NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Pintu yang Ditutup

Setelah makan malam, Juwanto masih mencoba menyelamatkan diri dengan membahas hal-hal lain.

Ia memuji sop ayam jahe Jing. Ia mengeluh tentang tugas sekolah. Ia bahkan bercerita soal mobil ayahnya yang mogok di tengah jalan tol. Semua topik itu dilemparkan dengan semangat berlebihan, seolah semakin banyak ia bicara, semakin jauh pula pembicaraan tentang London bisa dikubur.

Erlyn mendengarkan.

Chisen juga mendengarkan, tetapi wajahnya memberi peringatan jelas: satu langkah lagi, Juwanto mati.

Chuan, seperti biasa, tampak menjadi satu-satunya orang yang tidak panik. Ia membantu Jing membawa piring ke dapur, menolak halus saat Jing melarang, lalu kembali ke ruang tengah dengan tenang.

"Kamu ingin tahu soal pameran itu?" tanya Chuan tiba-tiba saat Erlyn mengambil gelas air.

Erlyn hampir menjatuhkan gelas.

Di ruang tengah, Juwanto sedang berdebat dengan Chisen tentang permainan di ponsel. Suara mereka cukup keras untuk menutupi percakapan kecil di dekat pantry.

"Boleh?" tanya Erlyn balik.

Chuan menatapnya beberapa detik. "Boleh ingin tahu. Belum tentu boleh dijawab."

Jawaban itu terdengar seperti Chuan. Datar, tidak kasar, tetapi langsung menutup jalan yang terlalu mudah.

"Kenapa semua orang seperti takut membicarakannya?"

"Bukan takut."

"Lalu?"

Chuan melihat ke arah Chisen. "Itu bagian hidupnya yang dia simpan sendiri."

Erlyn mengikuti pandangannya. Chisen duduk di sofa, ponsel di tangan, Juwanto bersandar di karpet sambil protes. Di sana, ia terlihat seperti remaja biasa yang terganggu oleh teman berisik. Tetapi Erlyn sudah melihat gelas yang diletakkan terlalu tenang. Sudah mendengar kuas yang menghantam kanvas.

"Dia selalu menyimpan semuanya sendiri," gumam Erlyn.

Chuan mendengarnya.

"Kalau kamu sadar, berarti kamu cukup dekat."

Erlyn menoleh cepat. "Apa?"

"Tidak apa-apa." Chuan mengambil gelasnya. "Aku cuma bilang, tidak semua orang sadar kalau dia sedang menyimpan sesuatu."

Kalimat itu menempel di kepala Erlyn sampai Juwanto dan Chuan pulang.

Sebelum pergi, Juwanto masih sempat berbisik padanya di teras, "Kalau Chisen galak, lapor aku."

Chisen yang berdiri dua langkah di belakang berkata, "Dia tidak perlu lapor pada sumber masalah."

"Aku sumber solusi."

"Solusi yang sering membuat masalah baru."

Juwanto menepuk dada seolah terluka. "Erlyn, kamu lihat? Beginilah nasib teman baik."

Erlyn tersenyum. "Pulang hati-hati."

Setelah mobil mereka keluar dari pagar, rumah kembali tenang. Terlalu tenang. Tawa Juwanto seolah meninggalkan ruang kosong yang lebih terasa daripada sebelum ia datang.

Di dapur, Jing sedang merapikan sisa gelas. Erlyn masuk untuk membantu, tetapi Mama hanya memberinya lap kecil.

"Teman-teman Koh Chisen ramai, ya," kata Jing.

"Juwanto terutama."

Jing tersenyum. "Bagus. Rumah jadi hidup."

Erlyn mengelap gelas perlahan. "Mama tahu soal pameran London?"

Gerakan Jing berhenti sedikit. "Sedikit. Om Changli pernah cerita. Chisen memang melukis dari kecil."

"Dia tidak pernah cerita."

"Chisen bukan anak yang mudah cerita."

"Aku tahu."

Nada Erlyn mungkin terdengar terlalu datar, karena Jing menatapnya lebih lembut.

"Om Changli juga kadang tidak tahu harus bagaimana," tambah Jing. "Dia bangga, tapi khawatir. Dunia seni itu tidak mudah, apalagi untuk anak yang keras kepala seperti Chisen."

"Koh keras kepala?"

Jing tersenyum. "Kamu belum sadar?"

Erlyn tidak bisa membantah.

Sama sekali.

"Kadang ada orang yang kalau hatinya penuh, dia tidak bicara. Dia membuat sesuatu." Jing meletakkan gelas ke rak. "Mama tidak bilang itu sehat. Tapi mungkin itu cara dia bertahan."

Erlyn teringat suara kuas di loteng.

"Kalau begitu, apa kita tidak boleh tanya?"

Jing mengusap rambutnya sebentar. "Boleh. Tapi jangan kaget kalau jawabannya pintu tertutup."

Chisen berjalan masuk lebih dulu.

Erlyn mengikuti sampai ruang tengah, lalu memberanikan diri bertanya, "Pameran di London itu seperti apa?"

Langkah Chisen berhenti.

Ia tidak berbalik. "Tidak penting."

"Kalau tidak penting, kenapa Koh melarang Juwanto cerita?"

"Karena mulutnya tidak punya rem."

"Itu aku setuju. Tapi tetap bukan jawaban."

Chisen akhirnya menoleh. Wajahnya tidak marah. Justru karena tidak marah, Erlyn lebih sulit membaca apa pun di sana.

"Kenapa kamu ingin tahu?"

Pertanyaan itu membuat Erlyn diam.

Karena ia penasaran.

Karena ia merasa Chisen tidak adil, tahu banyak tentang jadwalnya, sekolahnya, nilai ujiannya, bahkan siapa yang mengantarnya pulang, sementara dirinya tidak tahu apa-apa tentang bagian hidup Chisen yang paling ia jaga.

Karena loteng di atas rumah itu terasa semakin hari semakin dekat, tetapi pintunya tetap tertutup.

"Karena Koh tinggal serumah denganku," jawab Erlyn akhirnya. "Dan aku baru tahu dari orang lain kalau Koh pernah pameran di London."

"Banyak hal yang kamu tidak tahu."

"Makanya aku tanya."

"Tidak semua pertanyaan harus dijawab."

Kalimat itu menampar lebih pelan daripada teriakan, tetapi tetap terasa.

Erlyn menatapnya. "Koh selalu begitu."

"Begitu apa?"

"Menutup pintu."

Sesuatu bergerak di mata Chisen. Kecil sekali. Hampir seperti ia ingin mengatakan sesuatu, lalu menguburnya sebelum sampai ke mulut.

Namun pada akhirnya, ia hanya berkata, "Tidur. Besok sekolah."

Ia berbalik dan naik tangga.

Erlyn berdiri di bawah, menatap punggungnya sampai menghilang di belokan menuju loteng. Beberapa detik kemudian, ia mendengar suara pintu loteng dibuka.

Lalu ditutup.

Klik.

Kunci diputar dari dalam.

Suara kecil itu jatuh ke rumah yang sunyi, dan Erlyn merasa seolah Chisen baru saja menjawab semua pertanyaannya dengan satu pintu yang terkunci.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!