PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Ribuan Penari
Setelah beberapa kali menjalani latihan di lokasi penampilan, akhirnya hari yang selama ini kami tunggu tiba. Sejak pagi, suasana rumah sudah jauh lebih sibuk daripada biasanya karena penampilan akan berlangsung pada siang hari, sehingga semua perlengkapan harus dipersiapkan sejak awal. Mama sibuk menyiapkan pakaian, perlengkapan tari, dan kebutuhan lainnya, sedangkan aku dan Ucaluna harus segera mandi karena setelah itu Mama akan membantu kami memakai make up dan pakaian penampilan.
"Ayo, Ucaluna, Hitas, segera mandi, nanti Mama sama Kakak bantu make up kalian," panggil Mama.
Aku segera bersiap meskipun sebenarnya sejak awal sudah merasa kurang bersemangat ketika membayangkan harus memakai make up. Aku memang paling tidak suka merias wajah, tetapi hari itu aku tidak bisa menolaknya karena semua penari perempuan harus memiliki penampilan yang sama. Kalau ada satu orang saja yang berbeda, tentu akan terlihat ketika kami berdiri bersama ribuan penari lainnya.
Setelah selesai mandi, aku duduk di depan Mama dan membiarkan beliau mulai merias wajahku. Ucaluna lebih dahulu dirias, kemudian setelah selesai giliran aku yang duduk diam sambil mengikuti setiap arahan Mama. Sesekali aku melihat wajahku sendiri di depan cermin dan semakin lama semakin merasa asing melihat perubahan itu. Wajah yang biasanya hanya terlihat sederhana kini dipenuhi riasan, sementara aku sendiri tidak terbiasa melihat diriku seperti itu.
Dalam hati aku mulai merasa tidak percaya diri.
Ya ampun, kalau Kenan melihatku seperti ini, pasti dia mengejekku.
Pikiran itu terus muncul meskipun aku berusaha mengabaikannya. Aku tidak tahu mengapa pendapat Kenan tiba-tiba menjadi sesuatu yang kupikirkan. Padahal sebelumnya aku juga sudah sering bertemu dengannya ketika latihan, tetapi hari itu rasanya berbeda karena aku sendiri bahkan tidak percaya diri dengan penampilanku.
Setelah proses make up selesai, Kak Echa membantu memakaikan pakaian tarian kepadaku. Pakaian tersebut dilengkapi dengan sarung adat dari kabupaten kami, sedangkan hijabku ditata dengan bentuk tertentu pada bagian ujungnya sehingga menyerupai rambut yang dicacing. Setelah semuanya selesai, aku berdiri di depan cermin dan kembali memperhatikan penampilanku.
Aku benar-benar merasa berbeda.
Beberapa saat kemudian, Kak Echa mengambil beberapa foto untuk dijadikan kenang-kenangan. Aku tersenyum di depan kamera, meskipun sebenarnya rasa malu dan tidak percaya diri masih ada di dalam hati. Setidaknya foto itu nanti bisa menjadi kenangan bahwa pernah ada satu hari ketika aku dan teman-teman mengenakan pakaian yang sama dan berdiri sebagai bagian dari ribuan penari dalam sebuah penampilan besar.
Tidak lama setelah itu, Vita datang menjemputku. Kami berjalan menuju sekolah sambil sesekali tertawa melihat penampilan masing-masing yang sangat berbeda dari biasanya. Kami saling memperhatikan wajah dan pakaian satu sama lain, lalu tertawa karena rasanya seperti sedang melihat orang yang berbeda.
Namun, di balik tawa itu, aku masih memikirkan satu hal.
Bagaimana kalau Kenan melihatku?
Sesampainya di rumah salah satu guru yang menjadi tempat berkumpul seluruh siswa sekolah kami, suasananya sudah sangat ramai. Anak-anak dari berbagai kelas telah berkumpul dengan pakaian tari mereka, sementara beberapa guru masih sibuk membantu siswa yang belum selesai mempersiapkan diri. Semua penari perempuan terlihat hampir sama karena pakaian, make up, dan bentuk hijab yang kami gunakan dibuat seragam.
Melihat keadaan itu, aku justru merasa sedikit lega.
Setidaknya, pikirku, Kenan pasti kesulitan mengenaliku.
Aku bahkan berusaha tidak terlalu banyak melihat ke arah anak-anak laki-laki. Kalau bisa, aku ingin melewati hari itu tanpa harus bertemu dengannya sebelum penampilan dimulai. Bukan karena aku benar-benar tidak ingin melihatnya, melainkan karena aku masih merasa malu dengan penampilanku sendiri.
Namun, harapan itu tidak berlangsung lama.
Dari kejauhan, muncul sosok laki-laki yang sangat kukenal.
Aku langsung menundukkan wajah.
Kenan.
Aku segera berusaha menutupi wajahku karena tidak ingin dia melihatku lebih dahulu. Di antara banyaknya anak perempuan yang memiliki pakaian dan riasan hampir sama, aku berharap dia tidak akan menyadari keberadaanku. Untuk beberapa saat aku berhasil menghindar, tetapi ternyata dia justru terlihat seperti sedang mencari seseorang.
Setelah semua siswa selesai dipersiapkan, kami diarahkan menuju mobil yang telah disiapkan untuk membawa seluruh peserta ke lokasi penampilan. Perjalanan kali ini terasa berbeda bagiku. Teman-teman di dalam mobil sibuk berbicara dan bercanda, tetapi pikiranku justru terus tertuju pada apa yang mungkin terjadi sesampainya di sana.
Aku tidak tahu apakah Kenan akan mengenaliku.
Aku juga tidak tahu apa yang akan dia katakan ketika melihat wajahku yang berbeda dari biasanya.
Sesampainya di lokasi, suasananya benar-benar jauh lebih ramai daripada hari-hari latihan sebelumnya. Ribuan penari sudah mulai memenuhi lapangan, sedangkan penonton berdiri dan duduk di anak-anak tangga yang mengelilingi tempat tersebut. Tangga-tangga itu dihias dengan begitu indah dan beberapa bagian dilengkapi karpet merah untuk menyambut kedatangan bupati serta orang-orang penting yang akan menyaksikan penampilan. Bahkan beberapa turis juga terlihat datang untuk menyaksikan pertunjukan yang melibatkan ribuan penari tersebut.
Hari itu terasa jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Lapangan yang sebelumnya hanya kami gunakan untuk latihan kini dipenuhi begitu banyak orang. Suara percakapan, suara panitia, musik, dan sorak-sorai penonton bercampur menjadi satu. Aku berdiri bersama teman-teman sambil menunggu arahan berikutnya, tetapi tanpa sengaja pandanganku kembali mencari seseorang.
Kenan.
Aku melihatnya sedang memperhatikan satu per satu penari perempuan yang berada di sekitar lapangan. Sepertinya dia benar-benar sedang mencari seseorang, dan aku mulai menyadari bahwa mungkin orang yang sedang dicari itu adalah aku.
Aku kembali berusaha menghindar.
Namun, ketika suara mikrofon mulai terdengar dan panitia meminta seluruh penari untuk mengambil posisi masing-masing, aku tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bersembunyi. Kelompok kami harus segera berbaris bersama pasangan masing-masing.
Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya keluar dari tempatku berdiri.
Saat itulah Kenan melihatku.
Dia segera menghampiri dengan wajah yang terlihat sedikit memerah, entah karena panas matahari atau karena sejak tadi benar-benar mencariku.
"Kamu ke mana saja? Aku mencari kamu dari tadi," katanya dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
Aku hanya bisa menundukkan wajah karena rasa malu yang sejak pagi sudah kurasakan.
"Maaf, Kenan. Aku malu. Aku tidak biasa memakai make up seperti ini."
Dia masih memandangiku, seolah ingin memastikan bahwa orang yang sejak tadi dicarinya benar-benar ada di hadapannya.
"Iya, tapi aku mencari kamu dari tadi, Hitas."
Mendengar itu, aku semakin salah tingkah. Aku kemudian mencoba mencairkan suasana dengan berkata, "Jangan marah, Kenan. Kalau kamu begini, kita gantian saja. Kamu menarinya sama Vita."
Aku tidak menyangka perkataanku justru membuat ekspresinya berubah. Namun, beberapa saat kemudian dia mengatakan bahwa dirinya tidak marah dan hanya ingin memastikan aku tidak menghilang lagi karena sejak tadi dia memang mencariku.
"Sudahlah, Hitas. Kita menari saja. Kamu seperti anak kecil."
Aku hanya tersenyum kecil, kemudian kembali mengambil posisi di sampingnya.
Tidak lama kemudian, suara musik pengiring mulai terdengar lebih jelas. Tibalah giliran kelompok kami untuk tampil.
Aku mencoba mengingat kembali semua gerakan yang selama ini telah kami latih berulang kali. Setiap langkah, setiap gerakan tangan, dan setiap perubahan posisi harus dilakukan bersama-sama karena kali ini bukan lagi latihan di sekolah. Ribuan orang sedang melihat kami, sehingga tidak ada ruang untuk bercanda atau melakukan kesalahan.
Anehnya, meskipun berada di samping Kenan, tarian hari itu terasa berbeda.
Biasanya ketika latihan, dia sering mengucapkan sesuatu yang membuatku kesal sekaligus ingin tertawa. Terkadang kami saling melihat ketika gerakan selesai, tetapi hari itu tidak ada semua itu. Kami hanya fokus mengikuti gerakan. Tidak ada senyuman yang sengaja diberikan kepadaku, tidak ada godaan, bahkan tatapan di antara kami pun terasa lebih sedikit daripada biasanya.
Aku tidak tahu apakah dia juga merasakan perubahan itu atau tidak.
Yang jelas, setelah beberapa rangkaian gerakan selesai, kami kembali ke posisi masing-masing dan menunggu penampilan berikutnya.
Anak-anak SMA kemudian tampil, disusul dengan rangkaian tarian lainnya hingga akhirnya seluruh ribuan penari membentuk sebuah formasi besar di lapangan. Dari kejauhan, formasi itu perlahan membentuk gambaran seorang perempuan yang membawa kendi di atas kepalanya, sebuah simbol yang menggambarkan daerah kami.
Pemandangan itu benar-benar indah.
Ribuan penari bergerak dalam satu kesatuan, mengikuti irama yang sama dan membentuk sebuah gambaran besar yang tidak mungkin dilakukan oleh sedikit orang. Tepuk tangan dan sorakan penonton terdengar semakin ramai ketika formasi tersebut berhasil terbentuk.
Setelah seluruh rangkaian tarian selesai, acara kemudian ditutup dengan berjoget bersama seluruh penari. Teman-temanku terlihat begitu bahagia. Mereka tertawa, bergerak mengikuti musik, dan menikmati suasana yang sejak pagi sudah dipenuhi kesibukan.
Aku seharusnya ikut merasakan kebahagiaan itu.
Namun, aku justru hanya diam.
Aku berdiri sambil memperhatikan orang-orang di sekelilingku yang sedang tertawa dan menikmati penampilan yang baru saja kami selesaikan. Ada begitu banyak orang di sana, tetapi entah mengapa pikiranku justru kembali pada kejadian-kejadian kecil yang telah kulalui bersama Kenan.
Aku kembali mengingat bagaimana dia mencariku ketika semua penari perempuan terlihat sama, bagaimana wajahnya terlihat kesal ketika tidak menemukanku, dan bagaimana dia tetap mengatakan bahwa dirinya tidak marah ketika aku menyuruhnya menari bersama Vita.
Semua itu sebenarnya sederhana.
Namun, mengapa aku terus mengingatnya?
Aku sendiri tidak tahu.
Selama ini aku menganggap Kenan hanya sebagai pasangan tariku, seseorang yang kebetulan selalu berada di dekatku selama latihan dan penampilan. Aku bahkan sering merasa terganggu dengan tingkahnya yang suka menggodaku. Akan tetapi, perlahan-lahan aku mulai menyadari bahwa ketika dia tidak ada, aku justru sering mencarinya tanpa sadar.
Mungkin itulah yang membuat suasana hari itu terasa berbeda.
Di tengah ribuan penari dan penonton yang sedang bergembira, aku justru sibuk dengan pikiranku sendiri. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa pernah kusadari, tetapi aku belum cukup berani untuk memberinya nama.
Aku hanya tahu satu hal, sejak mengenal Kenan, hari-hariku tidak lagi terasa sama.
Dan mungkin, tanpa kusadari, penampilan besar hari itu bukan hanya menjadi akhir dari latihan panjang kami, tetapi juga menjadi awal dari sebuah perasaan yang kelak akan membuat perjalanan hidupku jauh lebih rumit daripada yang pernah kubayangkan.
...***...