Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Kehadiran tak terduga.
Axel, sang Panglima TNI bintang empat yang gagah perkasa, baru saja melangkah keluar dari lift menuju lantai kantornya. Seragam dinas lengkap dengan pangkat bintang empat yang berkilau emas di bahunya membuat siapapun yang melihat akan langsung menunduk hormat. Wajahnya tetap datar, tatapannya tajam dan dingin, aura kekuasaannya begitu kuat dan menakutkan.
Namun, begitu ia membuka pintu ruang kerjanya...
HAPPY ENGAGEMENT SIR!!! HAPPY ENGAGEMENT!!! 🎉🎊
Serentak semua rekan kerja, staf, hingga para perwira tinggi yang sudah menunggu di dalam langsung bersorak kompak memekakkan telinga. Mereka menyiapkan kejutan spesial untuk sang atasan.
Di meja sudah tersedia kue pertunangan yang besar dan cantik, lengkap dengan balon-balon warna hitam dan beberapa bingkisan hadiah kecil sebagai tanda perhatian, yang mereka siapkan khusus.
Meskipun mereka semua tidak diundang ke acara lamaran atau pertunangan Axel dan Aruna, karena memang acara tersebut sangat privat, tertutup, dan hanya dihadiri keluarga dekat saja. Namun hal itu sama sekali tidak membuat mereka acuh.
Semua anak buah dan rekan kerjanya sangat peduli, menyayangi, dan menghormati Panglima muda ini. Mereka tahu kabar bahagia itu, dan mereka ingin ikut merayakannya.
Dengan disiplin tingkat tinggi dan gaya prajurit sejati, mereka semua berbaris rapi membentuk formasi sempurna. Kepala tegak, dada membusung, dan dengan serentak memberikan hormat militer kepada Axel.
"SELAMAT DATANG Komandan! selama atas pertunangan anda dengan Nona Aruna. SEMOGA LANCAR SAMPAI HARI PERNIKAHAN!" teriak mereka kompak penuh semangat.
Seorang perwira maju ke depan menyerahkan kue dan bunga sebagai ucapan selamat.
Namun... respon Axel?
Pria itu hanya berdiri mematung di ambang pintu. Wajahnya tetap saja datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Tatapannya tajam menusuk, membuat suasana yang tadinya riuh langsung berubah mencekam dan tegang. Semua orang menahan napas, takut salah bicara atau salah gerak. Tidak ada senyum lebar, tidak ada kaget, seolah-olah apa yang terjadi di depannya ini hanyalah hal biasa atau rutinitas saja.
Matanya menatap satu per satu anak buahnya dengan tatapan datarnya yang terkenal itu. Memang begitulah karakter Axel. Ia tipe pria yang cool, tidak terlalu suka keramaian, dan jarang sekali menunjukkan antusiasme berlebihan di depan umum.
"Terima kasih..." ucapnya singkat, padat, dan tegas. Suaranya datar membuat semua orang makin tegang. Menerima kue dan bunga itu dengan sigap, dan dengan cepat ia simpan di atas meja dekat sofa tamu.
TAPI... suasana yang kaku itu seketika berubah drastis 180 derajat saat pintu kembali terbuka. Seorang wanita dengan penampilan yang sangat memukau melenggang masuk dengan anggun dan percaya diri. Itu adalah Aruna.
Gadis itu tampak sangat cantik jelita hari itu. Ia mengenakan dress berwarna cream lembut dengan model off-shoulders yang memperlihatkan bahu putih mulusnya. Aksen pita yang menghiasi bahu menambah kesan manis namun tetap elegan. Penampilannya terlihat sangat sopan, rapi, namun tetap memancarkan aura menggoda yang tak terbantahkan.
Belum lagi aroma parfum mewah yang dibawanya langsung menyeruak memenuhi ruangan. Wangi yang segar namun mahal itu seakan memiliki kekuatan sihir.
Tanpa rasa beban sedikitpun, Aruna langsung beraksi. Ia melihat hadiah dan kado yang disiapkan para bawahan Axel, namun belum sempat diberikan pada Axel. Gadis itu lalu tersenyum lebar dan ramah ia berjalan mendekat.
"Wah... banyak banget ya hadiahnya. Makasih ya semuanya!" serunya ceria.
Dengan tangannya sendiri, Aruna menerima hadiah itu satu per satu. Ia mengambil setiap bingkisan dengan sopan, sambil terus menyunggingkan senyum manis yang mematikan.
Matanya berbinar, wajahnya berseri-seri, membuat semua orang yang melihatnya seolah terpana dan terhipnotis. Tegangan yang tadi ada di ruangan itu lenyap seketika digantikan oleh suasana hangat dan hati yang berbunga-bunga.
Semua perwira dan staf yang tadinya takut pada tatapan tajam Axel, kini malah sibuk tersenyum-senyum sendiri melihat betapa manis dan ramahnya calon istri Panglima mereka.
Axel yang tadinya berdiri tenang, kini matanya langsung menatap tajam. Alisnya terangkat sedikit, jelas ia sama sekali tidak menyangka tunangannya itu akan datang mengunjunginya di kantor.
"Aruna...?" panggil Axel dengan suara berat. Wajahnya masih mencoba terlihat datar dan keren, namun ada kilatan kaget, bingung, tapi yang paling jelas terasa adalah rasa cemburu yang mulai membara di dadanya.
Ia bisa melihat jelas bagaimana anak buahnya, rekan kerjanya, bahkan para perwira tinggi itu menatap Aruna dengan tatapan terpesona, mata mereka berbinar-binar melihat kecantikan tunangannya.
'Kenapa Aruna malah tiba-tiba datang kemari, tanpa memberitahukanku dulu. Semua orang jelas menatapnya kagum, malah membuatku cemburu buta saja.' batin Axel mendengus kesal, tangannya terkepal erat di samping badan.
"Sedang apa kamu di sini, Aruna?" tanya Axel lagi, kali ini nadanya terdengar lebih rendah dan sedikit mengintimidasi, campur aduk antara rasa sayang dan rasa posesif yang meledak-ledak.
Tanpa buang waktu, tangan kokoh Axel langsung bergerak cepat. Ia menarik pinggang ramping Aruna dengan gerakan mendesak, menyeret tubuh mungil itu hingga menempel sempurna ke dadanya.
Ia mendekap tunangannya itu sangat erat dalam pelukan hangatnya, seolah ingin menyatu. Ini adalah cara posesif Axel untuk memberi kode keras kepada semua orang di ruangan itu: Gadis ini milikku! Jangan berani-berani melirik lebih jauh.
"Aku hanya ingin berkunjung kok..." jawab Aruna santai dengan nada bicara yang manis, wajahnya tersenyum cerah menatap calon suaminya. Dengan reflek alami Aruna sedikit mengibaskan helai rambut panjangnya ke belakang bahu. Gerakan sederhana itu justru membuat aroma parfum mewah yang dipakainya makin menyebar dan menusuk hidung.
Padahal Aruna sama sekali tidak bermaksud menggoda atau tebar pesona, itu hanya gerakan biasa. Tapi bagi Axel... itu adalah senjata mematikan.
Mata Axel langsung membelalak tajam. Rasa cemburu dan gairahnya langsung terpancing hebat. Tangannya yang melingkar di pinggang Aruna makin mencengkram kuat, jari-jarinya menekan hingga membuat kulit mulus itu sedikit meninggalkan bekas merah.
"Uuhh... Sayang... sakit..." rengek Aruna manja, wajahnya mendongak menatap Axel dengan tatapan memohon.
Suara rengekan lembut dan manja itu terdengar jelas di ruangan yang hening itu.
GLEK!
Semua orang yang ada di situ para perwira dan staf langsung salah tingkah. Wajah mereka memerah, ada yang menunduk malu, ada yang membuang muka, jantung mereka ikut berdegup kaget mendengar suara se-manja itu keluar dari mulut wanita secantik Aruna. Mereka jadi terbayang-bayang betapa manja dan lembutnya sang calon istri Panglima, kala bersama Panglima mereka.
Tapi Axel? Pria itu sama sekali tidak senang melihat reaksi anak buahnya.
Dengan tatapan mata yang mengerikan dan mematikan, Axel menatap tajam satu per satu orang di ruangannya itu. Tatapan 'laser'-nya itu sukses membuat mereka semua merinding dan sadar diri.
Ahem! Ahem!
Mereka berdehem keras, batuk-batuk pura-pura sakit tenggorokan, dan dengan sigap serta panik mereka langsung undur diri meninggalkan ruangan itu secepat kilat.
"Kami pamit dulu, Komandan ! Selamat menikmati waktu berdua!!" teriak salah satu perwira sambil lari terbirit-birit keluar, meninggalkan kedua sejoli itu sendirian.
"Aruna..." bisik Axel tepat di telinga gadis itu, suaranya berat dan penuh peringatan. "Jangan manja-manja begitu. Aku tak akan bisa fokus kerja sama sekali, apalagi kamu datang ke sini dengan penampilan secantik dan semenggoda ini."
Axel menatap tajam ke arah bahu putih mulus Aruna, lalu kembali menatap manik mata istrinya.
"Dan tolong... suara manja kamu yang itu... simpan buat aku saja. Jangan dikeluarkan di depan orang lain. Itu hak istimewaku." ucapnya penuh kepemilikan, sambil menyentuh lembut wajah kekasih hatinya itu.
Mendengar omelan manja sang calon suami, Aruna malah tersenyum miring. Dengan tangan mungilnya, ia mendorong wajah tampan Axel agak menjauh sedikit, lalu mendelik malas.
"Halah... emang siapa yang perduli sama suaraku?" balasnya santai dan cuek. "Lagipula kan aku ngomong biasa saja."
Jawaban santai itu justru membuat Axel makin frustasi setengah mati. Sikap Aruna kadang-kadang polos tapi membuatnya naik darah.
"Jangan main-main sayang..." Axel menghela napas panjang berusaha sabar. "Suara kamu itu membius dan berbahaya efeknya. Bisa membuat orang lupa segalanya. Jadi jangan sembarangan kamu keluarkan, apalagi di depan umum atau di depan orang banyak. Mengerti?"
"Hah iya deh iya... bawel banget sih calon suami!" Aruna memutar bola matanya malas, lalu berjalan santai menuju sofa tamu di sudut ruangan.
"Udah sana mulai kerja yang bener! Aku bakalan duduk di sini ngawasin..." serunya sambil bersandar manis.
"Ya." jawab Axel singkat dan padat, lalu berbalik badan menuju meja kerjanya yang besar.
Meskipun jawabannya terdengar santai, tapi di dalam hati pria itu sama sekali tidak tenang. Jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya terus was-was.
Keberadaan Aruna di sana jelas-jelas memancing perhatian. Ia bisa merasakan kalau masih ada banyak pasang mata yang berkeliaran mengintip dari celah pintu atau jendela, tak puas melihat kecantikan tunangannya itu.
'Sabar Axel... sabar... ini kantor... jangan bikin onar...' batinnya menenangkan diri, tapi tangannya siap memukul meja kalau ada yang berani melirik lebih lama lagi.
***