Sartika hidup dalam keterbatasan bersama suaminya, Malik, seorang pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu. Pertengkaran karena himpitan ekonomi dan lilitan utang mewarnai rumah tangga mereka.
Demi masa depan anaknya, Sartika tergoda oleh janji manis seorang teman lama untuk bekerja di luar negeri. Meski ditentang suami dan anaknya, ia tetap nekat pergi. Namun, sesampainya di kota asing, ia justru terjebak dalam dunia kelam yang penuh tipu daya dan nafsu.
Di tengah keputusasaan, Sartika bertemu dengan seorang pria asing yang akan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WikiPix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTP Episode 22
Calvin menghembuskan napas panjang dan menggeleng pelan. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Baginya, Sartika hanyalah seorang karyawan baru. Tidak ada alasan bagi dirinya untuk terlalu memikirkan omongan orang. Ia tidak pernah peduli dengan gosip atau spekulasi, dan ia tidak akan memulainya sekarang.
Dengan cepat, ia kembali membuka laptopnya, fokus pada pekerjaannya yang jauh lebih penting daripada drama kantor. Jika orang-orang ingin membicarakan dirinya dan Sartika, biarkan saja.
Toh, pada akhirnya, hanya hasil kerja yang benar-benar berarti.
Ponsel Calvin bergetar di atas meja, menampilkan nama yang sudah sangat ia kenal, Ibu.
Ia menghela napas, lalu menjawab panggilan itu. "Halo, Bu."
"Calvin, sayang, apa kau sibuk malam ini?" Suara Ny. Lisna terdengar lembut, tetapi Calvin tahu ibunya tidak menelepon tanpa alasan yang jelas.
"Ada apa?" tanyanya langsung.
"Aku ingin kau datang ke rumah keluarga Wijaya malam ini untuk makan malam," ucap ibunya dengan nada penuh harap. "Aku ingin kau bertemu dengan Alana secara lebih resmi."
Calvin menyandarkan tubuhnya ke kursi, merasa sedikit jengah. "Bu, aku sudah pernah bertemu dengannya. Lagipula, dia hanya rekan bisnis."
Ny. Lisna tertawa kecil. "Ya, tapi aku ingin kau mengenalnya lebih baik. Alana itu gadis yang baik, Calvin. Kalian bisa saja cocok."
Calvin memijat pelipisnya, merasa ibunya terlalu bersemangat dalam hal ini. "Ibu, aku tidak tertarik dengan urusan seperti ini sekarang."
"Calvin," suara Ny. Lisna berubah sedikit tegas. "Setidaknya hormati undangan keluarga mereka. Ayah dan Ibu Alana ingin bertemu denganmu. Ini juga baik untuk hubungan bisnis kalian."
Calvin terdiam sejenak. Jika ini hanya sekadar pertemuan bisnis yang dikemas dalam bentuk makan malam keluarga, mungkin tidak ada salahnya untuk datang.
"Baiklah," akhirnya ia mengalah. "Aku akan datang."
Ny. Lisna terdengar lega. "Bagus! Pakailah sesuatu yang rapi, dan jangan terlambat. Aku akan menunggumu di sana, jam tujuh malam."
Panggilan pun berakhir. Calvin menatap ponselnya dengan ekspresi datar.
Makan malam dengan keluarga Wijaya? Ia tidak yakin apa yang direncanakan ibunya, tetapi satu hal yang pasti, ia harus bersiap menghadapi pertemuan ini.
Calvin mengusap wajahnya, mencoba mengusir rasa penat yang tiba-tiba menyerangnya. Pikirannya masih bergulat dengan permintaan ibunya untuk menghadiri makan malam di rumah keluarga Wijaya.
Alana Wijaya.
Nama itu kembali bergema di kepalanya. Sudah beberapa kali ia bertemu Alana dalam urusan bisnis, dan meskipun awalnya ia menganggapnya hanya sebagai rekan kerja biasa, perlahan Calvin mulai menyadari sesuatu yang mengusiknya—Alana memiliki kemiripan dengan Hazel.
Bukan hanya secara fisik, tetapi ada sesuatu dalam cara Alana berbicara, caranya tersenyum dengan lembut, bahkan sikap tenangnya saat menghadapi situasi sulit, mengingatkan Calvin pada wanita yang pernah ia cintai.
Ia menghela napas berat. Kenapa harus dia?
Setiap kali ia menatap Alana terlalu lama, bayangan Hazel selalu muncul di pikirannya. Perasaan itu membuat hatinya terasa sesak. Seolah-olah luka lama yang sudah berusaha ia sembuhkan kembali menganga.
Calvin tahu, tak peduli seberapa mirip Alana dengan Hazel, mereka tetaplah dua orang yang berbeda. Tapi hatinya sulit mengabaikan kenyataan bahwa kehadiran Alana membangkitkan kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Ia meraih ponselnya, menatap layar sebentar sebelum akhirnya menghela napas lagi. Mungkin menghadiri makan malam itu hanya akan membuka luka lama, atau justru memberinya jawaban yang selama ini ia hindari.
Satu hal yang pasti, ia belum siap jika ibunya berharap lebih dari pertemuan itu.
Tok tok tok.
Calvin menoleh ke arah pintu, suaranya terdengar datar, "Masuk."
Pintu terbuka perlahan, dan sosok Sartika muncul dengan secangkir kopi di tangannya. Wanita itu melangkah hati-hati mendekati meja kerja Calvin, lalu meletakkan cangkir tersebut di hadapannya.
"Kopi Anda, Pak," ucapnya dengan suara pelan.
Calvin hanya melirik sekilas, lalu mengambil cangkir tersebut dan menyeruput isinya tanpa berkata apa-apa. Sartika berdiri di tempatnya, merasa ragu apakah ia harus segera pergi atau menunggu instruksi lebih lanjut.
Melihat Calvin tetap diam, Sartika akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Apa ada yang perlu saya lakukan lagi, Pak?"
Calvin menaruh cangkirnya, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja. "Tidak. Kau bisa kembali bekerja."
Sartika mengangguk cepat, tapi sebelum ia sempat berbalik, Calvin tiba-tiba bertanya, "Bagaimana pekerjaanmu sejauh ini?"
Sartika sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tidak menyangka bos besarnya akan menaruh perhatian pada pekerjaannya.
"Baik, Pak. Saya masih belajar menyesuaikan diri," jawabnya jujur.
Calvin mengangguk pelan. "Bagus, dan sayang mohon padamu. Kalau ada orang-orang kantor membicarakan tentang kita, kau tak usah pedulikan. Abaikan saja."
Sartika menatap Calvin dengan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Calvin akan mengatakan hal itu langsung padanya.
"Tapi, Pak...," Sartika ragu-ragu, "mereka semua terus membicarakannya. Saya tidak ingin membuat suasana semakin canggung di kantor."
Calvin menghela napas, menatap Sartika dengan mata tajam. "Itu bukan urusan mereka, dan kau juga tidak perlu repot-repot memikirkannya. Fokus saja pada pekerjaanmu."
Sartika mengangguk pelan, meskipun dalam hatinya masih ada kegelisahan. "Baik, Pak. Saya mengerti."
Calvin menyesap kopinya lagi, lalu melirik Sartika sekilas. "Kalau tidak ada hal lain, kembali bekerja."
Sartika tidak ingin berlama-lama di ruangan itu, jadi ia segera berbalik dan berjalan keluar. Namun, sebelum ia menutup pintu, ia sempat melihat ekspresi Calvin yang tampak sedikit lelah.
Begitu pintu tertutup, Calvin kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia benar-benar tidak peduli dengan gosip di kantor, tetapi ia tahu bahwa Sartika pasti merasa terbebani.
Tapi, mau bagaimana lagi? Semua orang selalu mencari bahan untuk dibicarakan.
Calvin melirik jam di mejanya, menunjukkan pukul setengah empat sore. Masih ada sekitar tiga jam lagi, ia harus bersiap-siap.
Calvin meraih cangkir kopi yang masih hangat, lalu berdiri dari kursinya. Langkahnya perlahan mendekati jendela besar di ruangannya, memandang pemandangan kota yang terbentang luas di hadapannya. Gedung-gedung tinggi menjulang, kendaraan lalu-lalang, dan langit sore yang mulai berubah warna keemasan.
Ia menyeruput kopinya pelan, membiarkan rasa manis dan pahit itu mengalir di tenggorokannya. Satu tangannya memasukkan ke dalam saku celana, sementara pikirannya melayang dengan apa yang akan terjadi nanti.
Alana. Hazel.
Apakah, Hazel bereinkarnasi menjadi Alana?
Ia menghela napas panjang. Hazel seharusnya ada di sini. Jika takdir tidak begitu kejam, mungkin malam ini ia tidak akan menghadiri makan malam dengan seorang wanita baru yang mirip dengan wanita yang pernah ia cintai.
Matanya kembali menatap jalanan yang ramai. Orang-orang berjalan tergesa-gesa, beberapa terlihat sibuk dengan ponsel mereka, sementara yang lain berbincang santai dengan rekan atau keluarga mereka.
Dunia terus berjalan.
Tanpa sadar, Calvin menggenggam cangkirnya lebih erat. Ia tidak tahu apakah ia siap menghadapi makan malam ini. Tapi seperti biasa, ia hanya akan menjalani semuanya dengan datar, tanpa ekspektasi apa pun.
Setelah menyesap kopi untuk terakhir kalinya, ia berbalik, meletakkan cangkir kosong itu di meja, lalu melangkah keluar dari ruangannya.
Ia berjalan melewati lorong kantor yang mulai lengang, lalu menoleh ke arah ruang istirahat karyawan. Di sana, ia melihat Sartika masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya, sementara di sebelahnya ada seorang rekan kerja yang tampak ramah, sesekali berbincang dengannya.
Calvin mendekat, lalu berdiri di hadapan Sartika. "Kau belum selesai?" tanyanya dengan nada datar.
Sartika terkejut mendengar suara Calvin, kemudian mengangguk cepat. "Belum, Pak. Masih ada sedikit lagi."
Rekan kerjanya menoleh dan tersenyum sopan kepada Calvin sebelum memilih untuk diam, tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka.
Calvin menyesap kopinya perlahan, matanya menatap Sartika yang tampak lelah. "Selesaikan secepatnya. Aku menunggumu di depan."
Sartika terkejut mendengarnya. "Menunggu saya, Pak?" tanyanya ragu.
Calvin mengangguk. "Kita pulang bersama."
Rekan Sartika melirik mereka dengan ekspresi penuh tanda tanya, tapi Sartika sendiri lebih terkejut lagi. "Pak Calvin tidak perlu repot-repot..."
"Aku tidak suka mengulang perkataan," potong Calvin tegas.
Sartika langsung terdiam dan mengangguk pelan. Ia tidak berani membantah lebih jauh, apalagi dengan tatapan tajam Calvin yang seakan tidak bisa dibantah.
Calvin tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berbalik dan berjalan pergi dengan tenang, meninggalkan Sartika yang masih bingung dengan sikapnya.
Sartika menelan ludah, merasa campuran antara terkejut dan bingung. Rekan kerjanya yang sejak tadi diam akhirnya berbisik padanya, "Pak Calvin baik juga, ya. Biasanya dia jarang peduli sama karyawan lain."
Sartika tersenyum kecil, lalu buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak ingin membuat Calvin menunggu terlalu lama. Setelah memastikan semua pekerjaannya beres, ia merapikan peralatannya, mengucapkan selamat tinggal pada rekan kerja yang masih di sana, lalu berjalan cepat menuju lobi.
Saat ia keluar dari gedung kantor, mata Sartika langsung menangkap sosok Calvin yang berdiri di dekat mobilnya. Pria itu tampak santai dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, sementara tangan lainnya memegang cangkir kopi yang tadi ia bawa dari dalam.
Sartika mempercepat langkahnya menuju Calvin. Ia tidak ingin membuat bosnya menunggu lebih lama. Namun, karena terburu-buru, ia tidak memperhatikan lantai yang sedikit licin akibat hujan gerimis yang turun sore tadi.
Saat hendak menaiki anak tangga kecil di dekat parkiran, kakinya terpeleset.
"Aah...!"
Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuh Sartika kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia benar-benar jatuh ke tanah, sebuah tangan kuat menangkap pinggangnya. Dalam sekejap, ia berada dalam dekapan Calvin.
Sartika bisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Wajahnya begitu dekat dengan Calvin, hingga ia bisa melihat jelas ekspresi terkejut di wajah pria itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Calvin dengan suara tenang, tapi ada sedikit kekhawatiran dalam nada suaranya.
Sartika menelan ludah, masih merasa kaget. "I-iya, Pak... maaf, saya tidak sengaja."
Calvin tidak langsung melepaskannya. Tangannya masih menggenggam erat pinggang Sartika, memastikan wanita itu benar-benar dalam keadaan stabil sebelum perlahan melepaskannya.
"Kau ceroboh," gumam Calvin, tetapi nada suaranya lebih terdengar seperti teguran lembut dibandingkan kemarahan.
Sartika menunduk malu. Wajahnya terasa panas karena malu dan gugup. "Saya benar-benar tidak sengaja, Pak."
Calvin menghela napas, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri tegak. Saat Sartika akhirnya menegakkan tubuhnya, Calvin menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Lain kali, hati-hati. Aku tidak bisa selalu menangkapmu setiap saat."
Sartika mengangguk cepat, masih merasa canggung dengan situasi barusan.
Calvin menatapnya sebentar, lalu tanpa banyak bicara lagi, ia membuka pintu mobilnya. "Masuk."
Sartika segera masuk ke dalam mobil, berusaha mengatur napasnya yang masih tidak karuan.
Di sisi lain, Calvin menutup pintu dengan sedikit lebih kuat dari biasanya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa detak jantungnya sempat terasa sedikit lebih cepat ketika tadi menangkap Sartika.
Mungkin hanya refleks.
Atau mungkin… sesuatu yang lain?