NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Keputusan

...----------------...

Sore itu, cahaya matahari yang mulai meredup menyelinap masuk melalui celah jendela rumah kami. Suasananya tampak seperti sore-sore biasanya, namun ada ketegangan yang kental menggantung di udara, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah menipis. Astrid sedang duduk di sofa, menonton acara televisi wajahnya tampak tenang, sebuah topeng kedamaian yang ia pasang untuk menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hatinya.

Aku baru saja pulang dari kafe setelah berjumpa dengan Iksan, membawa pikiran yang sejak tadi menekan kepalaku hingga rasanya hampir pecah. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya, lalu menarik napas panjang. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa lagi menunggu hasil yang tak pasti dari Iksan dengan modal yang hanya sisa-sisa.

"Strid, gue mau ngomong sesuatu yang penting," ucapku. Suaraku terdengar serak.

Astrid menoleh, menatapku dengan sorot mata datar yang dingin, seolah dia sudah menebak apa yang akan keluar dari mulutku. "Apa lagi, Ka? Apa lagi yang mau lu bahas?"

"Gue baru aja mutusin buat investasi ke iksan dengan hasil yang bisa bikin kita kaya, dan gue juga udah mikir matang-matang soal investasi sama Iksan. Kita butuh modal lebih besar buat narik keuntungan yang lebih cepat. Iksan bilang kalau kita mau dapet posisi major investor, kita harus nyetor lebih banyak. Rumah di Bandung punya gue bakal susah kejualnya, Strid, prosesnya lama. Gue butuh lu jual rumah ini yang di Jakarta soalnya di Jakarta bakal lebih mahal dan juga bisa lebih cepet Ke jual."

Astrid terbelalak. Dia segera mematikan televisi dengan kasar. "Gila lu, Ka? Lu mau jual rumah satu-satunya harta peninggalan orang tua gue buat investasi yang bahkan gak jelas bentuk perusahaannya? Lu udah ketipu sama Iksan, Arka! Sadar! Lu bener-bener gak liat apa kalau dia cuma manfaatin lu?"

"Gue gak ketipu! Dia cuma lagi proses, dan dia butuh suntikan modal lagi buat ekspansi!" bantahku dengan nada tinggi. Emosiku mulai tidak terkontrol.

Aku sudah berusaha keras, aku sudah berubah menjadi suami yang rajin, aku sudah meninggalkan gaya hidup mewaku demi hidup sederhana bersamanya, tapi kenapa dia justru terus meragukanku?

"Kalau rumah itu kejual, kita bakal kaya raya, Strid. Nanti kalau uangnya udah cair, gue janji, gue bakal beliin rumah yang jauh lebih bagus daripada itu buat lu. Gue bakal buktiin ke semua orang, termasuk bokap gue, kalau gue bisa sukses!"

"Gue gak butuh rumah baru! Gue cuma mau rumah itu aman, itu kenangan terakhir orang tua gue!, terus juga kenapa lu gak tanya gue dulu sebelum ngelakuin itu?!" Astrid bangkit berdiri, suaranya bergetar hebat. "Lu bener-bener udah gak pake otak, Ka. Lu mau hancurin hidup kita demi mimpi kosong? Lu egois!"

Darahku mendidih. Ego laki-lakiku tersulut. Rasanya semua usahaku selama ini sia-sia hanya karena dia tidak mau memberiku kepercayaan. "Aaarrrkkk! Gue ini suami lu! Kok bisa lu gak percaya sama suami lu sendiri? Atau jangan-jangan... lu punya suami lain di belakang gue makanya lu peduli banget sama rumah ini sampai gak mau bagi masa depan sama gue?"

Hening. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, tajam dan menyakitkan. Aku melihat mata Astrid yang terbelalak. Wajahnya yang tadinya merah karena marah, perlahan memucat, seolah darahnya tersedot keluar. Tatapan yang ia berikan padaku berubah bukan lagi tatapan marah, melainkan tatapan kekecewaan yang sangat dalam, tatapan seorang wanita yang menyadari bahwa pria di depannya bukanlah pria yang ia kenal.

"Oke," bisik Astrid pelan, suaranya hampir tidak terdengar. "Kalau itu mau lu, gue jual rumah itu. Biar lu puas. Biar lu berhenti nganggep gue penghalang ambisi lu."

Tanpa suara, dia melangkah pergi menuju kamar. Aku tidak mengejarnya. Aku membiarkannya pergi. Aku mematung di ruang tamu, merasa bahwa aku telah 'menang' dalam argumen itu, meski ada rasa perih yang aneh, seperti ada sesuatu yang patah di dalam dadaku.

Hari-hari berikutnya terasa seperti di dalam kulkas, beku, dan mematikan. Kami berbicara hanya untuk hal-hal seperlunya. "Sarapan sudah ada di meja," atau "Gue pergi dulu." Tidak ada lagi obrolan hangat tentang bayi kami, tidak ada lagi candaan ringan. Aku merasa telah melakukan banyak hal untuk membela diri karena Astrid terus-menerus memojokkanku, aku memutuskan untuk diam dan acuh. Aku terlalu enggan untuk meminta maaf duluan, dan aku membiarkan jarak di antara kami tumbuh semakin lebar.

Seminggu berlalu dalam kebisuan yang menyiksa. Suatu malam, saat aku sedang asyik menghisap rokok di halaman rumah sambil memainkan ponsel, ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Jantungku berdegup kencang saat membaca isinya: “Saya tertarik dengan rumah di Jakarta. Kapan bisa lihat unitnya?”

Ini dia! Kesempatan yang kunanti. Aku masuk ke rumah dengan perasaan gembira yang luar biasa. "Strid! Ada yang mau beli rumah lu! Ini kesempatan kita buat modal!"

Astrid hanya menoleh sekilas, lalu kembali mengerjakan tugasnya tanpa berkata apa pun. Sikapnya yang acuh membuat kesabaranku habis. Rasa lelah karena menunggu dan rasa bersalah yang kupendam berubah menjadi kemarahan.

"Lu gue ajak ngobrol diem mulu dari kemarin, mau lu apa sih?!" bentakku kasar, suaraku menggema di ruang tamu.

Astrid tersentak. Bahunya sedikit bergetar, dia menunduk, tampak ketakutan. "Gue cuma mau nanya, Ka... kalau rumah itu udah dijual, kita mau ke mana? Kerja gue gimana? Kuliah gue gimana?" suaranya pecah di akhir kalimat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Aku menarik napas dalam, berusaha mengatur nada bicaraku agar terdengar meyakinkan. "Kita bakal pindah ke sini, Bandung. Kuliah lu? Ambil kelas online aja. Kerja? Gak usah kerja dulu, bentar lagi kita bakal jadi orang kaya, Strid. Lu cuma perlu duduk manis dan nikmatin hasilnya nanti."

Dia tidak menjawab lagi. Dia sudah pasrah.

...****************...

Lima hari kemudian, transaksi itu selesai. Rumah itu terjual seharga 800 juta. Uang itu terasa berat di tangan, sebuah hasil dari pengorbanan yang seharusnya menjadi masa depan. Tanpa membuang waktu, aku langsung menemui Iksan dan menyerahkan seluruh uang itu sebagai investasi. Iksan menerima uang itu dengan senyum yang sangat lebar, lalu menyerahkan uang sebesar 5 juta rupiah kepadaku. "Ini hadiah buat kepercayaan lu, Bro. Lu bakal kaget sama hasilnya dalam waktu dekat."

Aku merasa seperti pahlawan. Aku menjual motor matic Astrid sebagai tambahan biaya perjalanan. Kami berkemas, meninggalkan Jakarta, dan menaiki bus menuju Bandung.

...****************...

Di dalam bus yang melaju membelah malam, suasana sangat sepi. Astrid bersandar di kaca, menatap pemandangan lampu-lampu kota yang buram lewat refleksi kaca. Aku duduk di sampingnya, merasa puas. Aku tersenyum tipis, membayangkan hidup mewah yang menunggu kami di depan sana. Aku pikir, Astrid pasti akan berterima kasih padaku setelah semua ini berhasil.

Aku menoleh ke arahnya, ingin mengajaknya mengobrol tentang masa depan kami yang cerah, tentang bagaimana kami akan membeli rumah besar di Jakarta nanti. Namun, perhatianku teralihkan oleh sesuatu. Bahu Astrid bergetar hebat. Aku awalnya mengira dia hanya kedinginan karena AC bus yang terlalu dingin. Tapi saat aku memperhatikannya lebih dekat dari samping, aku melihat air mata mengalir deras di pipinya. Air mata itu membasahi baju yang dikenakannya saat dia menatap pemandangan di balik kaca jendela.

Dia menangis tanpa suara. Isakannya tertahan, namun raut wajahnya menunjukkan kehancuran yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Dia tidak memalingkan wajahnya dari kaca, dia hanya terus menatap keluar, seolah-olah dia sedang mengucapkan selamat tinggal pada dunianya sendiri.

Melihatnya menangis seperti itu, senyum yang tadinya kupasang perlahan memudar. Sebuah perasaan aneh mulai muncul di dadaku rasa takut. Aku mulai bertanya-tanya, apakah yang kulakukan ini benar-benar sebuah 'langkah maju', atau justru sebuah 'lompatan ke jurang'? Aku ingin meraih tangannya, ingin memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ada sesuatu yang menahanku. Mungkin itu rasa malu, atau mungkin itu ego yang masih berteriak bahwa aku melakukan ini untuk kebaikan kami.

Bus terus melaju kencang, membawa kami semakin jauh dari Jakarta, semakin jauh dari kehidupan yang dulu kami kenal. Setiap kilometer yang kami tempuh terasa seperti pemutusan hubungan dengan masa lalu. Aku menatap Astrid lagi. Dia masih menangis, tubuhnya kini terlihat begitu rapuh. Aku merasa seolah-olah aku baru saja menghancurkan satu-satunya hal berharga yang kupunya demi mimpi yang bahkan belum tentu nyata.

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.

"Ini untuk Astrid. Ini untuk bayi kami. Iksan tidak mungkin menipu sahabatnya sendiri."

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!