NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memorable 22

Owen bersama Mark memeriksa kembali data pasien yang sudah selesai dioperasi olehnya. Syukurnya semua baik-baik saja. Setelah mereka selesai memeriksa pasien, Owen kembali ke ruangannya. 

“Dokter Owen,” 

Owen menoleh saat mendengar namanya dipanggil, sambil menghentikan langkahnya. 

“Ada apa  Dokter Kresya?” tanya Owen, yang kembali meneruskan langkahnya. 

Kresya pun, mengikuti langkah Owen dan berjalan di sebelahnya. “Tidak ada apa-apa, Dokter. Hanya saja ada hal yang ingin saya tanyakan,” jawab Kresya. 

Owen menaikkan satu alisnya. “Mengenai apa? Apakah ada salah satu pasien yang bermasalah?” 

Kresya menggeleng cepat, “Tidak. Ini tidak ada hubungannya dengan pasien, tapi aku ingin bertanya mengenai…” 

Owen menghentikan langkahnya, membuat Kresya terkejut. Kemudian Owen menoleh ke samping dan menatap dingin pada Kresya. 

“Mengenai apa, Dokter?” 

Kresya menelan salivanya, sambil menggigit bibir dalamnya. “Eum, s-saya hanya ingin bertanya tentang wanita yang datang bersama Nyonya Rania. A-apakah benar wanita itu calon istri Anda, Dokter?” akhirnya Kresya memberanikan diri untuk membenarkan kabar dan ucapan Rania tentang Janice. 

Owen menatap dingin pada Kresya, sambil melipat kedua tangannya didepan dada. 

“Apakah selain menangani pasien, pekerjaan Anda juga menangani hal  pribadi seseorang, Dokter Kresya?” tanya Owen yang begitu menohok hati Kresya. 

Kresya menjadi salah tingkah, matanya melirik kanan dan kiri. Ada beberapa keluarga pasien dan ners yang lewat sambil menoleh ke arahnya. 

“Bu-bukan seperti itu, Dokter. S-saya minta maaf karena sudah bertanya hal pribadi Anda,” kata Kresya, merutuki dirinya. 

Owen melirik jam tangannya. “Jika tidak ada hal penting sebaiknya Anda kembali bekerja, Dokter Kresya. Saya yakin banyak pasien anda yang sedang menunggu,” ucap Owen, sedikit menyindir Kresya. 

Kresya mengangguk, dan memilih segera pergi tanpa berkata lagi. Sementara Owen pun kembali berjalan menuju ruangannya.  

Kresya berjalan dengan wajah kesal. Bahkan saat membuka pintu ruangannya pun terlihat kasar. 

Di ruangan Owen, pria itu segera duduk dan kembali memeriksa data dan laporan beberapa pasien yang sudah pernah ditanganinya. Dia juga harus membuat laporan mengenai hasil operasi yang tadi siang dia kerjakan. 

Pintu ruangan Owen diketuk, dan muncullah Mark sambil membawa laporan pasien. Owen menerimanya dan memeriksa sebentar. 

“Hei, Owen.” Mark memanggil Owen tanpa embel dokter di depannya, karena itu  permintaan Owen saat mereka berdua hanya panggil nama saja. 

“Hmm,” jawab Owen yang masih fokus pada laporan yang baruan Mark berikan. 

Mark yang duduk di depan Owen mencondongkan tubuhnya. “Benarkah wanita yang datang tadi siang itu calon istrimu?” 

Owen menghentikan membaca laporan tersebut, dan menatap tajam pada Mark. Bahkan Owen menutup map berisi laporan pasien dengan cukup kasar, lalu menaruhnya ke atas meja. 

“Ada apa? Apa kau juga sangat ingin tahu hal pribadiku seperti Dokter Kresya?” tanya Owen, sambil membenarkan kacamatanya. 

Mark tercengang mendengar pertanyaan Owen. Dia langsung menggeleng cepat, dan memasang wajah bingung. 

“Apakah Dokter Kresya bertanya hal yang sama sepertiku?” tanya Mark yang dibalas anggukan oleh Owen. 

Mark menyandarkan punggungnya pada bagian atas kursi. “Wah… ternyata dia kepo juga, ya.” Mark nampak berpikir sejenak. “Tapi, Owen…” Mark kembali memajukan tubuhnya. 

“Aku seperti pernah melihat calon istrimu itu. Tapi dimana ya?” Mark mengerutkan alisnya, wajahnya begitu serius mengenang momen saat pernah bertemu Janice di suatu tempat. 

Owen memejamkan matanya, sambil mendesah pelan. “Mungkin saja itu orang lain, yang kebetulan mirip dengannya. Sebab calon istriku itu baru satu bulan tinggal  di negara ini,” kata Owen, sambil menggeleng pelan. 

Mark masih berpikir keras, lalu berdecak pelan. “Hmm, mungkin saja. Tapi, entah mengapa firasatku ini mengatakan kalau aku benar-benar pernah melihatnya,” ujar Mark. 

Owen mendesah kasar. “Sudahlah. Lebih baik kamu urus pasien saja. Mengapa malah mengurusi calon istriku. Apa ini alasan mengapa saat tadi kita makan siang, kau terus memperhatikan tunanganku?” Owen menatap penuh selidik pada Mark. 

Wajah Mark berubah panik, seperti maling yang tertangkap basah. “Eum.. eh.. kau jangan salah paham padaku, Owen. Aku hanya…” 

“Iya, iya, aku tahu. Kau hanya merasa pernah melihatnya saja,” potong Owen, sambil manggut-manggut. “Tapi, aku peringatkan kepadamu untuk tidak melakukan hal itu lagi pada calon istriku,” kata Owen, seperti sebuah peringatan untuk dirinya. 

Sementara itu, Janice dan Rania baru saja tiba di rumah keluarga Wister. Rania mengajak Janice masuk dan memperkenalkan Janice sebagai calon nona muda di keluarga mereka kepada para pelayan yang ada di sana. 

Kemudian Rania mengajak Janice untuk beristirahat di dalam kamar Owen. Awalnya Janice menolak dan meminta untuk tidur di kamar tamu saja. Namun, Rania berkata kalau kamar tamu belum sempat dibersihkan.

Janice pun, memilih mengalah dan menuruti ucapan Rania untuk segera ke kamar Owen bersama wanita itu. 

“Inilah kamar calon suamimu,” kata Rania, sambil tersenyum menggoda pada Janice. 

Janice tersenyum dan ikut masuk ke dalam menyusul Rania. Hal pertama yang dilihat Janice adalah kamar tersebut terlihat sangat bersih dan wangi. Janice dapat merasakan parfum Owen begitu melekat di dalam kamar ini. 

“Istirahatlah. Mama tahu kamu pasti lelah,” ucap Rania, yang dibalas anggukan oleh Janice. 

“Terima kasih, Ma,” 

Rania tersenyum dan mengangguk. “Dengan senang hati, sayang.” Rania menjawab sambil mengusap pipi Janice. 

“Mama tinggal ke kamar dulu,” kata Rania kembali. 

Rania berbalik badan dan berjalan meninggalkan Janice sendirian di kamar sang putra. Sepeninggalnya Rania dari kamar Owen, Janice pun melihat ke sekeliling kamar Owen. Memperhatikan, sambil melihat beberapa foto dalam bingkai yang tertata rapi. Tidak banyak, namun membuat Janice tersenyum. 

Ada satu foto yang membuat Janice menurunkan senyumnya. Sebuah foto yang mengingatkan dirinya dengan sosok pria yang pernah memberi luka dalam hidupnya. Janice segera mengalihkan pandangannya saat dia kembali mengingat pria itu. Dalam foto tersebut terdapat Owen bersama ketiga sahabatnya, yaitu Stendy, Yohan, dan Rodez. Foto di mana mereka berkumpul di belakang sekolah, karena di foto tersebut Owen dan lainnya sedang mengenakan seragam sekolah. Janice sangat mengenal tempat tersebut. Sebab dia juga sering datang menemui Stendy, untuk memberi makanan atau minuman pada pria itu. 

Janice mendesah pelan, dan berbalik badan. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan masa lalu. Tubuhnya terasa lelah, dia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur Owen. Saat hendak memejamkan matanya, Janice kembali membuka mata saat dia merasakan parfum yang dipakai Owen tercium. Ada rasa yang entah mengapa mulai menggelitik hati Janice. Dia menggigit bibir bawah bagian dalamnya, sambil meremas ujung bantal tersebut. 

“Lama-lama aku bisa gila,” gumam Janice sambil menggelengkan kepalanya. 

Janice memejamkan matanya kembali, dan berusaha untuk tertidur. Sampai beberapa menit berlalu, akhirnya dia pun terlelap dalam mimpinya. 

Menjelang malam, Janice duduk di ruang tamu yang nyaman, dengan pemandangan taman yang indah di luar jendela. Dia merasa sangat beruntung karena masih dikelilingi orang baik seperti keluarga Owen, berkat ajakan Rania, dia bisa lebih mengenal keluarga Wister. Rania dikenal Janice adalah sosok mama yang sangat ramah dan baik kepadanya. 

Kedua orang tua Janice sedang berada di luar negeri, dan Rania memutuskan untuk mengajak Janice menginap di rumah mereka. Owen, yang baru pulang kerja, sangat terkejut ketika melihat Janice di ruang tamu, duduk di sebelah mama dan papa-nya.

"Owen, kamu pulang! Mama tidak tahu kamu sudah pulang," kata Rania, sambil tersenyum.

Owen tersenyum dan mengangguk, "Ya, aku baru pulang. Halo, Janice."

Janice tersenyum dan melambai, "Halo."

Owen duduk di sebelah Janice, dan mereka berbincang tentang hari mereka. Owen bercerita mengapa dirinya baru pulang jam 7 malam. Karena ada pasien darurat yang membutuhkan penanganan dokter bedah. Seketika Janice merasa kagum pada Owen, begitu bekerja keras dan sangat memperdulikan pasiennya.  Dia juga merasa sangat nyaman dengan keluarga Owen, dan Owen sendiri tidak bisa tidak merasa tertarik dengan kehadiran Janice. Pria itu benar-benar sangat senang duduk dan berbincang hangat bersama calon jodohnya itu. Bahkan rasa lelah setelah berjibaku di ruang operasi, menghilang begitu saja ketika melihat Janice tersenyum. 

Namun, Rania tiba-tiba ingat bahwa kamar tamu belum sempat dibersihkan karena masih dalam perbaikan di kamar mandinya. Rania lupa memberitahukan Janice akan ham itu. "Oh, maaf ya, Janice. Kamar tamu kita belum siap. Kamar mandinya sedang diperbaiki. Untuk sementara kamu tidur di kamar Owen saja," katanya, dengan wajah yang memohon maaf.

Janice terdiam, namun dia segera menoleh ke arah Owen. Sedangkan Owen sendiri malah tersenyum dan mengangguk. 

“Aku bisa tidur di kamar Hansel,” kata Owen yang paham dengan isi pikiran Janice. 

“Iya, Kak Owen bisa tidur bersamaku. Atau Kak Janice mau tidur bersamaku? Awwww…!” 

Owen langsung melempar bantal sofa pada Hansel. Matanya juga melotot tajam. Hansel pun tak mau kalah, pemuda itn juga membalas tatapan Owen dengan melotot juga. Leo dan Rania hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan dua anaknya. 

“Maaf, ya, Janice. Hansel memang suka asal bicara saja. Memang anak Papa satu ini otaknya agak…” Leo memutar jarinya di samping kepalanya. Seakan mengatakan, kalau Hansel agak aneh.

Hansel yang melihat itu pun, langsung mengerucutkan bibirnya. “Jangan dengarkan Papa, Kak Janice. Aku begini juga ‘kan karena Papa yang mengajarkan,” 

Leo melotot mendengar ucapan Hansel. “Hei, bocah!” protes Leo yang langsung dibalas gelak tawa dari Hansel. 

“Memang Papa yang mengajarkan aku menggombal. Setiap hari aku selalu mendengar Papa gombalin Mama terus. Aku hampir mau muntah mendengar gombalan Papa,” kata Hansel yang membuat Leo dan Rania terkejut, sementara Owen dan Janice menahan tawa mereka. 

“Gimana aku bisa tidur kalau sampai tengah malam begini, kamu masih aja nongkrong di pikiranku,” kata Hansel menirukan ucapan Leo saat menggombali Rania. 

“Cintaku padamu seperti utang. Awalnya kecil, didiemin, tahu-tahu berbunga gede. Hahahaha…” Hansel kembali menggoda kedua orang tuanya. 

Owen dan Janice sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Sementara yang digoda malah senyum-senyum malu. Rania mencubit pinggang Leo, membuat pria itu meringis. 

“Papa, sih! Mama ‘kan jadi malu,” keluh Rania, wajahnya terlihat merah menahan malu. 

Leo pun, ikut terkekeh. “Biarkan saja, Ma. Biar mereka tahu kalau cinta Papa itu tidak akan pernah padam sampai maut memisahkan kita,” ujar Leo, yang disambut tawa oleh Owen, Hansel dan Janice. 

Owen tiba-tiba berdiri, "Aku akan menunjukkan kamu ke kamarku, Janice. Kamu bisa tidur di sana."

“Kak Janice sudah tahu kamarmu, Kak. Tadi siang Kak Janice sudah tidur di sana,” celetuk Hansel, yang membuat Owen terkejut. 

Owen pun, langsung menoleh dan mendapatkan senyum serta anggukan dari Janice. Janice tersenyum dan mengangguk, “Maaf, ya.” 

Owen segera menggeleng. “Tidak apa, santai saja.” Owen tersenyum. 

Kemudian Owen pamit ke kamar untuk berganti pakaian. Selang sepuluh menit salah satu pelayan keluarga Wister, mengatakan kalau makan malam sudah siap. Rania pun, mengajak semuanya untuk makan. Namun, Owen belum juga turun kebawah. Janice menawarkan diri untuk memanggil Owen. 

Janice berjalan menuju lantai dua, untuk ke kamar Owen. Saat hendak mengetuk, dia merasa seperti dejavu. Janice terdiam sejenak, nafasnya kembali berburu. Seolah memori saat dirinya memanggil Stendy dan berujung pria itu memaki dirinya. 

Tubuh Janice sedikit bergetar, dia pun memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya. Tanpa Janice ketahui pintu kamar Owen terbuka, dan membuat pria itu terkejut melihat Janice yang sudah berdiri dengan mata memejam dan tubuh terlihat bergetar. 

“Janice,” panggil Owen, namun wanita itu belum merespon. 

Owen lebih mendekat ke arah Janice, dan memperhatikan apa yang terjadi pada wanita itu. 

“Hei, Janice!” sentak Owen.

Janice tersentak, wajahnya terlihat panik, dan juga gelisah. Sepertinya wanita itu sangat takut. Owen yang melihat Janice sedang tidak baik-baik saja pun, akhirnya membawa wanita itu ke dalam pelukannya.

“Tenanglah. Aku disini,” bisik Owen, sambil mengusap punggung wanita itu. 

“Aku akan selalu ada untukmu,  melindungi, dan menjagamu.” Owen berusaha kembali memenangkan Janice. 

Mendengar suara Owen nyatanya mampu menenangkan hati Janice. Perlahan nafasnya mulai teratur, dan dia sudah bisa menghilangkan rasa panik dan takutnya. 

“Kak,” lirih Janice. 

Owen merenggangkan pelukannya dan menatap dalam mata Janice. “Ada apa.  Mengapa kamu seperti orang ketakutan? Apa terjadi sesuatu?” tanya Owen yang terlihat begitu khawatir. 

Janice tertegun melihat wajah Owen yang  begitu panik akan kondisinya saat ini. Janice mengerjapkan matanya, dan tersenyum kecil. 

“Aku tidak apa-apa. Justru aku ingin minta maaf padamu, karena aku sudah lancang menghampiri ke kamar. Aku juga minta maaf karena tadi siang sudah memakai kamarmu untuk istirahat,” kata Janice yang masih sangat merasa bersalah.

Owen mengerutkan alisnya, apa yang dikatakan Janice membuatnya semakin merasa bahwa wanita di hadapannya ini sedang menyimpan sesuatu yang mungkin itu sebuah trauma. Namun, Owen tidak ingin memaksa Janice untuk bercerita lebih padanya. 

Owen tersenyum, tangannya terulur mengusap kepala Janice dengan lembut. “Mengapa harus minta maaf, hmm?” Owen memajukan sedikit wajahnya. 

Janice dapat lihat dengan jelas wajah tampan Owen dengan sangat dekat. Janice menggeleng cepat. 

“A-aku tidak mau kamu memarahiku karena tidak suka area pribadimu di masuki orang lain. Maka dari itu a-aku minta maaf padamu,” jawab Janice, dengan terbata-bata. 

Owen mengerutkan kembali alisnya. Kini Owen paham, mengapa Janice merasa takut, panik, dan merasa bersalah. Mungkin ini ada sangkut pautnya dengan Stendy. Sebab Owen sangat tahu kalau sejak dahulu Stendy selalu berlaku kasar dan bersikap dingin pada Janice. Bahkan Stendy tidak segan-segan memarahi janice di hadapan Owen dan yang lainnya. 

Owen mendesah kasar, sambil membenarkan posisi kacamatanya. Kedua tangannya menggenggam jemari Janice, dan berkata begitu lembut dan terasa hangat. 

“Mengapa kamu berpikir seperti itu kepadaku? Aku tidak pernah menganggapmu orang lain. Kamu adalah calon istriku, dan akan menjadi istriku setelah kita menikah nanti.  Kamu berhak atas apa yang aku miliki. Termasuk kamarku saat ini, kamu berhak memiliki segalanya yang aku miliki. Bahkan hartaku pun, akan menjadi milikmu.” 

Janice semakin tertegun mendengar ucapan Owen. Dulu Stendy tidak pernah mengatakan hal seperti Owen. Bahkan setelah bertunangan dan tinggal bersama pria itu, Janice hanya diberikan uang sebesar 2.097 Yuan. Janice juga tidak diperbolehkan memakai mobil milik Stendy. Jika pun, Janice ingin pergi maka Stendy meminta Rodez yang mengantarkan Janice. 

Tanpa sadar Janice mulai membanding-bandingkan sikap Stendy dan Owen. Benar-benar sangat berbanding terbalik. Stendy yang lama dikenal Janice selalu bersikap dingin dan kasar padanya, sementara Owen yang dikenalnya selalu bersikap dingin kepadanya nyatanya bersikap lembut dan hangat saat mereka sedang berdua. 

“Owen, Janice,” 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!