Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Khawatir
"Akh..........!" seru Asido mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.
"Nomornya juga nggak punya......" gerutunya pelan.
Entah kenapa pikirannya terus pada hal tadi, dan itu justru membuatnya semakin jengkel pada dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Layar ponsel yang sejak tadi dalam mode senyap akhirnya menyala.
"Apa ini.....?"
Ada beberapa notifikasi yang belum ia lihat. Beberapa panggilan tak terjawab. Dan beberapa pesan masuk. Semuanya dari Nowela. Asido langsung duduk lebih tegak.
"Nowela?"
Rasa kesalnya seketika menghilang berganti rasa khawatir. Jarinya segera membuka pesan pesan itu. Mengingat kejadian semalam, banyak kemungkinan buruk yang langsung terlintas di kepalanya.
"Kenapa? Astaga....... Apa yang terjadi?"
Dadanya mendadak terasa tidak tenang. Wajahnya kini berubah lebih serius.
Nowela : Kamu dimana, Bang?
Itu pesan yang dikirim hingga beberapa. Diikuti dengan beberapa panggilan.
"Tut.... Tut.... Tut" Asido langsung menelpon balik Nowela.
"Kenapa tak diangkat?"
Asido mulai khawatir karna tak ada jawaban. pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya membuat jantungnya lebih cepat berdetak.
"Astaga........ Nggak, nggak..... Jangan sampai itu terjadi......" ucapnya sambil mondar mandir di kamarnya.
Ia menelponnya kembali tapi tetap sama,tanpa jawaban. Semakin ia berusaha terlihat tenang, hatinya semakin kacau.
"Aku harus kesana, memastikannya secara langsung." ucapnya sambil mengambilkan kemeja yang ia lempar tadi begitu saja.
"Wes..... Mau kemana lagi, Dok?" goda salah satu temannya.
Asido lewat begitu saja dengan wajah seriusnya, tak menanggapi candaan temannya.
"Kenapa dia?" tanya temannya heran.
"Sepertinya penting," jawab Fian dengan tenang. Sebenarnya dia juga penasaran, karna biasanya Asido akan selalu terlihat tenang. Tapi ekspresi Asido sejak pulang tadi membuat Fian bertanya-tanya sendiri.
Asido memarkirkan motornya begitu saja di depan kost Nowela. Ia berjalan sangat cepat masuk ke lorong kost itu.
"Ada apa lagi? "
"Iya..... Dia datang lagi."
Bisik-bisik itu terdengar dari beberapa kamar saat Asido melewatinya.
"Pasti mengurus perempuan aneh itu lagi....." tambah yang lain dari kamar yang berbeda sambil berjalan saat berpapasan dengan Asido.
"Bukan aneh lagi..... Tapi GILA." sahut seseorang yang berjalan bersama dengannya.
Mendengar itu, kepala Asido terasa membesar. Dia berhenti melangkah, ia mengepal tangannya.
Saat ingin balik badan, pikirannya berbisik sendiri.
Jangan emosi, ada hal yang lebih penting.....
Perkataannya sendiri menghentikannya, dia tak jadi merespon dua perempuan tadi. Asido menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya.
Di depan kamar Nowela, ia mengetuk cepat pintu kamar itu.
"Nowela...... Nowel......?" panggilnya dari luar. Suaranya membuat beberapa orang di samping kamarnya keluar.
"Weeee, lihat sini......" bisik seseorang memanggil temannya.
"Apaan?"
"Lihat itu," tunjuknya ke arah Asido.
"Dia lagi....."
"Keren....... benar-benar Pahlawan." sahut yang lain menutup mulutnya pura-pura terharu padahal jelas ada nada mengejek disana, membuat mereka semua saling tertawa.
Asido sudah tak dapat menahan amarahnya lagi. Ia menoleh tajam ke arah mereka.
"Kalian ini perempuan atau apa? Punya hati tidak?" bentak Asido.
Mereka semua saling melirik, tak menyangka Asido akan emosi dan mengatakan itu. Biasanya dia akan selalu tak peduli, dan bersikap bodoh amat.
"Dengar ya!! Kalian semua tak berhak mengatakan apapun itu tentang Nowela. Apalagi jika sampai menjelek jelekkan dia seperti yang kalian bilang itu." tegas Asido.
"Loh..... Suara itu seperti aku kenal." ucap Nowela dari dalam kamar.
"Dan...... Nowela itu bukan orang yang....."
Nowela membuka pintu membuat Asido tak melanjutkan kalimatnya. Begitu juga dengan orang-orang tadi, mereka menoleh bersama pada Nowela.
"Bang...... ?" panggil Nowela pelan.
"Nowela......." ucap Asido, tatapannya langsung melembut. "Kamu baik-baik aja Kan?" nada suaranya penuh khawatir.
Semua orang tadi memperhatikan mereka. Dan memang benar-benar para perempuan penggosip. Bukannya jera dengan apa yang sudah dikatakan Asido tadi. Masih saja sama, mereka menatap Nowela dengan tatapan mengejek.
"Drama apa lagi ini.....?" bisik seseorang.
Asido masih bisa mendengarnya, ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan sangat tajam. Tatapan itu cukup membuat mereka masuk satu per satu ke dalam kamarnya masing-masing. Hingga kini tinggal Nowela dan Asido yang berdiri disana.
"Abang kenapa ke sini?" tanya Nowela.
"Kamu baik baik aja kan?" tanya Asido memastikan terlebih dahulu.
"Ba- Baik, Bang....." Jawab Nowela sedikit gugup dan heran melihat ekspresi Asido.
Asido langsung memeluk Nowela. Perasaannya dan pikirannya tadi yang sangat mengganggu kini lebih tenang mendengar jawaban itu.
"Syukurlah....." ucapnya lega dalam pelukan itu.
Pelukan itu berlangsung cukup lama. Nowela tak mengatakan apa-apa. Ia membiarkan Asido memeluknya. Pelukan itu sangat nyaman baginya. Pelukan yang hangat. Pelukan yang membuatnya merasa sangat disayangi.
"Oh..... Kamu kenapa menelpon tadi? Ada yang perlu?" tanya Asido sambil melepaskan pelukannya.
"Maaf, Bang..... Tadi aku mau tanya soal makanan itu dan mau bilang......makasih." jelas Nowela.
"Astaga......" spontan kata Asido.
Mendengarnya, Nowela langsung merasa sesuatu yang berbeda dan mengambil kesimpulan jika dirinya membuat kesalahan hingga Asido akan marah.
"Ma.... Maaf, Bang." ucapnya pelan sambil menunduk.
"Astaga...... pasti dia salah paham." ucap Asido dalam hati saat melihat perubahan ekspresi Nowela. Dia sudah cukup kenal dengan perempuan itu. Perempuan yang cepat merasa sesuatu, tapi perasaannya selalu mengarah pada rasa bersalah.
"Bukan...... Aku tak marah, Nowela. Aku khawatir sama kamu."
Perkataan Asido itu membuat Nowela mengangkat wajahnya, menatap Asido.
"Iya..... Aku khawatir sama kamu. Aku nggak mau, kamu kenapa-kenapa." lanjut Asido menenangkan.
Tatapan Nowela semakin dalam. Tanpa disadari air matanya jatuh.
"Hei..... kenapa menangis?" tanya Asido khawatir. Dia meraih tangan Nowela. "Ada apa?" tanyanya pelan.
"Makasih ya, Bang......" balas Nowela penuh haru.
"Iya..... Sama-sama." ucap Asido mengelus rambut Nowela.
"Tuhan, biarkan aku dan dia selalu begini." ucap Nowela dalam hati merasakan perhatian Asido yang begitu hangat.
"Jangan nangis lagi," ucap Asido sedikit mengacak rambut Nowela. Itu dia lakukan untuk membuat suasana lebih tenang.
"Ih....... Abang....." ucap Nowela memegang rambutnya sendiri.
Melihat Nowela yang sudah benar-benar kembali pada Nowela yang ia kenal. Asido tersenyum dan merasa bahagia. Semenjak ia mengenal Nowela, entah apa yang membuatnya harus berusaha selalu ada buat Nowela.
"Bang, aku mau cerita sesuatu." ucap Nowela penuh semangat.
"Cerita? Tentang apa?"
"Aku jum....."
HP Asido berdering. Telepon dari manager kliniknya.
"Sebentar ya....." ucap Asido pada Nowela.
"Halo, Dok. Maaf mengganggu. Manager keuangan minta konfirmasi data laporan bulan ini. Data itu sudah saya rekap dan serahkan ke Dokter kemarin."
"Astaga...... Aku lupa," batin Asido.
Rupanya laporan itu memang sudah dikirim padanya beberapa hari lalu, tapi belum sempat ia teruskan ke bagian keuangan karna kesibukannya sebelum pulang kampung itu.
Asido harus segera mengirimkannya karna besok ada rapat penting. Jika tak dikirimkan hari ini pasti meetingnya tak akan berjalan baik.
"Nowela, aku harus pulang dulu ya......" ucap Asido.
Nowela menganggukkan kepalanya.
Asido akhirnya pulang dengan sedikit buru-buru. Dia memang orang yang sangat bertanggung jawab akan pekerjaannya. Dia tak suka membuat karyawan di kliniknya bekerja dengan rasa kurang nyaman. Lagipun, yang terpenting baginya Nowela sudah dalam keadaan baik.