Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Terusik Perhatian Kecilmu
Lampu-lampu jalanan kota berpendar lembut menyapu kaca mobil sepanjang perjalanan pulang. Keheningan di antara Zaid dan Nara malam itu tak lagi kaku.
Seusai makan malam sederhana di luar, mobil hitam itu akhirnya berhenti mulus di garasi rumah. Nara melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Semuanya terasa begitu runtut dan penuh kehangatan yang tak berlebihan.
Nara masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, mengganti pakaiannya dengan baju rumah yang lebih santai, lalu duduk di tepi ranjang.
Ia memandangi pantulan dirinya di cermin meja rias. Pikiran tentang perhatian-perhatian kecil Zaid, mulai dari sarapan pagi, antaran ke kafe, hingga jemputan yang tepat waktu, membuat dadanya berdesir.
Namun, ketenangan yang baru saja dirasakannya seketika buyar ketika ponsel yang tergeletak di atas kasur bergetar hebat.
Layar ponselnya menyala, menampilkan nama yang sangat familiar, seseorang dari masa lalu yang belakangan ini menghantuinya: Devino.
Jantung Nara berdegup kencang secara mendadak. Tangannya gemetar pelan saat meraih benda pipih itu. Ia sempat ragu untuk mengangkatnya, tetapi getaran telepon yang tak kunjung berhenti membuat Nara akhirnya menggeser tombol hijau ke kanan. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara.
"Nara..." Suara dari ujung telepon terdengar parau, terengah, dan sarat akan keputusasaan. "Tolong, Nara... angkat. Akhirnya kamu angkat juga."
Nara menghela nafas panjang, berusaha menetralkan rasa gugup di dadanya. "Ada apa lagi, Vin? Ini sudah malam."
"Aku ada di dekat rumah orang tuamu sekarang, Ra," potong Devino cepat. Suaranya terdengar memohon, tanpa ada sisa ketegasan yang biasanya pria itu perlihatkan.
"Tolong keluar sebentar. Kita harus bicara. Aku mohon, Ra, cuma sebentar. Aku cuma butuh waktu lima menit sama kamu malam ini."
Nara memejamkan mata erat-erat. Nama Devino membawa kembali kenangan manis sekaligus luka kecemasan yang mendalam.
Ia ingat betul bagaimana amarah Devino meledak saat melihatnya bersama Zaid terakhir kali. Nara tidak ingin masalah baru muncul, apalagi saat hubungannya dengan Zaid baru saja melangkah ke arah yang lebih baik.
"Tidak bisa, Vin," tolak Nara tegas, mencoba menahan getaran pada suaranya sendiri. "Aku sudah tidak tinggal di rumah orang tuaku. Dan lagi pula, ini sudah terlalu malam. Jangan nekat seperti ini."
"Ra, aku mohon..." suara Devino di ujung telepon terdengar pecah, seperti seorang pria yang kehilangan arah.
"Aku tidak tahu harus ke mana lagi. Aku menyesal, Ra. Aku tidak bisa biarkan kamu hidup sama pria lain. Kasih aku kesempatan sekali saja untuk menjelaskan semuanya. Tolong, pertemuan terakhir saja..."
"Cukup, Devino!" potong Nara, kini dengan nada suara yang sengaja dipelankan namun menusuk tajam. "Tolong hormati posisiku sekarang. Aku sudah menikah. Kamu tidak bisa terus-menerus muncul dan mengacaukan semuanya seperti ini. Jangan hubungi aku lagi, aku mohon. Tolong berhenti..."
"Nara, aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu mau menemui aku!" seru Devino, setengah memohon, setengah memaksa.
"Aku cuma mau bicara, Ra. Setelah itu aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi. Please, Ra..."
Nara meremas sprei kasurnya kuat-kuat. Kepalanya mendadak pusing. Ia tahu betul watak Devino. Jika pria itu dibiarkan nekat bertahan di depan rumah orang tuanya hingga larut malam, hal itu hanya akan menciptakan kegaduhan baru yang membebankan keluarganya.
Dengan mengandalkan sisa keberaniannya, Nara mengambil keputusan cepat.
"Baik," bisik Nara pasrah. "Besok siang. Kita bertemu besok siang di tempat umum, bukan malam ini dan bukan di rumah orang tuaku. Setelah pertemuan besok, aku minta kamu benar-benar pergi dan jangan pernah hubungi aku lagi. Mengerti?"
"Besok siang?" suara Devino terdengar sedikit lega walau masih dipenuhi keputusasaan. "Baik, Ra. Jam berapa? Di mana?"
"Aku yang akan tentukan lokasinya besok pagi. Sekarang kamu pulang, Vin. Jangan buat keributan," tegas Nara sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Nara menurunkan ponselnya dengan napas terengah. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dadanya terasa sesak.
Namun, tepat di saat keheningan kembali menyelimuti kamar, sebuah ketukan pelan terdengar dari arah pintu kamar yang sedikit terbuka.
.
.
Tok... tok...
Nara terperanjat kaget. Ia buru-buru menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah pintu. Di sana, Zaid berdiri mematung di ambang pintu.
Pria itu sudah melonggarkan dasinya dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Ekpresi wajahnya tenang seperti biasa, namun sepasang mata tajamnya menatap Nara dengan dalam.
Nara menahan nafasnya. Berapa lama Zaid berdiri di sana? Apakah dia mendengar semuanya?
"Zaid..." suara Nara nyaris tak terdengar. Pipinya pucat seketika. "Ada... ada apa?"
Zaid tidak langsung menjawab. Pria itu terdiam sejenak, menatap Nara yang terlihat begitu tegang di tepi ranjang. Pandangannya sempat teralih pada ponsel yang masih tergenggam erat di tangan Nara, sebelum akhirnya kembali menatap matanya.
Suasana di antara mereka mendadak berubah hening, mengembalikan aura intimidasi yang sempat menghilang tadi sore.
Namun, alih-alih bertanya atau memprotes apa yang baru saja didengarnya, Zaid tetap bersikap tenang.
Nada suaranya datar, terkontrol sempurna, tidak menunjukkan riak amarah sedikit pun, sebuah ketenangan yang justru membuat Nara makin merasa bersalah.
"Maaf mengganggu waktu kamu," ucap Zaid pelan, bahasanya begitu formal seperti biasa. "Saya cuma mau beritahu, besok pagi sekitar pukul sembilan, Mbok Tini akan datang ke sini untuk bantu bersih-bersih rumah dan menyetrika pakaian."
Nara berkedip beberapa kali, mencoba mencerna ucapan Zaid di tengah rasa paniknya. "Oh... begitu. Baik, Zaid. Terima kasih sudah beritahu aku."
"Ya," jawab Zaid singkat. Pria itu menganggukkan kepala pelan. Tangannya sudah memegang gagang pintu untuk merapatkannya kembali.
Namun, sebelum benar-benar menutup pintu, langkah Zaid terhenti sejenak. Tanpa memalingkan wajah sepenuhnya, ia menambahkan.
"Kalau besok siang kamu ada urusan keluar, tolong pastikan rumah sudah terkunci rapat sebelum pergi."
Kata-kata itu diucapkan Zaid dengan nada yang sangat biasa, seolah-olah itu hanyalah pesan keamanan rumah sehari-hari.
Namun bagi Nara, kalimat itu bagaikan petir yang menyambar di tengah malam. Zaid mendengar semuanya. Pria itu tahu Nara berencana menemui Devino besok siang.
Sebelum Nara sempat merangkai kata-kata untuk menjelaskan, Zaid sudah menarik pintu kayu itu hingga tertutup rapat dengan bunyi klik halus.
Nara tertahan di posisinya, menatap pintu yang kini tertutup rapi. Kesunyian malam mendadak terasa begitu dingin. Perasaan hangat dan aman yang ia rasakan sepanjang sore tadi kini berganti menjadi rasa cemas yang menghimpit.
Zaid tidak marah, tidak pula mencecar pertanyaan. Namun justru sikapnya yang tetap dingin, tenang, dan teratur itulah yang membuat Nara merasa ada jarak tak kasat mata yang kembali terbentang lebar di antara mereka.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏