NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|02|Wine Tumpah

Satu menit... Dua menit... Ponselnya tak kunjung berbunyi, belum ada balasan dari Elula. Aruna semakin erat memeluk lututnya, dipinggir trotoar yang sepi ditemani lampu neon yang terlihat semakin terang.

Drrrttt.. Getaran dari ponselnya membangunkan Aruna dari tidurnya, kantuk yang tak bisa Ia tahan karena menunggu balasan dari Elula cukup lama.

Aruna merogoh tas nya, mengambil ponselnya tertera nama Elula dilayar ponsel tersebut.

"Oke, gue jemput didepan gang. Tunggu 15 menit gue OTW Run" pesan balasan dari Elula yang membuat senyum Aruna mengambang.

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00, namun Aruna memilih untuk bekerja dibanding tidur dipinggir jalan. Ada seseorang yang harus Ia pertahankan nyawanya. Walaupun dengan cara apapun Aruna akan tempuh untuk kesembuhan sang ayah, keluarga satu-satunya yang Ia miliki.

'Maafkan Aruna pah, demi papah Aruna harus bekerja di club itu' -Batin Aruna.

Tak berselang lama, Elula datang menjemputnya menggunakan mobil porsche. Aruna sempat kagum dengan mobil mewah yang dikendarai Elula, teman kerja-nya di restoran yang ternyata sudah memiliki mobil mewah.

"Masuk, kenapa bengong" Teriak Elula dari dalam mobilnya, menyuruh Aruna untuk masuk.

Aruna segera masuk kedalam mobil, Elula tersenyum namun tidak dengan matanya yang selalu mengamati Aruna. Perjalanan mereka cukup dekat, dengan kecepatan sedang Elula membawa Aruna ke sebuah club yang sudah Elula ceritakan sebelumnya. Mobilnya berhenti diparkiran depan club VERTIGO.

Club mewah yang rumornya hanya orang-orang menengah keatas yang mampir ke tempat ini, dekorasi modern, nuansa hitam elegan. Semakin malam semakin banyak pelanggan yang datang. Parkiran penuh dengan mobil-mobil mewah terparkir rapi. Tak ada sepeda motor satu-pun, bukti kalau club ini bukanlah sembarang club biasa.

Aruna menuruni mobil, matanya masih terpesona dengan club yang Ia lihat dari luar itu. Kagum dan kali pertamanya menginjakkan kaki di VERTIGO. Logo naga hitam dibawah nama VERTIGO seakan menatap Aruna dengan dingin dan tajam.

"Eitss.. Kamu yakin mau masuk pake baju kucel gitu?" Elula mencegah Aruna untuk masuk karena pakaian-nya yang tak cocok. Gadis itu memutar bola matanya dengan malas, seperti terasa terbebani dengan Aruna yang ada didepannya.

Berbeda dengan Aruna, penampilan Elula jauh dari Aruna, rambut-nya sudah dicat ungu dan menjuntai lurus, baju crop-top berwarna hitam putih dan tas hermes tergantung di bahu-nya. Parfum mahalnya tercium wangi semerbak. Tidak seperti Aruna, bau keringat sehabis lembur kerja direstoran masih tercium dari tubuhnya. Rambut lepek seperti tidak keramas satu bulan, sepatu yang selalu Ia pakai setiap hari sampai lupa dicuci.

"Ikut gue ke kosan, gue pinjemin baju dan mandi yang bersih" Ujar Elula sambil menarik Aruna pergi ke kontrakan yang tak jauh dari club tersebut.

-Kontrakan Elula.

"Pake baju ini aja, ini belum pernah gue pake dijamin mirip sama aslinya" Ujar Elula melempar baju-nya kearah Aruna.

'Mirip aslinya?, maksutnya barang-barang yang dia pakai palsu?' -Batin Aruna.

Aruna tak menjawab hanya mengangguk dengan cepat lalu menuruti perintah Elula, tanpa berlama-lama mandi Aruna sudah siap memakai dress yang diberikan Elula, Ia menatap dirinya didepan cermin dengan balutan dress berwarna merah, pakaian yang menurutnya membuat dirinya tak percaya diri untuk memakai.

"El ... , apa gak ada yang lebih panjang" Tanya Aruna sambil menarik rok bawahnya menutupi paha-nya yang terlalu terekspos.

Elula tertawa pelan, Ia melihat tampilan Aruna. "Begitu sudah lumayan bagus" ujarnya, sambil mengalihkan tangan Aruna yang sengaja menutupi paha.

"T-tapi El..."

Elula tak menghiraukan, dengan cepat Ia melemparkan heels setinggi 7cm kearah Aruna. hanya mengisyaratkan dengan mata-nya untuk segera Aruna pakai. Elula bersender didepan pintu kontrakannya, matanya fokus melihat kearah ponselnya yang sedari tadi terus berbunyi.

Wajah tanpa polesan make-up tebal, polos namun cukup membuat orang tidak tau kalau dia adalah pegawai restoran ayam goreng. Aruna melangkahkan kakinya memasuki club tersebut, lantunan musik jazz yang terdengar lembut ditelinga.

Satu langkah, dua langkah, Aruna mencoba menyeimbangkan langkahnya karena heels yang dipakainya cukup tinggi. Elula sibuk tersenyum kepada orang-orang yang datang. Pertama kalinya dalam hidup Aruna Ia menginjakkan kaki kedalam sebuah nightclub.

Lampu temaram serta bau alkohol yang menjadi penyambut dirinya masuk kedalam club itu, Aruna masih mengamati sekitar, matanya meng- absen tiap titik dalam ruangan luas itu.

"Oiya, kerjaan pertama lo udah disampein sama Pak bos, bos nyuruh lo buat layanin tamu di ruangan vip" Ucap Elula sambil menunjuk dengan jari telunjuknya kearah ruangan vip yang dimaksut.

"Inget kerjaan lo cuma nuangin wine kalau disuruh, dan ambil makanan kalau ada yang pesan" Ujar Elula kembali sambil tersenyum kepada Aruna, sebelum pergi Ia penepuk bahu Aruna lalu pergi meninggalkan Aruna sendirian.

Sebelum masuk kedalam ruangan yang diberitahu Elula, Aruna memilih pergi ke toilet terlebih dahulu, jujur Ia sangat gugup nyaris hampir menyerah saat pertama melihat club tersebut.

Aruna menatap pantulan wajahnya didepan cermin toilet, lipstik merk dior yang dipoleskan Elula ke bibirnya masih menempel sempurna. Aruna menghembuskan nafasnya perlahan.

'Run, ayo kamu pasti bisa. Demi papah kamu harus multi talent' -batin Aruna.

Tangan Aruna sudah menekan knock pintu yang bertuliskan 'vip' itu dengan perlahan. Ruangan yang tampak mewah dan tak terlalu luas, namun cukup untuk berkumpul dengan teman-teman saat sedang bosan.

Isinya para lelaki ber-jas rapi, seperti sedang rapat. Namun aroma wine yang lebih mengengat dari ruangan itu sedikit membuat Aruna pusing. Ia menutup kembali ruangan itu dan berjalan mendekat.

Terlihat seorang pria sedang duduk membelakangi dirinya, dengan kaki menyilang dan rokok yang menyala. Pria itu terus menyesap rokoknya tanpa henti, tak ada ucapan atau anggukan saat ada orang bertanya kepadanya. Aruna melihat ada tato bintang kecil dilehernya.

"Ini pelayan yang baru Tuan" salah seorang pria ber-jas rapi berkata kepada pria yang sedang merokok itu.

Aruna berhenti, diam tepat dibelakang pria tersebut, semua orang memandangi Aruna dalam diam.

"Pelayan, tuangkan wine itu kedalam gelas Tuan" Suruh pria tadi kepada Aruna.

'Tuan..? Memangnya siapa pria ber-jas itu?, masa bodyguard sih. Seorang bos punya bodyguard didalam club'. -batin Aruna.

Aruna berjalan mendekat, mengambil wine diatas meja yang terletak tak jauh dari pria itu duduk, Aruna tak berani melihat wajahnya. Saat menunduk mengambil wine Ia hanya melihat tato naga, persis dengan naga yang ada di bawah tulisan VERTIGO didepan club itu, seakan naga itu hidup di punggung tangan pria itu, Aruna sedikit merinding saat melihat 'naga' itu.

Dengan perlahan Ia mendekati pria yang dipanggil 'tuan' itu, menuangkan wine kedalam gelas. Namun, tangannya yang gemetar serta pria lain yang berjalan melewatinya tidak sengaja menyenggol pundaknya, membuat wine itu tumpah membasahi kemeja pria bertato naga itu.

Dengan cepat botol wine terhempas ke karpet mahal, pecah dan berhambur. Aruna panik, sangat panik dan mencoba membersihkan kemeja itu dengan tangannya.

"Maaf tuan, maaf saya tidak sengaja"

Pria tersebut mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada pengawalnya. Aruna melihat kebelakang, tiga pengawal dari pria bertato naga itu sudah mengarahkan pistolnya kearah Aruna, saat itu juga lutut Aruna terasa lemas dan terjatuh kelantai.

Tangannya yang terkena pecahan kaca dari botol wine yang pecah-pun sampai tak terasa sakit. Lelaki itu mendekat, berjongkok dan mendekatkan wajahnya kepada Aruna.

"Namamu?" Ujarnya dengan datar, dingin seperti mayat hidup yang berbicara.

Nafas Aruna tercekat, tato naga di punggung tangan lelaki itu seakan hidup, menatap dan berbicara kepadanya.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!