"Kalung Tuti dipinjam, sampai sekarang belum dikembalikan." Tanpa basa-basi, Sari membuka suara dengan nada tajam.
"Ohh... yang katanya dipinjam Hendra itu? Kenapa Ibu ngomongnya ke aku? Yang pinjam, 'kan, anak Ibu sendiri," jawab Indah, berusaha tenang.
"Kalau Hendra yang pinjam, kamu sebagai istrinya harus tanggung jawab, dong!"
Menikah dengan anak sulung yang jadi tulang punggung keluarga, Indah dibawa ke pelosok tanpa akses memadai, tanpa kamar pribadi, dan tanpa perlindungan.
Ibu mertuanya merasa Indah adalah saingan dalam merebut cinta sang anak.
Sementara Hendra—suami yang seharusnya jadi penengah—lebih sering diam, seolah tak mendengar luka yang dialami istrinya.
Mampukah Indah mempertahankan rumah tangganya sendirian? Atau haruskah ia menyerah pada keluarga yang tak pernah benar-benar menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Gara-gara Buku Silangan
Indah mencari ember plastik—tempat biasanya Hendra menaruh hasil tangkapan.
Tapi ember itu tengkurap di pojok dapur, seperti menyerah.
Kosong.
Tak ada belut. Tak ada ikan.
Indah menghela napas panjang.
“Sepertinya ikan pun ogah masuk bubu… karena yang masang lagi ngambek,” gumamnya pelan, sinis.
Ia memilih kembali ke ruang tengah. Mengayun Rayhan yang mulai menggeliat dalam ayunan.
Bocah itu tampaknya mimpi indah. Mungkin mimpi punya rumah dengan lantai ubin dan kamar mandi sendiri.
Setengah jam berlalu. Jemuran sudah diangkat.
Udara sore pelan-pelan berganti hawa dingin khas desa pinggiran.
Tiba-tiba, Hendra muncul, sepertinya habis mandi, hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.
Tubuhnya bukan seperti CEO dalam novel-novel roman picisan:
Tak ada sixpack mengilap atau dada bidang yang bikin pembaca histeris.
Tapi juga bukan tipe suami miris berperut gendut.
Ototnya masih kelihatan hidup.
Cukup untuk membelah kayu bakar. Tapi sayangnya, belum cukup untuk membelah sikap keras kepalanya sendiri.
Indah tetap duduk. Diam. Melipat pakaian sambil menggoyang ayunan Rayhan dengan satu kaki.
Multitasking adalah bakat alami para ibu miskin.
Tapi gerakannya perlahan melambat saat matanya menangkap apa yang dilakukan Hendra.
Suaminya itu—dengan ekspresi datar seperti patung pahlawan di alun-alun—mengambil satu per satu pakaiannya dari tumpukan yang sedang ia lipat.
Lalu mulai membongkar pagu, rak kayu reot yang selama ini mereka pakai untuk menyimpan pakaian.
Ia mulai memisahkan semua bajunya dari pakaian Indah.
Tanpa suara.
Tanpa tatapan.
Tanpa penjelasan.
Indah masih duduk, tapi matanya menajam.
Bibirnya mulai mengatup rapat. Ada rasa panas yang mengendap di dadanya, tapi belum tumpah.
“Oh, jadi gitu ya,” gumam batinnya.
Entah apa maksud Hendra.
Mau pisah ranjang? Mau pisah tempat baju? Mau bikin indekos satu orang?
Atau mungkin… ini caranya menunjukkan kejantanan?
Dengan memisahkan baju, bukan menyelesaikan masalah?
Indah tidak bertanya. Ia juga tidak mencegah.
Karena kadang… pertanyaan hanya memperpanjang luka.
Dan Indah sudah kehabisan stok obat penenang sejak hari-hari buruk jadi rutinitas.
Rayhan menggeliat lagi di ayunan.
Indah menatap anak itu.
“Nak, ayahmu mungkin sedang main drama diam-diam. Tapi Ibu?
Ibu tetap jadi penonton yang gak pernah dibayar, tapi terus disuruh sabar.”
Setelah mandi dan berpakaian, Hendra menghilang entah ke mana—seperti biasa. Rumah, bagi lelaki itu, tak lebih dari tempat makan dan tidur. Kadang juga tempat ngamuk, kalau bosan dengan udara.
Masalah tumisan yang raib belum juga selesai di hati Indah. Hendra yang pasang muka tembok pun belum luluh. Tapi rupanya, Tuhan belum puas menguji daya tahan menantu tertua yang tak punya kamar ini.
Sore itu, Sari pulang dari perempatan bersama kedua putrinya, Tuti dan Astri. Wajah mereka cerah, secerah diskon cuci gudang.
Begitu masuk rumah, Tuti membuka kantong plastik, mengeluarkan baju baru. Astri menyusul, lengkap dengan komentar “Bagus gak?” yang tidak ditujukan pada siapa-siapa, tapi jelas ditujukan pada seseorang.
Mereka mencoba baju di ruang tengah, lalu berpose—catwalk versi rumah panggung.
Sari menilai seperti juri lomba fashion: “Bagus… cocok banget di kalian.”
Tatapan mereka melirik Indah, lalu cekikikan kecil, seperti menyiram garam ke luka pakai gayung.
Indah tidak bilang apa-apa. Tapi kalau rasa iri bisa dicium, mungkin ruang tengah itu sudah bau amis sejak tadi.
"Penghasilan Hendra selama ini habis untuk dua hal: dapur dan rokok.
Rayhan dapat sedikit buat jajan. Aku? Dapat ucapan “makasih” pun gak."
Sari dan anak-anaknya tidak pernah mengeluarkan uang buat kebutuhan harian. Tapi kalau urusan baju? Dompet langsung terbuka lebar seperti gerbang mal.
Indah cuma menatap diam. Dalam hati, mungkin ia sedang menghitung.
Bukan harga baju itu—tapi berapa kali ia harus ngumpulin uang dari jatah Rayhan agar bisa beli baju sendiri…
atau mungkin… beli karcis pergi jauh dari rumah yang lebih sering terasa seperti neraka bertirai kain renda ini.
***
Empat hari berlalu.
Hendra masih diam. Indah juga.
Bukan karena sabar. Tapi karena sudah capek memilih kata yang tak pernah didengar.
Padahal, ada hadis yang melarang suami istri saling mendiamkan lebih dari tiga hari kecuali ada alasan syar’i yang kuat.
Tapi bagi Hendra, syariat kalah penting dari ego.
Dan egonya—besar, tebal, keras, dan lengket—kayak kerak kuali habis masak sambal.
Indah tahu ia bukan malaikat. Tapi kali ini jelas siapa yang salah.
Namun, suaminya itu tetap pasang muka tembok, seolah diam adalah bentuk ibadah paling suci saat kalah argumen.
Meski jengkel setengah mati, Indah bertahan.
Dia diam, demi tidak memperkeruh suasana.
Padahal dalam dadanya, sudah ada bom emosi siap meledak, hanya tinggal dicolek sedikit.
Lalu hari itu datang. Hari sial yang penuh simbol Tuhan sedang mengetes kesabaran level akhir.
Indah sedang mengangkat jemuran saat Rayhan—pengacau kecil berhati lembut—berhasil lolos dari pantauan.
Dan seperti biasa, yang disentuhnya bukan mainan, tapi benda paling sakral di rumah:
buku Silangan Togel Hendra.
Kitab suci bagi lelaki itu. Lebih dijaga dari dompet. Lebih dihormati dari istri sendiri.
Dua lembar buku itu robek—tulisannya terkena tumpahan air minum Rayhan.
Sisa bukunya lecek, basah, dan suram.
Indah buru-buru menyelamatkan yang bisa diselamatkan. Tapi nasi sudah jadi bubur, dan buburnya ketumpahan garam air mata.
Tak lama, Hendra muncul dari mandi di sungai. Tubuhnya basah, rambut masih menetes.
Setelah mengenakan pakaian, Hendra membuka buku Silangan dengan penuh harap.
Namun dalam hitungan detik, ekspresinya berubah.
Seperti tersambar petir di siang bolong.
Buku itu... remuk.
Lembaran lecek, beberapa sobek, dua halaman bahkan hilang.
Kitab sucinya—yang katanya lebih sakral dari hidup istrinya—rusak.
Matanya langsung menatap Indah.
Bukan tatapan bertanya. Tapi menuduh.
“Lembaran ini… kenapa hilang?”
Suaranya tajam, dingin. Menyayat seperti bilah silet.
Indah menatap balik.
Tenang. Tak gentar. Tak bersuara tinggi. Tak mencari pembenaran.
“Rayhan. Robek waktu aku lagi angkat jemuran.”
Sederhana. Datar. Nyaris tanpa emosi.
Karena untuk apa juga membela diri, kalau tetap diposisikan sebagai pihak yang salah?
Tapi Hendra tak terima.
Tak terima dengan ketenangan Indah. Tak terima dengan fakta bahwa buku itu rusak karena anaknya sendiri.
Karena dalam kamusnya, istri selalu salah. Dan dia—selalu benar.
Dalam hati, Indah hanya bisa tertawa getir:
“Dunia boleh maju. Teknologi bisa terbang ke langit.
Tapi di rumah ini… derajat kertas tetap lebih tinggi daripada perempuan.”
Hendra menghela napas kasar, nyaris mendesis.
“Sudah kubilang jangan sentuh buku—”
“Kalau buku itu penting banget,” potong Indah tanpa mengangkat suara,
“kenapa gak kamu simpan baik-baik? Kenapa ditaruh sembarangan? Giliran Rayhan sentuh dan robek… ribut.”
Hendra diam. Tapi bukan karena paham.
Karena ego sedang sibuk memutar balik logika.
“Kamunya aja yang gak becus jadi istri! Jaga anak aja—”
“CUKUP!”
Suara Indah meledak.
Bukan cuma membalas. Tapi menyembur dari luka yang lama dikubur.
Napasnya naik-turun, matanya merah—bukan karena tangis, tapi karena luka yang sudah terlalu sering dikemas rapi.
“Berhenti ngomongin aku gak becus. Emangnya kamu itu suami yang sempurna?! Kamu cuma bisa nyalahin aku tiap saat. Kalau aku ngeluh kamu bilang aku baper, kalau aku diam kamu malah makin seenaknya.”
Hendra mendengus, nyaris membalas, tapi Indah tak memberi celah.
“Gak ada empati, apalagi perhatian. Di rumah ini, kamu cuma datang buat makan, tidur, sama... minta jatah. Kau anggap aku apa? Manekin hidup? Pembantu? Bahkan pembantu masih digaji. Aku? Aku cuma digasak emosinya!”
Di belakang mereka, Rayhan mulai menangis pelan. Tapi Indah, yang biasanya paling cepat menenangkan, tak bergerak. Kali ini ia lebih dulu menangis... dalam bentuk amarah.
“Jangan cuma bisa nyalahin aku. Lihat diri kamu sendiri. Istri gak becus? Kamu itu suami gak becus, gak punya hati, gak punya akhlak—”
"PLAK!"
...🍁💦🍁...
.
To be continued
sedangkan wanita versi sempurna kecantik annya pas pacaran...hmmm