NovelToon NovelToon
Pria Pilihan Ibu

Pria Pilihan Ibu

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:842.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sept

Hampir kepala tiga, orang menyebutnya perawan tua. Lia seolah tidak peduli, karena karirnya yang cemerlang. Lalu bagaimana jadinya, kalau sang ibu mendatangkan banyak pria yang akan dijodohkan dengan Lia? Bukan Siti Nurbaya, apa Lia menerima perjodohan hanya karena telat menikah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum Yang Memudar

Pria Pilihan Ibu BAB 22

Oleh Sept

Katanya enak, ini apanya yang enak? Sakit sih iya. Dibolak balik seperti gorengan, belum lagi masih ngantuk diajak olah raga. Rasanya Lia capek sekali, jadi pengantin baru nyatanya begitu melelahkan. Lia menggerutu, karena Arman tidak kenal waktu. Apalagi masih waktu cuti, rasanya dia ingin suaminya itu cepat-cepat masuk kerja. Lia ingin me time, di mana bisa rebahan tanpa ada yang mengusik. Dia mana dia mau nonton TV tanpa ada yang modusin.

Satu minggu kemudian

Pagi ini Arman sudah siap-siap, sudah wangi, ganteng dan rapi. Sedangkan Lia, dia harus berkutat dengan hair dryer. Gara-gara Arman, Lia jam 6 sudah mandi dua kali.

"Kok belum selesai?" celetuk Arman sambil membungkuk di belakang Lia yang kala itu duduk di depan meja rias.

"Rambut Lia kan panjang, Mas. Keringnya lama," jawab Lia.

"Apa dipotong saja? Biar kalau keramas gak butuh waktu lama untuk kering," kata Arman.

"Dipotong?"

"Hemm."

Lia geleng-geleng kepala, hanya karena selalu keramas, sang suami malah nyaranin potong rambut. Benar-benar Arman ini, ada-ada saja.

"Ya, besok Lia potong rambut!" balas Lia sambil mengerucutkan bibirnya.

Cup

Gemas, Arman mengecup pucuk rambut Lia yang masih lembab.

"Keringin nanti lagi, ayo ... temani sarapan."

Lia kemudian mengangguk. Dia tadi sudah masak nasi, dan sudah bikin telur mata sapi sama goreng nugget. Punya suami seperti Arman ada bagusnya juga. Gak rewel makan apa, asal mau diajak olah raga tiap malam, Arman tidak akan menuntutnya macam-macam.

Tidak harus masak ini, masak itu. Pekerjaan rumah juga tidak terlalu banyak. Rumah masih rapi, paling juga pakai penyedot debu versi robot. Ditambah belum punya anak. Rumah pun masih kelihatan aman terkendali.

Di meja makan

Pengantin baru itu menikmati sarapan sederhana mereka.

"Nanti Mas Arman mau makan siang apa? Biar Lia anterin ke puskemas."

"Tidak usah, kamu jangan capek-capek. Aku bisa makan di kantin."

Lia mengangguk.

"Terus nanti aku ngapain? Bosa juga," celetuk Lia sambil memasukkan makanan ke dalam mulut.

"Nonton TV, lohat drama, atau apa saja."

"Hemm. Boleh ke tempat ibu?"

"Boleh," jawab Arman spontan. Akan tetapi lalu disambung lagi.

"Tapi pas aku pulang, kamu juga sudah ada di rumah ya? Sore pulang."

"Sip!" kata Lia sambil mengangkat jempolnya.

Wah, seru juga menikah. Apalagi punya suami seperti Arman. Rasanya penderitaan dan luka Lia selama ini langsung terbayar lunas.

Kini selesai sarapan, Lia mengantar Arman sampai masuk pintu mobil. Dasar Arman bucin, dia meminta Lia mengecup pipinya, kanan dan kiri.

"Malu, nanti ada yang lihat!" protes Lia.

"Ish!" Arman mendesis kemudian langsung nyosor duluan.

"Berangkat dulu ya."

Lia mengangguk dan melambaikan tangan.

***

Pukul 9 pagi, Lia pakai motor ke rumah ibunya. Karena di rumah ada motor milik Arman. Mobilnya sendiri masih diservis di bengkel.

Begitu tiba di rumah sang ibu, Bu Damri seketika heboh sendiri.

"Bagaimana? Kapan Ibu dikasih cucu?"

Lia menatap tidak percaya, nikah baru beberapa hari, baru seminggu lebih sudah ditanya anak. Ibunya benar-benar kelewat bersemangat.

"Lah, Bu ... baru aja dibikin!" celetuk Lia dengan sengaja.

Bu Damri seketika terkekeh lalu mencubit putrinya. Dua orang itu saling tertawa lepas, seperti tidak ada beban.

Menjelang sore, sudah pukul 3 sore. Lia pun pamit. Datang cuma bawa sekotak kue, pulang-pulang Lia seperti dari supermarket. Begitu banyak barang yang dia dapat dari sang ibu.

"Lah, Bu ... Lia kan naik motor. Jangan banyak-banyak," protesnya.

"Sudah, masih ada sisa tempat. Taruh dalam jok. Sama gantung di sini," kata Bu Damri.

"Astaga Ibu."

Akhirnya Lia pulang ke rumah dengan membawa bawaan yang banyak sekali.

***

Pukul 5 sore.

Lia langsung membuka pintu saat ada yang menekan bel.

Sudah pasang senyum Pepsoden, akan tetapi saat melihat siapa yang datang, senyumnya pun seketika menghilang.

BERSAMBUNG

1
ione
/Facepalm/
niesya ananda saputri
Menarik....bagus bahasanya.
penasaran
Sri Utami
Luar biasa
solehatin binti rail
lanjut,...
solehatin binti rail
bagus 👍,Arman harus tegas😘
Nul Khotimah
Luar biasa
Ahmad Alfasih
Kecewa
Siarsazkia Siarsazkia
suka banget cerita yg kayak gini
Siarsazkia Siarsazkia
sua banget
RithaMartinE
luar biasa
indah
Semangat
Omha Achun
Luar biasa
Nurhayati Ningsih
bagus ceritanya GK bertele tele
Felycia Fernandez
😆😆😆😅😅😅
Christy Ling
bagus👍
Ummi Yatusholiha
biar pun lagi ngambek,mantep2 jalan trus ya mas arman 😄😄
Capricorn 🦄
keren
nurul jannah
𝒑𝒅 𝒑𝒐𝒐𝒐𝒍𝒍𝒍𝒍𝒍𝒍𝒍......
nurul jannah
𝒆𝒏.. 𝒊.. 𝒆𝒆𝒆𝒏𝒏𝒈𝒈𝒈....
nurul jannah
𝒉𝒂𝒚𝒐 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!