Qin Yue, agen elit paling mematikan dari dunia modern, mati dalam misi. Ia terbangun di tubuh Putri Feng Xiuying—gadis cantik, lemah lembut, dan terkenal bodoh seantero istana.
Tapi dunia akan segera tahu bahwa kelinci mungil ini kini bertaring.
Pedangnya lebih cepat dari lidah bangsawan istana, dan kelicikannya bahkan bisa mempermainkan para pejabat tua.
Hanya satu orang yang tak bisa ia taklukkan. Jenderal Han Ziyu, pria dingin berjulukan "Serigala Salju."
“Ayo bertarung!”
“Maaf, aku tak melawan kelinci,” katanya dingin.
Tapi ketika kelinci itu mulai menggoda pangeran lain, serigala itu menggeram pelan.
“Kelinci milikku... tak boleh bermain di kandang rubah lain.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Juara Favorit Kaisar
Kerumunan sudah hampir bubar setelah penampilan terakhir. Para bangsawan masih berbisik, menimbang siapa yang layak disebut juara. Namun Kaisar mengangkat tangannya, dan seluruh aula kembali hening.
“Aku telah menyaksikan semua penampilan,” suara Kaisar menggelegar, “Meski pemenang utamanya sudah jelas. Ada satu peserta yang membuatku terhibur lebih dari siapa pun.”
Mata para gadis langsung berbinar, yakin mereka masih memiliki kesempatan menang. Wu Yao tersenyum anggun. Jelas yakin bahwa dia adalah juara pertama nya.
Namun, saat nama yang keluar dari mulut Kaisar adalah—
“Xiuying. Kau juara favoritku.”
Aula seketika riuh.
“Apa…?”
“Favorit Kaisar?”
“Bagaimana mungkin dia?!”
Shen Lanyue hampir kehilangan senyum manisnya, Wu Yao menggenggam sapu tangannya erat-erat. Perasaan bahagianya seketika runtuh.
Xiuying sendiri? Ia berkedip sekali, lalu menunjuk dirinya sendiri seolah tak percaya.
“Aku? Apakah tidak salah. Puisiku bahkan membuat orang muntah darah.”
Kaisar justru tertawa keras. “Justru karena itu. Dunia terlalu penuh dengan puisi manis. Tapi yang membuatku hidup kembali hari ini adalah mulutmu yang tajam. Itulah bakat yang berbeda.”
Para pejabat terdiam, tidak berani menyanggah.
Xiuying pun berdiri, mengangkat alis, lalu membuka mulutnya tanpa sungkan.
“Kalau begitu, Yang Mulia, sekarang giliranku menagih janji. Bukankah engkau berjanji padaku, jika aku menang, pertunangan busuk dengan pangeran keempat akan dibatalkan?”
Semua orang menahan napas.
Wu Huang sontak maju selangkah. “Ayah Kaisar, itu tidak bisa! Pertunangan ini sudah ditetapkan! Bagaimana mungkin—”
“Diam!” Xiuying mendengus, lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan setajam pisau. “Kau masih berani menyebut namaku dengan mulut kotormu?”
Wu Huang, yang biasanya tenang, kali ini lebih berani. Ia melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Xiuying. “Xiuying, dengarkan aku! Aku melakukan semua ini demi kita—”
Plaaak!
Xiuying menepis tangannya begitu keras hingga Wu Huang terhuyung ke belakang. Aula terdiam.
“Demi kita?” Xiuying menyeringai, suaranya dingin. “Kau salah besar. Tidak pernah ada ‘kita’. Bagaimana bisa aku menyerahkan diriku pada seorang pria yang bahkan lebih lemah dariku? Kau sebut dirimu pangeran? Ha! Seekor ayam jantan di pasar lebih gagah darimu.”
Gelak tertahan terdengar di sudut aula. Beberapa pejabat buru-buru menutup mulut, tapi tatapan mereka penuh ejekan pada Wu Huang.
Kaisar menghela napas panjang. Tanpa berkata apa-apa lagi, beliau berdiri dan meninggalkan aula.
Begitu Kaisar pergi, bisikan mulai pecah.
“Pangeran keempat? Tanpa dukungan Permaisuri, dia hanya anak selir tak berguna.”
“Benar. Kalau bukan karena Putri Bai, mungkin dia sudah mati seperti pangeran-pangeran lainnya.”
Wu Huang pucat pasi.
Xiuying melangkah mendekat, lalu menepuk bahunya dengan santai, suaranya penuh sarkas.
“Oh, lihatlah… akhirnya kau tahu rasanya jadi bahan tertawaan. Bagaimana, manis bukan? Tenang saja, aku akan melakukannya lebih banyak di masa depan.”
Wu Huang gemetar, wajahnya merah karena malu sekaligus marah.
Tak lama kemudian, seorang kasim istana masuk terburu-buru. “Yang Mulia Pangeran, Permaisuri memanggil Anda segera.”
Wu Huang menggertakkan giginya, lalu beranjak pergi dengan langkah berat.
***
Di Aula Permaisuri
Wu Huang berlutut, suaranya parau. “Ibu Permaisuri… mohon beri aku kesempatan lagi. Aku… aku bisa memperbaiki semuanya.”
Permaisuri menatapnya dengan dingin. “Kesempatanmu sudah habis, Huang’er. Aku sudah memberimu panggung di kompetisi ini. Tapi kau mempermalukanku di depan seluruh istana. Festival Musim Semi—itulah kesempatan terakhirmu. Dan kau gagal lagi! Jadi mulai sekarang, aku bukan lagi ibumu.”
Wu Huang menunduk semakin rendah, tubuhnya bergetar. “Aku… aku mengerti.”
Permaisuri telah pergi, Tapi Wu Huang tetap bersujud di lantai. Pikiran nya bergema di kepalanya sendiri.
Tanpa Permaisuri, aku hanyalah anak seorang selir. Sama seperti saudara-saudaraku yang mati seperti anjing, aku mungkin akan menyusul. Tapi.... Tidak!!! Aku tidak ingin mati. Aku tidak boleh kalah dari perempuan jalang itu.
Xiuying… Beraninya kau menolakku di depan semua orang. Kau pikir kau menang? Belum... Aku sendiri yang akan menghancurkan kehormatanmu. Aku akan membuatmu memohon-mohon agar mati lebih baik daripada hidup bersamaku.
Wu Huang masih terhanyut dalam emosi nya, saat langkah ringan terdengar. Wu Yao masuk dengan senyum samar.
“Kakak,” ucapnya lembut, “Aku bersimpati untukmu. Semua orang menertawakanmu… bahkan gadis jalang itu. Jadi, aku akan memberitahumu sesuatu.”
Wu Huang menoleh dengan mata merah. “Sesuatu…?”
Wu Yao berjongkok, menatapnya lurus. Suaranya bagaikan racun manis.
“Gadis sepertinya… hanya butuh satu noda. Jika cara baik-baik tak berhasil, gunakan cara lain. Bukankah ibunya juga sama? Begitu dia ternoda, maka seumur hidupnya akan hancur.”
Wu Huang terpaku, lalu perlahan, senyum bengis muncul di wajahnya. Wu Yao tampak puas. “Benar, Wu Huang. Teruslah membencinya. Hancurkan dia! Biarkan aku meminjam tanganmu.”
***
Di Kereta Keluarga Bai
Kereta Bai berguncang pelan saat keluar dari gerbang istana. Langit mulai gelap, jalanan tampak sepi, hanya ada suara roda kayu yang beradu dengan jalan setapak.
Di dalam kereta, Rong Yi bersedekap, wajahnya penuh kegelisahan. “Putriku… apa kau yakin Kaisar akan benar-benar membatalkan pertunangan itu? Kau juga tahu, bagaimanapun juga, Permaisuri Lan tidak akan tinggal diam.”
Xiuying menggeliat santai, menyuapkan manisan kering ke mulut. “Kaisar adalah pria yang hidup sebagai naga. Dia sudah berjanji, mungkinkah dia mengingkarinya? Kalau pun dia ingkar…” Xiuying terkekeh sambil menepuk dadanya. “Aku akan terus membuat masalah untuknya. Aku akan membuatnya menyesal tidak mendengarku.”
Rong Yi “……”
Bai Zen hanya menatap adiknya, wajahnya sedikit muram.
Xiuying langsung curiga. “Kakak, jangan katakan kau khawatir? Bukankah kau sudah terbiasa dengan kebencian orang-orang? Lagipula ... Apa lagi yang bisa mereka lakukan? Memfitnah? Menyebar gosip? Hah! Anggap saja seperti kentut.”
Rong Yi : Tapi putriku... Kentut meninggalkan bauuu ~
Suasana hening. Kereta berguncang lagi, dan Xiuying melanjutkan dengan suara lebih dalam.
“Bai Zen! Dengar baik-baik. Aku dan Wu Huang memang diikat dalam pertunangan ini. Orang-orang berpikir kami satu kapal. Tapi kapal itu goyang bukan karena ombak kecil… melainkan karena badai topan. Aku tidak takut ombak, tidak takut badai. Selama aku masih berdiri, aku akan terus melawan. Karena satu hal yang tidak bisa mereka rebut dariku… adalah pilihanku sendiri.”
Kata-katanya membuat Bai Zen menoleh, sedikit terkejut dengan ketegasan adiknya.
Kereta kembali hening sejenak. Lalu Bai Zen menarik napas dalam, menatap lurus ke depan.
“Xiuying… ada satu hal yang harus kukatakan padamu.”
Xiuying mengunyah manisan, mengangkat alisnya. “Hm? Apa lagi? Wajahmu serius sekali.”
Bai Zen ragu sejenak, lalu berkata dengan suara rendah tapi tegas.
“Aku harus pergi ke perbatasan.”
Xiuying langsung tersedak. “APAAAA?!!”
Kereta berguncang keras, seolah ikut terkejut bersama mereka.
baru ini nemu MC yang pemalas🤣
😘😘
q tak rela pisan cepat' am xiuying Thor....
sehat2 ya, semangat selalu dalam berkarya