Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penghakiman Megacorp
Di lantai lima belas gedung Megacorp, suasananya kontras banget sama kamar kos Kenji yang bocor. Ruangannya wangi aromaterapi, ber-AC dingin, dan dihiasi dinding kaca yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta.
Seorang pria berkemeja necis bernama Adrian—Manajer Divisi Keamanan Siber Megacorp—sedang duduk santai sambil menumpukan kakinya di atas meja. Di depannya, Hana duduk bersimpuh di lantai sambil menangis sesenggukan, dijaga oleh dua satpam berbadan tegap.
"Udah, enggak usah nangis. Air mata lu enggak bakal bisa bayar sepuluh miliar," cibir Adrian sambil memainkan ponselnya. "Gua tahu lu cuma anak magang miskin. Makanya, kalau kakak lu enggak datang bawa satu miliar dalam satu jam lagi, lu bakal tidur di jeruji besi malam ini."
"Saya enggak salah, Pak... Saya cuma disuruh senior masukin flashdisk itu ke komputer server..." Hana membela diri dengan suara serak.
Adrian cuma tertawa meremehkan. Dia tahu betul Hana tidak salah. Flashdisk itu sebenarnya berisi virus buatan Adrian sendiri untuk menggelapkan dana perusahaan, dan Hana hanyalah kambing hitam yang sempurna untuk menutupi jejak busuknya.
Tepat saat Adrian hendak menyulut rokoknya, tiba-tiba lampu di ruangan itu berkedip satu kali.
Pet.
Bukan cuma lampu ruangan, tapi seluruh layar monitor komputer di divisi siber yang tadinya menampilkan grafik server mendadak berubah hitam.
"Eh, apa-apan nih? Mati lampu?" Adrian menurunkan kakinya dari meja, dahinya mengkerut. "Woi! Cek genset! Kenapa sistem bisa down?!"
Dua satpam di dekat Hana baru saja mau bergerak menuju pintu, tapi langkah mereka terhenti. Semua layar monitor di ruangan itu kembali menyala serentak. Namun, tidak ada logo Windows atau sistem perusahaan yang muncul. Layar-layar itu memancarkan warna merah darah yang pekat.
Di tengah-tengah layar, sebuah logo petir berwarna merah menyala berputar pelan.
"L-lo, kok... ini apa?" Adrian mulai panik. Jari-jarinya langsung mengetik cepat di atas kibor, tapi komputernya sama sekali tidak merespons. Tombol-tombol itu seolah mati total.
Detik berikutnya, seluruh pelantang suara (speaker) yang terpasang di langit-langit gedung Megacorp mengeluarkan suara dengung yang nyaring, disusul oleh suara ketukan kibor yang santai tapi ritmis.
Tuk. Tuk. Tuk.
Lalu, sebuah suara pria yang berat, dingin, dan penuh tekanan terdengar menggema dari pengeras suara tersebut. Suara itu jelas sudah dimodifikasi lewat pengubah suara (voice changer), terdengar sangat mengintimidasi hingga membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding.
"Selamat malam, Megacorp. Khususnya untuk bajingan bernama Adrian."
Adrian langsung melompat dari kursinya. Mukanya mendadak pucat pasi. "Si-siapa lu?! Berani-beraninya lu meretas sistem kami! Satpam! Cari tahu ini suara dari mana!"
Suara di pengeras suara itu terkekeh pelan. Sebuah kekehan yang meremehkan.
"Enggak usah repot-repot menyuruh satpammu yang bodoh itu, Adrian. Dalam waktu tiga menit ke depan, hidupmu yang nyaman akan berubah jadi neraka."
Bersamaan dengan kalimat itu, layar monitor di depan Adrian langsung memutar sebuah dokumen rahasia. Itu adalah manifes keuangan, rekening luar negeri atas nama Adrian, lengkap dengan riwayat obrolan rahasianya saat merencanakan korupsi dana perusahaan sebesar lima puluh miliar rupiah.
"B-bagaimana bisa... ini kan dienkripsi berlapis?!" Napas Adrian mulai memburu. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya. Itu adalah rahasia terdalamnya yang bahkan direktur utama pun tidak tahu. Bagaimana bisa seseorang membongkarnya dalam hitungan detik?
"Lu suka menjebak orang lemah menggunakan kekuasaan, kan?" Suara dingin itu kembali menggema. "Sekarang, mari kita lihat gimana rasanya dihancurkan oleh kekuatan yang sesungguhnya."
Bzzzt!
Dalam sekejap, seluruh data korupsi Adrian terkirim otomatis ke surel pribadi jajaran direksi, komisaris, hingga akun resmi milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tidak berhenti di situ, sistem keuangan Megacorp langsung dikunci total. Angka-angka di rekening digital perusahaan itu mulai bergerak mundur dengan kecepatan gila, terkuras habis menuju akun-akun amal anonim di seluruh dunia.
"Sialan! Hentikan! Siapa sebenarnya lu?! Hapus datanya!" teriak Adrian histeris seperti orang gila. Dia memukul-mukul monitornya sampai tangannya berdarah.
Di seberang sana, di dalam kamar kosnya yang pengap, Kenji menatap layar laptop titaniumnya dengan senyum sinis. Jari-jarinya menari di atas kibor seolah sedang memainkan simfoni kematian.
Kenji mendekatkan mikrofon kecil ke mulutnya, lalu memberikan pukulan terakhir yang bakal bikin Adrian ingat mati.
"Tiga tahun lalu, dunia menyebut gua sebagai bencana siber. Dan malam ini, gua datang cuma buat menjemput adik gua." Kenji menjeda kalimatnya, lalu mengetik perintah terakhir untuk membuka seluruh kunci elektronik di gedung Megacorp.
"Adrian... sebut nama gua di dalam hati lu sebelum polisi datang menyeret lu ke sel tahanan. Nama gua adalah... Zeus."
Duar!
Layar monitor di depan Adrian meledak mengeluarkan percikan api, membuat pria itu jatuh terjungkal ke lantai sambil menjerit ketakutan. Bersamaan dengan itu, pintu kaca otomatis ruangan terbuka lebar.
Dua satpam yang berjaga langsung gemetar ketakutan, tidak berani menyentuh Hana sama sekali. Hana sendiri terpaku, menatap layar yang sempat menampilkan logo petir merah itu dengan mata membelalak.
Hana tahu betul, hanya ada satu orang di dunia ini yang akan mengobrak-abrik isi kota demi menyelamatkannya.
"Kak... Kenji?" bisik Hana lirih di tengah kekacauan gedung yang mulai gelap gulita.