NovelToon NovelToon
RICH MAN

RICH MAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:10.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mira Indriani

Hidup ini terlalu berat bagi mereka yang selalu mengeluh. Rumit karena sebagian orang lebih mementingkan ego sendiri dibandingkan memikirkan hati orang lain. Tak sedikit yang berakhir dengan penyesalan. Barangkali setiap duka yang terasa adalah sebuah ujian yang sedang menguji perasaan dan kesabaran. Banyak yang memilih mengakhiri dibandingkan memperbaiki, kemudian menyesal dihari kemudian. Berharap sesuatu yang hancur akan kembali lagi. Tidak semua yang hancur semua yang hancur bisa diperbaiki lagi. Akan tetapi sesuatu yang rusak, barangkali bisa diperbaiki meski tidak utuh. Begitupun dengan rumah tangga, banyak lika-liku kehidupan yang akan dilewati.

Ikuti kisahnya di RICH MAN.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RESTU

Setelah benar-benar

sembuh. Nagita merasa sangat gugup, pasalnya malam itu ia akan bertemu

dengan seluruh keluarga Azka. Yang awalnya ia menolak beberapa kali,

tetapi Azka selalu memohon. Bahkan mama mertuanya itupun tak pernah

luput ikut berperan untuk mengajaknya pulang. Dengan berat hati dan

menuruti keinginan suaminya, ia menyanggupi permintaan Azka.

Hari itu juga, ia

membantu suaminya untuk berkemas. Meski beberapa kali Azka melarangnya

untuk melakukan pekerjaan berat, tetapi ia ingin sekali membantu

suaminya untuk sekadar melipat baju yang akan dibawanya nanti ke rumah

mertuanya.

Nagita menatap suaminya yang terlihat begitu meyakinkan. Nagita beberapa kali berusaha untuk meyakinkan diri.

"Mas, bisa nggak kita tunda dulu ke rumah orang tua kamu?"

Azka menoleh, "Nggak bisa. Mau sampai kapan?"

"Belum siap, Mas."

"Dengar! Itu artinya

saya serius sama kamu. saya akan perkenalkan dengan seluruh keluarga,

bukan lagi hidup berdua seperti sekarang ini, saya mohon Nagita. jangan

pernah tunda lagi, saya ingin kamu dikenal oleh keluarga saya. Saya

ingin semua keluarga tahu bahwa saya sudah menikah, apa kamu nggak mau

berjuang sama saya?"

Nagita menatap Azka penuh keraguan, "Papa kamu nggak galak, Mas?"

"Papa sedikit keras Nagita! cuman kita harus berusaha yakinkan itu. Makanya saya ajak kamu pulang, mau ngenalin kamu ke beliau."

"Kalau nggak direstui gimana?"

"Pasti direstui,"

"Aku takut,"

"Ada saya. Apa pun yang

Papa lakukan nantinya saya akan terima. Meski Papa marah. Saya akan

hadapi, saya tanggung jawab soal kamu sama Papa, jadi ayo kita berjuang

bareng. Kita yakinkan Papa,"

Nagita mendekati Azka

yang masih sibuk merapikan pakaian mereka. "Mas," Nagita menyandarkan

kepalanya di paha Azka yang tengah duduk di atas ranjang.

"Kenapa, Mommy?"

"I love you, Daddy," Nagita justru semakin menempel pada Azka.

Ia merasakan kepalanya di elus oleh Azka dengan sangat lembut, "Me too, Mommy,"

Tangan Nagita yang

tadinya menempel pada paha Azka tiba-tiba dipegang oleh suaminya dan ia

mengangkat kepalanya. Ternyata Azka memintanya untuk bangun dan lelaki

itu memintanya untuk duduk di pahanya. Nagita menuruti keinginan Azka.

"Lihat mata saya! Saya nggak mau ada yang ditutupi lagi. Saya mau kamu selamanya, jangan pernah ragu. Saya sayang kamu, Nagita."

Nagita hanya membalas dengan senyuman dan Azka justru mengecup bibirnya singkat. "Percaya sama saya, semuanya membaik sayang,"

Nagita memeluk Azka yang masih memangkunya.

"Kenapa manja banget sekarang, hm?"

"Kamu yang ngajarin, Mas,"

"Karena saya nggak mau jauh-jauh dari kamu,"

"Aku juga, Mas,"

Ia merasakan pelukannya

dibalas Azka dan Nagita tersenyum bahagia saat suaminya yang dulu tak

pernah ia bayangkan akan bersikap seperti itu terhadapnya. Jika dahulu

Nagita selalu berusaha menahan tangis, tetapi saat ini yang ia rasakan

adalah suatu kebahagiaan atas tangis yang pernah tumpah dahulu.

Jika berada di apartemen

dahulu ia selalu di lewati oleh suaminya sendiri. Kini, Azka seolah tak

mau jauh dari pelukannya sepanjang hari. Ditemani dalam keadaan apa

pun.

"Sekarang kita berangkat, sayang."

Nagita beranjak dari

pangkuan Azka. Lelaki itu langsung bangun dari tempat duduknya dan

menurunkan koper yang sudah lengkap berisi pakaian mereka selama berada

di sana nantinya. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman Azka selama

menuruni anak tangga.

*****

Tiba di rumah orang

Azka. Nagita terus menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar untuk

menghilangkan kegugupannya. Tetapi semua itu sia-sia. Kegugupan itu

tidak bisa hilang begitu saja. Ada rasa takut, khawatir dan juga bahagia

sebab Azka selalu menepati janjinya.

Ia merasakan tangan Azka

menggenggamnya dengan erat. Sementara barangnya sudah dibawa masuk oleh

asisten rumah yang ada di sana. Nagita menatap Azka sekilas dan

meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Belum tiba di ruang tamu, Azka

memintanya untuk berhenti.

"Tunggu di sini. Kalau saya suruh masuk, baru kamu masuk. Keluarga saya semuanya ada di sana,"

Nagita mengangguk

berdiri dibelakang tembok pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga.

Ruang keluarga tempat semuanya menunggu, sementara Nagita berada di

ruang tamu sendirian sambil mengintip suaminya yang duduk bersimpuh di

depan orang tuanya.

"Kamu ini kenapa Azka!" ucap Papanya yang mulai penasaran dengan sikap Azka yang berbeda dari biasanya.

Di sana sudah ada Naura

dan mamanya yang tahu tentang semua ini. namun mereka masih bisa tutup

mulut dan membiarkan Azka yang menjelaskan itu semua.

"Azka minta maaf, Pa,"

"Maaf apa? Bangun Azka!"

"Nggak Pa, Azka nggak akan bangun sampai Papa tahu semuanya,"

Nagita masih

memperhatikan suaminya yang menunduk sambil bersimpuh di lantai.

Sementara papanya duduk di atas sofa bersama yang lainnya. Mata Nagita

sudah perih, ia sangat gugup.

"Azka minta restu dari Papa,"

"Restu apa? Kamu mau menikah?"

Azka menggeleng.

"Lalu apa? Perusahaan kamu bangkrut?"

"Nggak Pa,"

"Terus apa?"

"Restui hubungan Azka dan istri aku, Pa."

"Azka, kamu belum menikah. Kenapa tiba-tiba menyebut istri?"

"Aku kemari nggak sendirian, Pa. Azka datang bawa dia, bawa istri dan calon cucu Papa,"

Nagita sangat ketakutan

dengan ucapan Azka. Ia mengintip dan melihat Azka beranjak untuk

mendekatinya. Saat bertemu, Nagita rasanya ingin kabur dari tempat itu.

Tetapi Azka menarik tangannya berusaha meyakinkan.

Nagita benar-benar

merasa gugup dan menunduk sepanjang jalan menuju ruang keluarga

tersebut. Azka mengajaknya duduk bersimpuh di depan semua keluarganya.

"Kenalin, Pa. Ini

Nagita, istri Azka yang Azka nikahi kurang lebih empat atau lima bulan

yang lalu," Nagita mendengar ucapan Azka parau. Namun tangannya terus

digenggam memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Apa yang kamu maksud?"

suara itu meninggi. Nagita menutup matanya menahan tangis. Ia tahu bahwa

papa mertuanya kini sudah sangat murka.

Nagita duduk di sebelah kanan Azka, sementara lelaki itu berhadapan dengan papa mertuanya.

"Kalian mau buat saya malu?"

Nagita terdiam.

"Bukan begitu, Pa. Azka yang salah bukan dia,"

"Kalian pacaran melebihi batas?"

"Nggak, Pa. Kami tidak pernah pacaran,"

"Lalu apa? Azka kamu ngomong! Apa kamu membayarnya dan justru perempuan ini hamil dan meminta pertanggung jawaban kamu?"

Nagita sudah tidak

tahan. Air matanya lolos terjatuh membasahi pipinya. Namun sama sekali

ia tidak bisa mengangkat wajahnya karena takut dengan mertuanya.

"Nagita hamil karena

Azka perkosa, Pa. Bahkan Azka yang merusak dia, Azka orang pertama yang

menghancurkan dia, dia tidak pernah meminta pertanggung jawaban. Tapi

semua itu terjadi begitu saja, Pa."

Papa yang sudah

benar-benar tidak tahan. Dia beranjak dari sofa dan menarik salah satu

tongkat kayu yang terletak di dekat guci pojok ruang keluarga tersebut.

Seketika benda itu terhantam ke punggung Azka. Mama yang terkejut dengan

hal itu langsung berteriak.

"Anak sialan. Siapa yang mengajari kamu seperti itu?"

Nagita melihat kejadian itu tubuhnya langsung lemas. Mamanya segera menarik tangan Nagita dan memeluknya.

Namun di sana Azka tak

bergerak sedikit pun. Membiarkan kayu panjang itu terus terhantam pada

punggungnya. Karena tahu ia salah, ia hanya bisa menunduk tanpa

perlawanan.

"Apa yang kamu pikirkan

pada perempuan yang masih muda begini, Azka? Ingat umur kamu bukan anak

kemarin sore yang gede. Kamu sudah dewasa, bisa-bisanya kamu

menghancurkan masa depan dia. Apa kamu nggak mikir perasaan orang

tuanya, sekarang orang tuanya di mana? Mau taruh di mana harga diri Papa

saat meminta maaf sama mereka?" papanya tak berhenti melayangkan

pukulan.

"Mereka sudah nggak ada, Pa."

Pukulan itu semakin

keras di punggung Azka dan langsung membuat Azka mengernyit saat itu

juga. Punggungnya benar-benar sakit saat papanya semakin brutal

memukulnya. Namun ia sadar, rasa sakit itu tak sebanding dengan perasaan

Dimas saat menerima kenyataan Nagita hamil.

"Om, udah!" Nagita menangis berusaha melepaskan diri dari pelukan mama mertuanya.

"Papa nggak bisa maafin orang yang sudah menghancurkan hidup orang lain, Nagita!"

"Tapi dia sudah bertanggung jawab, Om,"

"Bertanggung jawab itu

nggak menyelesaikan semuanya. Bagaimana dengan keadaan kamu? apa pernah

dia mikir perasaan kamu saat kamu harus menerima aksi bejatnya?"

"Gita sudah maafin dia,"

"Tapi Papa nggak bakalan maafin, dia."

Nagita tak tega melihat

kaos putih yang dikenakan Azka penuh dengan bercak darah. Ia pun berlari

dan memeluk kaki papa mertuanya.

"Pukul Gita, Om. Jangan Mas Azka, apa itu nggak cukup? Lihat badannya sudah seperti itu?"

"Lebih baik dia mati daripada harus menyakiti perempuan,"

"Aku mohon!"

Nagita terus memohon kepada papa mertuanya dan seketika tongkat itu terjatuh.

"Nagita, bangun!"

Nagita langsung terbangun dan terisak di depan papa mertuanya. Ia merasakan pelukan hangat itu melingkar di tubuhnya.

"Maafin Papa yang nggak bisa didik anak Papa sendiri dan buat kamu seperti ini,"

"Om nggak salah,"

"Nagita, saya Papa kamu. Papa mertua kamu, jangan pernah panggil saya Om,"

"Pa, Gita nggak pernah benci sama Mas Azka, tapi Gita mohon jangan seperti itu lagi sama Mas Azka,"

"Papa nggak akan lakuin

itu jika dia meminta kamu dengan cara baik-baik. Apa yang bisa Papa

lakukan agar bisa menebus kesalahan anak sialan itu?"

"Papa nggak harus lakuin apa-apa. Gita sayang sama Mas Azka. Gita sama Mas Azka cuman pengin minta restu,"

Pelukan itu dilepas oleh

papa mertuanya. Nagita hampir putus asa dan ia dituntun dan mertuanya

menyatukan tangannya dengan tangan Azka.

"Jaga dia! Dia jauh lebih berharga dari harta kamu, Azka!"

Seketika keduanya menoleh ke sumber suara.

"Nggak ada alasan Papa

mau marah. Semua terserah kalian, Papa nggak mau cucu Papa nggak bersatu

dengan dengan orang tuanya. Jadi, lanjutkan!"

"Pa?"

"Azka jangan bertanya. Lanjutkan pernikahan kalian, jangan pernah kehilangan harta kamu yang paling berharga?"

"Maksud Papa?"

"Bawa dia istirahat!

Papa nggak mungkin misahin kalian. Nanti malah cucu Papa nanya siapa

ayahnya, Nagita nggak bisa jawab apa-apa. Masuk kamar sekarang! Sebelum

Papa berubah pikiran,"

"Jadi Papa?"

"Masuk Azka, Nagita!"

Azka bangun dari tempat

bersimpuhnya dan langsung bersujud di depan Papanya. Nagita hanya

tersenyum bahagia mendengar ucapan papa mertuanya.

Sementara itu mamanya

berusaha menjelaskan secara detail. Sedangkan Azka dan Nagita berada di

kamar untuk mengobati luka Azka dipunggungnya.

"Kenapa kamu lakukan semua ini? kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu sudah tanggung jawab sih?"

"Saya nggak mungkin jujur kan,"

"Nggak jujur gimana?"

"Saya nggak mungkin jujur kalau saya berbuat baik sama kamu. biarlah saya mendapatkan konsekuensi dari perbuatan saya,"

"Kamu gila, Mas,"

"Karena kalian berdua,"

"Kalian?"

"Kamu dan calon anak kita, sayang."

"Masih bisa bercanda kamu, Mas?"

"Saya serius. Saya sayang kamu, takut kamu hilang. Seperti yang Papa bilang, kamu harta saya,"

"Harta berarti harus di jaga kan, Mas?"

"Tentu."

"Kalau gitu jaga hati aku saat kamu jauh dari aku kelak. Semisal bekerja, jangan pernah lirik perempuan lain!"

"Iya sayang. Pasti."

******

Azka terbangun dari

tidurnya setelah mendengar suara ribut berasal dari bawah. Ia segera

beranjak dan mencuci wajahnya. Dia tak menemukan Nagita disisinya,

perempuan itu pasti sedang membantu mamanya di bawah. Karena ia tahu

bahwa istrinya sudah mulai dekat dengan mama dan juga adiknya.

Azka turun dari kamarnya

menggunakan pakaian yang sedikit longgar agar lukanya tak menempel pada

kaosnya. Meski semalam sudah diobati oleh Nagita dan penuh perban,

tetapi ia takut untuk bahwa luka itu menempel karena akan terasa sakit

perih.

Ia langsung ke ruang

makan. Di sana sudah ada semua keluarganya yang menunggu di meja makan.

Terlebih Papanya yang begitu antusias.

"Azka duduk sini, buruan!"

Azka mendekat dan langsung duduk di samping Nagita yang nomor tiga dari barisan sang Papa.

"Nagita harus sehat. Calon cucu Papa harus sehat. Jadi harus makan banyak,"

Azka memperhatikan

Papanya yang menaruhkan beberapa makanan di piring Nagita yang bahkan

sudah penuh oleh masakan mamanya pagi itu. Mereka tak seperti yang

lainnya, ketika menyambut tamu, mamanya pasti akan masak banyak untuk

keluarga mereka.

"Pa udah dong! Nanti nggak bisa abis, lho," keluh Nagita.

"Nggak. Pokoknya Nagita sama Naura harus makan banyak. Biar kedua cucu Papa sehat,"

Azka mengernyit mendengar kata 'kedua cucu' yang ia tahu bahwa istrinya hamil satu bayi.

"Nagita hamil satu bayi, Pa,"

"Bukan Nagita. tapi Naura hamil,"

"Hamil?"

"Kakak nggak tahu? Kakak sibuk peluk istri terus sih, jadi nggak tahu kalau adik sendiri hamil,"

Azka mengerjapkan matanya berkali-kali. Di sana ada Reno, suami Naura yang tersenyum.

"Hebat juga lo, Naura hamil lagi,"

"Emang lo doang yang bisa buat anak? Gue bahkan udah dua kali gol,"

"Setelah melahirkan kita buat lagi, Nagita!"

"Awww, sakit tahu," ia merasakan pahanya dicubit oleh Nagita dari bawah.

"Mampus puasa lo bentar lagi, Az."

"Diam lo!"

"Kalian berdua akan merasakan puasa itu, bahkan sebulan setengah. Itu pun kadang dua bulan," ledek papanya.

"Dua bulan, Pa?" tanya Reno yang terlihat sepertinya tidak terima dengan ucapan itu.

"Paling sedikit dua bulan. Bahkan ada yang empat bulan, tergantung kapan sembuhnya,"

"Naura, berarti sebelum puasa. Aku harus sering-sering dapat jatah,"

"Nggak boleh! Bahaya, apalagi Naura baru hamil, jarang-jarang, Reno!" protes sang mama.

"Rasain. Gue dong, merdeka. Bebas," jawab Azka menyombongkan diri.

"Sebentar lagi kamu puasa, Azka. Jangan ngeledek adik ipar kamu!"

Semuanya tertawa. Pun

sama dengan Nagita. pagi itu suasana keluarga Azka berubah. Yang awalnya

jarang berkumpul tetapi saat itu juga langsung berkumpul dan terasa

kehangatannya. Azka pun ikut bergabung dan sambil menceritakan kisah

perjalanan cintanya agar bisa meyakinkan Nagita. di sana ia menjadi

bahan ledekan papanya karena beberapa kali gagal membuat Nagita percaya.

1
Nuri Maulidia
kepraaaaat
Nuri Maulidia
pst krj dtmpt bos ny dulu
elly tedy
ceritanya bagus Thor.....ada pelajaran distiap perbuatan dan ada waktu yg harus kamu lewati krna kesalahannya
Mayora
ih, Azka ga asik banget,,pandai ya dia bersandiwara dengan sangat rapi...rupanya si Azka yang masih labil
Sinar aurora
sumpah aku jadi korban novelmu thor.. aku uda 3 kali baca tapi knap masih mewek aja sihhh.. emnag sekejam itu ya si azkaaa
Tini Patini
Thor c Azka nya di bikin lmpoten ajah.biar kapok deh biar gak bangun lagi walau c deana cantik burungnya lemes gak mau bangun biar tau rasa!
Zuraida Zuraida
durjana banget tu laki, semoga gita cepat tahu akal bulus tu kamprer
Zuraida Zuraida
laki laknat kabur na
pak rt
👍
Tutik Yunia
Reynand yang lebay
Yuniar
ibu & kakak tiri Bintang kemana ya..?
Tutik Yunia
tidur pakai masker apa nggak sesak nafas
Tutik Yunia
mungkin waktu mau ketemu Reynand kecelakaan terus hilang ingatan
Tutik Yunia
ceritanya paling sama dgn Azka. setelah nikah datanglah bintang & Rey selingkuh dengan bintang cinta pertamanya. seperti Azka dgn ibunya shakila.
Yuniar
Ceritanya bagus untuk pendidikan orang tua dan anak-anak
Yuniar
Azka kan pawang cinta
Tutik Yunia
bagaimana keadaan Teddy dgn selingkuhannya. Semoga tidak harmonis
Tutik Yunia
ceritanya bener-bener seperti kehidupan nyata
Tutik Yunia
Tahu kalau cinta Nagita buat Azka, dia jadi besar kepala & mempermainkan Nagita.
Tutik Yunia
ini memang terbaik, cerai saja daripada makan hati. ceritanya bagus Thor sesuai kehidupan dalam rumah tangga. Nggak mungkin laki2 kaya hidup dgn satu wanita saja. Pasti banyak selingkuhannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!