Lysaa seorang gadis yatim piatu yang berusaha keras mencari tahu siapa yang telah membunuh kedua orang tuanya. Namun siapa sangka, ia tanpa sengaja malah membongkar kasus besar yang selama ini berusaha di tutupi oleh sejumlah pihak.
Berbekal ilmu bela diri yang di ajari oleh Ayahnya serta kepiawaiannya dalam meretas data serta informasi yang di ajari Ibunya membuat Lysaa memantapkan tujuannya untuk menghukum orang-orang yang telah menjadikannya seorang gadis sebatang kara.
Bagaimana cerita selanjutannya?
Yuk baca kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Salah Paham
Bab 22
Salah Paham
Triiing...! Triiing...! Suara handphone Lysaa nyaris tidak terdengar beradu dengan suara siaran kartun di televisi yang sedang di tonton olehnya dan itu berhasil membuat Hyun terkekeh melihat kelakuan gadis itu.
"Lysaa, handphone mu berdering."
Lysaa masih asik menatap layar televisi, seperti tidak mendengar ucapan Hyun.
"Lysaa, hape mu!" Ujar Hyun lagi dan masih saja Lysaa tidak bergeming.
Hyun mengambil handphone yang terletak di atas meja itu bercampur dengan beberapa camilan yang berserakan disana.
Hyun melihat nama di layar handphone Lysaa dan mengerutkan dahinya.
"Lysaa, handphonemu berdering. Ada nama 'SiTua Ubanan' memanggil." Ujar Hyun menyodorkan handphone itu kepada Lysaa.
"Oh!" Lysaa mengecilkan volume televisi, lalu mengambil handphonenya yang di unjukkan Hyun padanya.
"Siapa?" Tanya Hyun ketika handphone sudah berada di tangan Lysaa.
"Dojun. Ya, ada apa?!" Tanya Lysaa datar kepada orang di seberang sana yang merupakan Dojun.
Hyun terkesiap mendengar 'Si Tua Ubanan' adalah Dojun. Pemuda itu lalu mengulum senyumnya. Kelakuan Lysaa benar-benar mencuri hati pemuda itu.
"Kau dimana? Paman Dave menyuruhku menjemputmu."
"Kenapa?"
"Kenapa? Tentu saja agar kau tidak kemana-mana selain ke sekolah. Kau lupa Paman Dave memberikan skors padamu?!"
"Hei, aku bukan anak kecil yang harus di awasi!"
"Kau bisa mengatakan sendiri kepada Paman Dave. Sekarang katakan kau dimana? Aku sudah disekolah mu, tapi kau belum juga muncul."
"Aku di rumah Hyun."
"Hah?! Kau? Buat apa kau kesana?"
"Aku mau makan ramyeon. Kan kau yang menyarankan padaku!" Bisik Lysaa agar tidak terdengar oleh Hyun.
Tapi Hyun yang memiliki pendengaran yang cukup tajam masih dapat mendengar ucapan Lysaa itu. Pemuda itu terkekeh tanpa suara sambil tertunduk.
Jadi dia memang tidak tahu arti makan ramyeon. Benar-benar menggemaskan. Batin Hyun.
"Ya Tuhan Lysaa...."
"Temui saja Shin Yeri di sana. Dia akan mengantarkan kau kamari. Kami janjian bertemu disini."
Lysaa langsung mematikan handphonenya.
"Apa kau ada minuman dingin? Aku gerah."
"Akan ku ambilkan."
Hyun berjalan menuju kulkas di dapurnya. Sementara Lysaa membuka baju seragam sekolahnya, menyisakan tanktop hitam di tubuh bagian atasnya karena kepanasan.
Haah, bisa gila aku! Gadis ini sungguh menyiksaku. Batin Hyun ketika melihat Lysaa tidak lagi memakai seragam atasannya dan menunjukkan dua bukit kembar di dada Lysaa yang terlihat padat berisi di balik tanktop hitamnya.
Lysaa terlihat seksi di mata Hyun hingga membuat pemuda itu merona dan menutup mulutnya tersipu malu karena Lysaa begitu menarik perhatiannya.
"Ehem, kenapa kau melepas pakaianmu?" Tanya Hyun yang tampak malu menatap Lysaa.
"Aku kepanasan." Jawab Lysaa santai dengan wajah tanpa beban.
"Kau bisa menyalakan pendingin ruangannya. Pakai lagi saja bajumu." Ujar Hyun karena sulit baginya untuk menahan pesona Lysaa.
"Ck! Padahal begini sudah nyaman." Gerutu Lysaa namun tetap menuruti Hyun dan memakai baju seragamnya kembali.
"Ting tong!"
"Sepertinya mereka sudah datang." Ujar Lysaa sambil menyelesaikan menutup kancing bajunya satu persatu.
"Biar aku yang buka."
Hyun berjalan mendekati pintu lalu perlahan membuka pintu apartemennya.
"Lama sekali! Kaki ku sampai kesemutan!" Gerutu Shin Yeri sambil menerobos masuk ke dalam.
"Kalian sedang ap... pa..., yaaa Lysaa! Kau... Kalian....?!"
Ucapan Shin Yeri sesaat terbata-bata, lalu terkesiap melihat Lysaa yang sedang memasang kancing bajunya. Pikiran gadis itu sudah kemana-mana, sampai-sampai menunjuk Lysaa dan Hyun secara bergantian.
Hyun menepuk jidatnya, sedangkan Lysaa begitu santainya melanjutkan kembali menghabisi camilan yang ada di hadapannya.
"Waaah, kau ada kemajuan Lysaa. Bahkan melampaui aku!" Ujar Dojun yang termakan kekalutan Shin Yeri.
Lysaa melemparkan botol minuman ke arah Dojun, namun dengan cepat di tangkap pemuda itu sebelum menghantam kepalanya.
"Terima kasih." Ujar Dojun langsung membuka tutup botol itu dan meminumnya.
"Jadi kalian sudah jadian tanpa mengabari aku?" Tanya Shin Yeri yang tampak sedikit kecewa.
"Jadian apa? Kau jangan mengarang." Ujar Lysaa.
"Tapi kalian sudah sedekat itu."
"Kau salah paham. Kami tidak sedekat itu." Lysaa membantah.
"Tapi tadi...."
"Lysaa hanya kepanasan tadi dia sempat membuka bajunya karena gerah. Lalu memakainya lagi." Tutur Hyun.
"Berarti kau sudah lihat..." Ucap Shin Yeri kemudian menutup mulutnya.
Wajah Hyun langsung memerah mengingat dua gunung Lysaa di balik tanktop hitam yang tadi sempat membuatnya susah menelan salivanya. Reaksinya itu memicu Shin Yeri dan Dojun semakin mencurigai mereka.
"Sudahlah, terserah kalian saja." Ujar Lysaa dengan santainya karena malas memperdebatkan hal yang tidak penting baginya.
"Pokoknya kau harus cerita padaku, apa saja yang kalian lakukan tadi." Bisik Shin Yeri yang masih dengan rasa penasarannya.
"CK!"
Lysaa berdecak kesal dan menatap Shin Yeri yang tersenyum nyengir bagai kuda.
"Apa tidak ada minuman?" Tanya Dojun.
"Biar aku ambilkan. Dimana dapurmu?" Tanya Shin Yeri kepada Hyun.
Hyun hanya menunjukan dengan tangannya lalu pemuda itu duduk di samping Lysaa.
Dojun juga melakukan hal yang sama, ia duduk di samping Lysaa dan ikut mencomot camilan yang sedang di makan Lysaa.
"Enak sekali hidupmu! Membolos sekolah dan pacaran di siang hari begini."
"Aku tidak pacaran!" Bantah Lysaa menatap Dojun dengan kesal.
"Oh ya, tapi tapi aku melihatnya. Wajahnya memerah saat melihat mu. Pasti terjadi sesuatu kan?" Cerca Dojun kepada Lysaa sambil melirik ke arah Hyun.
"Kau sama saja dengan Shin Yeri." Kata Lysaa.
"Aku kenapa?" Tanya gadis itu kepada Lysaa.
Lysaa tidak menjawab malah menoleh ke arah Hyun.
Hyun mengangkat ke dua alisnya menanyakan arti tatapan gadis itu padanya.
"Oh, aku sedikit tidak enak badan. Jadi wajahku sering memerah jika sudah begitu. Kalian jangan salah paham." Kilah Hyun dan membuat Lysaa mengedipkankan matanya tanda ucapan pemuda itu sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Ayo kita pergi makan! Aku lapar." Ujar Lysaa mengalihkan topik bahasan.
Tanpa menunggu persetujuan yang lainnya, Gadis itu meraih tas yang di bawakan Shin Yeri kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Yaaa, Lysaa! Kami barus saja sampai?!"
Lysaa tidak memperdulikan teriakan Shin Yeri dan terus saja melangkah hingga keluar dari pintu kamar Apartemen.
"Setelah makan, dia ingin main ke Apartemen mu." Ujar Hyun kepada Shin Yeri.
"Benarkah?" Tanya Shin Yeri dengan mata berbinar. "Kalau begitu tunggu apalagi?!"
Shin Yeri pun mengambil tasnya dan berlari mengejar Lysaa.
"Hei, tunggu aku!"
Dojun juga menyusul kemudian, di ikuti Hyun dari belakang setelah menutup pintu Apartemennya.
"Kalau Lysaa sampai benar-benar jatuh hati padamu, kau sungguh hebat. Tapi aku tidak akan membiarkan, jika sampai menyakitinya." Dojun berkata sambil melangkah tanpa melihat ke arah Hyun.
Hyun tersenyum. Dalam hati ada rasa sedikit lega karena Dojun bukanlah orang yang perlu di khawatirkan sebagai saingannya untuk memiliki hati Lysaa.
Ya, Hyun baru saja tersadar akan perasaannya terhadap Lysaa, bahwa dia menyukai gadis itu dan telah jatuh hati padanya.
Bersambung...
**Baca juga novel ku yang berjudul PEMBALASAN ISTRI YANG TERANIAYA bagi yang suka kisah rumah tangga yang menguras emosi. **
Atau CINTAI AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊