NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 22

Jeremy membuka pintu kamarnya dengan kasar. Tas sekolahnya ia lempar begitu saja ke lantai, tubuhnya terasa lelah setelah seharian berada di luar.

Ia berjalan beberapa langkah ke dalam kamar.

Lalu langkahnya berhenti.

Matanya membesar.

“Apa… ini…?”

Di depannya, gitar kesayangannya berdiri di tempat biasa—namun kondisinya benar-benar kacau. Permukaan kayunya penuh dengan mentega yang mengkilap dan licin, cokelat cair mengalir di antara senar-senarnya, menetes sampai ke lantai.

Jeremy membeku beberapa detik.

Lalu emosinya meledak.

“SIALAAAAAAN!!” teriaknya keras.

Di kamar sebelah, Jolina yang sedang berbaring santai di atas ranjang sambil mengoleskan lotion malam hanya tersenyum lebar.

Ia bahkan hampir menahan tawanya.

“Siapa yang rusakin gitar gue??!” teriak Jeremy lagi.

“Brengsek!!”

Suara sesuatu dibanting terdengar dari kamarnya.

“Aaarghhh!!”

Jolina tidak bisa menahan diri lagi. Ia langsung menutup mulutnya dengan bantal dan tertawa terbahak-bahak.

“Mampus Lo, Jeremy…” gumamnya di sela tawa.

Sementara itu di kamar Jeremy, napas Jeremy memburu. Tangannya gemetar saat melihat gitar itu. Alat musik itu bukan sekadar barang baginya—itu bagian dari mimpinya.

Lalu satu nama muncul jelas di kepalanya.

Matanya menyipit.

“Jolina…”

Ia langsung keluar kamar.

“JOLINAAAA!!!”

Teriakan itu menggema di lorong lantai dua.

Di dalam kamar, Jolina yang mendengar namanya dipanggil tiba-tiba terlonjak sedikit.

“Hah?!”

Ia langsung duduk tegak.

“Jolina, gue tau ini pasti ulah Lo kan?!” teriak Jeremy dari luar.

Langkah kakinya mendekat cepat.

BRAK! BRAK! BRAK!

Jeremy menggedor pintu kamar Jolina dengan keras.

“Jolina buka pintunya! Atau gue dobrak!”

Gedoran itu semakin keras.

“Gue tau Lo di dalam!!”

“Ga usah pura-pura, Jolina!!”

Jolina menelan ludah.

“Gawat… dia beneran ngamuk nih…” gumamnya pelan.

Untuk sesaat ada rasa takut yang merayap di dadanya. Jeremy tidak terdengar seperti biasanya—amarahnya benar-benar memuncak.

Namun Jolina menarik napas dalam.

“Tenang… tenang… santai aja…”

Ia cepat mengacak-acak rambutnya hingga terlihat berantakan, seperti orang yang baru bangun tidur. Ia menarik selimut sedikit, lalu mengusap matanya agar terlihat lelah.

Gedoran di pintu masih berlanjut.

BRAK! BRAK!

“JOLINA!!”

Dengan ekspresi pura-pura bingung dan sedikit mengantuk, Jolina akhirnya berjalan ke pintu.

Klik.

Pintu kamar terbuka.

Jolina berdiri di sana dengan wajah kusut, rambut berantakan, dan mata setengah terpejam.

“Apa sih… ribut banget…” gumamnya malas.

Ia menatap Jeremy yang berdiri di depannya dengan napas memburu dan wajah penuh amarah.

“Kenapa sih?” katanya polos.

Jeremy berdiri di depan pintu kamar Jolina dengan napas berat. Tangannya menggenggam gitar yang kotor dan rusak itu—mentega dan cokelat masih menempel di badan kayunya, membuatnya terlihat menyedihkan.

Begitu pintu terbuka, Jeremy langsung mendorong masuk tanpa menunggu izin.

“Eh—!” Jolina terkejut dan mundur beberapa langkah.

Jeremy terus maju, wajahnya penuh amarah. Ia mengangkat gitar itu di depan Jolina.

“Lo kan yang rusakin gitar gue?!”

Jolina mengangkat alis, pura-pura bingung.

“Eh jangan asal nuduh. Buat apa gue rusakin gitar Lo itu?”

Jeremy menatapnya tajam. “Karena cuma Lo yang nggak suka sama gitar ini.”

Jolina mendengus.

“Ya terus? Ga usah nuduh kalau ga punya bukti.”

Jeremy tertawa pendek—tawa penuh emosi.

“Ga usah pura-pura ga tau. Gue tau ini pasti perbuatan Lo.”

Ia menunjuk gitar itu. “Dan gue nggak butuh bukti buat jelasinnya… karena ini pasti perbuatan Lo.”

“Apasih? Lo gila ya?” Jolina memutar mata.

Jeremy menatap gitar itu lagi, rahangnya mengeras.

“Tega banget sih Lo ngancurin gitar gue…”

Jolina mengangkat bahu santai.

“Yaelah… cuma gitar kan? Lo bisa beli lagi. Kayak orang susah aja.”

Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api.

“Lo nggak bakal ngerti,” kata Jeremy dengan suara berat, “apa arti pemberian dari seseorang yang begitu berharga dalam hidup Lo!”

Jolina mendengus lagi.

“Ga usah drama deh. Mending Lo pergi dari kamar gue.”

Jeremy menatapnya beberapa detik. Emosinya sudah benar-benar di ujung.

BRAK!

Ia menumbuk pintu kamar Jolina dengan keras sampai bergetar.

Tubuh Jolina ikut tersentak.

“Lo bener-bener bikin gue kesal,” kata Jeremy dengan napas berat.

Jolina menyilangkan tangan.

“Lo juga bikin gue kesal. Sekarang impas lah.”

Jeremy menatapnya dengan dingin.

“Pergi Lo dari rumah gue.”

Jolina langsung menatapnya tajam. “Apa Lo bilang?”

“Iya,” kata Jeremy tanpa ragu. “Lo di sini cuma numpang. Jangan ga tau diri gitu deh.”

Kalimat itu menghantam Jolina lebih keras daripada teriakan.

Wajahnya berubah.

“Jeremy…” suaranya bergetar marah, “Lo jahat banget ya ngomong gitu.”

Jeremy tidak menjawab. Matanya masih penuh emosi.

Suasana kamar tiba-tiba terasa panas.

Tiba-tiba—

Jeremy meletakkan gitar kotor itu di lantai dengan kasar.

Jolina yang sudah sangat kesal langsung maju.

“Lo pikir Lo siapa sih?!” bentaknya.

Tanpa pikir panjang, Jolina menjambak rambut Jeremy.

“Eh—!” Jeremy kaget.

Namun ia tidak tinggal diam. Ia langsung membalas menjambak rambut Jolina juga.

“Lepasin!” bentak Jeremy.

“Lo dulu yang lepas!” balas Jolina.

Mereka saling tarik rambut seperti anak kecil yang sedang berkelahi. Rambut Jolina berantakan, Jeremy juga sama kacau.

“Dasar nyebelin!”

“Lo juga!”

Suara keributan itu terdengar sampai ke bawah.

Papa dan mama yang berada di ruang keluarga langsung saling pandang.

“Itu suara Jeremy?” kata mama panik.

Mereka berdua segera naik tangga.

Begitu sampai di lantai atas, mereka melihat pemandangan yang membuat mereka tercengang.

Jeremy dan Jolina sedang saling menjambak rambut di dalam kamar seperti dua anak kecil yang tidak mau kalah.

“YA AMPUN!” seru mama kaget.

“JEREMY! JOLINA!” bentak papa.

Mereka berdua langsung bergegas masuk untuk melerai pertengkaran itu. Jeremy masih mencengkeram rambut Jolina ketika mama dan papa masuk ke kamar dengan wajah panik.

“YA AMPUN! Kalian ini kenapa sih?!” seru mama sambil buru-buru memisahkan mereka.

Papa menarik bahu Jeremy ke belakang, sementara mama menahan Jolina yang masih terengah karena emosi.

Rambut mereka berdua sudah berantakan. Wajah Jolina memerah, sementara Jeremy menatap tajam dengan napas berat.

Mama memandang mereka berdua dengan kesal dan lelah sekaligus.

“Ga ada capeknya ya kalian berantem terus?” katanya dengan nada tinggi. “Omongan kalian itu ga ada yang bisa dipegang, tau ga? Setiap hari ribut!”

Ia menoleh ke arah Jolina.

“Ada apa lagi sih ini, Jolina? Kamu ngga ngerti-ngerti ya apa yang mama bilang sama kamu?”

Jolina menunduk. Bibirnya mengeras, tapi ia tidak menjawab.

Mama lalu menoleh ke Jeremy.

“Kamu juga, Jeremy! Kenapa malam-malam teriak ga jelas? Bikin ribut satu rumah!”

Jeremy masih menahan amarahnya. Dadanya naik turun.

“Dia udah rusakin gitar aku, Pa,” katanya tajam sambil menunjuk Jolina. “Dia masuk ke kamar aku tanpa izin, terus rusakin gitar aku.”

Papa menghela napas kesal, seolah masalah itu tidak penting.

“Cuma karena masalah gitar kamu sampai marah-marah seperti ini?” katanya datar. “Sudah lah. Bagus kalau gitarnya rusak, jadi kamu ga perlu main gitar lagi.”

Kalimat itu membuat Jeremy membeku.

Matanya langsung menatap papanya dengan tidak percaya.

“Jadi Papa belain dia?” suaranya berubah berat. “Gitar ini hidupku, Pa. Dan dia udah rusakin gitar kesayangan ku.”

Papa mengibaskan tangan dengan tidak peduli.

“Ya terus apa sampai harus segitunya? Cuma masalah gitar.”

“Kalau rusak beli lagi. Kalau memang ga mau beli ya sudah, ga usah bermusik. Lebih baik fokus belajar.”

Kalimat itu terasa seperti menghancurkan sesuatu di dalam diri Jeremy.

Untuk beberapa detik ia hanya berdiri diam.

Tangannya mengepal.

Rahangnya mengeras.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jeremy membungkuk mengambil gitar kotornya dari lantai. Mentega dan cokelat masih menempel di badan kayunya.

Ia menggenggam gitar itu erat.

Lalu berjalan melewati papa dan mama.

“Jeremy—” mama mencoba memanggil.

Namun Jeremy tidak berhenti.

Ia langsung keluar dari kamar, berjalan cepat menuruni tangga, lalu keluar dari rumah dengan emosi yang masih membara.

Pintu rumah tertutup keras.

BRAK.

Suasana rumah mendadak hening.

Mama menatap pintu dengan khawatir.

Sementara di lantai atas, Jolina masih berdiri di tempatnya. Dadanya naik turun, tapi untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu…

Ia merasa ada sesuatu yang tidak enak di hatinya.

Mama menatap Jolina dengan wajah kecewa, sementara napasnya masih terdengar berat setelah melerai keributan barusan.

“Jolina?” panggilnya pelan tapi tegas. “Kenapa kamu rusakin gitarnya Jeremy?”

Jolina langsung mengangkat wajahnya. Emosi yang sejak tadi ia tahan kembali muncul.

“Dia yang mulai duluan, Ma. Tadi pagi tuh dia—”

“STOP! STOP!” potong mama tiba-tiba.

Suara mama cukup keras sampai membuat Jolina terdiam.

“Apapun alasannya,” lanjut mama dengan nada lebih rendah tapi penuh tekanan, “kan sudah mama bilang jangan cari masalah.”

Jolina menunduk lagi. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Papa yang sejak tadi berdiri di dekat pintu kamar menghela napas panjang.

“Sudah, sudah… nggak apa-apa,” katanya mencoba menenangkan suasana. “Jeremy juga nakal. Pasti dia duluan yang ganggu Jolina.”

Papa bahkan sempat tersenyum tipis.

“Bagus lah kalau gitarnya rusak. Benda usang itu memang harus disingkirkan.”

Mama langsung menoleh tidak setuju.

“Tapi tetap saja Jolina juga salah,” katanya serius. “Bagaimanapun itu barang pribadi Jeremy.”

Papa mengangkat tangan seolah tidak ingin memperpanjang.

“Sudah, nggak apa-apa… kamu jangan ikut emosi juga. Jaga kesehatan.”

Mama akhirnya menghela napas, lalu kembali menatap Jolina.

“Sudah ya, Jolina. Rapikan rambut kamu.”

Ia menepuk pelan bahu gadis itu.

“Papa minta maaf atas sikap Jeremy yang tidak sopan tadi.”

Jolina hanya diam. Tidak ada jawaban, tidak ada bantahan.

Mama dan papa saling pandang, lalu mulai berjalan keluar kamar.

“Kembali tidur,” kata papa sebelum menutup pintu. “Besok kamu harus sekolah.”

“Papa sama mama juga mau istirahat.”

Pintu kamar tertutup perlahan.

Klik.

Jolina berdiri sendirian di dalam kamar.

Beberapa detik ia hanya diam menatap pintu yang baru saja tertutup itu.

Lalu ia berjalan mendekat dan menguncinya.

Klik.

Ia menghela napas panjang, lalu berjalan ke cermin dan mulai merapikan rambutnya yang tadi ditarik-tarik saat berkelahi dengan Jeremy.

Rambutnya benar-benar kacau.

“Dasar gila…” gumamnya pelan, entah untuk Jeremy atau untuk dirinya sendiri.

Setelah itu ia berbalik hendak berjalan menuju tempat tidur.

Namun tiba-tiba—

Cek!

Kakinya menginjak sesuatu yang licin di lantai.

“Aishhh—!”

Jolina hampir terpeleset.

Ia menunduk dan melihat lantai kamar.

Ada lelehan mentega yang tadi menempel di tangannya saat mengerjai gitar Jeremy—ternyata ikut terbawa sampai ke kamarnya dan sekarang mencair di lantai.

“Sial…” gerutunya kesal.

Ia mengambil tisu dan mulai membersihkan lantai itu dengan wajah cemberut.

“Semua gara-gara dia…” gumamnya.

Namun saat ia menggosok lantai, bayangan gitar Jeremy yang kotor tadi tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan juga wajah Jeremy ketika melihat gitar itu.

Jolina berhenti sebentar.

Tangannya masih memegang tisu yang sudah berminyak.

“Ah… peduli amat,” gumamnya cepat, seolah menepis pikiran itu.

Ia membuang tisu itu ke tempat sampah lalu naik ke tempat tidur. Lampu kamar dimatikan. Namun untuk waktu yang cukup lama…Jolina tidak langsung bisa tidur.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!