Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Navarez
"Aldric." Gumam Aretta lirih menatap Kaivan dengan mata berkaca-kaca.
Kaivan terkejut Aretta memanggil nama kecilnya begitupun dengan Navarez yang tak kalah terkejutnya.
"Tata." Ucap Kaivan lirih.
Bukan hanya Aretta yang sudah menangis namun Kaivan juga sudah meneteskan air matanya yang keluar tanpa permisi. Kaivan tersenyum manis akhirnya penantian dirinya selama ini gak sia-sia. Tata nya sudah kembali, Tata nya sudah mengingat siapa dirinya, Tata nya sudah mengenal dirinya. Terharu? Tentu saja Kaivan sangat-sangat terharu gadis kecilnya sudah kembali mengingatnya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Aretta lalu memeluk tubuh Kaivan sangat erat seakan-akan tidak ada hari esok.
Aretta terisak pilu di dalam dekapannya Kaivan ia sangat rindu dengan orang yang selalu memenuhi hatinya pada masa itu.
"Maaf Aldric maaf hiksss." Aretta kembali mengeratkan pelukannya membenamkan wajahnya di dada bidang Kaivan.
Sakit, hati Kaivan sangat sakit mendengar isakan yang keluar dari mulut mungil Aretta, Kaivan tidak suka gadisnya menangis seperti ini Kaivan lebih suka Aretta pecicilan dan bar-bar.
"Jangan nangis hati aku sakit liat kamu nangis." Ucap Kaivan mencoba menenangkan Aretta.
Aretta mendongakkan kepalanya melepas pelukannya lalu naik ke atas brankar Kaivan. Kaivan yang paham menggeser tubuhnya agar Aretta bisa berbaring di sebelahnya.
Tanpa berlama-lama Aretta langsung memeluk Kaivan erat membenamkan wajahnya kembali pada dada bidang Kaivan. "Bagaimana bisa?" Ucap Aretta dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh mereka semua.
Tangan Kaivan mengelus-elus rambut halus Aretta. "Aretta asli yang kasih tau aku lewat mimpi." Ucapnya.
Mendengar itu Aretta mendongakkan kepalanya. "Aretta?"
Kaivan mengangguk lalu menceritakannya.
Flashback on
Di alam bawah sadar,,,
Kaivan tengah duduk di bangku yang ada di bawah pohon besar yang di mana bangku itu menghadap ke arah danau yang begitu indah, Kaivan sendiri dengan pikiran yang bercabang di otaknya ia memikirkan bagaimana bisa dirinya ada di tempat seperti ini? Ini tempat apa? Kenapa indah sekali? Dan masih banyak lagi.
Saat Kaivan sedang berperang dengan pikirannya sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Ka Kaivan." Panggil Aretta lebih tepatnya jiwa Aretta Gabriela Wilson
Kaivan menoleh ke arah sumber suara itu ia mengangkat alisnya seolah bertanya siapa
Aretta yang tau pikiran Kaivan hanya tersenyum lalu duduk di samping Kaivan tanpa izin.
"Siapa? Dan ini di mana?" Tanya Kaivan dengan suara dingin.
Sejujurnya jiwa Aretta takut dan merinding tapi ia menguatkan dirinya agar bisa bicara dengan Kaivan.
"Sekarang kita ada di alam bawah sadar. Ada yang mau aku omongin sama Kaka mengenai ka Aletta." Ucap Aretta yang membuat tubuh Kaivan menegang tatapannya semakin tajam dan dingin.
Kaivan menatap Aretta dengan tatapan yang sulit di artikan, mendengar nama Aletta tiba-tiba Kaivan mengepalkan tangannya emosinya tiba-tiba memuncak.
Aretta yang melihat Kaivan kacau merasa kasihan ia tau apa saja yang Kaivan lakukan untuk Aletta. "Aletta masih hidup Kaka tenang aja."
Mendengar itu Kaivan langsung menatap tajam Aretta. "Apa maksudnya?" Tanya Kaivan dingin.
Aretta menatap pandangan ke danau ia menarik nafas panjang lalu bercerita. "Aletta Xaviera Alexander masih hidup ka tapi bukan di raga aslinya melainkan di raga aku ia mengalami transmigrasi jiwa, perkenalkan aku Aretta Gabriela Wilson seorang gadis cupu yang tidak pernah di harapkan kehadirannya bahkan siksaan keluarga ku menjadi makanan sehari-hari."
"Bagaimana bisa?" Tanya Kaivan yang memang tidak percaya dengan transmigrasi jiwa ia menganggap itu hanya ada di dalam novel² saja.
"Karena aku yang menariknya untuk memasuki tubuhku, aku minta pada Tuhan untuk seseorang menempati tubuhku dan membalaskan dendamku kepada mereka semua." Ucap Aretta menggerakkan gigi.
Kaivan bisa melihat ada kilatan dendam dan amarah yang besar dari tatapan Aretta, rasa sakit, kecewa, benci yang sudah menjadi satu.
"Aku tau Kaka gak percaya tapi itu memang kenyataannya, aku udah bilang ke Aletta kalo dia bersedia membalaskan dendamku dengan imbalan tubuhku akan menjadi miliknya selamanya." Jelas Aretta.
Kaivan mengangguk mengerti. "Semoga gadisku bisa membantu mu." Ucap Kaivan.
Aretta tersenyum mendengar ucapan Kaivan. "Ya, dan aku berharap Aletta membunuh semua orang yang sudah menyakitiku termasuk keluargaku walaupun itu orang tua ku sekalipun aku tidak peduli." Ucap Aretta menyeringai.
"Aku ingin kembali." Ucap Kaivan.
Aretta menunjuk ke arah cahaya putih yang tidak jauh darinya dan Kaivan. "Ikuti cahaya putih itu nanti Kaka akan kembali ke alam Kaka." Beritahu Aretta. Tanpa berlama-lama Kaivan langsung bangkit dan berjalan menuju cahaya putih yang di maksud Aretta.
Saat tubuh Kaivan ingin memasuki cahaya putih itu tiba-tiba Aretta memanggil namanya. "Ka Kaivan."
Mau gak mau Kaivan membalikkan badannya menghadap Aretta yang tengah tersenyum manis. "Kenapa?" Tanya Kaivan.
"Penantian Kaka selama ini akan segera terwujud." Kaivan bingung dengan ucapan Aretta apa maksud dari ucapannya itu? Tapi sebelum Kaivan bertanya cahaya putih itu menenggelamkan tubuh Kaivan membawa tubuhnya terbang lalu menghilang.
Tiba-tiba Kaivan bangun dengan wajah yang penuh keringat dan nafas yang terengah-engah. "Hanya mimpi." Gumamnya.
"Semoga kamu masih hidup Ta walaupun di raga orang lain, siapapun kamu aku tetep menerimanya." Ucap Kaivan yang mengingat ucapan Aretta di dalam mimpinya.
Flashback off
Aretta reflek menutup mulutnya ia terkejut sekaligus tak menyangka ternyata Kaivan mengetahui dirinya berpindah-pindah jiwa ke dalam tubuh Aretta dan dari awal Kaivan sudah mengetahuinya kalau dirinya masih hidup.
Alex yang memang tidak tahu apa-apa hanya menatapnya cengo sekaligus bingung, tentu saja banyak pertanyaan-pertanyaan yang bercabang di dalam otaknya.
"Yang gue mau tanya kenapa lo bisa kenal sama ade gua bos?" Tanya Alex kepada Kaivan.
Kaivan hanya mengangkat kedua bahunya acuh, malas banget harus menceritakan semuanya kepada Alex bikin mulut pegel saja pikir Kaivan.
Alex yang melihat respon Kaivan kek gitu mendengus kesal padahal dirinya sudah sangat penasaran kenapa Kaivan tidak mau cerita? Tapi sepertinya Alex yang lupa kalau Kaivan adalah orang yang sangat malas berbicara panjang.
"Nanti gue ceritain bang lo tenang aja." Ucap Aretta yang tidak tega melihat wajah kesalnya Alex.
Pandangan Aretta mengarah kepada Navarez ia menatap Navarez dengan tatapan yang sulit di artikan. Navarez yang tau bahwa dirinya sedang di tatap menaikkan sebelah alisnya. "Gue tau dari Abang ." Jawabnya yang memang tau apa yang sedang Aretta pikiran.
"Apa karena jiwa gue Aletta?" Tanya Aretta memicingkan matanya menatap Navarez.
Navarez menggeleng. "Bukan, gue emang dari awal gak pernah ikut campur buat nyiksa atau mengucilkan Aretta. Gue selalu diam dan gue juga jagain dia dari jauh." Jelas Navarez sambil menundukkan kepalanya menahan rasa sesak di dadanya.
Mereka yang melihat menjadi bingung, ada apa dengan Navarez? Kenapa dia kek kelihatan emosi?
"Kenapa bro?" Tanya Alex menepuk² punggung Navarez menenangkannya.
Navarez mendongakkan kepalanya menatap Aretta, Kaivan dan Alex secara bergantian lalu ia menarik nafas panjang. "Cinta gue, cinta gue masih sama ke Aretta dari dulu sampe sekarang. Tapi cinta dia bukan buat gue melainkan buat orang lain dan orang itu adalah... Sean, walaupun mereka tunangan atas dasar paksaan tapi Sean berhasil menanamkan rasa cinta itu di hati Aretta. Gue gagal Lex gue gagal gak bisa jagain Aretta sehingga Aretta pergi ninggalin gue, andai gue gak ngungkapin perasaan gue rasa cinta gue sama dia mungkin Aretta masih ada di sini." Ucap Navarez dengan bibirnya yang bergetar.
Mereka menyadari dari nada bicaranya Navarez saja sudah menggambarkan bahwa dia mempunyai penyesalan yang besar, nada frustasi Navarez saat menceritakan itu semua sangat menyayat hati mereka terutama Kaivan.
Kaivan tau kalau Ade sepupunya ini jatuh cinta pada Aretta Gabriela Wilson tapi Kaivan tidak tau kalau Navarez sempat mengungkapkan perasaannya. Andai Navarez bilang pada dirinya Kaivan Akan membantunya untuk mendapatkan Aretta dan membebaskan Aretta dari keluarga jahanamnya itu.
"Ikhlasin Varez biar dia tenang di sana." Ucap Kaivan yang menatap Navarez dengan tatapan sendu.
Navarez mengangguk mantap. "Gue udah ikhlas ko bang, gue udah ikhlas dan gue seneng dia udah gak ngerasain siksaan dari keluarganya yang brengsek itu."
"Iya Lo harus bisa ikhlasin Aretta dia juga sedih liat lo kek gini bro." Ucap Alex.
"Iya gue udah ikhlas dan sekarang Aretta kedua jadi gue akan dapetin dia, iya kan Ta? Tenang aja gue akan memperjuangkan lo kok." Ucap Navarez menaik turunkan kedua alisnya menggoda Aretta.
Aretta yang di goda terkekeh geli begitu dengan Alex yang geleng² kepala melihat sahabatnya ini, namun berbeda dengan Kaivan yang menatap Navarez penuh dengan permusuhan seperti ingin mengulitinya secara hidup².
"Mau mati lo Navarez Ravindra Louis." Ucap Kaivan dengan menyebut nama lengkap Navarez penuh dengan penekanan.
"Hahahahahah." Tawa mereka bertiga yang melihat wajah kesal Kaivan.