"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Pagi-pagi sekali, Abi sudah tampil rapi dengan kaos dan celana kain yang bersih, serta topi caping yang tergantung santai di tangannya.
Sebelum melangkah keluar rumah, Abi menghampiri Nadia yang sedang menyapu ruang tengah.
"Nad, nanti kalau Arya datang, kabari Mas ya," pesan Abi pada adiknya itu.
"Nggeh, Mas," jawab Nadia mengangguk paham.
Belum sempat Abi melangkah ke pintu depan, Akbar dan Aqil mendadak berlarian menghampirinya. Tubuh mereka masih wangi sabun dan rambutnya rapi setelah baru saja selesai dimandikan oleh Bu Marni.
"Ayah mau ke mana?" tanya Akbar cepat sambil mendongak menatap ayahnya.
"Mau ke pasar," jawab Abi asal sambil tersenyum jahil, mencoba mengelak.
Akbar mengerutkan dahi, lalu matanya menatap topi caping yang dipegang ayahnya. "Ke pasar tapi Ayah kok pakai topi gitu? Ayah mau ke sawah ya!" tebak Akbar cerdik, tak bisa dibohongi.
Sadar penyamarannya terbongkar, Abi hanya bisa terkekeh pelan. Begitu mendengar kata sawah, mata kedua bocah itu langsung berbinar antusias.
"Ikut, Ayah! Mau ikut!" seru Aqil.
Abi langsung menggeleng tegas. "Nggak boleh! Nggak ada yang ikut."
Seketika memori pahit beberapa waktu lalu terlintas jelas di kepala Abi. Ia masih agak trauma mengingat kejadian saat membawa Akbar dan Aqil ke area sawah. Walaupun Abi sendiri cuma memantau dari saung, kedua anaknya malah nekat melompat ke dalam petakan lumpur pekat sampai sekujur tubuh mereka hitam belepotan.
"Nggak boleh, pokoknya di rumah saja sama Nenek dan Tante Nadia," tegas Abi lagi.
Namun kedua bocah itu tak menyerah. Akbar langsung memegang tangan ayahnya dengan raut wajah memohon yang dibuat-buat, sementara Aqil ikut meniru kakaknya.
"Janji deh, Yah! Kali ini Akbar nggak bakal masuk lumpur. Kan mau nemenin Ayah saja!" bujuk Akbar bersungguh-sungguh.
"Iya, Ayah... Aqil juga janji bakal nurut, duduk manis di saung saja!" tambah Aqil.
Bu Marni yang baru saja melangkah keluar dari arah dapur sambil membawa mangkuk sarapan langsung menengahi perdebatan itu. Ia menghela napas pelan melihat kelakuan kedua cucunya yang masih bergelayutan di celana Abi.
"Sudah, sudah... Dengar kata Ayah," bujuk Bu Marni lembut sambil berlutut kecil menyamakan tinggi badannya dengan Akbar dan Aqil.
"Ayah itu mau kerja, mau ketemu orang-orang di sawah. Nanti kalau Akbar sama Aqil ikut, Ayah repot, terus panas juga di sana. Mending di rumah saja sama Nenek ya? Nanti Nenek buatkan pisang goreng hangat, mau?"
Aqil yang mendengar kata pisang goreng sempat goyah sebentar dan melirik neneknya, tapi Akbar dengan cepat menggelengkan kepala, masih tak mau menyerah.
"Tapi Nenek... Akbar mau lihat padi yang mau dipanen. Akbar kangen duduk di saung," cetus Akbar, matanya bergantian menatap Bu Marni dan Abi, berusaha mencari simpati.
"Tapi Nenek... Akbar mau lihat padi yang mau dipanen. Akbar kangen duduk di saung," cetus Akbar, matanya bergantian menatap Bu Marni dan Abi, berusaha mencari simpati.
"Nanti kalau kepanasan atau masuk lumpur lagi, kasihan Ayah. Kemarin baju kalian sampai harus direndam seharian," tambah Bu Marni mengingatkan kejadian lalu sambil merapikan poni Aqil. "Sama Tante Nadia saja di rumah, nanti bisa main gambar-gambar. Ya?"
"Nggak mau pisang goreng, Nenek... Mau ikut Ayah ke saung! Janji nggak bakal main lumpur, beneran janji!" seru Aqil dengan suara serak yang dibuat-buat, siap menumpahkan air mata detik itu juga.
Abi mengelus dada, menghela napas panjang melihat pertahanan ibu dan adiknya yang runtuh seketika. Jika Aqil sudah mulai memiringkan kepala dan menatapnya dengan mata bulat yang mengiba seperti itu, keputusannya serasa tidak punya peluang menang.
"Ya sudah, ya sudah... Ikut," putus Abi akhirnya, memasrahkan diri.
"Horeee! Asyik!" teriak Akbar dan Aqil kompak.
"Tapi ingat ya!" Abi langsung menudingkan jarinya dengan raut wajah seserius mungkin, menatap Akbar dan Aqil bergantian. "Duduk di saung saja! Sekali saja Ayah lihat kaki kalian nyentuh lumpur, langsung Ayah pulangkan naik sepeda ontel Pak Darno. Paham?"
"Paham, Ayah!" jawab mereka serempak.
Bu Marni hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat kelakuan anak dan cucu-cucunya. "Ya sudah, Buatkan bekal air minum dulu, Mas. Biar mereka tidak rewel kepanasan di sana."
Sesampainya di area persawahan, hawa segar pedesaan dan aroma khas bulir padi yang menguning langsung menyambut mereka. Abi menuntun kedua anaknya naik ke saung bambu yang berdiri di tepi petakan sawah yang siap dipanen.
Sesuai janjinya, Akbar dan Aqil langsung duduk manis di saung, memandangi hamparan padi yang menguning keemasan seluas mata memandang.
Tak lama kemudian, Pak Darno berjalan mendekat melintasi pematang sawah. Ia melepas capingnya sejenak untuk mengusap keringat di dahi sebelum menyapa pemilik lahan tersebut.
"Maturnuwun sampun rawuh, Mas Abi," sapa Pak Darno ramah.
Abi mengangguk tersenyum. Sambil merapikan gulungan kemejanya, ia mulai masuk ke pembicaraan inti. "Nggeh, Pak Darno. Padi di blok ini sudah kuning sempurna ya. Untuk panen hari ini, kira-kira ada berapa orang yang ikut borongan, Pak?"
Pak Darno menyapu pandangan ke arah pematang, lalu kembali menatap Abi.
"Cuma lima orang, Mas. Niki wau yang lain pada ada garapan di desa sebelah," jawab Pak Darno dengan campuran bahasa Jawa. "Tapi tenang wae, wong lima niki kerjane gancik, mantep sedanten."
Abi mengangguk-angguk paham mendengarkan penjelasan Pak Darno. Walaupun hanya lima orang, ia tahu betul kualitas kerja orang-orang pilihan Pak Darno tak pernah asal-asalan.
"Oalah, ya sudah tidak apa-apa, Pak. Yang penting garapannya bersih dan padinya tidak tercecer di mana-mana," sahut Abi santai. Ia lalu merogoh sakunya.
"Ini uang muka untuk jatah konsumsi sama upah awal Bapak beserta rombongan, Pak Darno. Silakan diterima dulu," lanjut Abi.
"Wah, terima kasih banyak ya, Mas Abi. Rezeki pagi-pagi ini. Langsung saya bagikan ke anak-anak biar tambah semangat kerjanya."
Sementara Abi dan Pak Darno asyik bertukar pikiran mengenai perkiraan jumlah karung gabah yang akan dihasilkan hari ini, dari atas saung bambu, dua pasang mata kecil mulai merasa bosan.
Akbar dan Aqil duduk berdampingan sambil mengayun-ayunkan kaki mereka yang menggantung di tepi saung. Matanya memandang ke sudut petakan sawah. Di sana, berdiri kokoh sebatang pohon jambu biji yang rimbun dengan buah-buah bermunculan di balik dedaunan.
"Qil, lihat tuh... ada pohon jambu biji di sana," bisik Akbar pelan sambil menunjuk ke arah ujung pematang sawah.
Mata Aqil langsung berbinar-binar memandangi buah yang sebagian tampak sudah ranum itu. Ia melirik ayahnya yang masih fokus mengobrol membelakangi mereka, lalu menatap kakaknya.
Akbar dan Aqil melangkah pelan meniti pematang sawah, berusaha sebisa mungkin menjaga keseimbangan agar kaki mereka tidak tergelincir ke lumpur. Begitu sampai di bawah pohon jambu biji, mata mereka bertambah berbinar melihat beberapa buah yang sudah menguning mulus di dahan yang sedikit tinggi.
"Mas, yang itu matang banget! Besar lagi!" tunjuk Aqil sambil berjinjit.
Akbar langsung memanjat batang pohon jambu yang bercabang rendah itu. Dengan gesit, ia naik ke dahan yang lebih kuat. "Sini, Qil, naik sikit! Nanti Mas Akbar petikkan, kamu yang pegang!"
Aqil yang tergiur pun ikut merambat naik ke dahan bawah. Akbar berhasil memetik dua jambu biji berukuran besar dan wangi. Namun, saat hendak turun, barulah mereka sadar, dahan tempat mereka berpijak lumayan tinggi dari tanah, dan tumpuan kaki Aqil tadi ternyata agak licin.
"Mas... Aqil takut... nggak bisa turun," bisik Aqil dengan bibir yang mulai gemetar. Matanya berkaca-kaca, tinggal menunggu hitungan detik sebelum tangisnya pecah.
Akbar yang juga mulai panik cepat-cepat menempelkan jari di bibirnya. "Ssst! Qil, jangan menangis! Jangan teriak! Nanti Ayah dengar, terus Ayah marah besar sama kita. Diam ya, Mas pegang tangannya..."
Sementara itu, beberapa meter di saung, Abi dan Pak Darno masih asyik berdiskusi membelakangi pohon jambu, tidak menyadari kedua bocah tersebut sudah tersangkut di atas dahan.
Tiba-tiba dari arah jalan setapak persawahan, muncul seorang gadis muda membawa rantang makanan. Langkahnya terhenti saat melihat ada dua anak kecil mendekam ketakutan di atas pohon jambu.
"Pak! Ini anak siapa, Pak? Manjat-manjat sampai atas begini, nggak bisa turun ini!" seru gadis itu dengan nada heran campur khawatir.
Abi dan Pak Darno mendadak menoleh kaget.
"Lho, Kayla?" sahut Pak Darno mengenali anak perempuannya.
Abi langsung terbelalak melihat Akbar dan Aqil sedang bertengger kaku di dahan pohon jambu dengan wajah pucat pasrah.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti