Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 23
Di kamar Risti,
Risti makan di kamar sendirian, sebenarnya dia tidak tahan dengan yang namanya “sepi” ataupun “sunyi” tapi kali ini dia harus bertahan demi rasa marahnya terhadap Vino.
Perempuan mana yang tidak marah saat mendengar wanita lain mengeklaim suaminya adalah miliknya dan ternyata sang suami kenal dengan perempuan tersebut. Yahh, Risti memang belum mendengar penjelasan dari Vino, tapi Vino juga lupa untuk memberikan penjelasan. Entah kali ini yang salah siapa dan yang benar siapa.
Setelah selesai makan Risti mencuci piring di dapur, saat ingin kembali ke kamar dia malah naik ke tangga, sudah 5 langkah dia menaiki tangga dan akhirnya dia teringat sesuatu,
“Loh, kok aku malah naik? mau kemana? kamar aku kan sekarang di lantai satu,” gumam Risti kebingungan. Sifat pelupa memang susah dihilangkan ya.
Risti turun kembali dan masuk ke kamar pembantu, Risti tidur di ranjang dan menarik selimutnya untuk segera tidur. Kasur, bantal dan guling di kamar pembantu tidak seempuk yang ada di kamar lantai 2 selimutnya pun tidak setebal yang Risti gunakan biasanya.
Tiba-tiba,
Hujan turun, membuat hawa dingin semakin menyeruak, Risti mencari-cari di lemari adakah selimut lagi, dia menemukan satu selimut yang sama persis dan langsung memakainya. Barulah Risti baru tidur.
***
Di kamar Vino,
Vino tidak bisa tidur karena tidak bisa berhenti memikirkan Risti yang tidur sendiri dia kamar pembantu, mengingat kasurnya yang sempit dan tidak ada rasa nyamannya sama sekali membuat Vino tambah khawatir, apalagi malam ini turun hujan pasti akan sangat dingin di sana.
sesaat kemudian,
Vino baru ingat kalau Risti tidurnya pasti gerak-gerak dan tidak bisa diam, selimut yang tadinya di atas kadang keesokan harinya bisa sampai bawah, Vino beranjak dari kasur, dia keluar kamar dan berjalan menuju lift.
Sesampainya di lantai satu Vino langsung membuka pintu kamar Risti, untungnya tidak dikunci, Vino mengedarkan pandanan ke seluruh ruangan dan melihat Risti yang sudah tidur, benar saja, selimutnya sudah turun sampai pinggang dan y
tubuh Risti menggigil.
Vino menaikkan selimut lagi agar Risti tidak kedinginan,
Apa tidur di sini saja, sekalian. (Batin Vino)
Vino akhirnya ikut tidur di kasur Risti, rasanya sempit tidak seluas kasur atas, saat naik ke ranjang untungnya Risti tidak terbangun, Vino tidur di samping Risti, beberapa menit kemudian Risti bergerak-gerak dan berbalik badan memeluk tubuh Vino.
Dasar, katanya marah eh peluk-peluk. (Batin Vino)
Vino pun segera tidur.
***
Keesokan harinya,
Risti bangun pukul 06.00, tidurnya semalam nyenyak sekali, Vino juga sudah kembali ke kamar Subuh tadi jadi Risti tidak mengetahui kalau dia tidur bersama Vino tadi malam.
Risti beranjak dari kasur dan berjalan ke arah kamar mandi, dia menarik handuk yang berada di gantungan depan kamar mandi,
25 menit kemudian,
Risti selesai mandi, dia mencari baju ganti yang telah dia lipat semalam, dan ternyata...
“Loh, kok nggak ada celana dalamnya sih,” gumam Risti bingung.
“Ehh iya, kan kemarin yang kubawa kesini cuma baju dan rok serta celana doang, Astaghfirullah celana dalamnya masih di kamar atas,” kata Risti saat berhasil mengingat.
“Nanti aja deh ganti bajunya, nunggu mas Vino berangkat,” gumam Risti. Risti mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum berganti baju, Risti tau jam segini pasti Vino belum berangkat jadi dia memilih untuk berganti baju nanti agar bisa mengambil celana dalam yang ada di almari atas.
“Ehh, kok bulan ini belum datang ta tamunya,” gumam Risti.
Biasanya tanggal 20 tamu bulanan Risti sudah datang tapi ini sudah tanggal 27 tamu bulanannya tidak kunjung datang.
“Yasudah tunggu saja,” kata Risti santai.
Setelah mendengar sura mobil yang keluar dari area rumah, Risti segera naik ke lantai 2 untuk mengambil semua celana dalam, yaa tidak semua mungkin hanya setengah, jika dibawa semua butuh satu koper besar untuk menempatkannya.
Risti membuka almari dan mengambil celana dalam berwarna biru, hitam, merah muda dan juga ungu. Setelah itu Risti kembali lagi ke bawah, untungnya Vino tidak kembali lagi ke rumah.
Setelah berganti pakaian Risti berniat memasak ke dapur, ternyata saat membuka kulkas isi kulkas kosong melompong dan hanya ada telur saja.
“Hmm? sudah habis semua kah bahan makanannya?” gumam Risti.
Untungnya setiap jam segini selalu ada sayur yang lewat di depan rumah, Risti segera keluar, saat sampai di gerbang dia kembali lagi ke dalam, lupa membawa uang.
Risti menunggu tukang sayur kurang lebih 20 menit lamanya,
“Pak, sayur,” panggil Risti. Tukang sayur tersebut langsung menghampiri Risti.
“Loh, mbak orang baru ya di sini?” tanya bapak-bapak penjual sayur.
“Bukan pak, saya sudah 3 minggu berada di sini,” jawab Risti.
“Ohh, pasti jarang keluar, soalnya saya baru kali ini liat mbak,” kata penjual sayur.
“Emm...hehehe iya.” Risti memilih sayuran, semua sayuran terlihat segar, Risti membeli tempe, sop-sopan, daging ayam, cabai, bawang merah, bawang putih, penyedap rasa, garam halus, dan juga dia membeli sebuah makanan tradisional bernama getuk.
“Ini berapa pak totalnya?” tanya Risti. Penjual sayur tersebut langsung menghitung semua belanjaan Risti.
“Ini 45 mbak,” kata penjual sayur tersebut. Risti menyodorkan uang kertas satu lembar berwarna biru.
“Kembaliannya ambil saja ya pak,” kata Risti
“Makasih mbak, ini buat mbak, gratis.” penjual sayur memberi 2 buah susu kedelai yang ditempatkan di wadah plastik es lilin.
“Makasih pak,” Risti pun kembali ke dalam.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🌺
Jangan ragu untuk berkomentar:v
Jangan lupa juga tap tombol favorite biar nggak ketinggalan di setiap up bab barunya.
Tbc.