NovelToon NovelToon
Cahaya Cinta Naura

Cahaya Cinta Naura

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:301.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: rahma khusnul

Naura Fina Mudya, seorang anak yang diharapkan menjadi cahaya yang bersinar bagi keluarganya, dipandang telah menorehkan noda bagi orang tuanya, keinginan untuk merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik ternyata dipandang salah oleh lingkungannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kampus Baru...

HAPPY READING... 🌹🌹🌹

Ku putar pandanganku sepanjang kali yang memiliki lebar sekitar 15 meter itu, airnya bergulung-gulung mengalir deras ke area yang lebih rendah, terkadang terbentur batu besar yang membuat airnya sedikit berbelok, namun akhirnya tetap akan mengalir juga ketempat yang seharusnya. Begitu pun dengan hidupku, rentetan masalah yang menghimpit ku saat ini, kubiarkan mengalir seiring berjalannya waktu. Meski tak selalu mulus sesuai dengan keinginanku, namun Tuhan maha tau, apa yang terbaik untukku. Tetap berdo'a dan berikhtiar yang harus ku lakukan, Hanya Alloh lah yang menentukan bagai mana kehidupanku di masa yang akan datang.

"La...!" Panggil Pamanku dari depan pintu rumahnya, "Masuklah...!" melambaikan tangannya ke arahku.

Aku menoleh dan segera turun dari tembok itu, sempat ku lirik sepeda ontel di samping rumah Paman yang sepertinya sudah lama tidak di gunakan. "Iya, Paman," Aku menghampirinya dan menyambar tas besar yang diletakkan di bangku panjang tadi.

"Ayo, Masuk!" Ajak paman lagi. dan aku hanya mengangguk dan melangkahkan kaki ke arah pintu.

Mataku berputar mengamati ruangan rumah kontrakan Pamanku yang sangat sederhana ini. Di dalamnya ada tiga petak ruangan. Satu petak di bagian depan di gunakan untuk ruang tamu, ruang televisi, dan juga tempat menyimpan motor bebek milik Paman, tak ada kursi sama sekali, hanya karpet plastik yang di gelar di depan Televisi. Satu petak bagian tengah digunakan untuk kamar tidur dan satu petak paling belakang digunakan untuk dapur dan kamar mandi. Paman mengambil tas dari tanganku dan meletakkannya di atas karpet plastik. Ku lihat Bibiku datang menghampiriku sambil membawa dua gelas air putih di atas nampan di ikuti oleh anak bungsunya.

"Minumlah dulu, La! Kamu pasti capek" Ucap Bibiku sambil meletakkan nampan di atas karpet plastik.

"Terimakasih, Bi!" Jawabku. Aku pun menghampirinya dan menyalaminya, lantas duduk di atas karpet bersama dengan Pamanku. Aku meraih segelas air yang sudah berada di hadapanku dan meminumnya beberapa teguk karena rasa haus di tenggorokanku, lantas menyimpan kembali gelas yang tersisa air setengahnya lagi itu di hadapanku.

Pandanganku beralih ke arah anak perempuan yang sedang duduk di samping Bibi sambil menatapku malu-malu. Kulitnya bersih, wajahnya cantik persis seperti Bibiku, Aku pun tersenyum ke arahnya.

"Hai..., siapa ini namanya? cantik sekali," ucapku sambil mengulurkan kedua tanganku.

Namun anak itu malah semakin mendekap ibunya. "Namanya Shafira putri, La! Jawab Pamanku, "Ayo salim sama Teh Ola, Dek! Dia ini kakaknya Adek dari kampung, Adek kan sering bilang sama Bapak pengen punya Kakak perempuan, Nah Bapak bawain deh buat Adek, namanya Teh Ola," Jelas Pamanku lagi sambil menatap putrinya.

"Namanya juga cantik, sini! Uput duduk sama Teh Ola!" Sapaku, memanggilnya dengan nama Uput sepertinya lucu sekali menurutku. Dan tak ku sangka anak itu menggeser tubuhnya dari ibunya dan mendekat ke arahku. Aku tersenyum dan segera meraih tubuhnya lantas mendudukkannya di atas pangkuanku.

"Beginilah keadaan rumah kami, La! sempit, pengap, dan tak ada perabotan sama sekali," Ucap Bibi tiba-tiba.

Aku terdiam mendengarkan ucapannya, sambil mendekap tubuh kecil Shafira yang langsung merasa nyaman di atas pangkuanku.

"Apa kamu akan kerasan tinggal disini, La? apa kamu tidak malu sama teman-teman kuliahmu nanti? Setau Bibi orang-orang kuliahan itu kan biasanya orang berada, beda dengan kami yang hanya tinggal di rumah kontrakan sempit seperti ini, Kamu juga tau kan berapa penghasilan seorang tukang kredit barang kecil-kecilan seperti Pamanmu ini," Bibiku terus bicara, dan aku hanya tertunduk dan melirik sekilas ke arah Pamanku.

"Sudah lah, Bu! Jangan terus mengeluh, kita syukuri apa yang kita miliki, lihatlah! masih banyak di luar sana yang hanya bisa tidur di emperan toko saja karena tidak mampu membayar sewa rumah. Bapak bersyukur masih punya pekerjaan meskipun penghasilannya tidak banyak," Jawab Pamanku.

"Bapak ini selalu saja begitu, Bapak kan lulusan SMA, tapi kerjaannya kok sama saja dengan lulusan SD," Ucap Bibiku ketus.

"MasyaAlloh, Bu! kalau urusan dunia itu, kita harus melihat ke bawah, agar kita tetap bersyukur dan tidak mengeluh, dan kalau urusan akhirat baru kita melihat ke atas, agar kita terus berusaha untuk memperbaiki ibadah kita,"

"Iya, Ibu tau, tap..."

"Sudah lah jangan berdebat lagi, kami kan baru datang, Ola juga pasti capek," potong pamanku. Lantas menoleh ke arahku. "Istirahatlah dulu sebelum maghrib, La! abis sholat maghrib kita makan,"

Aku hanya mengangguk, lantas membuka ranselku dan meletakkannya di sampingku.

"Pamanku mengambil sebuah kantong kresek dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Bibi. "Ini, Bu! tadi Bapak beli makanan di jalan, agar Ibu tidak capek memasak. Dan ini juga ada oleh-oleh dari orang tua Ola dan orang tuamu," Paman menyerahkan kantong kresek itu kepada Bibi. Bibi mengambilnya, lantas berdiri dan melangkah menuju dapur.

Waktu menunjukkan pukul 11 malam, tapi aku masih terjaga dan termenung seorang diri sambil membaringkan tubuhku di atas selembar selimut yang sengaja di gelar Bibiku di ruang televisi sebagai alas tidurku, ku lihat Paman dan Bibi beserta kedua anaknya sudah terlelap di ruang tengah, beralaskan kasur busa yang sudah menipis tanpa tempat tidur yang menopangnya. Tas besar ku masih tergeletak di sampingku, aku pun bingung dimana harus meletakkan semua pakaian dan buku-buku ku karena memang tidak ada lemari disini untukku.

Aku teringat dengan semua persyaratan yang harus aku bawa ke kampus besok, Aku pun membuka resleting ranselku perlahan karena takut mengeluarkan suara dan akan membangunkan mereka. Satu persatu aku periksa kembali surat-surat itu, setelah yakin semuanya sudah sesuai, aku menarik nafas lega dan kembali memasukkannya pada map plastik di dalam ranselku.

Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah buku kecil yang sempat kusimpan saat di kereta tadi padi. "Deg!" jantungku kembali berdegup kencang mengingat seseorang dari pemilik buku itu. Ku raih buku itu perlahan dan memandang sampul hitamnya cukup lama. Ku usap sampul buku itu, lantas memeluknya di dadaku. Jujur saja, ingin sekali aku membukanya dan membaca semua yang di tulisnya. Namun, ketika baru saja aku membuka halaman pertama dan sekilas membaca tulisannya, "Maaf, karena Aku terlalu mencintaimu, Naura Fina Mudya," Bayangan Bapak tiba-tiba berkelebat, suara seraknya kembali terngiang, dan terus berulang-ulang terdengar di telingaku. "Jadilah Cahaya yang Kelak Akan Bersinar Bagi Keluarga Kita". Aku tersentak dan kali ini bukan hanya Bapak, tapi Ibu juga Teh Rifa yang terlihat menatapku dengan kecewa.

Aku segera menutup buku itu kembali dan menyimpannya di saku tas pakaian. Lantas membaringkan tubuh dan berusaha memejamkan mataku di atas bantal usang yang ku gunakan untuk menopang kepala, lalu menyelimuti tubuhku dengan kain jarik panjang yang ku bawa dari kampung halaman.

Waktu terus berganti namun mataku sulit sekali terpejam, aku pun mengambil benda kecil berupa rangkaian manik-manik milikku dan mulai menghitung dzikir hingga aku benar-benar terlelap.

************

Pagi-pagi sekali, Pamanku sudah bersiap untuk mengantarku ke kampus dengan motor bebeknya yang biasa dia gunakan untuk berkeliling jualan membawa barang kreditan. Pamanku berpamitan kepada Istri dan kedua anaknya di kamar, sedangkan aku sibuk menggunakan jilbab hitam dan merapikan pakaian putih hitam yang ku pakai di ruang depan.

"Bapak pergi mengantar Ola dulu ke kampus ya, Bu!" Ku dengar Paman berpamitan kepada istrinya di kamar.

"Berarti hari ini libur lagi dong kelilingnya, Pak?" tanya Bibi, "Kemarin udah libur 4 hari karena pulang kampung, sekarang udah libur lagi, dari mana kita dapat uang untuk uang jajan, sekolah anak-anak dan belanja besok?" Ucap Bibiku.

"Jangan khawatir, Bu! rezeki itu sudah ada yang atur," ucap Paman.

"Ya, tapi gimana mau datang kalau tidak di usahakan." Ucap Bibi.

"Ibu tenang saja, Bapak akan berusaha lebih giat lagi," Jawab Paman yang tiba-tiba muncul di hadapanku.

"Paman! Ola berangkat sendiri aja ke kampusnya," ucapku yang merasa tidak enak karena tak sengaja mendengar pembicaraan Bibiku di kamar tadi.

"Jangan, La! kamu kan belum tau daerah sini," jawab Paman.

"Tak apa Paman, Ola kan bisa tanya orang-orang. Pasti semuanya tau tentang kampus itu."

"Memangnya Paman tega membiarkan kamu berangkat sendiri di kota yang baru pertama kali kamu kunjungi ini?"

"Tapi Paman kan harus kerja."

"Gini aja, Paman antar dulu kamu ke kampus, nanti Paman langsung keliling ambil setoran pelanggan Paman ke pasar, nanti pulangnya Paman jemput lagi."

"Baiklah Paman. Tapi sepertinya nanti tidak perlu di jemput, Ola bisa pulang naik bis atau minta bantuan Teman Ola."

"O ya sudah, terserah kamu, kamu ingat-ingat saja alamat dan jalannya, jangan sampai kesasar pulangnya, Paman keluarin motor dulu," Ucap Paman sambil mengambil kunci motor yang tergantung di atas tancapan paku dan segera menuntun motor bebeknya keluar rumah. Aku mengangguk dan mengambil 5 lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetku. Lantas berjalan ke ruangan belakang dan menyerahkannya kepada Bibiku tanpa sepengetahuan Pamanku. Meski terjadi sedikit perdebatan karena Bibi menolak pemberianku, namun akhirnya Bibi mau menerimanya saat aku memaksanya dengan dalih untuk biaya sekolah Dika putra sulungnya.

*******

Motor yang aku dan Pamanku tumpangi melaju membelah jalanan kota, Semilir angin pagi mengibaskan ujung jilbabku yang tertutup helm. Aku terus menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, tatanan kota yang apik, rapi dan bersih di hiasi ornament kesultanan sebagai ciri khas kota Yogyakarta. Bibirku tersenyum menyaksikan keindahan ini.

Dua puluh menit berlalu, Pamanku membelokkan motornya ke area parkiran luas yang menampakan deretan mobil dan motor yang berjejer rapi sepanjang mataku memandang. Paman pun memberhentikan motornya di samping motor-motor lainnya yang sudah terparkir lebih dulu di sana.

"Sudah sampai, La!" Ucap Pamanku, kakinya menurunkan standar samping motor, lantas membuka helm dan meletakkannya di atas kaca spion.

Aku pun turun dari motor dan menyerahkan helm ke arah Paman. Pandanganku berkeliling ke seluruh area tempat ini. Di hadapanku nampak deretan bangunan berdiri megah dengan gaya klasik dan elegant. Puluhan mahasiswa hilir mudik melintas di hadapanku. Ada yang berjalan dengan cepat, ada yang berjalan sambil ngobrol dan sesekali tertawa, ada juga yang sedang duduk-duduk di bangku taman sambil membuka laptopnya.

Mataku berbinar saat melihat banner besar yang terpampang di depan pintu gerbang dengan tulisan "Selamat datang Mahasiswa Baru, Selamat bergabung di Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Negri Yogyakarta (UNY)"

Bibirku tersenyum membaca tulisan itu, Perasaan senang, haru, sekaligus tak percaya kalau tempat semegah ini akan jadi tempat belajarku nanti. Aku bertekad akan belajar dengan sungguh-sungguh disini, menyongsong masa depanku untuk mewujudkan cita-cita dan harapan kedua orang tuaku.

**************************

Bersambung...

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Hmmm.. semangat Ola 💪🤗

Tetap like, vote dan komen ya 😉

I LOVE YOU ALL... 😗😗😗❤❤❤⚘⚘⚘

By : Rahma Husnul

1
Rahma Husnul
menarik
@InunAnwar
olla hamidun nich😁
@InunAnwar
aaaa.... mas Azzam,,,, kangen sama kamu mas😅😅
@InunAnwar
waduh kok ikutan grogi😅😅😅😅
@InunAnwar
iya bener itu bunda,,,, saya juga merasakan begitu😁
@InunAnwar
aaaa so sweet 😘😘😘
@InunAnwar
ah Mas Azzam bbrp thn ini sdh menjaga jodohnya Galih😅😅
@InunAnwar
sekarang kepergok ibu😅
@InunAnwar
pasti ini ibunya Galih
@InunAnwar
MasyaAllah, tar ketemu nya Naura n Galih di Tanah Suci kah????,,,, ini yg dinamakan Manusia yg berencana tp Allah SWT lah Yg menentukan....

ya.... siapa jodoh sesungguhnya yg baik utk Naura. jika niat Galih utk memantaskan dirinya, maka disaat sdh pantas Allah pasti mempertemukan mrk ber dua😷
@InunAnwar
jadi bingung mau milih, jd tim Galih atau Azzam 😅😅
@InunAnwar
ah Galih ternyata hadir di acara itu,,,,, huhuhu....
@InunAnwar
haduh ga cuma meleleh, tp bisa sesenggukan 😭😭😭😭
@InunAnwar
ah kannnn... air mata jadi meleleh 😭😭
@InunAnwar
jadi terharu 😂😂
@InunAnwar
nah benerkan itu si "DIA".... 😅😅
@InunAnwar
apakah taufiq ini si "DIA"....... wekaweka 😂😂
@InunAnwar
Galih masih dlm Fase memantaskan diri utk muncul kepermukaan 😅😅
@InunAnwar
ndok????
nduk kali ya thor? , tp ini utk sebutan anak perempuan,
kalau laki² itu kan Le😁
@InunAnwar
haduh serasa naik rollercoaster 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!