NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belantara Sunyi dan Ketidakpastian

"Kenapa mukamu murung begitu?" tanya Deni, rekan kerja sesama mekanik senior yang saat ini sedang asyik menikmati puntung rokoknya di bawah rimbunnya pohon meranti.

Sesekali ia mengibaskan topi proyeknya untuk menghalau hawa gerah yang mengepung mereka.

Pradika tidak langsung menjawab. Sepasang matanya masih tertuju lurus pada layar ponsel pintar di genggamannya. Di pojok kanan atas layar tersebut, lambang sinyal menunjukkan tanda silang merah yang statis; sebuah indikasi mutlak bahwa tidak ada jaringan seluler sedikit pun yang mampu menembus area ini.

"Bukannya sekarang sudah ada program pemerataan infrastruktur digital? Kenapa di wilayah ini masih sama sekali tidak ada sinyal?" tanya Pradika akhirnya, nada suaranya terdengar sarat akan rasa frustrasi yang tertahan.

Deni seketika terkekeh geli, menyemburkan asap rokoknya ke udara bebas sebelum menyahut dengan nada sinis yang khas.

"Pemerataan infrastruktur itu hanya judul bagus di berita televisi, Dik. Realitasnya di lapangan ya seperti yang kamu lihat sekarang ini. Untuk apa juga repot-repot memasang tower sinyal di tengah pedalaman hutan belantara seperti ini? Siapa yang mau bayar tagihannya? Mending uang anggarannya masuk ke kantong mereka sendiri, lebih aman."

Pradika mendongakkan kepalanya, menatap Deni dengan kening berkerut dalam.

"Tapi sepanjang perjalanan kita masuk ke dalam sini kemarin, aku melihat ada beberapa titik desa berpenduduk yang cukup ramai. Apa pihak atas tidak tahu kalau mereka juga butuh akses komunikasi?"

"Desa-desa itu memang ada. Tapi sekarang aku tanya balik kepadamu, sepanjang jalan apa kamu melihat ada tiang listrik milik PLN yang berdiri?"

Pradika terdiam sejenak, mengingat kembali rute perjalanan panjang yang mereka lalui, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak ada."

"Nah! Tiang listrik saja tidak ada dan belum masuk sampai sekarang, lalu bagaimana mungkin kamu berharap ada sinyal seluler yang lewat?" cetus Deni mutlak, melempar puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya hingga padam.

Pradika hanya bisa mengembuskan napas dalam-dalam, mengantongi kembali ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ini adalah pertama kalinya sepanjang karier profesionalnya sebagai mekanik alat berat, ditugaskan langsung ke area pedalaman yang benar-benar terisolasi dari peradaban luar.

Biasanya, ke mana pun ia ditugaskan, baik itu ke site tambang emas yang megah, area pertambangan batu bara yang luas, maupun tambang batu alam yang alakadarnya, seluruh lokasi tersebut setidaknya masih memiliki akses sinyal yang lumayan stabil serta difasilitasi dengan mess atau tempat menginap yang layak dan higienis.

Sementara saat ini, realitas yang harus dihadapi Pradika sangatlah kontras. Dirinya sedang berada di tengah hutan belantara Kalimantan Tengah, bekerja pada sebuah perusahaan pemotongan kayu (logging) yang sarana dan prasarananya teramat terbatas dan serba primitif.

Selama beberapa hari ini, Pradika dan Deni bahkan lebih memilih untuk tidur meringkuk di dalam kabin mobil operasional daripada harus menggunakan gubuk kayu reyot yang disediakan oleh pihak pengelola. Pilihan itu terpaksa mereka ambil semata-mata demi menghindari gigitan serangga hutan dan nyamuk yang ukurannya tidak wajar.

Belum lagi urusan sanitasi. Setiap kali hendak buang hajat atau membersihkan diri selepas bekerja, mereka harus berjalan kaki menuju sumber air sungai kecil yang letaknya berbatasan langsung dengan area rawa. Di air yang berwarna kecokelatan itulah mereka harus berbagi ruang dengan lintah hitam dan berbagai hewan air lainnya yang siap menempel di kulit kapan saja.

Meski kondisi fisiknya ditekan sedemikian rupa, Pradika sama sekali tidak pernah melayangkan keluhan mengenai beratnya medan kerja atau buruknya fasilitas. Ia adalah seorang pria bermental baja yang sudah terlatih dengan kerasnya kehidupan lapangan. Satu-satunya hal yang paling ia keluhkan dan berhasil mengusik ketenangannya sepanjang waktu hanyalah ketiadaan akses sinyal seluler.

Para pekerja reguler di perusahaan logging ini menggunakan sistem sinyal radio komunikasi khusus (handy talky frekuensi tinggi) untuk tetap terhubung dengan pos utama di kota. Namun, Pradika tentu saja tidak bisa menggunakan fasilitas radio tersebut karena sosok yang teramat ingin ia hubungi saat ini adalah Rana; gadis admin yang berada jauh di seberang pulau, di tanah Jawa.

"Entah bagaimana kabarmu di sana sekarang, Rana. Semoga kamu bisa menikmati masa cutimu dengan tenang," gumam Pradika lirih pada kesunyian hutan.

Ia menepuk saku celananya, memastikan ponselnya tersimpan aman sebelum kembali memungut kunci dan melanjutkan pekerjaannya membongkar silinder hidrolik yang macet.

Sementara itu, di belahan pulau yang berbeda, tepatnya di sebuah rumah di sudut Bojonegoro, atmosfer ketegangan justru sedang merayap naik. Rana saat ini sedang duduk di tepi ranjang kamarnya, mengumpulkan seluruh sisa kekuatan mentalnya untuk menyusun sebuah rencana pemberontakan yang matang, sebelum pihak keluarga dari pria bernama Putra Nugroho alias Puput itu benar-benar datang melangkah ke rumahnya untuk meresmikan perjodohan gila ini.

"Rana! Kamu sedang apa dari tadi mengurung diri terus di dalam kamar? Ini sudah siang, matahari sudah di atas kepala!" teriak Bu Retno dengan suara melengkingnya yang khas dari arah luar.

Suara ketukan kasar di pintu kayu kamarnya membuat lamunan Rana buyar seketika. Rana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sebelum memutar kunci dan membuka pintu kamarnya perlahan.

"Aku... aku sedang tidak enak badan, Bu," alasan Rana lirih.

Ia sengaja memasang raut wajah yang lemas, dan memelas; sebuah teknik manipulasi ekspresi yang biasanya sering dipraktikkan oleh Rani jika adiknya itu sedang malas membantu urusan rumah tangga dan terbukti selalu berhasil melunakkan hati ibunya.

Namun, alih-alih mendapatkan siraman rasa simpati atau kekhawatiran, Bu Retno justru mendengus kencang sembari berkacak pinggang.

"Halah! Alasan saja kamu ini! Pemalas kalau disuruh gerak sedikit. Masak sana di dapur! Rani sebentar lagi pulang sekolah, hari ini jadwalnya pulang cepat karena ada rapat guru. Dia pasti lapar setelah sampai rumah nanti."

Mendengar nama adiknya kembali disebut sebagai prioritas utama, sudut hati Rana kembali berdenyut perih. Namun, ia buru-buru menguasai emosinya demi kelancaran taktik yang sedang ia bangun.

"Ibu belikan pecel lele di tempat sepupu saja untuk makan siang Rani. Aku benar-benar tidak sanggup untuk masak dan bebersih hari ini, Bu."

Sembari berbicara, Rana merogoh saku celana kulotnya dan mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih mulus.

Melihat lembaran uang merah itu tersodor di depan matanya, binar keserakahan seketika melintas di sepasang mata Bu Retno. Tanpa banyak ketus lagi, wanita paruh baya itu dengan cekatan menyambar uang tersebut dari jemari Rana, lalu segera berbalik badan dan melenggang pergi keluar rumah tanpa memedulikan lagi kondisi kesehatan anak sulungnya.

Begitu pintu depan tertutup, Rana melangkah gontai menuju area dapur yang sepi. Ia mengambil satu bungkus mie instan dari dalam lemari, lalu memasaknya di atas panci kecil. Meski ia telah mendapatkan larangan memakan makanan instan yang tidak baik bagi kesehatan lambungnya, untuk siang ini Rana tidak memiliki pilihan lain. Ia sengaja mengonsumsi makanan instan itu semata-mata demi mendalami perannya secara totalitas sebagai orang yang sedang sakit dan tidak berdaya di mata ibunya.

Selesai menghabiskan makanannya, Rana kembali mengunci diri di dalam kamar dan merebahkan tubuh kurusnya di atas kasur kapuk. Rencana pelarian yang ia susun sejak semalam suntuk sebenarnya sudah mulai terbentuk, namun ia masih menemui jalan buntu yang teramat besar mengenai bagaimana cara mengeksekusi langkah pertamanya.

"Benar... bukankah jika sebuah pernikahan mau dilangsungkan secara hukum dan agama, aku mutlak memerlukan kehadiran seorang wali nikah kandung?" gumam Rana pada langit-langit kamar.

Matanya mendadak berbinar cerah seiring dengan tubuhnya yang langsung menegak bangun dari posisi berbaring.

Tanpa membuang waktu lagi, Rana segera mengambil ponselnya dan mencari sebuah nomor kontak penting. Ia kemudian melakukan panggilan keluar ke nomor telepon Budhe Sarti; kakak kandung ibunya sendiri, yang juga merupakan ibu dari Mutia.

"Halo, Assalamualaikum, Rana? Kamu ini sudah pulang cuti ke Jawa, kenapa sampai sekarang tidak main atau mampir ke rumah Budhe?" tanya Budhe Sarti dengan nada suara penuh selingan kehangatan.

"Waalaikumussalam, Budhe. Maafkan Rana ya, Budhe. Rana sebenarnya ingin sekali main ke sana, tapi sejak kemarin lusa sampai hari ini Rana sedang tidak enak badan. Sepertinya masuk angin karena kelelahan di jalan," jawab Rana sesopan mungkin, menyamarkan maksud utamanya.

"Oalah, kamu ini. Harus lebih bisa menjaga kondisi tubuhmu sendiri, Na. Perjalanan darat dan udara dari Kalimantan ke Jawa itu jauh dan menguras tenaga. Tapi... tumben ada apa kamu menghubungi Budhe siang-siang begini? Apa ibumu membuat masalah atau memarahimu lagi di rumah?" tanya Budhe Sarti, suaranya mendadak berubah penuh selidik karena paham betul bagaimana tabiat buruk adiknya, Bu Retno.

Rana menelan ludahnya pelan, mengeratkan genggamannya pada ponsel.

"Tidak, Budhe. Ibu tidak memarahi Rana kok. Rana hanya ingin... bertanya suatu hal yang penting, Budhe."

"Apa itu?"

"Tentang... tentang Ayah kandung Rana."

Seketika itu juga, keheningan mencekam langsung tercipta di seberang saluran telepon. Cukup lama suara Budhe Sarti menghilang, menyisakan suara deru napas berat yang terdengar ragu dan bimbang, sampai akhirnya wanita tua itu mulai kembali bersuara dengan nada yang jauh lebih rendah dan penuh kehati-hatian.

"Untuk apa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?"

"Rana sekarang sudah dewasa, Budhe. Kata Ibu kemarin, Rana sudah waktunya untuk memikirkan urusan pernikahan secara serius. Jika memang Rana harus menikah dalam waktu dekat, bukankah secara aturan agama Rana harus mencari dan menghadirkan Ayah kandung Rana sebagai wali nikah yang sah?" kata Rana, menyusun kalimatnya dengan sangat rapi dan hati-hati agar tidak memicu kecurigaan.

Selama bertahun-tahun hidupnya, setiap kali Rana mencoba membahas atau menanyakan keberadaan sang ayah, Bu Retno akan selalu meledak dalam amarah yang hebat dan melarang keras siapa pun membahas topik tersebut. Demikian dengan Budhe Sarti dan keluarga besarnya yang lain; mereka selalu memilih melakukan gerakan tutup mulut karena telah terikat janji lama untuk tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga masa lalu Bu Retno.

Namun, Rana berpikir, jika kali ini ia membawa-bawa masalah sakralnya perwalian sebuah pernikahan, mungkin saja budhenya akan luluh dan memberikan sebuah jawaban atau petunjuk yang berbeda.

Namun sayang, keberuntungan tampaknya masih enggan berpihak pada Rana hari ini. Dari seberang telepon, Budhe Sarti menghela napas panjang yang terdengar sarat akan rasa penyesalan mendalam.

"Maafkan Budhe ya, Rana. Bukannya Budhe tega atau ingin menyembunyikannya darimu. Tapi Budhe dan Pakdhemu sudah janji dengan ibumu dan semua keluarga besar untuk tidak pernah lagi membahas atau mengungkit keberadaan ayahmu sejak ibumu resmi bercerai belasan tahun lalu. Bahkan... demi Allah, sampai detik ini pun Budhe sama sekali tidak tahu di mana keberadaan ayahmu. Hubungan komunikasi kami sudah putus total sejak lama."

Tubuh Rana seketika membeku di tepi ranjang. Sendi-sendinya terasa lemas saat mendengar jawaban yang keluar dari lisan Budhe Sarti. Harapan besarnya patah begitu saja. Jawaban yang ia terima masihlah sama, sebuah tembok besar yang tebal dan gelap.

Ada misteri besar apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu? Kenapa Ibu begitu bersikeras menyembunyikan identitas dan keberadaan Ayah dariku? Bahkan seumur hidup, nama lengkap dan wajah Ayah pun aku tidak pernah diizinkan untuk tahu, batin Rana menjerit frustrasi.

Rana mengembuskan napas berat, mencoba menekan rasa kecewa yang bergolak di dadanya. Setelah mengucapkan beberapa patah kata penutup dan salam, ia segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.

Kini, dengan runtuhnya seluruh jalur alternatif melalui keluarga besar, Rana menyadari satu hal yang mutlak. Harapan dan kunci satu-satunya untuk membongkar misteri ini hanya ada pada satu orang: Bu Retno.

Rana tahu, ia tidak bisa lagi bermain aman di balik topeng anak yang penurut. Demi menyelamatkan masa depannya dari cengkeraman pria buruk seperti Putra Nugroho, Rana harus menyiapkan mentalnya untuk melakukan konfrontasi dan perlawanan langsung secara terbuka di depan ibunya, apa pun konsekuensinya.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!