candil dengan tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi di meja mereka beberapa saat lalu.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔