Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
"Shela?" Gadis itu berbicara dengan nada gugup, meski tanpa riasan dia masih bisa mengenali jika gadis yang menolongnya adalah Shela. Ia melihat Shela dari bawah hingga atas, penampilan gadis itu benar-benar berubah.
Dia Shela, gadis yang suka membully di sekolahnya. Ia sempat mendengar jika gadis itu telah berubah bak Dewi dan tidak lagi menganggu Marvin, laki-laki yang gadis itu sukai. Ia tidak percaya karena sudah beberapa kali dia menjadi korban bullying gadis itu, hingga ia melihatnya secara langsung perubahan gadis itu sekarang.
Dulu, Shela selalu membully-nya dengan alasan dia tak sengaja menatap kagum kenarah Marvin ketika laki-laki itu bertanding basket di lapangan sekolahnya. Ya memang segila itu Shela dulu, terakhir kali dia dibully di gudang sampai dia pingsan dan ditemukan oleh Dion, si ketua OSIS.
Shela terlihat benar-benar berubah, gadis itu tidak lagi memakai pakaian terbuka, penampilannya sekarang terlihat seperti gadis tomboy. Riasan tebal kini tidak lagi menempel di wajah gadis itu, sekarang dia terlihat cantik natural. Belum lagi kemampuan gadis itu bela diri, benar-benar membuatnya tak menyangka jika yang ada dihadapannya kekarang ini adalah Shela.
Shela mengerutkan keningnya, rasa kebingungan terpancar dari gerak alisnya saat melihat gadis yang baru saja ia tolong itu menatapnya dengan mata terbelalak penuh ketakutan. "Ada apa?" desak Shela dengan nada yang lebih tinggi, menambah tekanan pada situasi yang sudah tegang.
Gadis itu buru-buru menyembunyikan wajahnya, napasnya tercekat seakan ada benang kusut di dadanya yang menghalangi udara masuk. Tubuhnya menggigil, menahan rasa takut yang nyata. Setelah sesaat, dengan suara bergetar ia berbisik, "Terima kasih, Shela... kamu sudah menyelamatkanku. Andai kamu tidak ada, aku tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada diriku di tangan para preman itu," katanya, suara semakin pelan seiring ia menatap lurus ke mata Shela.
Shela merasa alisnya bertaut semakin dalam, pertanyaan menggantung di udara, 'Mengapa gadis yang ia tolong ini mengenalinya?' Tidak mungkin dia sepopuler itu. Kebingungan memenuhi pikirannya, hingga secercah ingatan menyambar pikirannya. Dia tersentak. Oh, Tuhan! Gadis di hadapannya ini adalah korban bullying yang pernah ia lakukan karena cemburu buta. "Sialan!" gumamnya dalam hati, malu membuncah di setiap lekuk wajahnya, tubuhnya bergidik mengingat perbuatannya yang keji itu. Shela merasa seolah tengah terjerumus ke dalam sumur penyesalan yang dalam, tidak tahu bagaimana harus mengangkat wajah di hadapan gadis yang pernah ia sakiti.
Di tengah keremangan malam, rasa bersalah yang mencekam merasuk ke dalam hati Shela. Tindakannya yang kejam terhadap gadis tersebut tanpa alasan yang jelas membuatnya tersiksa. Mendadak, Shela menepuk pundak gadis itu dengan gerakan yang lambat, seolah-olah tiap sentuhannya mencoba menebus dosa. "Sama-sama, gak perlu takut lagi. Lo udah aman," bisik Shela dengan suara yang lembut, namun matanya tetap menatap lurus, datar, menahan badai emosi yang hendak meledak.
Gadis itu, terkejut, namun di matanya mulai tumbuh benih harapan. Mungkinkah Shela berubah, akan berhenti menyiksa? Di hati kecilnya, gadis itu berdoa agar itu benar terjadi. Ia mendongak, menatap Shela yang berkata, "Wajah lo memar, kita obatin dulu."
Gadis itu terkejut untuk kesekian kalinya. Belas kasih dari Shela, seorang yang baru saja berperilaku kejam kepadanya, terasa seperti tetes embun di tengah padang pasir. Namun Shela hanya berdecak, terganggu oleh reaksi gadis itu yang terlihat berlebihan di matanya. “Ikut gue,” kata Shela sambil menarik tangan gadis itu dengan kuat, menuntunnya menuju seberang jalan.
Dengan langkah yang penuh ketegangan, mereka berdua melintasi gang gelap menuju sebuah apotek yang neon sign-nya meredup. Sampai di sana, Shela dengan tegas menyuruh gadis itu duduk di kursi yang tersedia di depan mini apotek tersebut. Atmosfer yang tadinya dingin dan menyedihkan, kini sedikit terasa hangat oleh sentuhan kemanusiaan yang tak terduga dari Shela.
"Lo tunggu di sini," ujar Shela, ia lalu masuk ke dalam minimarket itu untuk membeli salep untuk luka gadis itu. Tak lama kemudian Shela keluar dan menghampiri gadis itu.
"Nih, gunakan salep ini untuk luka lo," Shela menyerahkan salep yang telah dia beli dengan penuh perhatian. Lily terkejut, tak menyangka akan menerima perlakuan hangat sekaligus pengobatan dari orang yang pernah menjadi bayang-bayang kelam di masa lalunya.
"Duh, terima kasih banyak," Lily menggumam dengan ragu, pandangan matanya tidak berani bertemu langsung dengan Shela. Shela hanya mengangguk dengan lembut, duduk tepat di samping Lily. Ketegangan merambat di udara, Lily merasakan detak jantungnya berpacu, perasaan cemas dan haru bercampur jadi satu.
Ia menarik napas dalam, mencoba meredam gejolak dalam dadanya. "Tenang, Shela sudah berubah, tidak ada yang perlu ditakutkan," Lily meyakinkan diri sendiri dalam hati.
Shela memecah keheningan yang mulai membingungkan, "Nama lo siapa?"
"Eum, Lily," jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar, namun terasa berat dengan muatan perasaan yang mendalam. Walaupun ragu, ia mulai membuka lembaran baru, menghadapi bayangan masa lalu yang kini tampak ingin memperbaiki kesalahan.
Shela mengangguk, ia memperhatikan gadis itu yang sepertinya merasa tidak nyaman duduk di dekatnya. Shela paham, mungkin gadis itu masih merasa was-was, takut jika dirinya berbuat hal buruk.
"Oke Lily, gue minta maaf atas perlakuan buruk gue terhadap lo di masa lalu, gue sadar ko rasanya gak pantes gue dapat maaf dari lo setelah apa yang telah gue lakuin dulu, pasti hal itu jadi trauma tersendiri buat lo. Meski begitu gue akan tetap minta maaf, mau dimaafin atau gak, gak jadi masalah buat gue," ujar Shela tenang namun terdengar penuh penyesalan.
Lagi-lagi Lily dibuat terkejut dengan ucapan Shela. Selama ini dia tidak pernah mendengar seorang Shela meminta maaf pada siapapun. Bahkan ketika jelas gadis itu melakukan kesalahan, dia akan membuat alasan untuk mempertahankan keegoisannya.
Sungguh, malam ini Shela banyak dibuat terkejut oleh sikap Shela. Ternyata orang seperti Shela bisa berubah juga dan Lily merasa bersyukur dengan hal itu.
"Aku maafin kamu, bukan tanpa alasan aku yakin kamu memang bisa benar-benar menjadi lebih baik. Ternyata Tuhan sudah menjawab doa aku yang meminta kamu cepat di beri kesadaran. Selain sekali lagi aku mau berterima kasih karena udah nyelamatin aku dari preman-preman itu. Jujur aku juga agak terkejut waktu tau kamu berhasil ngalahin keempat preman itu,"ujar Lily.
"Sama-sama, jadi Lo udah maafin gue?" tanya Shela untuk memastikan.
Lily mengangguk dan tersenyum, menandakan jika gadis itu benar-benar telah memaafkannya.
" Makasih," ujar Shela tersenyum tipis.
Shela dan Lily sedikit berbincang-bincang mengenai kehidupan Lily yang cukup memprihatinkan. Tak lama Lily pamit karena tidak bisa meninggalkan adiknya terlalu lama di rumah sendirian.
Setelah mendengar keadaan Lily yang sebenernya membuat hati Shela terenyuh, dia tempat memberikan beberapa lembar uang pada Lily. Awalnya garis itu menolong dengan keras pemberiannya, tapi Shela sedikit memaksa gadis itu untuk menerima pemberiannya. Akhirnya gadis itu meu menerimanya.
Lily sangat berterimakasih pada Shela karena telah memberikannya sejumlah uang. Lalu Shela pamit untuk pulang.
Lily memperhatikan Shela yang mulai menjauh, hingga saat ia berbalik untuk pulang, dia melihat jam tangan Shela yang tertinggal di meja tempat mereka berbincang tadi.
Lily mengambil jam itu dan segera menyusul Shela yang sudah lumayan jauh.
Lily sedikit kesulitan menyusul Shela karena gadis itu berjalan sangat cepat, sehingga ia tertinggal cukup jauh. Meski begitu ia tegak memutuskan untuk mengembalikan jam Shela malam ini.
Lily berlari mengejar Shela sampai ke rumahnya. Ketika berada di depan pintu rumah Lily mendengar suara tamparan yang begitu keras juga bentakan.
Lily mematung dia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu rumah Shela begitu mendengar bentakan dari dalam rumah gadis itu.
"Dasar perempuan murahan! Di saat semua orang gak bisa tidur karena khawatirin lo, lo malah jual diri Lo?! Udah berapa cowok yang nidurin lo hah?!" suara kakak Shela bergema keras di lorong sempit rumah, setiap kata dilontarkannya dengan nada penuh penghakiman.
Lily, berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca. Dia tak pernah membayangkan kekejaman verbal semacam ini. Hati kecilnya teriris mendengar tuduhan yang kejam tersebut. Dia tahu kakak Shela selalu dingin dan tak peduli, tetapi tidak pernah membayangkan akan seserius ini.
Menyaksikan Shela, adik yang tak berdaya dituduh dan dihakimi karena alasan sesederhana terlambat pulang sungguh menyayat hati. Rasa bersalah Lily kian menguat, menyesal karena telah jadi alasan kepulangan Shela yang terlambat.
Dengan langkah gontai dan berat, Lily mundur perlahan. Hatinya hancur melihat Shela dalam situasi begitu pilu. Matanya masih menatap lantai ketika dia berbalik, meninggalkan rumah Pradipta yang seolah memancarkan aura yang menyesakkan. Dia ingin sekali membantu, tetapi ketakutan dan ketidakberdayaan mengikatnya erat. Dengan lirih, ia berbisik, “Shela, maaf... aku tidak bisa berbuat lebih.”