Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari minggu pagi udara terasa segar meskipun matahari mulai sedikit menyengat.
Melina memutuskan untuk membantu ibu mertua dan Bi Nisa dengan belanja sayuran ke pasar.
Bi Nisa tak bisa belanja ke pasar karena sedang kewalahan membantu Adisti menyiapkan pesanan kue, Adisti akan membuka toko kue dan akan merekrut pegawai.
Jadi Melina dengan sukarela menawarkan diri untuk belanja ke pasar tradisional di dekat komplek.
Melina tampak cantik dan sederhana dalam balutan gaun lengan pendek berwarna jingga cerah, dengan panjang sampai lutut.
Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai dengan tertiup angin, tangannya menjinjing tas belanja sayuran segar.
Kakinya bejalan menyusuri trotoar, saat hendak melangkah ke rumah----matanya memanas saat melihat suaminya dan selingkuhannya tengah lari pagi bersama.
Langkahnya mendadak terhenti, Ihsan tak pernah melakukan Melina seperti itu semenjak keduanya menikah.
Ishan tak pernah tersenyum seperti itu kepada Melina, bahkan tak pernah mesra sekalipun.
Pria itu selalu melakukan kekerasan padanya, di sertai pemukulan.
Ishan Ganendra pagi ini mengenakan atasan olahraga lengan pendek berwarna merah menyala, di padukan dengan celana training coklat tua dengan sepatu lari pagi.
Tepat di sampingnya, Livia tampil dengan menampilkan lekuk tubuhnya yang proposional.
Livia Kumara seorang model papan atas, tampil mengenakan yukensi adidas berwarna biru.
Di padukan celana legging ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya sebagai model.
Di kepalanya Livia juga mengenakan topi olahraga dengan bagian atas terbuka, rambutnya diikar ekor kuda membuatnya nampak sexy di pandang.
"Mas Ishan..." ucap Melina dengan lirih.
Matanya memanas saat menatap sang suami dengan kekasihnya, hatinya pedih---rasanya sangat pedih seperti di tusuk ribuan jarum.
Keduanya tampak mesra, sampai mata Ishan menatap istrinya lalu menyenggol bahu sang kekasih.
Jujur sebagai istri Melina seolah merasa tak di hargai, selain rasa cemburu Melina merasakan sakit hati yang menghantam dadanya.
Sejenak Melina sulit bernapas sejenak.
Livia yang melihat Melina, langsung menghentikan langkahnya dan tersenyum sinis sambil menunjuk ke arah Melina dengan angkuh.
"Sayang, itu istri kamu 'kan?" tunjuk Livia dengan nada meremehkan yang sangat jelas.
Ishan dan Livia berhenti tepat di sebelah Melina, pandangan Ishan nampak dingin dan penuh ejekan.
"Dia itu istri terpaksa, si anak panti asuhan yang penuh topeng," ucap Ishan dengan tatapan mengejek.
Ishan mengatakan itu tanpa sedikit pun rasa bersalah di wajahnya, meskipun ia sedang bersama wanita lain di depan istrinya.
Ishan tak bisa menghargai Melina sebagai istrinya, jika tak bisa menghargai Melina sebagai istrinya.
Tak bisakah Ishan menghargai Melina sebagai perempuan.
"Terus kenapa kamu mau nikahin dia!" tunjuk Livia ke arah Melina.
"Aku nggak akan pernah mau nikahin dia kalo nggak di paksa mama, asal kamu tahu aja ya!" ucap Ishan mendekat sambil menunjuk ke arah Melina.
Semua orang bisa melihat tingkah laku Ishan yang sama sekali tak mencerminkan seorang public figur.
"Lagaknya doang sok polos di depan mama, ternyata di kampus punya pacar!" ejek Ishan dengan suara cukup keras.
Beberapa orang yang lewat termasuk tetangga dan orang lain tak berani ada yang menegur, karena tak mau ikut campur masalah rumah tangga orang lain.
"Aduh nggak nyangka ya, padahal muda dan mukanya polos ternyata binal juga!" ejek Livia sambil tertawa keras.
Melina hanya bisa menggelengkan kepala dan dalam hati hanya beristigfar.
Matanya menatap dua publik figur berdiri berdampingan, melontarkan kata-kata pedas seolah tak mencerminkan publik figur.
"Iya, bener banget sayang. Wajahnya doang yang polos, padahal dia itu cuma mau morotin harta kamu. Tipikal anak panti yang haus kemewahan," timpal Livia sambil tertawa mengejek.
Mata Livia menatap tas belanja sayur Melina, seolah benda itu adalah yang paling menjijikan yang pernah di lihat.
Melina hanya diam mematung dengan menunduk, tangannya mencengkram erat tas sayurnya hingga jemarinya memutih.
Air mata mulai keluar dari matanya yang hitam.
"Udahlah sayang, ayo pergi! malas ngeliat anak panti nangis pake air mata buaya," ucap Livia menarik Ishan pergi.
Keduanya melanjutkan jogging, meninggalkan Melina sendiri dengan air mata.
Sungguh suami yang tak memiliki hati nurani, dirinya di hina, difitnah, dan direndahkan oleh suaminya di depan orang banyak dan selingkuhannya.
Di bawah pohon rindang komplek itu, Melina merasa hancur berkeping-keping.
Sementara Ishan dan Livia melanjutkan lari pagi.
Orang-orang yang merasa mengenal Melina mendekatinya, dan mengelus bahu Melina.
"Mbak Melina yang sabar ya...," ucap lirih tetangganya.
Melina tersenyum, dengan menoleh ke samping lalu menganggukan kepala.
"Makasih Mbak, saya permisi dulu."
Melina menyentuh tangan tetangganya, menghela napas dan tersenyum.
Langkah kaki Melina gontai menuju rumah, memikirkan jalan hidup ke depannya----entahlah kenapa dari dulu keberuntungan tak berpihak kepadanya.
Setiap dirinya mau beruntung, pasti ada aja yang akan mengambil keberuntungan itu.
Tak terasa langkahnya sudah sampai di depan rumah, karena sejak tadi dirinya selalu berjalan dengan memikirkan nasib hidupnya.
Di rumah Ganendra.
Melina bertegur sapa dengan satpam, lalu masuk. Tatapan sang Satpam rumah sempat heran karena melihat kedua mata Melina yang sembab.
Gadis yang mengenakan gaun warna jingga itu masuk rumah, dan menatap mertuanya sedang membuat kue.
"Mel? kamu udah pulang?" tanya Adisti.
Melina menghela napas dan mencoba tersenyum.
"Iya Mah baru pulang kok," jawab Melina membawa sayuran itu ke dapur.
Adisti menatap wajah Melina, matanya sembab dan hidungnya merah.
"Mel? kamu kenapa?" tanya Adisti saat Melina menaruh bahan masakan di atas kompor.
Melina tersenyum dan berusaha memikirkan alibi yang pas, karena dirinya tak mau jika Ihsan akan semakin membencinya.
"Nggak kok mah, Mel baik-baik aja," ujar Melina yang sudah merasa jika Adisti adalah ibu kandungnya.
"Bener nggak papa?" tanya Adisti dengan nada lembut, sekali lagi berusaha meyakinkan menantunya.
"Iya mama Adisti, aku baik kok," ujar Melina.
"Lain kali kamu pergi naik supir, jangan begini. Liat tuh kulit kamu hitam, masa istri Ishan Ganendra kulitnya hitam."
Adisti bicara pada Melina, mengelus kulit lengannya yang belang.
Deg.
Ucapan Adisti menyadarkannya akan satu hal, ucapan Ishan yang tadi di jalan----tak sudi mengakuinya sebagai istri.
Melina tersenyum lalu dirinya hanya menganggukan kepala, dan memasak makanan untuk mertua dan suaminya.
*
*
*
*
*
*
*
*