Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Rindu Padanya
Aku hanya terdiam. Ternyata Sinta teman semasa SD Dayat.
Setelah selesai makan jajanan di kantin, Aku dan Sinta kembali ke kelas. Sedangkan Enta, Dia malah belok ke kamar mandi sekolah.
Beberapa Minggu Kemudian
"Ria cepat, rapat akan segera dimulai". Ucap Lia sebagai bendahara di kelasku.
Karena Aku sekretaris kelas, Aku bergegas menuju ruang Lab, di sana akan diadakan rapat tahunan yaitu untuk pemilihan ketua OSIS dan anggota-anggotanya yang baru.
Dan akhirnya, Aku terpilih menjadi Sekretaris OSIS, Lia Bendahara OSIS dan Ketua OSIS adalah Muhammad dari kelas 1.1. Enta terpilih sebagai Ketua Karya dan Seni. Farisya wakil Enta.
Kalau ada kegiatan ekstrakurikuler pasti Kami akan sering berkumpul.
Sejak di sekolah tingkat atas, Aku menjadi Ria yang pendiam. Semangatku seakan memudar seperti sebongkah es yang di sinari panasnya matahari.
Hari Pembagian Rapor kenaikan kelas pun telah tiba. Alhamdulillah Aku mendapatkan juara kelas kembali.
Semua siswa yang mendapatkan rangking 3 besar di kelas masing-masing, akan disatukan menjadi kelas 2 inti. Aku, Farisya, Rina, Sinta dan Enta menjadi satu kelas.
Aku memilih untuk duduk sebangku dengan Farisya, di bangku paling depan dekat dengan meja guru.
Sekolah berjalan seperti biasanya, tidak ada yang menarik menurutku.
Ada beberapa orang pria mendekatiku. Ingin menjadikan Aku sebagai pacarnya, tapi Aku menolak. Aku tidak ingin memiliki hubungan spesial dengan laki-laki lain.
Apa karena Aku masih ada rasa, rasa yang tersimpan jauh dalam relung hati ini.
Iyaa Sahabat. Aku masih mengharapkannya. Aku masih menunggu Dayat.
Dengan hati-hati Aku mencari tahu tentang Dayat. Ada tetanggaku yang satu sekolah dengan Dayat. Aku sering bertanya tentang Dayat kepadanya. Kebetulan Dayat sekelas dengan Dia. Katanya Dayat sudah memiliki pacar yaitu sekretaris OSIS, kebetulan ketua OSIS adalah Dayat sendiri.
Aku jadi teringat kisah ku dulu sewaktu di SMP.
Malam itu, Aku teringat kepadanya. Aku sungguh merindukan Dia.
Keesokan harinya, diam-diam Aku membeli sebuah peci dan gantungan kunci dengan ukiran namanya. Sederhana, tapi insya Allah bermanfaat menurutku.
Ku titipkan kado kecil itu kepada Lili tetanggaku yang sekelas dengan Dayat.
Senang sekali Dayat mau menerimanya.
Ku minta nomor telepon rumah Dayat kepada Liani, syukur Liani memberikannya.
Suatu hari, saat pulang sekolah sengaja Aku masuk kedalam Warung Telepon. Ku langkahkan kaki dengan sangat bersemangat ke dalam kamar 1. Jantungku berdegup sangat cepat seakan mengalahkan ritme jarum detik jam saat itu.
Ada Kursi di dalamnya, tapi Aku memilih untuk tetap berdiri karena gugup sekali sampai kaki gemetaran.
Dengan sangat hati-hati, Ku tekan nomor telepon milik rumahnya, (0641) 22XXX.
"Hallo.. Assalammualaikum!". Suara seseorang menjawab panggilan teleponku.
Langsung Aku tutup gagang telepon tersebut. Itu bukan suara Dayat. Itu suara Rizki. Aku kecewa.
Lalu dengan yakin, Ku coba telepon lagi. Semoga kali ini Dayat yang mengangkatnya.
(0641) 22XXX.
Tut..... Tut.... Tanda panggilan tersebut sudah terhubung ke si pemilik rumah.
"Assalammualaikum".
Aku terdiam mendengar suaranya. Iya itu suara seraknya Dayat.
"Assalammualaikum, ini siapa?" Dayat mengulang sapa untuk yang telah menelpon ke rumahnya.
"Ini Dayat ya?" Tanyaku lirih.
"Iya..".
Langsung Ku tutup gagang telepon itu, hatiku bergemuruh tidak karuan. Jantungku berpacu sangat cepat. Dadaku serasa sesak.
Ku pegang dadaku, dan mencoba mengatur nafas pelan-pelan.
"Aku rindu, sangat merindukan kamu Yat". Bisik hatiku.
Cukup mendengar suaramu. Rinduku sedikit terobati.
Langsung ku bayar biaya telepon tadi kepada kasir. Lalu Aku pulang ke rumah dengan hati riang.
***
"Ria.. Enta menangis". Beritahu Farisya kepadaku.
Aku menoleh melihat ke wajah Ria. Saat itu Aku sedang duduk di kantin saat jam istirahat. Farisya dengan cepat duduk di sebelahku.
"Kak, bakso satu pakai mie ya". Pesan Farisya kepada Kakak kantin.
"Hei Ria, diam aja sih". Ucapnya lagi kesal melihatku masih asyik dengan mie dan bakso yang ada di mangkokku.
"Lagi makan Farisya sayang". Sergahku.
Aku lanjutkan makanku, dengan pikiranku penuh tanda tanya kenapa laki-laki itu sampai menangis ya. Aku heran.
Selesai makan, Farisya sangat bersemangat menarik tanganku untuk kembali ke kelas melihat keadaan Enta.
Benar saja, Enta sedang duduk di kursinya dengan wajah dibenamkan kedalam kedua tangannya yang sudah dilipat diatas meja.
"Ampun,, ini anak beneran nangis yak". Hatiku bertanya.
Aku dan Farisya duduk tepat di sebelah meja Enta duduk.
"Tanyain dong Ria, Enta kenapa?" Farisya memaksaku untuk mencoba menenangkan Enta.
Aku sendiri bingung harus berbuat apa. Kebetulan saat itu para dewan guru sedang rapat. Jadi hampir semua kelas tidak belajar.
Dengan tidak sabar, Farisnya bertanya kepada Ahmad yang duduk sebangku dengan Enta.
"Ahmad, Enta kenapa? Kok dari tadi nangis sesugukan gitu? Sakit ya dia?".
"Iya.. Dia sakit hati di putusin pacarnya".
Aku dan Farisnya saling berpandangan merasa kasian. Kami berdua melanjutkan pembicaraan lewat secarik kertas yang sengaja Aku tulis dan berikan kepada Farisya langsung.
"Kok bisa Sinta memutuskan Enta, padahal mereka sudah setahun kan pacaran sejak kelas satu?". Tulisku di selembar kertas, lalu Ku lipat dan Ku berikan ketangan Farisya langsung yang duduk di sebelahku.
"Itulah kasiankan Entanya , sampai segitu Dia nangis". Balas Farisya.
Ku lihat sekilas ke arah Sinta yang duduk selang satu meja dibelakangku. Dengan santai, Dia pura-pura sedang membaca buku diatas mejanya.
Lalu bel berbunyi 3 kali, tanda hari ini cepat pulang. Farisya sengaja memegang tanganku dan melirik ke arah Enta yang masih menangis.
Aku paham maksudnya. Lalu Aku tetap duduk dengan Farisya sengaja menunggu semua siswa pulang. Dan tinggallah Aku, Farisya dan Enta di dalam kelas.
Farisya duduk kursi sebelah Enta duduk. Aku hanya memperhatikan Farisya.
Dengan suara lembut Farisya memanggil Enta.
"Enta, Sudah jangan nangis lagi. Pulang yuk". Ajak Farisnya.
Entah masih diam dengan posisinya dan masih menangis.
"Enta, semua sudah pada pulang, tinggal kita dan Ria di dalam kelas". Ucap Farisya lagi.
Enta masih diam, dia masih kekeh dengan keinginannya untuk menangis.
Aku mulai geram. Sampai kapan Aku dan Farisya harus menunggu si Enta ini. Akhirnya Aku berdiri mulai berjalan dan berhenti tepat di samping Enta sedang menangis.
"Enta, mati satu tumbuh seribu. Masa hanya gara-gara satu cewek, Kamu jadi seperti ini". Ucapku lirih.
Farisya melihat ke arahku dan mulai merepet tanpa suara. Mungkin maksud Farisya, Dia tidak menyangka malah Aku menyindir si Enta.
Ha.. Ha.. Ha.. Masa laki-laki nangis kan sahabat, bikin malu aja.
Ups... Kita lanjut ya.
"Sudah Enta jangan nangis lagi, Kamu cerita aja ke Aku dan Ria, Kami bersedia kok mendengarkan".
"Kami mau kok jadi sahabat Kamu". Tambah Farisya lagi.
Aku melihat ke arah Farisya yang masih duduk di sebelah Enta.
"Apa-apaan ini anak mau bersahabat sama laki-laki". Sahut hatiku.
Aku mulai pusing mendengar pengakuan Farisnya.
Tiba-tiba, Enta mengangkat wajahnya. Matanya merah sedikit bengkak, wajahnya sembab. Dia mulai menghapus air mata di wajahnya.
Aku tidak menyangka Enta akhirnya luluh dengan kata "Sahabat" yang diucapkan Farisya.
"Kenapa kok sampai begini? Tanya Farisya.
Ku tarik kursi di sebelah kanan meja Enta duduk. Dan kini, Aku duduk disebelah kanan Enta. Sedang Farisya duduk di sebelah kiri Enta.
Dengan hati-hati, Enta mengeluarkan jam cantik dari dalam tasnya dan meletakkan ke atas meja tepat di depannya duduk.
"Hari ini Sinta berulang tahun". Enta mulai membuka suara.
Aku dan Farisnya saling memandang satu sama lain, tanda masih belum mengerti.
😊😊😊
Maaf ya Sahabat.
Saya sudah lama tidak update.
Berhubung aktifitas saya sudah normal, jadi sedikit bingung membagi waktu untuk menulis novel.
Insya Allah saya akan mencoba untuk lebih sering update.
Harap dimaklumi ya Sahabat.
Terima kasih masih setia menunggu dan membaca novel saya.
Jangan lupa Like, komentar, favorit dan rate 5 bintang dan vote point sebanyak-banyaknya.
With Love ❤
💖💖💖
💖💖💖
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊