Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kucing Hitam
Malam itu, Emma meluruskan kakinya sembari merebahkan badannya yang sudah meronta untuk diistirahatkan. Angannya kembali melayang ke kejadian yang baru saja membuat jiwa dan raganya lelah, lelah sekali.
Emma melepas kuncir kudanya yang menambah pusing kepala. Ia berbaring ke kanan dan kiri untuk mencari posisi yang membuatnya nyaman. Namun, tentu saja tidak bisa.
Bagaimana mungkin ia bisa tenang setelah kejadian itu? Baru satu jam lalu ia menemui Sukarno dan sekarang ia harus mendengar berita kematiannya. Mengapa itu terjadi tepat setelah ia mengatakan kalau ia tidak bersalah? Apakah selama ini ada orang yang mengawasi Sukarno? Lalu apa maksud dari 'kucing hitam'?
Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, menyiksa dirinya perlahan. Lalu apa maksud dari salam untuk istrinya? Apa dia pikir Emma akan sudi bertemu Ibu Dion setelah tahu yang sebenarnya?
Atau mungkin ini sesederhana kebetulan dia mati dengan cara itu? seperti kebetulan ia menyaksikan Dion bunuh diri dan kebetulan Dion adalah anak pembunuh kakaknya?
"Aahhhh!"
Emma mengacak-acak rambutnya yang tergerai hingga membuatnya terlihat seperti singa jantan yang mengaum.
"Oke baiklah! Kalau kamu memang ingin aku pergi ke rumah istrimu, maka aku jabanin."
Setidaknya itu rencana yang terpikirkan Emma saat itu. Toh dia tidak punya jadwal mengajar, jadi dia bebas setiap saat. Akan tetapi...
.
.
.
"Bu Emina, anda saya tugaskan ikut Diklat Perpustakaan hari ini!" Perintah Pak Surya yang duduk di singgah sananya, membenarkan kacamatanya untuk melihat dengan jelas kejengkelan di wajah Emma.
"Tapi Pak... Saya bukan Pustakawan. Mengapa Anda tidak memerintahkan Bu Rita atau Pak Burhan?" Protes Emma. Ia tidak habis pikir dengan tingkah si Aren Gentong yang seenaknya saja.
"Anda kan yang paling senggang dari semua staff karyawan."
Alasan itu lagi yang selalu dijadikan senjata untuk memerintah. Bukankah yang membuat Emma senggang itu dia sendiri. Kenapa tidak menugaskan sesuai dengan kapasitas?
"Dasar power abusive!" Bisik Emma.
"Apa katamu?"
"Bapak ganteng! Apalagi pakai dasi polkadot pink itu. Jadi makin macho!" Emma mengacungkan jempolnya dan melebarkan senyum paksaannya.
"Ya sudah sana pergi!" Usirnya.
"Siap! Baiklah! Sampai jumpa! Bye bye!" Emma berjalan mundur, menunjukkan hormat dua jarinya.
Di balik punggung Emma yang semakin menjauh, Pak Surya melihat cermin besar di sebelah kirinya.
"Ganteng ya? Ssah! Ssah!"
Dia malah meliuk-liukkan badannya ke kanan dan kekiri, lalu berpose seperti model balap karung.
.
.
.
Bla bla bla @#$^&*()) bla bla bla @$$^%&^*&%^^
"Duh, ngomong apa sih?'
Emma menggaruk kepalanya dengan bolpoinnya. Dia sungguh tidak memahami apapun yang pembicara itu sampaikan. Yang ia tangkap hanyalah "Tidak boleh makan di Perpustakaan karena itu akan mengundang serangga yang bisa merusak buku."
Dari semua isi Diklat Perpustakaan itu hanya soal makanan saja yang bisa ia tangkap karena sekarang perut Emma sedang meronta.
"Dilarang minum Es yang manis-manis," ucap pembicara.
"Wah es teh, es campur, es krim?" Nadanya semakin naik setara dengan keinginannya untuk menikmati semua minuman manis itu sekarang juga.
"Apalagi makanan yang berminyak," lanjut Pembicara.
"Wah gorengan, Pizza, martabak, chikurro?"
Sepertinya lapar akut membuat pikirannya agak gila. Dia bahkan mulai membayangkan kepala pembicara itu menjadi bola ubi.
Krukk krukkk!
"Sabar.. sabar... Habis ini gas!"
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan akhirnya diklatnya selesai. Emma yang sudah sangat lapar sampai bisa memakan apa saja yang ada di depannya itu, membuka nasi box di mobilnya.
"Wah parah.... Tahu gini tadi pagi aku nggak skip sarapan. Laparnya."
"Awas kamu Surya!"
Saking bencinya, Emma sampai memanggil nama saja.
"Aku aduin ke Wendy cagur lo!" Lanjutnya.
Setelah ia selesai menyantap makanan alakadarnya itu, Emma kembali ke rencana awal untuk mengunjungi Ibu Dion. Ia berharap apa yang dikatakan Ibu Dion bukan sesuatu yang ia khawatirkan. Rasanya akan sangat menyakitkan kalau orang yang selama ini kita benci ternyata bukan orang yang bersalah. Apalagi mengetahui kemungkinan pelaku masih bebas berkeliaran di luar sana membuatnya semakin campur aduk.
"La ilaha illallah La ilaha illallah."
Kalimat Tahlil berulang kali diserukan oleh beberapa warga desa yang duduk melingkar di ruang tamu Bu Dion.
Emma berhenti sejenak, mengatur nafasnya dan jantungnya. Dia berharap tubuh dan hatinya kuat mendengar apapun yang keluar dari mulut Ibu Dion. Jauh di lubuk hatinya, ia berharap Sukarno lah pelakunya.
"Bu Polisi?" Panggil Ibu Dion berbinar melihat kedatangan Emma.
"Silahkan Bu, kita masuk kedalam saja. Di sini penuh jamaah laki-laki." Ibu Dion memandu Emma agar bisa memasuki rumahnya lewat pintu samping.
"Silahkan, saya ambilkan minum dulu."
"Tidak perlu, saya hanya sebentar." Emma menarik tangan Ibu Dion sampai keduanya duduk bersama, lesehan di ruang tengah.
"Maaf Bu, saat anda datang malah banyak sekali orang di rumah. Hiks... Suami saya meningal," ungkapnya dengan aliran air mata tak terbendung.
Spontan Emma memeluk Ibu Dion untuk menenangkannya. Ia merasa sangat mengasihaninya, meskipun ia istri Sukarno tapi ia tak bersalah. Dia juga telah kehilangan putranya sebulan sebelumnya. Sungguh malang nasib Ibu ini.
Sepertinya pelukan dari Emma sedikit menghibur, Ibu Dion kembali tenang dan tidak menangis lagi.
"Bu, sebenarnya saya kesini ingin menyampaikan pesan dari suami Ibu."
"Pesan? Kok bisa? Bu Polisi bertemu suami saya?"
"Iya, tentu saja."
"Bagaimana bisa?" Ibu Dion kembali bertanya.
Emma sungguh tidak mau menambah pikiran Ibu Dion. Maka dari itu ia mengatakan kebohongan demi kebohongan.
"Saya tertarik dengan kasus suami anda. Sepertinya ada yang janggal."
Ibu Dion terbelalak dan malah menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Tentu saja janggal," bisiknya.
"Suamiku harus dipenjara selama 5 tahun padahal dia tidak bersalah."
"Bagaimana Ibu begitu yakin? Bagaimana kalau suami anda... Maaf, berbohong?"
"Karena saat kejadian, suami saya tengah makan di pinggir jalan. Ia menelponku untuk menjemputnya karena waktu itu dia tidak membawa motor."
Emma menyipitkan matanya.
"Bagaimana kalau suami anda menelpon anda setelah kejadian."
"Itu yang dikatakan jaksa. Padahal kami punya bukti yang kuat, tapi..."
"Tapi apa?"
"Pengacara yang saya bayar malah pasrah dan tidak menyerahkan bukti itu, padahal dia sudah bersusah payah mendapatkannya. Sebentar..."
Ibu Dion berjalan cepat ke kamarnya dan membawa flash disk berwarna hitam untuk diserahkan ke Emma.
"Ini..." Ucap Ibu Dion.
"Kucing hitam...." Lirihnya ketika menyentuh flash disk hitam dengan gambar Hello Kitty diatasnya.
"Itu kartun kesukaan Dion waktu itu," Ibu Dion tersenyum simpul.
Emma diam sejenak mencerna semua informasi.
"Waktu itu suami saya menerima orderan ojek online. Sesampainya dia dilokasinya yaitu bar diskotik, si pemesan itu malah memintanya untuk menjadi sopir pengganti."
Emma mendengarkan dengan seksama tanpa berkedip.
"Tapi di tengah jalan, orang itu menendang dan mengusir suami saya dari mobilnya. Alhasil dia sendirian di jalan dan menelpon saya."
"Suami saya sudah berusaha melawan. Dia tidak mungkin membiarkan orang yang sedang sakaw mengendarai mobil. Tapi dia malah dipukuli sampai babak belur."
"Lalu dia menabrak..."
"Iya, setelah itu dia menabrak dan kabur. Tapi Polisi malah menangkap suami saya."
Emma masih terdiam dengan kepalanya yang hampir pecah.
Jadi selama ini, kebenaran yang ia yakini adalah sebuah skenario mengerikan.
Emma meremas flash disk yang ada ditangannya dengan kencang, Darahnya berdesir dan dadanya menjadi sesak.
"Lalu siapa?" Bisiknya.
Tiba-tiba,
"Emina? Kamu disini juga?" Panggil seseorang dari balik Pintu samping.
"Levi?"
Levi malah tersenyum seolah telah menanti pertemuan mereka.