Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Kata-kata Adiba menggantung di udara, berbaur dengan deru AC ruang rapat yang mendengung rendah.
Pengakuan—tentang insiden di Queens sepuluh tahun lalu, tentang kematian Ambar yang disuntikkan secara perlahan, hingga surat cerai yang kini tergeletak bisu di atas meja mahoni—seharusnya terdengar seperti deklarasi cinta yang agung.
Namun bagi Louis Enver Osborn, setiap untai kalimat itu terdengar seperti lonceng kematian bagi nuraninya yang tersisa.
Gila. Wanita ini benar-benar iblis, batin Louis menjerit.
Sengatan keriuhan di dalam dada Louis mendadak berubah menjadi letupan adrenalin yang membakar pertahanannya. Kelembutan semu yang sempat tercipta akibat aroma mawar Adiba menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa ngeri yang teramat masif.
Dengan satu sentakan kasar, Louis mencengkeram kedua bahu Adiba. Dia mendorong tubuh ramping wanita itu mundur berondong-rondong hingga punggung Adiba menghantam keras kaca jendela besar yang membatasi mereka dengan jurang langit Manhattan. Bunyi jedug dari benturan itu menggema di dalam ruangan yang sepi.
Louis memojokkan Adiba, mengunci tubuh wanita itu di antara kedua lengan kokohnya yang bertato.
Wajah tegas Louis menunduk, jarak di antara mereka begitu terkikis hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, namun kali ini tidak ada kabut gairah di sepasang mata elang abu-abu Louis. Yang ada hanyalah kilat kemurkaan dan penolakan yang teramat dingin.
"Kau gila, Adiba! Kau benar-benar gila!" raung Louis, suaranya yang rendah kini naik satu oktav, bergetar oleh kombinasi rasa frustrasi dan ngeri yang memuncak di ubuk hatinya.
"Kau merancang kematian seorang gadis tak berdosa... kau menghancurkan mental Ambar hanya untuk dijadikan bidak dalam permainan caturmu?! Dan kau melimpahkan semua dosa itu atas namaku?!"
Adiba tersentak akibat dorongan kasar itu, punggungnya terasa linu menempel pada kaca yang dingin. Namun, tidak ada rintihan kesakitan yang keluar dari bibir pucatnya.
Sepasang manik mata hitamnya tetap menatap Louis dengan intensitas yang sama—sebuah pandangan memuja yang tidak goyah bahkan ketika pria itu mencengkeramnya dengan kemarahan yang mematikan.
"Aku melakukannya untukmu, Louis..." Adiba berbisik parau, mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh dada bidang Louis yang naik turun berantakan akibat napas yang memburu.
"Jika Ambar tidak mati, kasus itu tidak akan pernah menjadi bom waktu yang bisa menghancurkan Raynazh. Aku hanya mempercepat takdir—"
"Cukup! Tutup mulutmu!" bentak Louis, cengkeramannya di bahu Adiba mengencang, membuat blazer hitam wanita itu sedikit kusut. Louis menggelengkan kepalanya dengan tatapan tidak percaya, seolah sedang melihat sosok monster yang mengenakan kulit wanita cantik.
"Dengar baik-baik, Adiba Abbey. Aku tidak akan pernah... demi Tuhan, aku tidak akan pernah membalas kegilaanmu ini!"
Kata-kata penolakan yang dilontarkan Louis laksana hantaman palu godam yang menghujam tepat di ulu hati Adiba.
Senyuman misterius yang sejak tadi bertahan di bibir Adiba mendadak runtuh.
Binar matanya yang semula penuh damba seketika goyah, digantikan oleh kekosongan yang teramat dalam, seolah-olah seluruh dunia yang dia bangun selama sepuluh tahun ini mendadak retak di bawah kaki mereka.
"Apa... apa maksudmu, Louis?" Adiba bertanya, suaranya mendadak mengecil, bergetar oleh rasa tidak percaya yang teramat sangat.
"Aku telah mengorbankan segalanya... aku menyerahkan diriku masuk ke rumah pernikahan ini, aku menanggung tamparan kakakmu, aku menyimpan rahasia kita... semua kulakukan agar kau bisa berdiri di puncak dunia. Bagaimana bisa kau mengatakan tidak akan membalasnya?"
Louis terkekeh getir, sebuah tawa sinis yang sarat akan belas kasihan sekaligus kemuakan yang mutlak.
Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Adiba, melangkah mundur dua langkah untuk memberi jarak, seolah-olah berada terlalu dekat dengan Adiba akan menularkan kegilaan wanita itu ke dalam dirinya.
"Kau pikir apa yang kau rasakan ini adalah cinta, Adiba?" Louis bertanya, suaranya mendadak mendingin, sedingin angin musim dingin yang berembus di luar jendela.
Dia menunjuk tepat ke arah dada Adiba dengan jarinya yang gemetar. "Itu bukan cinta, Adiba. Itu obsesi. Itu adalah penyakit mental menjijikkan yang bersarang di dalam otakmu!"
Deg.
Kata 'penyakit' dan 'menjijikkan' yang keluar dari bibir Louis menghantam batin Adiba dengan kekuatan penuh.
Udara di sekitar Adiba seolah tersedot habis. Air mata yang sejak tadi menggenang di sudut matanya perlahan luruh, melewati lebam keunguan di pipi kirinya.
"Kau salah..." Adiba menggelengkan kepalanya lirih, rambut hitam panjangnya yang berantakan membingkai wajahnya yang kian pias.
"Ini cinta, Louis. Ini adalah satu-satunya alasan mengapa aku tetap bertahan hidup selama sepuluh tahun ini. Aku menghidupkan bayanganmu di dalam kepalaku setiap hari! Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri!"
"Cinta tidak membunuh orang lain, Adiba!" Louis balas berteriak, matanya menggelap tajam, urat-urat di lehernya menegang ekstrem.
"Cinta tidak menggunakan manipulasi berdarah untuk menghancurkan sebuah keluarga! Kau sakit, Adiba. Kau mengunci dirimu di dalam labirin ilusimu sendiri, dan kau menyeret aku ke dalamnya secara paksa!"
Louis berjalan mendekati meja rapat, menyambar ponsel hitamnya yang terletak di samping map biru dokumen cerai Raynazh.
Pikirannya saat ini benar-benar carut-marut.
Memori tentang bagaimana dia menikmati tubuh Adiba... kini terasa seperti sebuah kutukan yang paling menjijikkan.
Dia mengira dia sedang melakukan pembalasan dendam pada kakaknya, namun ternyata dia hanyalah boneka yang pergerakannya telah diprediksi dan diinginkan oleh skenario gila Adiba.
"Pernikahanmu dengan Raynazh... perceraian ini... dan semua intrikmu di Osborn Group, aku tidak peduli lagi," ucap Louis dengan nada datar, memunggungi Adiba.
"Mulai malam ini, jangan pernah berani menampakkan dirimu di hadapanku lagi. Jangan pernah datang ke Brooklyn, dan jangan pernah berpikir bahwa penyatuan kita berarti aku menerima kegilaanmu."
Adiba menatap punggung tegap Louis yang bergerak menjauh menuju pintu keluar ruang rapat.
Rasa sakit akibat penolakan itu mendadak memicu gelombang mual yang teramat dahsyat dari dalam perutnya.
Adiba membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, tubuhnya membungkuk lemas, bertumpu pada meja mahoni untuk menahan guncangan yang mendadak menyerang di tengah stres emosional yang ekstrem ini.
Di dalam rahimnya, janin yang merupakan darah daging Louis seolah ikut bergejolak, merasakan penolakan sang ayah sebelum dia sempat terlahir ke dunia.
Namun, di tengah rasa sakit fisik dan batin yang mendera, ketakutan Adiba perlahan bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Air matanya berhenti mengalir. Sepasang manik mata hitamnya yang sayu mendadak kembali berkilat oleh kegilaan yang kini telah mencapai titik puncaknya.
Jika Louis menganggapnya sakit, jika Louis menganggapnya sebagai sebuah obsesi dan penyakit... maka dia akan menjadi penyakit yang paling mematikan yang tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh Louis seumur hidupnya.
"Kau tidak bisa membuangku, Louis Enver Osborn..." Adiba berbisik lirih ke arah punggung Louis yang nyaris mencapai pintu kaca.
Suaranya tidak lagi terdengar rapuh—suara itu kini kembali dipenuhi oleh keangkuhan iblis yang mutlak. "Kau boleh mengutukku, kau boleh menganggapku sakit... tapi kau tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa kau telah menandai tubuhku berkali-kali. Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari labirin yang kubuat... karena di dalam rahimku ini, bagian dari dirimu telah tumbuh, dan dia akan mengikatmu denganku sampai mati."
Louis menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kaca.
Dia tidak menoleh ke belakang, namun kepalan tangannya di sisi tubuh menegang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar hebat.
Kata-kata Adiba tentang rahim dan ikatan seolah menjadi bayang-bayang hitam yang siap menyergapnya kapan saja.
Tanpa membalas ucapan Adiba, Louis mendorong pintu kaca dengan kasar dan melangkah pergi, meninggalkan Adiba sendirian di dalam kemegahan ruang rapat yang sepi, berselimutkan surat cerai berdarah dan janji obsesi yang tidak akan pernah padam.