Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Dua hari telah berlalu sejak perjanjian rahasia di atas atap gedung. Bagi dunia luar, Arkan tetaplah Direktur Utama yang tak bisa disentuh, sementara Kinanti adalah permaisuri yang patuh.
Namun, di bawah permukaan, Arkan sedang menghitung detik demi detik, menunggu pesan singkat dari Yudha yang akan mengubah nasibnya.
Sore itu, mobil mewah Wiratama berhenti di depan sebuah mansion megah di kawasan Menteng. Ini adalah kediaman keluarga besar Hadiningrat, keluarga konglomerat lama yang dulu menjadi sandaran hidup Kinanti dan ibunya.
Tanpa kedermawanan keluarga ini, Kinanti mungkin tidak akan pernah mencicipi bangku sarjana di universitas ternama.
Kinanti turun dari mobil dengan gaun cocktail berwarna hijau zamrud yang berkilau. Ia menatap pilar-pilar raksasa rumah itu dengan senyum yang sulit diartikan.
Dulu, ia masuk ke sini lewat pintu samping sebagai anak asisten rumah tangga yang ditumpangkan sekolah. Sekarang, ia datang lewat pintu utama sebagai nyonya besar Wiratama.
"Ayo, Arkan. Kita harus memberikan penghormatan pada orang-orang yang dulu 'berjasa' menyekolahkanku," ucap Kinanti, ada nada sarkasme yang tajam.
Bagi Kinanti, bantuan mereka bukan lagi kenangan manis, melainkan utang martabat yang ingin ia lunasi dengan cara yang angkuh.
Arkan melangkah di sampingnya dengan jas abu-abu yang elegan. Wajahnya datar, namun hatinya bergejolak. Ia tahu, di balik kemegahan ini, ada dua orang tua yang sedang hancur karena ulah wanita di sampingnya.
Di dalam aula utama yang bernuansa emas, Pak Broto Hadiningrat dan Ibu Rahayu sedang duduk dikelilingi kerabat elit mereka untuk merayakan ulang tahun pernikahan ke-27.
Langkah kaki Kinanti yang mengenakan hak tinggi terdengar nyaring di atas lantai marmer Italia. Seketika, percakapan para sosialita dan pengusaha di ruangan itu terhenti.
"Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-27, Bapak dan Ibu Hadiningrat," Kinanti melangkah maju dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia memberikan isyarat pada pelayan pribadinya untuk meletakkan bingkisan besar berbungkus emas. "Sedikit tanda terima kasih karena dulu sudah mengizinkanku sekolah bersama Alana hingga aku bisa berada di posisi yang jauh lebih tinggi."
Pak Broto berdiri. Meski usianya sudah senja, aura kepemimpinannya sebagai konglomerat belum pudar. Ia menatap Kinanti dengan tatapan yang sangat dingin. Baginya, Kinanti adalah ular yang mereka pelihara di dalam rumah.
"Terima kasih, Kinanti. Aku lihat kamu sudah sangat sukses menggunakan semua pelajaran yang kamu dapatkan di rumah ini," suara Pak Broto berat dan sarat akan sindiran.
Ibu Rahayu hanya menunduk, jari-jarinya meremas kain kebaya sutranya. Ia teringat Alana, putri mahkota keluarga ini yang kini menghilang ditelan bumi setelah mereka usir tanpa sepeser pun warisan, semuanya demi mengikuti saran bijak dari Kinanti untuk memberi pelajaran pada anak yang membangkang.
"Tentu saja, Pak. Aku ingin kalian tahu bahwa bantuan kalian tidak sia-sia," Kinanti duduk di kursi utama tanpa dipersilakan. "Lihat aku sekarang, dan lihat Arkan... kami adalah representasi keluarga sempurna. Terlepas dari skandal yang coba diciptakan oleh putri Anda yang malang itu."
Kalimat itu seperti sembilu bagi Ibu Rahayu. "Alana sudah tidak ada di sini, Kinanti. Kamu sudah memenangkan Arkan, apa lagi yang kamu cari dengan datang ke sini?"
Arkan melihat rahang Pak Broto mengeras. Ia ingin berteriak bahwa Alana, pewaris sah kekayaan Hadiningrat ini, sekarang sedang memikul karung pakaian di pasar loak dalam keadaan kuyu. Namun, Arkan tetap diam, menunggu sinyal dari Yudha.
Kinanti menyesap teh dari cangkir porselen milik keluarga Hadiningrat dengan gerakan yang sangat pelan. "Aku hanya ingin kalian tetap sehat agar bisa melihat bagaimana Arjuna, putra kami, tumbuh menjadi penguasa baru yang akan memimpin Wiratama dan mungkin juga mengambil alih apa yang tersisa dari Hadiningrat."
"Putra kalian?" Pak Broto menatap Kinanti dengan tajam. "Kamu pikir aku orang tua yang bodoh? Kamu mungkin bisa memalsukan dokumen, Kinanti, tapi darah Hadiningrat tidak bisa kamu hapus dari wajah anak itu."
Kinanti tertawa kecil, suara tawa yang dingin. "Di mata hukum, bayi itu adalah milikku, Pak. Dan bukankah Anda sendiri yang bilang tidak sudi memiliki cucu dari anak pezina yang mencoba merampas suami orang? Aku hanya membantu Anda membuang noda itu."
Suasana ruangan menjadi sangat mencekik. Arkan merasa tangannya dingin. Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar pelan.
Sebuah pesan dari Yudha. "Pintu pertama sudah terbuka. Aset properti di Jakarta Selatan dan pusat sudah beralih status. Tinggal menunggu verifikasi digital saham utama. Berhati-hatilah."
Membaca pesan itu, keberanian Arkan kembali pulih. Ia menatap Kinanti yang masih asyik menyerang martabat orang tua yang dulu memberinya hidup.
"Kinanti, kurasa kita harus segera pergi. Kamu ada janji lain," Arkan memotong dengan suara yang lebih dalam dan tegas dari biasanya.
Kinanti menoleh, sedikit terkejut dengan nada bicara Arkan, namun ia kembali menatap Pak Broto. "Satu hal lagi, Pak. Jika suatu saat Alana datang kembali ke rumah megah ini, tolong ingat bahwa Anda sendiri yang sudah mencoret namanya dari silsilah keluarga. Jangan biarkan air mata seorang pecundang membuat Anda terlihat lemah."
"Cukup, Kinanti!" Pak Broto membentak. "Keluar dari rumahku! Kamu adalah monster yang kami besarkan dengan tangan kami sendiri. Aku menyesal pernah menyekolahkanmu."
Kinanti justru tersenyum kemenangan. "Monster atau bukan, akulah yang memegang kunci dunia ini sekarang. Mari, Arkan."
Di dalam mobil mewah yang melaju menjauhi mansion Hadiningrat, Kinanti tampak sangat puas. "Lihat mereka, Arkan. Konglomerat tua yang sudah kehilangan taringnya. Mereka masih membela anak yang sudah membuat mereka malu di depan seluruh kolega bisnis."
Arkan hanya menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu Jakarta yang berkilauan. "Mungkin mereka merindukan anak mereka, Kin. Sama seperti aku yang merindukan sosok istri yang lembut, bukan sipir penjara sepertimu."
Kinanti terdiam, menatap Arkan dengan mata menyipit. "Kamu merindukan Kinanti yang miskin dan lemah, Arkan? Kinanti yang bisa kamu khianati berkali-kali? Dia sudah mati. Kamu yang membunuhnya."
Arkan tidak menjawab, namun jarinya mencengkeram ponselnya erat. Di balik diamnya, Arkan sedang merencanakan badai besar. Ia akan mengembalikan aset Hadiningrat kepada Alana kelak, setelah ia berhasil menjatuhkan Kinanti dari singgasana yang ia curi.
"Kin," panggil Arkan pelan. "Besok aku akan ke kantor lebih pagi. Ada berkas yang harus ditangani di ruang arsip pusat."
"Tentu," jawab Kinanti tanpa curiga. "Pastikan semua laporan keuangan minggu depan menunjukkan kenaikan. Aku ingin dunia tahu bahwa di bawah tanganku, Wiratama adalah yang terkuat."
Arkan tersenyum tipis dalam kegelapan kabin mobil. "Oh, laporannya akan sangat mengejutkanmu, Kin. Tapi bukan kenaikan kekuasaanmu yang akan kamu lihat."
Malam itu, di kediaman Wiratama yang sunyi, Arkan bersiap melakukan langkah skakmat. Sebuah serangan yang akan merampas kembali takhta, harta, dan martabatnya dari tangan sang sipir cantik yang kini tertidur pulas tanpa menyadari bahwa kekuasaannya hanya tinggal menghitung jam.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.