Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HADIAH BUAT TAKAGI
Yukari tiba-tiba menepuk dahinya pelan. Ada benda penting yang mendadak melintas di pikirannya.
Takagi sudah menaiki jok pengemudi, bersiap untuk menghidupkan mesin motor setelah semua barang tergantung aman.
"Takagi-san, tunggu sebentar!" seru Yukari, menahan lengan pria itu. "Kau berteduh di bawah pohon itu. Aku harus masuk ke dalam pasar lagi, ada sesuatu yang lupa kubeli."
Takagi menoleh, alisnya sedikit bertaut melihat raut tergesa-gesa di wajah gadis itu. "Perlu ku temani ?," ucapnya mengingatkan.
"Tidak! Sebentar saja," balas Yukari dengan senyum meyakinkan.
Tanpa membuang waktu lagi, Yukari langsung berbalik dan berlari kecil kembali memasuki area pasar yang riuh. Takagi tetap diam di atas motornya, memandangi punggung gadis itu melewati kerumunan orang, hingga akhirnya ia hilang di balik lorong pasar yang padat.
Pria itu mengembuskan napas panjang, mengingat kejadian beberapa puluh menit yang lalu bagaimana pucat dan ketakutannya wajah Yukari saat melihat kondisinya drop tadi. " hem..pucatnya tadi malah seperti dia yang sakit,,! "
"Kemana dia.. kenapa lama sekali??"Akira mendengus pelan, " Apa dia takut aku membayar keperluan nya lagi?"
Ia menertawakan dirinya sendiri yang mendadak menjadi melankolis hanya karena ditinggal beberapa menit.
Lamunan Akira terputus saat telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendekat. Dia mendongak, sosok Yukari yang berjalan cepat ke arahnya sambil membawa dua botol minuman dingin yang berembun dan sebungkus kantong plastik berisi cemilan pasar.
Napas Yukari agak memburu, tetapi senyumnya merekah lebar. "Maaf lama, Takagi-san. Antreannya lumayan panjang."
Akira melirik dua botol minuman di tangan gadis itu. "Kau masuk lagi hanya untuk membeli itu?"
"Tentu saja tidak," jawab Yukari misterius, lalu menunjuk ke arah jalan pulang dengan dagunya. "Ada spot yang bagus saat kita pulang nanti, kita bisa mencicipi cemilan kita di sana. Ayo!"
Akira tidak banyak bertanya. Setelah Yukari naik ke jok belakang, dia langsung menjalankan motor tua itu, membelah jalanan desa Oku-Nikko yang mulai hangat disengat matahari pagi.
Di tengah perjalanan pulang, saat motor mereka melewati jalur sepi yang dikelilingi pepohonan rindang dan sebuah aliran kali kecil, Yukari tiba-tiba menepuk bahu Akira dengan pelan. "Takagi-san, menepi di sebelah sana!"
Akira menarik tuas rem, mengarahkan motor ke pinggir jalan yang teduh. Di tempat itu, udara terasa sangat sejuk berkat rimbunnya dedaunan dan suara gemercik air yang menenangkan hati.
Mereka berdua duduk di atas bongkahan kayu tua tersebut, membiarkan dinginnya air dan manisnya cemilan membasuh dahaga serta lelah setelah beraktivitas di pasar
"Rasa Lelahnya seketika hilang, kan " yukari menikmati manis dan segar dari dingin minumannya
"ya " akira setuju menyedot kembali minuman manis itu hingga setengah
Yukari merogoh bagian dalam tas kainnya dan mengeluarkan sebotol madu murni yang sengaja dia sembunyikan di dalam tas.
"Ini untuk memulihkan kondisi tubuhmu, Takagi-san. Kau minum setiba di rumah nanti, ya," ucap Yukari tulus sembari menyodorkan botol kaca itu ke hadapan Akira.
Akira terpaku. Dia menatap botol madu ini dengan perasaan campur aduk.
"Tubuhmu... kesehatanmu, itu sangat berharga. Setidaknya, berharga buat dirimu sendiri."
"Takagi-san... " yukari menoleh pada akira perlahan
"Ya, honami-san "
Yukari merapikan anak rambutnya ke belakang telinga sebelum melanjutkan pertanyaan nya "Kenapa..Kau bisa ada di sungai waktu itu?"
Akira terkejut yukari akhirnya menanyakan hal ini, cukup lama ia terdiam. Pandangannya lurus seolah enggan mengungkit kembali memori kelam tersebut.
"Kau... serius ingin mengakhiri hidupmu?" tanya Yukari lagi, suaranya mencicit pelan karena takut menyinggung luka dalam pria di sampingnya.
Setelah jeda yang terasa begitu panjang dan mencekam, Takagi akhirnya mengangguk pelan. "Ya."
Dia mengembuskan napas berat, lalu melanjutkan dengan suara rendah. "..Aku...sengaja pergi cukup jauh dari Aoyama ke Oku-Nikko... hanya untuk menyelesaikan semuanya"
Akira tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Dia memilih bungkam, mengunci rapat sisa ceritanya di dalam hati. Namun, Yukari menggeser posisi duduknya kini tubuhnya berputar sepenuhnya menghadap Akira, menatap pria itu dengan sepasang mata bulatnya yang dipenuhi empati yang mendalam.
Melihat ketulusan di mata Yukari, pertahanan di dalam diri Akira perlahan runtuh. Pria itu menunduk, menatap tanah berkerikil di bawah sepatunya.
"Karena aku merasa hidupku tidak adil," aku Akira lirih, suaranya terdengar begitu rapuh "Aku mengecewakan keluargaku, juga sahabatku. Aku sudah terpuruk dengan rasa kekecewaan ini sudah sangat lama... hingga aku lupa bagaimana caranya untuk tersenyum... dan tertawa."
Yukari terdiam mendengar cerita pria di sampingnya. Kata-kata Akira barusan terdengar berat, seolah setiap kalimat yang keluar membawa beban kesedihan yang sudah lama dipendam sendiri di dalam dada.
Perlahan, Yukari mengulurkan tangannya. Dengan gerakan hati-hati agar tidak mengagetkan, dia meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Akira yang sedang bertumpu di lutut. Tangan pria itu terasa dingin, kontras dengan hangatnya matahari pagi yang menembus sela-sela daun.
"Takagi-san..." panggil Yukari lembut. Dia meremas pelan jemari kaku Akira, mencoba membagi kehangatan. "Terima kasih ya, sudah mau cerita kepadaku."
Akira tidak bergerak, tapi dia bisa merasakan sentuhan tulus dari jemari Yukari. Sudut matanya melirik ke arah tangan mereka yang bertumpukan.
"Aku memang tidak tahu seberapa berat rasa kecewa yang kau rasakan, dan aku tidak mau sok tahu seberapa hancurnya hatimu waktu itu," lanjut Yukari, menatap Akira lekat-lekat tanpa ada kesan menghakimi sama sekali. "Tapi, Takagi-san... kau yang ada di depanku sekarang ini adalah pria yang baik. Kau memasak nasi goreng mentega yang enak, kau rela mendorong motor agar aku tidak kelelahan, dan kau menghargai kebaikan kecilku dengan caramu sendiri."
Yukari berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya dipahami oleh Akira.
"Orang-orang di masa lalumu mungkin kecewa, atau kau yang merasa sudah mengecewakan mereka. Tapi di sini, di Oku-Nikko... kau tidak mengecewakan siapa pun. Keberadaanmu di rumahku sama sekali bukan beban," ucap Yukari bersungguh-sungguh, sambil tersenyum tipis. "Kalau kau sudah lupa bagaimana cara tersenyum atau tertawa karena luka yang lama itu... maka hiduplah sedikit lebih lama lagi di sini. Biarkan tempat ini, dan mungkin... aku, membantu dirimu untuk ingat lagi cara tertawa itu. Perlahan-lahan saja."
Mendengar ucapan Yukari, Akira perlahan menoleh. Dia menatap lekat-lekat wajah gadis di sampingnya. Kalimat "biarkan aku membantu dirimu untuk ingat lagi cara tertawa" terus berputar di kepalanya, perlahan meruntuhkan dinding es yang selama ini membentengi hatinya dari dunia luar.
Akira mengembuskan napas panjang, kali ini rasanya sedikit lebih lega.
...----------------...
Malam turun perlahan di Desa Oku-Nikko. Kabut tipis mulai menyelimuti jalan setapak dan bukit di kejauhan, lampu-lampu rumah memancarkan cahaya keemasan yang terasa hangat di tengah udara pegunungan yang dingin.
Yukari keluar dari kamarnya dengan pakaian santai Di tangannya, dia membawa sebuah buku memo kuning yang familier.
"Di sini kau rupanya," sapa Yukari saat langkahnya tiba di selasar samping rumah.
Akira, yang sedang duduk bersandar di selasar sambil memegang segelas teh panas, sedikit tersentak. Pandangannya terpaku sesaat pada sosok Yukari. Melihat rambut gadis itu yang tergerai indah tertiup angin malam, Akira sempat tertegun selama beberapa detik tanpa bersuara.
Yukari mendadak merasa canggung saat menyadari Akira terus menatapnya tanpa suara. Dia buru-buru menyentuh pipinya, lalu bertanya dengan nada tersipu, "Ada apa, Takagi-san? Apa... ada yang aneh di wajahku?"
Akira tersentak kecil, lalu berdehem kaku untuk menutupi rasa malunya. Dia mengalihkan pandangan sesaat ke arah gelas tehnya sebelum menjawab pelan, "Tidak. Hanya saja... baru kali ini aku melihatmu menggerai rambut seperti itu."
Mendengar itu Yukari seketika terkekeh geli. Rasa canggungnya menguap, digantikan oleh binar hangat di matanya. Dia mendudukkan diri di samping Akira, lalu meletakkan buku memo kuning itu di pangkuannya.
"Hari ini, kau berhasil menyelesaikan misi judul baru, Takagi-san," ucap Yukari membuka obrolan.
"Benarkah?" sahut Akira. Dia perlahan memposisikan tubuhnya agar lebih menghadap ke arah Yukari, tampak tertarik.
"Iya," Yukari mengangguk pasti. "Kau sudah banyak melakukan hal hebat hari ini"
Perlahan dan dengan nada suara yang sangat lembut, Yukari mulai menyebutkan satu per satu pencapaian pria itu. "Tadi pagi kau rela bersusah payah mendorong motor yang berat di tanjakan demi aku, lalu di pasar kau sabar sekali mengajariku cara memilih bahan makanan yang bagus dan segar. Dan yang paling penting... keberanianmu untuk membuka diri dan bercerita tentang beban masa lalumu "
Yukari menatap Akira dengan pandangan penuh apresiasi. "Semua hal itu... pencapaian yang luar biasa Takagi-san."
Akira mendengarkan setiap bait kalimat itu dengan saksama. Sepasang matanya terus menatap lekat ke arah Yukari, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu yang tampak begitu tulus di bawah temaram lampu selasar.
Yukari kemudian menunduk, mulai menuliskan rangkuman peristiwa penting tersebut menjadi sebuah judul misi yang baru saja terlewati. Setelah selesai menulis, Yukari mengeluarkan sebuah stempel kecil dari saku kardigannya.
Cetrekk...
Suara ketukan stempel di tengah malam yang hening itu menjadi satu-satunya suara asing yang terdengar unik di telinga Akira.
Yukari tersenyum puas, lalu menggeser buku memo kuning tersebut tepat ke hadapan Akira. membaca deretan tulisan tangan Yukari dengan perlahan.
Judul 2: Berbagi Beban di Bawah Langit Oku-Nikko
Status: Lulus 🐯
"baiklah,,,Sudah larut malam " Yukari perlahan bangkit dari posisi duduknya, bersiap untuk masuk kembali ke dalam kamar.
"Jangan lupa minum madunya sebelum tidur ya, Takagi-san," ingat Yukari memastikan.
"Ah, iya.Terima kasih," jawab Akira pendek.
Sebelum benar-benar beranjak, Yukari merogoh saku kardigannya lagi. Kali ini, dia mengeluarkan sebuah pouch kecil berbahan kain kanvas tebal dan menyodorkannya ke arah Akira.
Akira mengernyitkan dahi, menatap benda di tangan Yukari bergantian dengan wajah gadis itu. "Apa ini, Honami-san?"
"Ini hadiah buatmu," jawab Yukari dengan senyum misterius yang tertahan di bibirnya. "Tapi jangan dibuka sekarang. Buka saat aku sudah masuk ke kamar nanti"
Akira terdiam sejenak melihat tingkah laku gadis di depannya, namun akhirnya dia mengangguk paham. "Baiklah."
Yukari tersenyum lalu berjalan menuju pintu pembatas ruang tengah. Baru dua langkah gadis itu menjauh, suara berat Akira kembali terdengar memecah keheningan malam di selasar.
"Honami-san..."
Gadis itu menoleh, Akira menatapnya dengan pandangan yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Terima kasih... untuk semuanya."
Mendengar ucapan tulus yang jarang keluar dari bibir pria kaku itu, rasa hangat menjalar di dada Yukari. Dia mengangguk pelan dengan senyum manis yang mengembang lebar, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu geser kamarnya dengan rapat.
Setelah memastikan suasana di dalam rumah benar-benar sepi dan Yukari sudah berada di kamarnya, Akira menurunkan pandangannya ke arah pouch kain di pangkuannya. Rasa penasaran akhirnya membuat pria itu menarik ritsleting pouch tersebut dengan perlahan.
Saat bagian dalamnya terbuka, Akira tertegun. Matanya sedikit melebar menatap isi di dalam kantong kecil itu. Di sana, tertata rapi sebuah botol krim pencukur jenggot berukuran travel dan satu unit mesin cukur elektrik portabel berwarna hitam legam yang tampak elegan.
Ia terpaku di tempatnya duduk. Memorinya langsung berputar kembali pada kejadian siang tadi di area parkir pasar. Jadi... ini barang yang membuat gadis itu sampai rela berlari terengah-engah kembali ke dalam kerumunan pasar yang gerah. Bukan untuk keperluan dapur, melainkan demi membelikan alat cukur untuk dirinya yang selama ini membiarkan rambut-rambut halus tumbuh liar di sekitar rahang semenjak terdampar di desa ini.
Akira menarik napas panjang, menatap benda-benda tersebut dengan pandangan takjub sekaligus tersentuh. Perlahan, seulas senyum lebar yang sangat jarang terlihat kini terbit di wajah tegapnya, mengikis kesan dingin yang biasa melekat pada dirinya.
Di balik senyuman tulusnya malam itu, Akira bergumam pelan di dalam hati, memuji perhatian manis dari gadis pemilik rumah tersebut.
"Gadis yang benar-benar penuh perhatian."