Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #22
"Viola, dengarkan aku, mulai sekarang belajar lah untuk mencintai Zehan dan jangan ucapkan kata-kata seperti tadi, kau mengerti?" kata Pandu di sebrang telpon.
"Kenapa kak? Kenapa sepertinya ada hal yang tidak aku ketahui dari ucapan mu itu? Kau sangat membela nya, apakah karena dia sahabat mu?" ucap Viola mencurigai kakak nya.
"Ah tidak, aku tutup telpon nya terlebih dahulu, ada pekerjaan yang belum ku selesai kan," Pandu pun mematikan telpon tersebut secara sepihak.
Tut ...
Tut ...
Tut ...
Call off
"Aishhh, menyebalkan sekali kak Pandu," ucap Viola ngedumel karena ia benar-benar kebingungan dengan papa dan kakak nya yang selalu ingin dirinya dan Zehan berhubungan baik.
Sementara itu ...
"Ada apa pak?" ucap Monica kepada Pandu yang saat itu memegang kepala nya yang terasa pusing.
"Tidak ada apa-apa, lanjutkan pekerjaan mu," ucap Pandu sambil mengusap kasar wajah nya dengan kedua tangan.
"Baik pak," ucap Monica yang kemudian berlalu pergi.
"Bagaimana caranya aku menjelaskan kepada Viola kalau Zehan sudah begitu lama mencintai nya, tak sedikit yang di lakukan Zehan untuk Viola yang sampai saat ini aku sendiri tidak bisa menceritakan nya satu persatu kepada Viola karena aku benar-benar tidak diijinkan oleh Zehan," kata Pandu sambil berdiri di jendela ruang kerja nya sambil menatap hiruk pikuk kendaraan yang tampak seperti semut dari kejauhan.
Dua hari kemudian ...
"Kak Zehan kau mau bawa aku ke mana? Apakah kita akan kembali ke mansion papa?" tanya Viola yang saat ini berada di dalam mobil bersama Zehan dan Erik yang menjadi sopir mereka.
"Bisakah kau diam dan tidak banyak tanya? Ikut saja," ucap Zehan lagi.
"Astaga tuan muda, jika sehari-hari kau bicara dengan nada seperti itu kepada nyonya muda, bagaimana dia akan jatuh cinta kepada mu?" batin Erik yang menyimak perbincangan majikan nya di belakang.
"Kan hanya bertanya, apa salahnya, dasar laki-laki ..." Viola menghentikan ucapan nya saat Zehan menatap ke arah nya.
"Laki-laki apa hmm? Ayo teruskan ucapan mu," omel Zehan.
Viola seketika terdiam, beberapa hari ini sejak dia tingal bersama dengan Zehan mereka lebih dekat satu sama lain, ya dekat, seperti anjing dan kucing, ucapan pun terkadang saling mengejek, kalau begini caranya malah bukan akan saling jatuh cinta, tapi saling jatuh dari tangga.
Namun itu terlihat lumayan lucu, Viola dan Zehan, Zehan baru berusia dua puluh lima tahun, sedangkan Viola berumur dua puluh dua tahun, dari segi apapun mereka terlihat cocok, keduanya memiliki visual yang luar biasa.
Namun jangan salah paham, sifat Zehan yang seperti itu hanya akan berlaku untuk istri nya jika dengan yang lain ia tetap lah seorang Zehan yang dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Tak lama kemudian mereka pun akhirnya tiba di tempat yang mereka tuju.
"Rumah sakit? Ini kan rumah sakit yang berada di bawah naungan keluarga Wijaya," batin Viola.
"Ayo turun," kata Zehan hendak mengendong Viola turun dari mobil.
"Tunggu, jangan sentuh aku," kata Viola wanti-wanti kepada sang suami.
"Hah? Jangan menyentuh mu? Lalu bagaimana kau akan turun?" Kata Zehan dengan tatapan kesal.
"Jawab dulu pertanyaan ku, apa yang akan kita lakukan di rumah sakit ini?" ucap Viola dengan tatapan khawatir.
Jujur saja sejak kejadian itu Viola trauma dengan hal-hal yang berbau rumah sakit, dia selalu membayangkan dirinya yang di dorong di atas berangkar dengan badan penuh luka dan darah.
"Itu nyonya, aku sudah menemukan dokter fisioterapi untuk membantu pemulihan kaki mu lebih cepat dari yang di ucapkan dokter," jelas Erik.
"Benarkah?" kata Viola sambil mengerutkan keningnya.
"Hmm," jawab Zehan sambil mengangguk kan kepala nya.
"Tidak aku tidak mau," ucap Viola refleks menyembunyikan kedua kakinya ke dalam dress panjang yang dia kenakan.
"Kenapa?" tanya Zehan dengan lembut. Dia melihat wajah takut istri nya itu dengan seksama.
"Mereka akan menusuk kaki ku, itu sakit, aku tidak mau," jelas Viola.
"Metode pengobatan nya memang seperti itu, jika kau tidak ingin berjalan, kau boleh tidak mengobati nya, apa salahnya kita mencoba, bagaimana kalau hanya pemeriksaan saja?" ucap Zehan lagi sambil memegang tangan Viola.
Viola terdiam sambil menatap wajah Zehan, dia merasakan hangat nya genggaman tangan suaminya itu, untuk yang pertama kalinya.
"Apakah dia melakukan nya karena dia malu memiliki istri lumpuh seperti ku? Benar, dia melakukan ini semata-mata untuk dirinya sendiri karena dia seorang yang terkenal di kalangan publik, bagaimana mungkin dia membiarkan aku mempermalukan nya," batin Viola asal menebak.
"Ayolah, hanya pemeriksaan," jelas Zehan lagi.
Viola yang tak bisa menolak lagi, hanya mendudukkan kepala nya dan kemudian mengangguk kecil.
"Boleh aku mengendong mu?" kata Zehan meminta ijin.
"Ya," jawab Viola singkat.
Zehan tersenyum tipis dan kemudian mengendong Viola lalu meletakkan nya di kursi roda dan segera mendorong nya masuk ke dalam rumah sakit besar nan megah itu.
"Tuan muda sangat lembut, ternyata dia juga bisa tersenyum, tapi sepertinya hanya nyonya yang bisa merasakan itu, sudah lama sejak mama nya meninggal tuan muda tidak pernah terlihat mengulas senyum," ucap Erik yang kemudian mengikuti dari belakang.
Sementara itu di sisi lain ...
Di rumah sakit yang sama, Wijaya hospital.
"Bagaimana keadaan nya dok? Sudah dua hari apakah sudah boleh pulang?" tanya Liam kepada seorang dokter yang biasanya dia lah yang merawat penyakit Laura.
"Baru ini sudah bisa pak Liam, oh ya saya sarankan jangan memicu kambuh nya penyakit jantung bawaan nona Laura, kasian dia, dia sudah sangat banyak menderita," kata dokter tersebut sambil menatap Laura yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Ya, aku tau, terima kasih banyak," ucap Liam yang sebenarnya sangat memikirkan Viola, namun dia juga tidak bisa meninggalkan Laura.
"Kalau begitu aku tinggal dulu," kata sang dokter yang kemudian berlalu pergi.
"Kak Liam, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku tidak punya siapa-siapa," lirih Laura dengan memasang wajah sedih.
"Laura, aku minta maaf aku ..."
Drrrrt ...
Drrrrt ...
Drrrrt ...
Liam menghentikan kalimat nya setelah merasakan ponsel yang ada di saku celana nya bergetar hebat.
"Laura, aku keluar dulu, seseorang menelpon ku," ucap Liam yang kemudian berlalu pergi dari ruangan tersebut.
"Ah sial, siapa lagi yang memgaggu?" ucap Laura sambil mengepalkan tangannya emosi.
Sementara itu, Zehan dan Viola baru saja melewati ruangan tersebut.
"Kenapa rasanya wanita itu tidak asing meskipun terlihat dari belakang? Bukan kah itu tuan muda Zehan? Dia ada di rumah sakit ini dan bersama seorang wanita?" ucap Liam yang melihat Viola dari belakang nya saja karena mereka tidak berpapasan.
Jujur saja dia sangat penasaran, namun telpon nya sama sekali tidak berhenti berdering, ia pun melupakan hal tersebut dan pergi untuk mengangkat telpon.
Sementara itu di sebuah ruangan.
Dingin, bau obat-obatan menyengat di kedua hidung Viola, ruangan yang bernuansa putih itu sangat menakutkan bagi nya, tetapi dia terpaksa harus menahan hal tersebut.
"Dokter kau bisa memeriksa nya sekarang," kata Zehan kepada seorang dokter berambut panjang yang mereka semua pikir adalah seorang perempuan.
"Tunggu sebentar," kata nya berbalik dan menatap ke arah Zehan dan Viola.
Seketika Zehan mengerutkan keningnya, dia tau sekarang kalau Erik telah membohongi dirinya.
"Apa-apaan ini? Kenapa kau?" ucap Zehan marah.
"Kenapa bukan aku? Di sini akulah dokter fisioterapi, oh ya, tolong jangan salahkan Erik, dia juga di tipu oleh ku," jelas laki-laki tersebut.
Dia lumayan tampan, namun rambut nya sedikit panjang, dia adalah Doha.
Ya, namanya Doha dan dia adalah sepupunya Zehan yang bekerja di rumah sakit Wijaya hospital.
"Kalau tidak begitu bagaimana aku bisa melihat mu membawa istri mu yang cantik kepada ku, iya kan sepupu?" ucap Doha dengan senyum tipis nya.
"Kalian?" ucap Viola menatap Pandu dan Doha Seca bergantian.
"Hay adik ipar, perkenalkan, aku adalah dokter fisioterapi mu mulai sekarang, dan namaku Doha, aku sepupunya Zehan," ucap Doha dengan santai.
"Jangan menyentuh nya," kata Zehan penepis tangan Doha dari hadapan Viola.
Seketika Viola kebingungan dengan dua orang ini, sepupuan tapi terlibat seperti musuh bebuyutan.
"Viola, sepertinya kau tidak perlu berobat, aku tidak masalah jika kau tidak bisa berjalan, ayo kita pulang," tak perlu banyak basa-basi, Zehan pun segera membawa sang istri pergi dari sana.
"Tuan muda, kenapa begitu cepat?" tanya Erik yang menunggu di luar.
"Pulang!" ucap Zehan dengan suara besar.
Viola yang duduk di kursi roda bahkan sampai terkejut.
Sementara itu Erik sudah menebak kalau ini pasti kesalahan nya.
Tiga puluh menit kemudian.
"Bodoh, bisa-bisa nya kau di tipu oleh Doha," umpat Zehan di dalam mobil.
"Tuan muda aku mana tau kalau dokter itu adalah tuan muda Doha, aku hanya mendapatkan informasi kalau seorang dokter fisioterapi di rumah sakit Wijaya hospital telah di ganti dan dia perempuan," jelas Erik sambil mengemudi mobil.
Sementara Viola hanya diam mendengarkan perdebatan itu.
"Kau seharusnya menyelidiki lebih dalam, membuat ku kesal saja," kata Zehan tak terkendali.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah.
Zehan turun dari mobil dan meninggalkan Erik dan Viola.
"Erik, bisakah aku mendapatkan penjelasan? Kenapa dia semarah itu? Bukan kah kah lebih baik kalau aku di tangani saudara nya?" tanya Viola kepada Erik.
"Aduh nyonya, aku bingung bagaimana harus menjelaskan nya, mereka memang sepupuan, namun hubungan antara tuan muda Zehan dan tuan muda Doha tidak sebaik itu," jawab Erik.
"Karena?" Viola semakin penasaran.
"Karena, jika tuan muda Zehan di kenal sebagai seorang laki-laki yang anti dengan perempuan, tuan muda Doha malah sebaliknya, dia play boy," lanjut Erik.
"Hah? Bukan kah dia seorang dokter?" lanjut Viola yang tiba-tiba akrab dengan Erik.
"Ya, dia memang seorang dokter, tapi sangat sembrono, tak jarang dia mendapatkan komplain dari pasien, namun rumah sakit tidak bisa memecat dia karena dia adalah bagian dari keluarga Kusuma," jelas Erik secara detail.
Viola pun mengerti kenapa Zehan terlihat sangat kesal dengan Doha, mereka bahkan tidak jadi melangsungkan pengobatan.
****
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin