Squel (Stuck With Hot Brother)
Karena sebuah tragedi penggrebekan, mereka terpaksa menikah dan menjalani rumah tangga tanpa cinta. Apalagi status sebagai guru dan murid, membuat mereka menyembunyikan ikatan suci itu di depan orang lain.
Lantas bagaimana bahtera rumah tangga mereka akan berjalan? Sementara sang pemegang kendali hanyalah seorang pemuda SMA yang dikenal brutal dan nakal.
Ikuti kisahnya hanya di sini🤗
Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kerja Tambahan
Sebelum pergi ke Sixnine Entertainment, Zio dan Mike lebih dulu ke rumah sakit untuk kembali melihat keadaan Tomy.
Dengan mengendarai motor masing-masing mereka menyapu jalan raya. Mereka sama-sama menggunakan kecepatan yang cukup tinggi, hingga tak berapa lama kemudian mereka sampai di rumah sakit yang dituju.
Rumah Sakit Puri Medika.
Karena sudah hafal di mana letak ruangan Tomy, mereka langsung saja masuk. Ketika mereka datang, ternyata masih ada Tiwi di sana. Dari semalam wanita itu memang tak tega untuk meninggalkan sang adik, meski bocah begundal itu sering membuatnya naik darah.
"Tom, gimana? Udah enakan?" tanya Zio seraya melangkah menuju sisi brankar, di belakangnya Mike pun mengekor.
"Ck, apaan sih, Zi? Orang gue gak kenapa-kenapa, bentar lagi juga gue keluar dari rumah sakit," jawab Tomy, tak ingin kedua sahabatnya merasa cemas.
Pletak!
Mike menyentil dahi Tomy cukup keras.
"Sakit, Anjing!" umpat Tomy dengan mata yang menungkik tajam.
"Ya udah tahu lagi sakit, pake bilang baik-baik aja. Kek anak alay lu!" sewot Mike, yang melihat secara langsung bagaimana sang sahabat dipukuli tanpa ampun.
"Gue cuma gak pengen kalian cemas," balas Tomy dengan raut sendu.
"Udeh, orang sakit gak usah banyak bacot. Lu udah makan belum?" sela Zio, baru saja datang sudah terjadi perdebatan.
Tomy menghela nafas kecil dengan bibirnya yang sedikit mencebik, "Udah, tinggal minum obat aja yang belum." Jawabnya jujur.
Sedang di antara mereka, Tiwi hanya bisa terdiam sambil senyum-senyum sendiri. Sungguh dia tak tahu persahabatan macam apa ini, terkadang saling melempar umpatan kasar, tetapi kalau sudah ada satu yang terluka, pasti solidaritasnya langsung tercipta begitu saja.
"Ya udah diminum dulu. Kita gak bisa lama di sini soalnya," ujar Zio seraya melirik ke atas nakas di mana obat-obatan sudah tersedia.
"Memangnya kalian mau ke mana?" timpal Tiwi.
"Kan kita kerja di perusahaan bokapnya Zio, Kak," jawab Mike yang membuat Tiwi sedikit terperangah. Ia pikir cerita Tomy hanya mengarang belaka, ternyata mereka benar-benar bekerja setelah sekolah.
"Kenapa? Kalian nggak dikasih uang jajan?" tanya Tiwi lagi dengan rasa penasaran.
"Ck!" Tomy tiba-tiba berdecak keras, membuat perhatian Tiwi teralihkan. "Kan tadi gue udah cerita, Kak Titiw. Si Zio abis merit, dia tuh lagi berusaha biayain hidup mereka."
Makin terbelalak saja mata Tiwi, tak habis pikir bagaimana bisa bocah berandal seperti Zio sudah menikah. Jangan-jangan pacarnya hamil duluan, makanya mereka dinikahkan. Astaga, kenapa jauh sekali pikiran Tiwi ini.
"Jangan bilang istri kamu sekarang lagi hamil," tebak Tiwi.
"Ngaco deh!" sambar Tomy secara langsung. "Orang istrinya guru kita. Primadona sekolah malah."
"Lho, kenapa bisa nikah sama Zio?" tanya Tiwi makin terheran-heran.
"Ceritanya panjang Kak Tiwi, yang jelas sekarang aku lagi butuh banget kerjaan. Supaya bisa ngasilin uang," timpal Zio dengan tampang lesu, teringat akan rencananya yang selalu gagal.
"Tunggu!" Tiwi tampak menelisik tubuh Zio lebih seksama. Ya, untuk ukuran remaja usia 18 tahun, rasanya tubuh Zio adalah yang paling sempurna. "Kamu beneran butuh kerjaan?"
Mendengar itu, Zio langsung mengangkat pandangannya, seolah menemukan sesuatu yang dia idam-idamkan. "Bener, Kak. Gue lagi pusing banget nyari tambahan ke mana."
"Aku ada, tapi freelance, kamu nggak masalah kan?" ujar Tiwi.
Wajah Zio tampak semakin sumringah, "Nggak masalah, mau apa aja gue jabanin. Emang kerja apa, Kak?"
"Iya, kira-kira gue boleh ikut juga gak, Kak?" seru Mike yang sedari tadi diam dan tak dianggap.
"Jadi model di toko baju aku. Kakak liat badan kamu bagus, jadi cocok lah buat dipajang di sosial media. Dan sorry ya, Mike, Kakak lagi butuhnya satu orang aja," jelas Tiwi yang memang memiliki usaha di bidang fashion. Sebab di zaman yang semakin maju ini, tidak tua tidak muda, semuanya serba modis. Jadi, dia mengambil peluang dengan berbisnis.
Mike menghela nafasnya dengan kasar. Kalau sudah tentang fisik, dia sudah pasti kalah dengan Zio yang memang terlahir dari bibit buaya unggulan.
"Gimana, kamu setuju?" tanya Tiwi seraya mengulurkan tangan untuk melakukan deal.
Tanpa ba bi bu Zio pun langsung menjabat tangan itu. "Deal, sekarang gue jadi anak buah Kak Tiwi. Kak Tiwi mau kasih perintah apapun, gue bakal selalu siap." Jawab Zio dengan mantap. Demi Aura.
"Zi, gantiin celana gue dong," seru Tomy tiba-tiba membuat perhatian semua orang teralihkan kepadanya.
"Apaan?" tanya Zio dengan sinis.
"Gue kan adeknya Kak Tiwi, gue juga boleh dong nyuruh lu apa aja," jawab Tomy sambil menaik turunkan alisnya.
"Bangkee, sini sekalian gue tarik pala kenty lu!" ketus Zio.