Seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya. Ia kehilangan segalanya karena sang suami direbut oleh pelakor.
Bahkan, suami yang gemar melakukan KDRT pada isterinya itu pun tak merasa bersalah ketika sang isteri keguguran anak pertama mereka akibat perbuatan kasarnya.
Sang wanita yang dulunya seorang CEO dan telah yatim piatu itu makin terpuruk, setelah semua hartanya direbut sang suami. Ia menderita, menjadi gelandangan dan hidup di jalanan.
Hingga akhirnya, sebuah takdir merubahnya. Ia bertemu gank motor beranggotakan para gangster yang semuanya beranggotakan wanita, saat ia terpaksa berteduh pada sebuah club malam terbengkalai yang ternyata membawanya ke sebuah kelompok mafia terbesar di Rusia.
WARNING!
💣Cerita ini hanya fiktif belaka
💣Siapkan mental karena novel ini mengobrak-abrik perasaanmu
💣Jangan lupa makan sebelum membaca
💣Jangan lupa dukung author dg like, komen positif, vote poin, koin & vocer yg banyak
Lele padamu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
Malam itu setelah malam panas dengan Antony, bosnya, Manda tidur pulas di dekap oleh Antony erat. Awalnya Manda yang malu akan sentuhan Antony kini malah terobsesi olehnya. Bahkan Manda ikut mengklaim jika Antony adalah miliknya tanpa ia sadari.
Manda juga meninggalkan sebuah kissmark yang cukup besar di leher Antony. Antony bahkan tak menyangka jika Manda seganas itu semalam, entah apa yang merasukinya.
Tak terasa pagi sudah menjelang, Antony sudah bangun lebih awal dan kembali ke kamarnya. Sedang Manda masih tertidur pulas di ranjangnya karena kelelahan. Antony kembali meninggalkan catatan untuknya di meja kecil samping kasurnya. Tiba-tiba ponsel Manda berbunyi, ia pun terkejut dan langsung bangun dari tidurnya dengan posisi duduk.
"Siapa yang menelepon? Dimana ponselku?" ucap Manda yang masih memejamkan mata dengan rambut berantakan mencari suara dering ponselnya.
Manda pun menyadari jika dirinya masih telanjang. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal dan beranjak dari ranjangnya. Ia berjalan sempoyongan karena matanya masih sangat sulit untuk dibuka. Ia mengambil ponsel yang masih berada di clutch hitamnya yang ia pakai semalam ketika Axton mengajaknya makan malam.
Manda menatap layar ponsel itu seksama. Hanya ada sebuah nomor asing pada layar ponsel itu, Manda pun mengangkatnya.
"Hallo."
"Manda, apa kau berada di Rusia?" tanya seorang wanita.
Manda diam sejenak mencoba mengenali suara wanita yang berbicara padanya. Terdengar familiar.
"Monica? Is this you?" tanya Manda memastikan dengan mata masih sulit ia buka.
"Ya, siapa lagi?" jawabnya kesal.
Manda pun berjalan perlahan duduk di samping ranjangnya sembari memegangi selimut yang membungkus tubuh polosnya.
"Ya Monica, ada apa?"
"Katakan pada tuan Antony, Barbara sudah menyelesaikan tugasnya. Ia sudah mengirimkan bukti pekerjaan ke emailnya. Kami tak bisa menghubungi tuan Antony sejak semalam. Apa kau tahu dimana dia?" tanya Monica penasaran.
Manda diam sejenak.
"Mm ... aku juga belum bertemu dengannya pagi ini, tapi akan aku sampaikan segera. Apa ada hal lain lagi?" tanya Manda.
"Tak ada, ya sudah kalau begitu."
"Eh, Monica wait ... wait ... aku mau bertanya mengenai Adam. Bagaimana? Apa Barbara sudah berhasil mendekatinya? Apa Barbara sudah bertemu dengan anakku?" tanya Manda antusias yang kini sudah membuka matanya dan sadar sepenuhnya.
"Belum, kenapa?" tanya Monica penasaran.
"Ah tidak, aku hanya ingin tahu kabar tentang bayiku. Bisakah, jika Barbara nanti sudah masuk di kehidupan Adam, ia mengirimkan padaku foto bayi perempuanku, please ..." ucap Manda memohon.
"Kau ini banyak maunya!" jawab Monica gusar.
"Tentu saja kemauanku banyak! Aku berakhir di sini karena kalian melibatkanku! Aku bahkan membuat perjanjian konyol dengan Tuan Antony! Aku tak bisa kembali lagi pada suamiku dan bayiku! Aku bahkan seperti pelacur sekarang! Aku ... hiks, aku sudah tak punya apa-apa lagi, Monica ... aku bertahan hidup hingga sekarang karena aku masih ingin melihat anakku ... jadi kumohon, hiks ... berikan aku sebuah alasan agar aku tetap hidup, hiks ..." ucap Manda tiba-tiba menangis sedih.
Monica terdiam tak berkata apapun. Manda menangis terisak mencengkeram kuat selimut di dadanya. Air matanya menetes begitu derasnya hingga menggenangi wajahnya. Manda seperti kehilangan jati dirinya semenjak keluar dari mansion Adam, mantan suaminya.
"Baiklah, Manda. Akan aku kirimkan foto bayimu nanti. Sudah jangan menangis. Kau segeralah cari tuan Antony, sampaikan apa yang tadi kukatakan," ucap Monica terdengar begitu perhatian.
Manda menghapus air matanya dan mengatur nafasnya. Ia sudah berhenti menangis.
"Thank you, Monica ... thank you," ucap Manda dengan senyum tipis di wajahnya.
"Baiklah, sampai jumpa."
KLEK. TUT ... TUT ... TUT ...
Manda pun segera meletakkan ponselnya di meja dekat ranjangnya. Manda sudah kembali tenang dan berharap Monica segera mengirimkan foto serta kabar mengenai bayinya.
Saat Manda menatap meja kayu itu seksama, ia terkejut melihat selembar kertas di atas meja itu. Manda mengambilnya dan membacanya dengan serius.
"Oh, tuan Antony pergi bersama Axton kembali ke Amerika untuk rapat. Oh, rapat yang aku jadwalkan kemarin ya. Mm ... pesan Barbara bagaimana ya, ah akan aku beritahukan lewat pesan singkat saja," ucap Manda sembari mengambil ponselnya lagi dan mengirimkan pesan ke nomor Antony.
Tapi, benar seperti kata Monica, pesannya tak terkirim. Manda teringat akan ponsel yang Antony berikan padanya. Manda kembali beranjak dari tempatnya dan mengambil ponsel yang ia simpan di clutch hitam sama seperti ia meletakkan ponsel pemberian Monica.
Manda mengirimkan pesan Barbara lewat ponsel itu, ternyata pesannya terkirim dan Antony langsung membalasnya. Manda tertegun.
"Kau sudah bangun? Tidurmu nyenyak sekali. Apa kau sangat puas dengan permainan kita semalam, babe?" tulis Antony di pesan singkatnya.
Mulut Manda menganga lebar. Ia tak menyangka jika Antony begitu mesum dan dengan entengnya menuliskan hal seperti itu terang-terangan lewat pesan elektronik.
Manda panik seketika, ia bingung membalasnya. Ia pun mengetik secara perlahan. Dalam pikiran Manda, bagaimanapun Antony bosnya, ia tetap harus sopan tak bisa bicara dan bersikap sembarangan.
"Apa yang kau katakan, Tony? Aku tak mengerti," balas Manda dengan lugunya.
Manda terdiam sejenak dan duduk di pinggir ranjangnya dengan jantung berdebar, tak lama Antony kembali membalas pesannya. Manda pun membuka isi pesan itu.
"Oh jadi kau ingin mengulangnya? Baiklah, kita bisa melakukannya lagi setelah urusanku di Amerika selesai."
"What?!" pekik Manda lantang.
Ia langsung melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang. Manda bergegas ke kamar mandi dan segera mencuci tubuhnya. Ia kembali melihat bekas kissmark yang Antony tinggalkan di depan cermin wastafel.
Manda terlihat kesal karena bekas yang kemarin belum hilang seutuhnya dan kini malah makin bertambah. Manda memejamkan matanya rapat. Ia berusaha tak memperdulikannya dan segera berpakaian.
Manda memakai baju yang lebih casual dan pergi ke ruang kerja barunya. Ia mulai menata semua berkas yang ia bawa dari mansion Antony di Amerika. Seharian Manda habiskan untuk bekerja, bahkan ia sampai lupa belum sarapan dan makan siang.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Manda merasa lemas dan pusing, ia baru ingat jika ia belum makan. Manda pun memutuskan menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju ke dapur.
Manda yang belum mengetahui seluk beluk kastil Antony pun kebingungan, ia malah tersesat di sana. Ia juga tak menemukan penjaga yang biasanya berlalu lalang di lorong itu.
Manda kebingungan sedang perutnya sudah keroncongan. Manda merayap memegangi dinding sebagai tumpuannya. Ia mencoba turun ke lantai dasar dimana ia berfikir seharusnya dapur ada di sana.
Saat Manda akan menuruni tangga, tiba-tiba pandangannya kabur dan kepalanya berkunang-kunang. Ia memegangi pegangan tangga yang terbuat dari kayu mahoni itu dengan erat. Namun, tiba-tiba pandangannya menggelap dan BRUKK! BUGG ... BUGG ...
"Agh ... aghhh ..." Manda jatuh bergulung-gulung hingga ke tangga terbawah dan membentur pijakan anak buah tangga dengan keras.
Manda meringkuk di atas lantai memejamkan matanya erat. Kepalanya pusing dan seluruh tubuhnya sakit. Dalam samar, ia mendengar segerombolan orang berlari ke arahnya dan meneriaki namanya. Perlahan mata Manda terpejam, ia pingsan dan tergolek lemas di atas lantai kastil Antony.
---------
Btw gak ad yg mau komen d eps Rusia kah?? Lele tu lbh suka baca komen kalian ketimbang baca naskah sendiri loh. Kwkwkw😆 komenin yaa lele penasaran. Tengkiu~
nd semua nya rekayasa kematian palsu yg di inginkan Manda 🤔🙄
sampqi sport jantung 👏👍😙
duh senangnya /Kiss/
sia diculik , Manda mw melahirkan
rumit semua Thor , mba lele yg bikin cerita Aq yg deg-deg'an
malah mabok nd ni na ni nu
sm PSK asia 😧😆