“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Naira? Penasaran ingin tahu cerita selengkapnya? Kalau begitu yuk ikuti segera kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F A N A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMTK - BAG 22
“Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan, Pak? Kenapa tiba-tiba? Tentang perjodohan, bukankah hal itu sama sekali tidak ada? Apa yang sudah kau sembunyikan? Apa semua ini ada kaitannya dengan hutang-hutangmu kepada si Eddy lintah darat itu?” Bertubi-tubi pertanyaan itu Fatimah lontarkan mencoba cari tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya. Mendengar perjodohan? Sejak kapan? Apalagi itu tersangkut paut dengan keluarga teman lama konglomerat mereka.
Tidak hanya itu saja. Mengingat akan keluarga William’s mengingatkannya kepada kenangan kelam yang menyebabkan kesengsaraan mereka. Fatimah memang tidak punya bukti. Tapi sedikit banyak ia menyadari jika kehancuran bisnis suaminya ada campur tangan dari Halbert William’s.
“Aku lupa menceritakannya padamu.” Andi berbohong. Berkata jujur bukan sebuah solusi. Mengingat bagaimana karakter sang istri mudah mengungkapkan rahasia terlebih ketika dalam keadaan marah.
Ia takut ketidaksukaannya terhadap Naira menjadi bumerang atas keputusannya. Tidak ingin putri kecilnya itu tahu tentang perjanjian antara ia dan Boy. Takut Naira kecewa. Apalagi sampai beranggapan ia tidak memiliki hati karena sudah dengan tega menukar masa depan Naira dengan sekoper uang.
“Jangan bohong. Kau pikir aku nggak tau?!” sentak Fatimah. “Mukakmu beda kalau lagi ngomong nggak benar. Rautmu aneh. Aku bisa membaca itu karena kau bukan lagi satu dua tahun denganku!”
“Katakan, kau minta uang sama cucunya si William’s untuk bayar uang sama si Eddy ‘kan? Berapa? Katakan?! Jika pun itu benar kau nggak usah takut karena aku pasti akan merahasiakannya.”
“Setidaknya dengan begitu kehidupan kita tidak lagi melarat. Aku sudah bosan hidup susah. Lagipula Kakeknya anak itu juga ikut andil sama masalah hidup kita. Jadi, menurutku sudah sepantasnya kita mendapatkan kembali semuanya meskipun itu dengan cara meminta sama cucunya si Halbert William’s itu!”
Sungguh, Fatimah merasa bosan. Cukup frustasi dengan apa yang sudah ia lalui sepanjang hidupnya kini. Harus melarat, dipandang sebelah mata, dicibir karena tidak memiliki uang, sampai yang terakhir harus berurusan dengan lintah darat hanya untuk menyekolahkan Naira.
Jika pun benar seperti apa yang saat ini terlintas dipikirannya. Menurut Fatimah mungkin ini sudah saatnya anak pembawa sial itu membalas budi mereka. Memberi kembali kehidupan yang layak serta usaha mereka. Meski itu dilakukan dengan cara menjual dirinya!
“Kau ngomong jangan sembarangan! Bagaimana bisa kau menuduh Tuan Halbert melakukan itu semua? Ia memang tidak menyukai Juliany. Tapi ia sangat baik terhadap kita. Jadi, menurutku apa yang selama ini kau pikirkan itu salah. Usaha kita bangkrut ya karena memang sudah waktunya,” tampik Andi. Ucapan Fatimah menurutnya sangat tidak mendasar. Menuduh tanpa bukti, apalagi sosok yang tertuduh itu Halbert orang yang sangat baik dengannya.
“Kau terlalu naif, Pak. Tuan Halbert memang baik sama kita. Tapi ia juga yang menjatuhkan usaha kita. Si Garry itu bekingannya Pak Halbert. Jika tidak, mana mungkin ia menang dalam gugatan kita!”
Emosi. Tentu. Mengingat Andi terlalu denial sampai tidak mau mendengar ucapannya. Padahal jelas-jelas semua itu ada campur tangannya Halbert memenangkan Garry dalam persidangan gugatan mereka. Jika tidak, mana mungkin pengkhianat tak tau berterimakasih itu bisa menang sedangkan ia hanya seseorang yang biasa?
“Sudahlah Fatimah. Aku nggak mau berdebat. Besok kau sudah boleh pulang, dan setelah itu kita akan langsung mempersiapkan pertunangan Naira dan Boy. Anak itu katanya tidak ingin lama-lama, ia mau segera bisa menghalalkan putri kita untuk dijadikan pengantinnya.” Tepat setelah pengucapannya. Andi pun lantas segera keluar meninggalkan istrinya. Masih ditengah gemuruh Fatimah yang bertanya-tanya. Mungkinkah perjodohan ini nyata?
***
Ditengah suasana pesta. Seorang pria tampak berjalan keluar meninggalkan aula yang merayakan hari jadinya itu. Pertunangan yang semula memang benar-benar ia dambakan. Namun, tatkala kemunculan sosok menawan lain milik mantan sahabatnya membuat pria itu malah ingin buru-buru meninggalkan ruangan tersebut.
Tujuan lainnya sedang menunggu. Sungguh indah membayangkan keasyikan masyuk menghabiskan malam bersamanya. Pasti akan jauh lebih baik dari malam-malamnya ketika bersama wanitanya yang sekarang. Lili yang juga telah berhasil ia rebut dari pelukan seorang Boy William’s.
“Naira,” desau pria itu penuh gairah. Memegang permukaan bibir dengan seribu bayangan menggunakan mencumbu gadis muda yang terlihat begitu ranum menggoda.
Mengedip lambat. Menyerana seakan gadis itu sudah benar-benar ada dihadapannya. Siap mendekap, mencengkeram ke dalam pelukan tak kan ia lepaskan.
“Arrggghhhh!!” Pria itu menggeleng. Semakin tidak sabar saat tepekur akan sosok tubuh Naira. Terbuka polos menyapa indera penglihatan, yang pasti akan sungguh memesona, membuatnya semakin tidak terkendali.
Dan saat ini pintu menuju kepada ruang yang sebentar lagi penuh desau itu sudah ada di depan mata. Segera membuka, tidak sabar ingin masuk ke dalam.
Ceklek!
Lampu ternyalakan. Otomatis dari kartu yang lelaki itu sampirkan pada tempatnya. Namun, seketika ia tercenung mendapati pemandangan di depannya. Kosong, tidak berpenghuni. Tidak mendapati mainan sekaligus kenikmatan barunya?!
Kemana gadis itu?
Sontak saja reflek tubuh membawa pria tersebut menuju kepada pintu kamar mandi yang memang tidak jauh dari posisinya. Tidak menemukan pergerakan apapun. Terlebih gadis menggoda yang tadi sempat ia buat tak sadar dalam pengaruh dosis obat lumayan tinggi. Masih panjang waktu lelapnya, tidak akan bangun dalam waktu singkat. Dan jika pun itu terjadi bukankah pasti ada sedikit kehidupan di sana?
Tidak puas pada satu tempat. Pria itu kembali bergegas mencari ke segala penjuru ruangan. Tapi hasil yang ia dapat tetap sama, tidak menemuka apa-apa.
“Nggak-nggak! Nggak mungkin gadis itu bisa kabur?!” Yudistira mencebik penuh pikir. Mencari jalan keluar bagaimana tangkapannya itu bisa raib dari kandangnya.
Kartu ada ditangannya—yang otomatis menjadi kunci penghubung akses masuk ke dalam ruangan. Curiga pada jendela, tidak ada celah. Mengingat ruangan tersebut memang memiliki balkon, tapi bangunannya cukup tinggi menjulang ke atas. Tidak masuk di akal jika gadis muda itu kabur darisana. Terlebih melompat ke bawah dengan ketinggian 20 lantai.
Frustasi. Yudistira berdecak meremas kening. Gagal sudah ia menyantap hidangan mahalnya kali ini. Kembali berpikir keras mungkinkah ini ada kaitannya dengan Boy? Tapi bagaimana? Kartu yang menjadi kunci kamar tersebut ada di tangannya. Sementara untuk kerusakan juga jejak jika tempat itu disusupi oleh orang asing sama sekali tidak ada di sana?
“Arrrgggg!!!” Lelaki yang hari ini telah resmi menjadi tunangan dari putri Garry Suherman itu kembali menggeram keras. Wujud kekesalan, amarah karena obsesinya yang terencana menggagahi calon istri mantan sahabatnya itu gagal sudah.
Dan,-
Praaaanggg!
Vas bunga tak berdosa menjadi pelampiasan. Atas keriuhan gelembung amarah yang saat ini mengumpal dalam dada.
BERSAMBUNG.