Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sesampainya di tenda, Lysander duduk di kursi dan mengambil sebuah buku. Gavin berdiri di belakangnya berdiri dengan ragu-ragu. Raut wajahnya jelas sekali terlihat ada sesuatu yang ingin ditanyakan namun ia mencoba untuk menahan dirinya.
“Katakan saja,” Ucap Lysander dengan mata yang tetap fokus ke bukunya.
“Tuan, kenapa baru sekarang anda mengatakan tentang masalah ini ke Komandan Kaelen?”
Lysander mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan.
“Karena aku tidak tahu selain Jax apakah ada mata-mata Paman Kaisar yang lain atau tidak. Kalau aku bergerak lebih awal, apakah itu akan memicu kewaspadaan dari Paman Kaisar atau tidak,” Ucapnya lirih namun sangat jelas.
Dua minggu kemudian tepat di tanggal 8, Kaelen terus menunggu kabar dari penjaga gerbang benteng. Meskipun terlihat tenang, tapi hatinya terasa sangat cemas. Pagi berlalu begitu saja, siang pun berlalu begitu cepat.
Kaelen keluar dari tenda dan melihat matahari yang sudah mulai tergelincir ke barat. Cahaya jingga memenuhi langit Draven terlihat sangat kontras dengan putihnya salju yang menutupi tanah dan pepohonan.
Dari kejauhan, netranya menangkap seorang prajurit yang berjalan cepat ke arahnya.
“Lapor komandan!”
Seorang prajurit datang menghadap dan berlutut di hadapan Kaelen.
“Katakan.”
“Bantuan logistik dari istana baru saja tiba di gerbang dan sedang melalui proses pemeriksaan.”
Detak jantung Kaelen meningkat saat mendengar bahwa pasokan dari istana ternyata masih dikirimkan tepat waktu. Namun masalah sebenarnya baru akan segera datang.
“Setelah selesai, segera bawa daftarnya kepadaku,” perintahnya kepada sang prajurit.
“Baik Komandan!”
Kaelen memerintahkan untuk mengumpulkan orang yang waktu itu terlibat dalam diskusi masalah ini.
Beberapa saat kemudian, semua orang sudah berkumpul di dalam tenda Sang Komandan. Kaelen membaca daftar pasokan yang baru saja masuk dengan dahi berkerut. Tuan Alaric di sampingnya duduk diam menunggu Kaelen angkat bicara. Begitu juga dengan Lysander, Evren dan Xavier.
“Pasokan logistik berkurang lima puluh persen dihitung dari jatah bulan lalu, tidak hanya itu…”
Semua orang menahan nafas menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Kaelen.
“Pasokan senjata juga dikurangi.”
Tuan Alaric menghela nafas berat kemudian melirik ke arah Lysander yang sejak awal sudah memasang raut serius. Tidak seperti biasanya yang selalu memasang raut wajah datar seolah tidak peduli dengan sekitarnya.
“Bukankah Kaisar sudah keterlaluan?” seru Gavin tiba-tiba.
“Diamlah, jaga bicaramu,” ucap Lysander mengingatkan.
Jika ada orang luar yang mendengar lalu menuduh Gavin menghina Kaisar, kepalanya bisa saja dipenggal saat itu juga.
Kemudian Lysander maju satu langkah dan berkata, “Aku akan menghubungi beberapa kenalanku untuk mencari bantuan senjata.”
Setelah mengatakan itu, Lysander menoleh ke arah Gavin, “Pergilah.”
“Baik Tuan Muda.”
Gavin langsung pergi menjalankan perintah dari Lysander.
“Masalah senjata kita tunggu kabar dari Tuan Lysander dan membahasnya nanti, sekarang masalahnya adalah pasokan makanan,” Ucap Kaelen setelah melihat Gavin keluar dari tenda.
Kali ini Xavier yang maju dan bertanya kepada Kaelen, “Bulan lalu memangnya dipotong berapa persen?”
Kaelen diam, ia melihat semua orang lalu berkata dengan lirih, “Dua puluh persen.”
Mendengar itu, Xavier merasa lututnya lemas.
Bulan lalu dipotong dua puluh persen saja mereka sudah pontang panting mencari sumber pangan lain.
“Lalu sekarang dipotong lima puluh persen dari pasokan bulan lalu, artinya kita hanya mendapat jatah empat puluh persen saja dari jatah yang seharusnya?” Tanya Xavier sambil menghitung menggunakan jarinya dan mengangkat empat jarinya ke depan wajahnya.
Kaelen mengangguk dan semua orang kembali terdiam.
“Aku rasa sekarang tidak hanya petinggi yang harus berhemat, tapi seluruh pasukan,” ucap Evren ditengah keheningan ruangan tersebut.
“Bukankah pasokan baru saja datang?” Tanya Tuan Alaric memecah keheningan yang langsung dibalas anggukan oleh Kaelen.
Tuan Alaric yang melihat semua orang terlalu fokus mencari solusi ke depannya hingga mereka melupakan logistik yang baru saja sampai belum diperiksa sama sekali.
“Sebaiknya kita periksa dulu barang yang baru saja masuk,” ucapnya dengan serius.
Lysander menatap penasihat tua itu kemudian matanya sedikit melebar sesaat. Ia menangkap maksud dari ucapan Sang Penasihat Tua. Jika memang Kaisar menargetkan Draven, maka kondisi barang yang dikirimkan semakin harus diperiksa.
“Benar kata Tuan Alaric, mari kita periksa bahan makanan yang baru datang,” ucap Lysander sambil berharap di dalam hatinya tidak akan ada masalah baru yang muncul.
Mereka semua berjalan menuju gerobak berisi logistik dan senjata yang baru saja tiba. Belum disentuh sama sekali oleh prajurit atau pekerja gudang. Hanya sempat dicek oleh prajurit yang berjaga di gerbang. Itu pun mereka hanya menyesuaikan jumlah barang dengan daftar yang diberikan.
Sesuai peraturan benteng, harus ada perintah resmi dari pemimpin benteng baru mereka bisa menyentuh dan memindahkan pasokan tersebut ke tempat penyimpanan.
Xavier langsung maju dan membuka karung yang diletakkan paling sudut di gerobak. Sekaligus bagian terdekat darinya. Karung tersebut berisi gandum halus. Berbeda dari sebelumnya yang masih berupa biji gandum. Tidak hanya itu, gandum tersebut sudah mengeluarkan bau apek dan sedikit menggumpal karena basah.
Kemudian Xavier beralih ke karung di sebelahnya yang berisi daging yang hampir membusuk. Bahkan ayam yang dikirim pun terlihat sudah hampir mati. Yang lain juga ikut memeriksanya di samping Xavier. Sementara Evren dan Lysander mengecek senjata di gerobak lainnya.
Xavier mengacak rambutnya saat melihat bahan makanan yang sudah rusak seperti ini. Kemudian ia membuka gerobak berisi pakaian dan selimut. Tidak ada mantel dan selimut tebal, semuanya hanya pakaian biasa yang tidak akan bisa menahan dinginnya cuaca di musim dingin.
“Mereka semua sudah gila,” gumam Xavier. Yang dilakukan orang-orang istana itu jelas ingin membuat seluruh Draven mati kelaparan dan kedinginan.
“Apa ada yang bisa dilakukan untuk pasokan yang baru datang?” tanya Kaelen kepada Xavier.
Xavier menghela nafas berat kemudian mengangguk pelan. Ia paling benci bekerja di musim dingin, tapi sekarang sepertinya ia harus bekerja lebih keras dari biasanya di musim dingin ini.
“Saat matahari cukup tinggi besok, jemur gandumnya sampai tidak lembab lagi. Untuk dagingnya pilih yang masih belum busuk, kita bisa memasak sebagian untuk makan malam ini dan sebagian lagi diawetkan untuk disimpan. Yang sudah membusuk buang saja.”
Xavier beralih ke kandang berisi puluhan ekor ayam, “ayamnya coba dikasih pakan, yang masih sehat dipisah untuk diternak. Yang tidak membaik juga bisa langsung dipotong saja dan dimasak.”
Kaelen mengangguk kemudian memanggil prajurit yang berjaga tidak jauh darinya, “lakukan sesuai yang dikatakan Xavier, kalau ada pertanyaan langsung tanya saja.”
“Baik, Komandan.”
“Kalau kita punya kapas atau bulu angsa sendiri, akan lebih bagus lagi,” gumam Xavier sambil melihat tumpukan pakaian dan selimut tipis di atas gerobak.
“Penjahit benteng hanya memiliki bahan pakaian, tidak memiliki kapas maupun bulu angsa,” sahut Kaelen.
Mendengar percakapan Kaelen dan Xavier, mata Evren sedikit membesar lalu ia menoleh ke arah Kaelen dan Xavier.
“Bukankah kelompok berburu sudah dibentuk, nanti kita bisa menjadikan kulit hewan sebagai pakaian,” ucap Evren dengan cukup antusias.
Xavier menoleh ke arah Evren dengan mata berbinar kemudian mengangguk, “Bisa seperti itu, karena musim dingin hewan buruan juga pasti cukup langka. Pakaian yang dibuat dari kulit hewan nantinya akan digunakan untuk keadaan darurat saja.”
“Kita bisa mengalokasikannya ke tenda pengobatan untuk diberikan kepada mereka yang sakit,” imbuh Kaelen yang langsung diangguki oleh Xavier dan Evren.
Semua orang menyetujui ucapan Xavier dan Kaelen. Kemudian para pekerja gudang dibantu beberapa prajurit mulai memindahkan pasokan logistik dan mengurusnya sesuai yang diajarkan oleh Xavier. Sementara itu, untuk kondisi senjata masih seperti biasanya. Kaisar masih sedikit bermurah hati dengan mengirim senjata yang bagus meskipun jumlahnya dikurangi.