Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
" Kuat memang ramalan Mak Nurlela." Jawab Aldo tercengang.
" Gacor bener, Paman gue. Lo, langsung bunting." Sambung Aldo memperhatikan perut Delina.
Delina yang tercengo, langsung tersadar dan menggeplak kepala sahabat sengkleknya itu.
PLAK...
AWWW!!!!
" Ga ada anggun-anggun nya lo jadi perempuan, sudah nikah malah jadi sumala! " Kesal Aldo mengusap kepalanya kesakitan.
" Mulut lo tuh, istigfar!? Gue belum bunting ogep, seenak kata. Bilang gue hamil!"
" Ini buah, buat gue. Karena gue ngidam gitu? "
" Iya, kata Bu Lela. Mungkin lo lagi ngidam." jawab aldo.
" Hais, emak-emak sekarang kenapa dah. Ngebet banget pengen dipanggi nenek. " Ucap Delina tidak habis pikir.
" Lo percaya aja gitu omongan Mak Gue."
" Iyalah, lo aja sudah 2 bulan nikah. masa belum bunting-bunting? Gue kan mau ponakan."
" Lo aja sana yang kawin, sama Pite." Dengus Delina.
" Yeh, gue kagak ada duit nikahin pite. Masih nyicil." Ucap Aldo cengengesan.
" Dasar, Mokondo!!! " kesal Delina.
" Jadi mau lo apain tuh Mangga?" Tanya Aldo mengikuti Delina ke dapur.
" Lo Mau apa ikutin gue?" Tanya Delina.
" Gue mau liat rumah lo, gak boleh? jahat bener lo." Ucap Aldo memegang dadanya dramatis.
" Bukan gitu, kalau kita di gerebek berduaan gimana?" Tanya Delina wanita itu tampaknya masih sedikit ketakutan jika mengingat kejadian 2 bulan yang lalu.
" Ya udah, kita ngobrol diluar aja." Jawb Aldo ia paham dengan situasi mereka.
" Gue duluan kedepan." ucap Aldo lagi.
" Lo bawa sambal kacangnya kedepan." Suruh Delina memberi isyarat lewat ekor matanya.
" Mau mencokan lo?" Tanya Aldo.
" Iya, gue banyak beli buah. Takut busuk kalau gak diolah." Ucap Delina yang foks mengupas buah mangga mangkal nya.
" Emang enak pakai buah Mangga mangkal?"
" Enak lah, kalau buah yang matang cocokny dimakan gitu aja. " ucap Delina.
" Ohh...." Aldo mengangguk saja ia duduk diteras disusul Delina.
Mereka mengobrol santai, sambil makan buah pencokan.
Terdengar suara mobil memasuki area parkiran rumah.
" Noh, lakik lo pulang." Ucap Aldo memasang wajah mengekerut..
" Asem banget gilakk, buahnya. Lo tahan aja makan aseman?" Heran Aldo melihat wajah Delina tampak santai saja memakannya.
" Iyaaa, gue udah biasa gadoin nih mangga." jawab Delina.
" Kalian ngapain?" Tanya Agam menghampiri keduanya.
" Ritual Om, buat malam jumat." Jawab Delina ia mash asik menggrogoti biji mangga.
" Heh, mulut lo dikondisikan! Nanti didenger dikira beneran." Geplak Aldo .
" Beneran juga gakpapa." Jawab Delina santai.
" Jadi kalian ngapain disini?" Tanya Agam lagi.
" Pencok'an Om gak liat?" Tanya Delina lagi.
ia memperhatikan keduanya dan juga... Matanya tetuju pada pakaian Delina yang teramat terbuka.
" Astagfirullah, Delina!? Pakaian mu." Ucap Agam baru sadar pakaian yang dikenakan istriya teramat terbuka.
Pria itu membuka sorban nya mentutpi bagian depan Delina hingga setengahnya.
" Cuman Aldo doang apa maslahnya sii Om." ucap Delina memutar bola matanya dengan malas.
" tetep masalah, ganti dulu bajunya. Baru ngobrol lagi." Ucap Agam sembari duduk ditengah-tengah diantara keduanya.
" Gak perlu lah, kan sudah ada kain Om." Jawab Delina tetap lanjut makan.
" Lagi pencokan ya? Enak gak?" Tanya Agam lagi.
" Cobain aja Paman, rasanya the bestt." Ucap Aldo.
" Iyalah, apalagi yang buat gue. Pasti enaklah..." Bangga Delina.
" Lin, mulutnya." peringat Agam.
" Hehehe iya Om." Delina hanya nyengir saja.
" Manggilnya kok masih om? Gantilah.." celetuk aldo.
" Terserah gue lah, kok lo yang sewot."
" Masa sudah 2 bulan nikh, panggilan nya Om. Hati-hati lo Man, takutnya nanti dikira ponakan terus di gondol cowo lain." Ucap Alldo.
" Lu kata gue ikan digondol hah!?" Kesel Delina.
" Sudah-sudah, nanti pelan-pelan terbiasa." Ucap Agam menengahi kedua bocah ini.
" Tapi, tumben Om pulang siang? Biasanya sore."
" Gak bersyukur lo, lakik pulang cepet. Masih mending pulang bukan nenangga ke warung remang kek lakik mbak wirta." Sahut Aldo.
" Mulut lo do!? minta di pites cabe kayknya. " Geram Delina ingin menumbuk wajah aldo pakai cobek.
" Jangan galak-galak lah, ibu ratu. Harus anggunly didepan suami tecintah." ucap Aldo melirik Agam yang terkekeh pelan.
" Mending lo pulang deh, eneg liat muka lo disini. Bikin mual aja. " Ucap Delina memperagakan orang muntah.
" Lo pasti hamil kan? Man, keknya dia hamil deh." Ucap Aldo yakin.
" Lo kenapa sii!? kepengen banget gue bunting. Dibilang gue belum hamil." Sungut Delina.
" Masalahnya, lo dari tadi mual-mual mulu. Terus makan mangga mangkal, padahal kecut. muka lo biasa aja.''
" Paman, bawa bini lo ke mantri aja. Keknya bneran isi nih anak." Ucap Aldo yakin seratu persen.
" Masa hamil? Keknya gak mungkin, sunnah rosul aja belum. " Batin Agam menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Berisik! Sana lo pulang, gue mau masak buat suami tercintah gue." Usir Delina beranjak dari duduknya membawa piring dan cobek masuk kedalam.
" Lah!lah! Si kunyuk dibawanya. gak punya hati nurani lo Lin! " Teriak Aldo.
" Kamu pulang aja, saya mau istirahat." Ucap Agam ikut menyusul Delina.
" Loh, loh kok diting-"
BRAK...
" Lah? Dasar suami istri sama aja! Kit ati ade Paman. " Kesel Aldo dramatis ia memilih pulang.
...➰➰➰➰...
Aldo pulang dengan wajah sungutnya.
" Loh, kenapa Do? " Tanya Tante Gita heran melihat anaknya cemberut kayak bocah gak dikasih eksrim.
" Diusir Mak, sama Delina." Ucap Aldo menghempaskan diri di sofa.
" Ko bisa? Kamu gak ngapa-ngapain anak orng kan? "
" Gak lah Mak, tadi ada Paman juga disana."
" Ters kenapa bisa diusir. " Tanya Tante gita heran, wanta itu berkacak pinggang menyipitkan matanya seolah mencari kebenarn disana.
" IYa mak, suer deh. Dia baperan aja gara-gara ku bilang lagi hamil-"
" HAH? DELINA HAMIL? BENERAN KAMU?" Girang Tante gita.
" Eh bukan gitu mak, aku cuman bilang kalau kayaknya dia ham-"
" Kalau dia mual-mual, terus mangganya dimakan nya kan?"potong Tante Gita ia duduk disampng anaknya itu.
" Iya, sii.... Dimakanya. Padahal kecutkan, terus memang mual-mual pas dia habis makn mangga tadi."
" Berita hots news ini, mamak mau kerumah Bu Lela dulu. pasti dia senang mau dapat cucu." Ucap tant gita ngibrit lari kelur rumah.
" EH MAK! TUNGGU DULU! DENGERIN AMPE SELESAI! MAK! DELINA GAK HAMIL!? WOYLAH!" Panik Agam ia sampai lari kedepan pintu,tapi Tante gita suda tidak ada disana.
" Sial! Bisa kacau dunia kalau begini." Gumam Aldo memakai sandal tanpa memerdulikan bajunya yang dibuka nya tadi ia berlari ke rumah seberang.
" jENG! JENG LELA! ADA KABAR BAHAGIA! " Teriak Tante Gita menggendor rumah Bu Lela.
KLEK...
" Ada apa Mbak? Kayak orang kesetanan, ada maling atau musibah." Tanya Mak Nurlela gelagapan.
" Ini loh,tadi si Aldo anter mangga kerumah Delina. Benran apa yang Jeng kasih tau."
" Jadi beneran Delina hamil?"
" Iya Jeng, kalau Aldo gak kesana gak akan tahu kan.. mereka pasti bakalan diam aja."
" Masya allah, akhirnya aku jadi Nenek lagi. Sampean juga mbak!?" Ucap Mak Nurlela keigiragan.
" Iya Jeng, aku mau punya cucu ponakan dari sampean. " Keduanya kegirangan.
" Ada apa Mak? Kok ribut-ribut? Loh Bu Gita ada apa?" Tanya Pak Roslan menghampiri sang istri di depan pintu.
" INi loh Pak, Delina hamil." Ucap Mak Nurlela.
" Beneran ? Gak salah berita kan?" tanya Pak roslan.
" Beneran Pak Roslan, anak saya tadi kesana. Katanya Delina hamil." Sahut Tante Gita.
" Alhamdulilah, kita jadi nenek kakek lagi Mak. " Ucap Pak roslan terharu bahagia.
" Tapi kenapa mereka gak kasih tahu kita yak?" Tanya Pak Roslan mulai sedih.
" Mungkin belum akurat kali Pak, makanya belum dikasih tau. Atau mau kasih kejutan." Ucap Mak Nurlela.
" Iya, bisa jadi. Sampean kasih tahu mamaknya Agam, saya mau kasih tahu suami saya dulu sekalian grup keluarga nya."
" OH iya, iya bener Mbak." Ucap Mak Nurlela.
" Saya pulang dulu ya, assalamualaikum. " Ucap Tante gita berpamitan.
" Waalaikumsallam." Sahut Pak roslan dan Mak Nurlela.
" Kita kasih tahu besan dulu Pak." Ucap Mak Nurlela kegiarangan.
" Iya, Mak.besok kita kerumah Delina ya.. Bapak kangen sama anak itu." ucap Pak Roslan.
" Iya,Pak. Mamak juga mau marahin dia. Berani-berani nya gak kabarin orang tuanya. "
Aldo baaru saja sampai didepan pintu pagar rumah Mak Nurlela, dilihatnya Tante gita berjalan mendekat.
" Loh? Mak? Gak ada orangnya?" Tanya Aldo ia berharap memang tidak ada orangnya semoga saja.
" Telat kamu do, Mama sudah kasih tahu. Ngapain kamu disni?? Sana pulang, kepo banget urusan dewasa. " Usir Tante gita
" Gak disebar di grup keluarga besar kan Mak?"tanya Aldo ragu.
" Kenapa memangnya? Mamak sudah info di grup keluarga, terus kayknya Bu Lela sudah kasih tau mama nya Agam." Jawab Tante gita ia meninggalkan anaknya yang terpatung ditempat.
" Sial! Bisa digorok kepala ku, sama Delina. " Ucap Aldo meneguk salivanya kasar.
" Delina hrus tahu ini." Ucap Aldo menyusul mamaknya.