Eko Davka terjebak tuduhan memalukan, di tuduh mandul oleh Selvia, istri sahnya sendiri, yang membuat harga dirinya tercoreng. Untuk membuktikan semua omongan itu salah, dia punya satu jalan, memiliki keturunan.
Pilihannya jatuh pada Nayyara, gadis muda yang dia beli seharga 300 juta rupiah dari pemilik klub malam, tempat gadis itu bekerja. Davka mengajukan perjanjian, menikah secara kontrak, Nayyara akan memberinya keturunan, lalu semuanya selesai.
Namun Nayyara menolak diperlakukan sebagai mesin pembuat anak. dia ingin bebas—asal bisa mengembalikan uang yang telah dikeluarkan Davka. Tapi bagaimana? Uang sebanyak itu mustahil dia miliki. Terjepit ketakutan dan keterbatasan, Nayyara akhirnya menyerah dan menerima takdirnya, menjadi istri kedua pria dingin berkuasa itu.
Akankah pernikahan yang dimulai dari paksaan dan perjanjian hanya berakhir saat kontrak selesai? Atau benih-benih cinta justru tumbuh di antara ikatan Davka dan Nayyara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Davka yang tengah galau memilih.
Bu Melinda tadi kaget saat dengar Davka datang kesini tanpa dia minta. "Bik Wina bilang kamu ke sini sejak tadi siang dan langsung berenang, mommy pikir kamu sudah pulang ke apartemenmu"
"Nggak kok, aku nggak pulang ke sana nanti....." Davka menggeleng sambil meneguk jus jeruknya dan melahap roti bakar isi daging yang di bawa ibunya barusan.
"Aku ingin menginap di sini malam ini, apa boleh mom?" Pintanya karena dia tak mau menginap ke tempat Nayyara dalam keadaan mood buruk begini. "Iya tentu saja boleh nak, ini kan rumahmu juga, sana mandilah dulu, jangan lupa salat juga, ini hampir magrib, setelah itu kita makan malam bersama"
"Apa Daddy masih di Surabaya?"
"Iya mungkin ayahmu baru kembali besok lusa, untung saja kamu menginap di sini jadi mommy nggak kesepian sendirian" Davka hanya manggut-manggut paham lalu membereskan handuk dan kaosnya di kursi, berjalan menjauh dari ibunya.
"Mommy aku mandi dulu!"
"Iya, jangan lupa mandinya pakai air hangat ya, shalat juga jangan lupa!" Teriak Bu Melinda.
"Baiklah mom!" Dia menatap putra sulungnya dari kejauhan, sebenarnya Bu Melinda ingin bertanya kenapa tiba-tiba Davka menginap di sini dan dimana Selvia sekaran, kok gak di ajak kesini juga, rasanya aneh sekali jika anaknya kesini sendiri, tapi bu Melinda menyadari ini bukan saat yang tepat bertanya hal seperti itu.
*****
Davka main ke tempat temannya, "Tumben masih sore loe sudah ke nongkrong di klub? Biasanya loh jadi suami alim yang diam di rumah?" Akhirnya di sinilah Davka malam ini berada, mampir ke klub malam lagi untuk membuang penat di kepalanya, akibat ribut besarnya dengan Selvia kemarin.
Seharusnya dia mengadu semua masalahnya pada tuhan bukan malah ke tempat ini, Emir menepuk bahu temannya yang masih menyesap minuman di gelas, dia berusaha menikmati musik yang di putar di tempat elit ini. "Gue sedang malas pulang, dan lebih baik ke sini, siapa tahu ada hiburan" Jawab lelaki itu dengan malas
"Apa loh perlu wanita cantik bang? Loe bisa pakai lagi kamar di atas, gue kasih gratis deh sewa kamarnya deh, kasihan wajahmu mengenaskan sekali bang"
"Nggak usah gue juga mau pulang sebentar lagi" Jawab Davka karena dia malas tidur dengan wanita bayaran di sini lagi, mengingat soal ini dia jadi ingat pada Nayyara dan melirik arlojinya, baguslah masih jam delapan malam jadi tak ada salahnya dia menginap di tempat Nayyara saja malam ini, hitung-hitung dia bisa berusaha bercocok tanam lagi pada istri keduanya itu, siapa tahu berhasil, daripada dia membuang waktu di sini dengan minum.
"Loh ribut dengan bini lagi bang?" Ledek Emir yang mendapat anggukan lemah dari Davka, dia hanya tertawa angkat bahu duduk disamping lelaki itu.
"Kasihan sekali nasibmu bang, pantas saja bang Dimas nyuruh loe menghamili cewek lain, gue rasa dia itu ada benarnya, gue ikut penasaran di sini siapa yang tak normal?"
"Aish nggak usah ikut-ikutan ikan sarap itu menyalahkan aku! Denger ya, gue ini normal, gak ada turunan mandul di keluarga gue! Mommy dan Daddy gue aja anaknya tiga!" Davka jadi ngegas.
"Iya deh percaya, mendingan loe ikuti saran mommy loe untuk menikah lagi, kan enak punya istri dua hehe~ loe juga bisa membuktikan sama bini loe yang sekarang kalau loe subur dan normal, jadi bereskan?"
"Aish bikin kesel aja ide loe?!" Davka mengacak rambut hitamnya sampai berantakan ketika ingat soal Nayyara lagi, dia menyambar jaketnya di kursi.
"Mau ke mana bang?"
"Gue mau pulang!! Bicara loe tambah melantur terus!"
"Hahaha, pulanglah sana! loe sensitif banget sih, mirip orang ngidam aja" Davka menghela nafas, sebenarnya dia cukup stres dengan banyaknya pekerjaan dan masalah rumah tangganya, apalagi istrinya akhir-akhir ini sering sekali tak berada di rumah dengan alasan tak jelas, sampai dia tinggal ke luar kota beberapa hari kemarin, Selvia sering sekali pergi keluar entah kemana, dan berujung mereka ribut besar.
Jika mengingat pertengkarannya dengan Selvia kemarin, selalu saja soal masalah anak, Davka akan kesal dan lelah, karena wanita itu selalu saja menuduh dia mandul, mungkin Jika Dimas yang mengejeknya mandul Davka masih bisa maklum, karena ikan absurd itu tak pernah beres mulutnya, tapi ini istrinya sendiri yang sering menuduh dan alhasil Selvia jadi minggat setelah bertengkar hebat dengannya kemarin.
****
Akhirnya Davka datang ke apartemen yang Nayyara tempati sekarang, sudah hampir dua Minggu dia tak mendatangi istri keduanya ini, meskipun ini sudah larut malam dan dia berpikir mungkin saja istri keduanya itu belum tidur, daripada dia menginap di klub malam, lebih baik dia kesini untuk membuang hasratnya, dia lelaki normal yang seminggu lebih terbengkalai hormonnya karena harus mengurus pekerjaan yang menumpuk dan saat baru pulang dari luar kota, malah di tinggal minggat Selvia.
Jika malam ini dia menginap di rumah orang tuanya, Davka takut hubungan buruknya dengan Selvia akan ketahuan oleh ibunya, jadi dia berusaha menyimpan rapat masalah rumah tangganya dari kedua orang tuanya dulu. Lelaki itu hampir naik ke lantai dua ketika baru masuk ke dalam apartemen miliknya yang selama ini sering kosong dan sekarang Nayyara tempati, namun dia urung naik, dan berjalan ke koridor menuju kamar tidur yang di tempati Nayyara, tangannya mengetuk daun pintu itu dengan ragu.
"Ah tuan muda datang?" Saat membuka pintu kamarnya Nayyara tentu saja kaget, tadinya dia pikir lelaki itu takkan kesini dalam waktu lama, hampir saja dia sempat terlena dengan kebebasannya, namun malam ini sepertinya dia harus melakukan tugasnya sebagai istri lagi.
"Kamu belum tidur kan?" Tanya Davka sembari memerhatikan penampilan Nayyara yang mengenakan gaun tipis dengan tali spaghetti di bahu dan di lapisi sweater tipis, entah kenapa matanya tak bisa beralih dari istri kontraknya itu yang terlihat cantik sekali malam ini
"Belum kok, apa tuan muda baru saja datang?"
"Iya, apa aku boleh masuk~...." Davka masuk ke dalam kamar setelah Nayyara persilahkan, dia melihat di atas meja ada laptop Apple yang masih menyala dan beberapa buku yang sepertinya juga baru, Nayyara rupanya bisa mengunakan dengan baik isi kartu ATM yang Davka berikan dengan membeli banyak barang
"Kamu sudah ikut kursus? Kursus apa?"
"Saya kuliah desain fashion di ESMOD hanya ambil program kuliah intensif selama setahun saja, jadwalnya mulai Senin sampai hari kamis, mulai jam sembilan pagi sampai jam empat sore, sebenarnya baru seminggu saya masuk ke sana setelah tes dua kali di ESMOD"
"Jadi kamu bisa lolos tes di ESMOD?" Kaget Davka tak menyangka.
"Iya, maaf ya tuan muda saya belum ijin kalau mau kuliah setahun di sana, kalau nggak boleh saya mundur saja" Sebenarnya Nayyara tak rela mengatakan itu tapi dia sudah menggunakan uang Davka untuk mendaftar dan untuk berkuliah di ESMOD itu sangat mahal.
"Boleh nggak apa-apa kok, kamu berbakat kalau bisa lolos tes disana, aku kaget aja tadi"
"Terima kasih saya janji akan rajin kuliah dan tak melupakan kewajiban saya sebagai istri" Davka menghela nafasnya, Nayyara terlihat sangat berbeda dari Selvia yang suka membangkang dan selalu tak mau di kendalikan, Nayyara itu gadis yang penurut dan mudah diatur.
Gadis itu mengambil air minum di gelas dan memberikan pada lelaki itu, lalu duduk di depan laptopnya lagi menyimpan semua file yang tadi dia kerjakan sebagai tugas kuliahnya, entahlah melihat tampang lelaki itu yang lelah dan kusut Nayyara jadi kasihan.
"Kalau kamu butuh bantuanku bilang saja, bang Denny sudah aku tugaskan di sini jaga kamu, dia akan antar jemput kamu tiap hari kemanapun"
"Iya terima kasih, kalau sudah di ijinkan kuliah, kemarin saya takut jika tuan muda nggak mengijinkan" Nayyara menanggapi senang, dia sungguh ingin belajar soal desain fashion karena hobi menggambar dan menjahit selama ini, sejak lama dia mengamati jika style outfit dari Davka itu cukup bagus.
Malam ini lelaki itu memakai jaket coklat, dengan kemeja biru laut dan rambutnya yang kini di potong pendek cepak dengan warna kecoklatan, tak bisa Nayyara pungkiri jika Davka memang ganteng, meskipun sikapnya sering menyebalkan.
"Tuan muda baik-baik saja kan?" Tegur Nayyara ketika melihat lelaki itu melamun dan tak bisa konsentrasi lagi.
"Kenapa tanya soal aku? Jangan ikut mengurusi urusan pribadi ku" Juteknya, namun Nayyara hanya menghela nafas maklum, dia sudah terbiasa Jika setiap ketemu sikap tuan muda itu akan selalu dingin dan ekspresinya datar, kecuali ketika tubuh mereka menyatu di ranjang entah kenapa lelaki itu bisa berubah hangat, tapi masih saja memanggil nama Selvi ketika mendapatkan pelepasannya, dia tak peduli jika Nayyara tak suka dengan reaksi itu.