“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Malam hari. Suara musik berdentum keras memenuhi sebuah klub malam yang dipenuhi cahaya warna-warni.
Intan duduk di sofa VIP bersama sahabatnya, Salma. Di atas meja, beberapa gelas minuman sudah kosong. Wajah Intan memerah. Tatapannya mulai tidak fokus, tetapi bibirnya masih terus tersenyum seolah tidak ada masalah dalam hidupnya.
“Intan, sudah malam. Sebaiknya kita pulang,” ujar Salma sambil melirik jam tangannya.
Intan malah tertawa.
“Pulang? Untuk apa?”
“Haikal pasti mencarimu.”
“Biar saja.”
“Kalau dia tahu kamu pulang dalam keadaan mabuk seperti ini, dia pasti marah.”
Intan mengangkat gelasnya dan meneguk sisa minuman.
“Memangnya aku peduli?”
Salma menghela napas.
“Intan, kau itu sudah menjadi istri orang. Jangan terus-terusan membuat masalah.”
“Aku begini gara-gara dia!” bentak Intan. “Kalau saja Haikal tidak membuatku kesal, aku tidak akan pergi ke sini.”
Salma terdiam.
Intan menaruh gelasnya dengan kasar.
“Dia pikir aku bahagia menjadi istrinya? Setiap hari hanya mendengar keluhan tentang utang, perusahaan, cicilan bank. Aku bosan!”
“Kau sendiri yang memilih menikah dengannya.”
“Aku memilih uangnya, bukan masalahnya.”
Salma menatap Intan dengan kaget.
“Jangan bicara terlalu keras.”
Intan tertawa.
“Kenapa? Takut ada yang dengar?”
Salma tidak menjawab. Ia justru mengambil ponselnya.
Dalam keadaan kesal, Salma memotret Intan yang sedang duduk sempoyongan. Kemudian, tanpa banyak berpikir, ia mengirimkan foto itu kepada Haikal.
Pesannya singkat.
Jemput istrimu. Dia sudah mabuk.
Tidak sampai satu jam kemudian, seorang pria datang ke klub tersebut.
Haikal.
Wajahnya dingin. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya ketika melihat Intan.
Salma langsung berdiri.
“Maaf, Pak Haikal. Saya sudah mencoba membujuknya pulang, tapi—”
“Tidak apa-apa.”
Haikal berjalan mendekati Intan.
Intan mendongak dengan mata setengah terpejam.
“Haikal?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia membungkuk, lalu mengangkat tubuh Intan ke dalam gendongannya.
“Eh... lepaskan aku!”
Intan tertawa sambil meronta kecil.
“Aku masih mau bersenang-senang.”
Haikal tetap diam.
Ia membawa Intan keluar dari klub, memasukkannya ke dalam mobil, lalu menutup pintu.
Salma hanya bisa berdiri di depan klub sambil menatap mobil yang perlahan pergi.
Di dalam mobil, Intan terus mengoceh.
“Kenapa kau menjemputku?”
Haikal menggenggam kemudi erat-erat.
“Apa pedulimu padaku?”
Haikal tetap diam.
“Jawab!”
Tidak ada jawaban.
Intan tertawa sinis.
“Kau datang hanya karena takut aku menghabiskan uangmu, kan?”
Kali ini Haikal menoleh sekilas.
“Jawab pertanyaanku.”
Suaranya terdengar sangat dingin.
“Apa?”
“Apa kau menggelapkan dana perusahaan?”
Senyum Intan perlahan menghilang.
“Apa?”
“Uang perusahaan yang seharusnya aku gunakan untuk mencicil hutang bank. Apa kau mengambilnya?”
Intan terdiam beberapa detik.
Kemudian ia malah tertawa.
“Iya.”
Tangan Haikal mencengkeram kemudi semakin kuat.
“Kenapa?”
“Kenapa memang?”
“Kenapa kau mengambil uang itu?”
“Karena semua uang itu hakku!”
“Tidak.”
“Aku istrimu!”
Intan menunjuk dirinya sendiri.
“Aku berhak menikmati uang suamiku.”
Haikal menarik napas panjang.
“Jadi selama ini kau yang mengambil uang perusahaan?”
“Iya.”
“Dan kau menggunakannya untuk belanja?”
“Bukan hanya belanja.”
Intan tertawa.
“Aku juga membayar semua kesenanganku.”
Haikal menelan ludah.
Lalu ia mengajukan pertanyaan yang sebenarnya paling ingin ia ketahui.
“Apa kau mencintaiku?”
Intan terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia tertawa keras.
“Cinta?”
Haikal menatap jalan di depannya.
“Ya. Apa kau menikahiku karena mencintaiku?”
Intan menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Aku tidak mencintaimu.”
Haikal membeku.
“Aku hanya suka uangmu.”
Kalimat itu menghantam hati Haikal.
“Kau pria bodoh yang gampang sekali aku manfaatkan.”
Mata Haikal mulai memerah.
Namun Intan belum selesai.
“Kau pikir aku mau menjadi istrimu karena wajahmu?”
Ia tertawa lagi.
“Jangan bermimpi.”
Haikal menggeleng perlahan.
“Lalu bagaimana dengan Tiara?”
Nama itu membuat Intan tersenyum.
“Tiara?”
“Iya. Kau tahu sesuatu tentang hasil pemeriksaannya?”
Intan terkekeh.
“Tentu saja.”
Haikal menoleh cepat.
“Apa maksudmu?”
Intan memejamkan mata.
“Tiara tidak benar-benar mandul.”
Mobil mendadak terasa sunyi.
“Apa?”
“Aku yang menyabotase hasil laporan kesehatannya.”
Haikal menginjak rem sedikit lebih keras.
Jantungnya seperti berhenti.
“Apa yang kau katakan?”
“Aku membuat laporan itu terlihat seolah-olah Tiara tidak bisa memiliki anak.”
“Intan...”
“Aku tidak mau kau tetap bersama dia.”
Haikal menatap wajah istrinya.
“Jadi selama ini...”
“Iya.”
“Kau yang membuatku percaya Tiara mandul?”
Intan tertawa kecil.
“Kau percaya begitu saja.”
Air mata mulai menggenang di mata Haikal.
Ia teringat semua perkataannya kepada Tiara.
Semua hinaan.
Semua tuduhan.
Bahkan saat Tiara menangis dan memohon agar ia mempercayainya.
Haikal mengusap wajahnya.
“Aku bodoh...”
Air mata jatuh.
“Aku benar-benar bodoh.”
Namun Intan justru tertawa.
Haikal menoleh.
“Masih ada yang kau sembunyikan dariku?”
Intan tersenyum lebar.
“Ada.”
“Apa?”
“Bukan Tiara yang mandul.”
Haikal menahan napas.
“Tapi mungkin kau, Mas.”
Wajah Haikal langsung berubah.
“Apa maksudmu?”
“Bagus kau tidak mau memeriksa kesehatanmu.”
Intan tertawa.
“Kalau ternyata kau yang mandul, kau pasti akan kena mental.”
“Diam!”
Haikal membanting tangannya ke kemudi.
Namun Intan justru tertawa semakin keras.
“Kau selalu menyalahkan Tiara. Padahal kau sendiri tidak pernah tahu apakah tubuhmu benar-benar sehat.”
Haikal tidak sanggup lagi mendengar suara itu.
Ia menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi.
Intan masih tertawa.
“Kenapa berhenti?”
Haikal turun dari mobil.
Ia membuka pintu di sisi Intan.
“Turun.”
“Apa?”
“Turun!”
Intan menatapnya dengan bingung.
Haikal menarik napas panjang.
“Aku tidak sanggup melihat wajahmu sekarang.”
“Haikal!”
Pria itu tidak menjawab.
Ia membiarkan Intan turun dari mobil.
Begitu kedua kaki wanita itu menyentuh tanah, Haikal kembali masuk ke dalam mobil.
“Mas!”
Pintu tertutup.
Mesin mobil menyala.
Intan baru sadar.
“Haikal! Tunggu!”
Mobil itu melaju meninggalkannya.
Intan berdiri sempoyongan di pinggir jalan.
Sementara itu, Haikal mengemudi dengan air mata terus mengalir.
Di dalam pikirannya hanya ada satu nama.
Tiara.
Wanita yang telah ia sakiti karena kebohongan Intan. Kini hidup Haikal hancur, dan ia sendiri yang menghancurkannya.
Bersambung....