NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS

“Janan bawa mama pelgi!.”

(Jangan bawa Mama pergi!)

Tangisan anak kecil itu memecah udara pagi yang dingin.

Suara itu begitu nyaring.

Begitu putus asa.

Sampai membuat beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman berhenti dan menoleh ke arah rumah Bu Sri.

Di depan rumah itu, sebuah mobil berwarna hitam sudah terparkir sejak satu jam lalu.

Mesin menyala.

Pintu terbuka.

Dan di dalamnya duduk seorang perempuan yang menatap kosong ke depan.

Nandin.

Rambutnya berantakan.

Wajahnya pucat.

Matanya sembab karena terlalu banyak menangis selama berminggu-minggu.

Namun pagi ini tidak ada lagi air mata.

Yang tersisa hanya tatapan kosong.

Tatapan seseorang yang jiwanya sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.

"Mamaaa!"

Shella berlari kecil sambil memeluk kaki ibunya.

Usianya baru dua tahun lebih.

Terlalu kecil untuk memahami kenapa ibunya duduk diam seperti patung.

Terlalu kecil untuk mengerti kenapa rumah mereka tiba-tiba berubah menjadi tempat yang menakutkan.

Sherly menyusul dari belakang.

Wajahnya penuh air mata.

“Mama janan pelgi…”

(Mama jangan pergi…)

Nandin perlahan menunduk.

Matanya menatap dua anak kembarnya.

Namun aneh.

Kosong.

Sangat kosong.

Seolah ada kabut tebal yang menutupi semua ingatannya.

Ia tahu dua anak kecil itu penting.

Sangat penting.

Tetapi ia tidak bisa mengingat kenapa.

Beberapa minggu sebelumnya.

Hidup Nandin masih utuh.

Tidak sempurna.

Tapi utuh.

Lalu kematian datang.

Ayah dan ibunya meninggal dalam waktu berdekatan.

Dan sebelum luka itu sempat mengering, kenyataan lain menghantamnya jauh lebih keras.

Wisnu.

Suaminya.

Laki-laki yang selama ini bekerja di Korea.

Ternyata memiliki perempuan lain.

Bukan hanya selingkuhan.

Tetapi calon istri.

Bahkan saat Nandin masih berduka atas kematian kedua orang tuanya, Wisnu justru menikahi perempuan itu secara diam-diam.

Seline.

Nama itu seperti racun yang mengalir dalam darahnya.

Dan hari ketika Nandin datang ke rumah Seline lalu melihat Wisnu duduk di pelaminan menjadi awal kehancurannya.

Sejak hari itu.

Nandin tidak lagi sama.

Ia sering tertawa sendiri.

Menangis tanpa alasan.

Berteriak tengah malam.

Kadang memanggil ayah dan ibunya.

Kadang memanggil Wisnu.

Kadang memanggil anak-anaknya.

Lalu mendadak diam selama berjam-jam.

Dokter mengatakan ia mengalami gangguan mental berat akibat trauma yang bertumpuk.

Dan pagi itu.

Wisnu memutuskan membawa Nandin ke sebuah pondok rehabilitasi di Jawa Timur.

"Apa harus hari ini?"

Bu Rini berdiri di teras sambil menahan tangis.

Wisnu menghela napas.

"Semakin cepat semakin baik."

"Dia masih ibu dari anak-anakmu."

Wisnu diam.

"Tunggu sampai dia sedikit membaik."

"Kasihan Shella dan Sherly."

Bu Rini menatap dua anak kecil yang sedang menangis di halaman.

Hatinya hancur.

Namun Wisnu hanya memalingkan wajah.

"Aku gak punya pilihan."

Kalimat itu terdengar begitu dingin.

Padahal beberapa tahun lalu.

Laki-laki yang sama pernah bersumpah akan menjaga Nandin sampai tua.

Bu Sri keluar dari rumah.

Wajahnya terlihat tidak sabar.

"Sudah. Cepat berangkat."

"Nanti malah makin ribut."

Kalimat itu membuat Bu Rini menoleh tajam.

"Bu Sri, itu menantu Ibu."

"Dia lagi sakit."

Bu Sri mendecak.

"Makanya dibawa berobat."

"Tetangga juga sudah mulai ngomong macam-macam."

Bu Rini terdiam.

Kadang ia tidak mengerti bagaimana seorang ibu bisa lebih memikirkan omongan orang dibanding penderitaan orang lain.

Shella masih memeluk kaki Nandin.

“Mama cama ceya aja…”

(Mama ikut Shella aja…)

Tangisan itu membuat dada siapa pun yang mendengar terasa sesak.

Sherly ikut memeluk kaki satunya.

“Mama janan pelgi…”

(Mama jangan pergi…)

Nandin menatap mereka.

Lama.

Sangat lama.

Lalu tiba-tiba ia tersenyum.

Senyum yang aneh.

Kosong.

"Ayah..."

gumamnya pelan.

Semua orang terdiam.

Karena yang dicarinya bukan anak-anaknya.

Melainkan ayahnya yang sudah meninggal.

"Ayah pulang..."

Nandin tersenyum ke udara kosong.

Air mata Bu Rini langsung jatuh.

Hari itu ia sadar.

Perempuan yang dulu ceria dan kuat itu benar-benar hilang.

Perjalanan menuju pondok rehabilitasi berlangsung hampir lima jam.

Sepanjang jalan Nandin hanya diam.

Sesekali menatap jendela.

Sesekali tertawa kecil sendiri.

Kadang mendadak menangis.

Kadang memanggil nama ibunya.

Wisnu menyetir tanpa bicara.

Entah karena lelah.

Entah karena merasa bersalah.

Atau mungkin karena memang sudah tidak peduli lagi.

Saat mereka tiba.

Sebuah pondok sederhana berdiri di tengah hamparan sawah.

Udara sejuk.

Pepohonan rindang.

Tidak ada kesan menyeramkan.

Tidak seperti rumah sakit jiwa yang dibayangkan banyak orang.

Seorang kiai tua menyambut mereka.

Jubah putih.

Sorban sederhana.

Wajah teduh.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

Wisnu menjabat tangannya.

"Kiai, ini istri saya."

Kiai itu menatap Nandin cukup lama.

Tatapan yang tidak menghakimi.

Tidak kasihan.

Tetapi penuh pengertian.

"Luka yang berat."

gumamnya pelan.

Wisnu menunduk.

Tidak berani menjawab.

Hari itu.

Nandin resmi tinggal di pondok rehabilitasi.

Tanpa tahu.

Bahwa kepergiannya akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Karena hanya tiga hari setelah meninggalkannya di pondok.

Wisnu mulai mengurus perceraian.

Tanpa menunggu Nandin pulih.

Tanpa menunggu ia bisa membela dirinya.

Tanpa menunggu ia sadar sepenuhnya.

Ia memilih mengakhiri semuanya.

1
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!